SOAL PERGESERAN BUDAYA

Halo Pipit,

Sudahlah hentikan kegalauanmu itu. Nikmati momen-momen pergeseran dari zona nyaman. Soal waktu, kita kan cuma manusia yang buta sama masa depan dengan segala kemungkinnya.

Gw juga sempet galau, sih. Sempat merasa salah melangkah tapi, ya sudah terlanjur jadi dilanjutkan saja. Kegalauan gw sih diutamakan karena kerinduan dengan keluarga dan kapan kira-kira gw bisa ketemu mereka lagi.

Untungnya rasa galau itu enggak berlarut-larut karena ada festival menarik pada hari-hari pertama gw di Thailand. Festival tahun baru Thailand yang dibalut acara keagamaan, eh tapi itu dulu sih, sekarang mah lebih ke acara pesta-pesta yang jauh dari ritual sebenarnya.

Kalo baca di Wikipedia, festival ini berlangsung tiga hari pada 12-14 Maret tiap tahunnya. Perayaan Songkran tergolong besar, makanya pemerintah kadang kasih jatah cuti bersama dua hari, masing-masing sehari dan sesudah Songkran. Perantau Thailand pun memilih pulang kampung dan merayakan bersama keluarga.

Selama Songkran biasanya penduduk Thailand yang mayoritas menganut ajaran Budha pergi ke kuil. Di situ mereka akan melakukan ritual bersih-bersih patung Budha. Mereka akan mengguyurkan air pada patung. Air tersebut kemudian mereka bawa pulang, katanya sih sudah diberkahi. Sesampai di rumah air itu nantinya akan digunakan untuk mensucikan anggota keluarga yang kita temui. Caranya dengan menyiramkan air basuhan ke pundak orang lain. Mereka percaya ritual ini akan membersihkan diri mereka demi menyongsong hari yang baru.

Sayangnya ritual sakral itu enggak gw temuin. Ya salah gw juga sib milih penginapan di Khaosan Road yang penuh sama orang kulit putih, maksudnya turis. Songkran di Khaosan Road enggak lebih dari pesta air. Semua orang gila dan lepas kendali.

Di Khaosan Road Songkran berjalan selama empat hari. Jalanan di daerah tersebut ditutup khusus menyambut festival. Pedagang juga menjajakan dagangannya seperti senapan air aneka rupa bentuk dan warna, topeng-topeng, bir, sampai makanan juga ada.

Pokoknya kalau lewat daerah situ harus siap basah dan tidak diperbolehkan untuk marah kalau kebasahan. Gw sendiri sempat ngomel. Kondisi gw saat itu sudah bersih dan pakai baju kering. Niat gw pulang dari makan malam mau langsung tidur dan enggak berniat kena air. Sayangnya harapan gw dihancurkan oleh turis yang menyemprotkan senjata airnya ke gw selangkah sebelum gw masuk zona kering tempat gw nginep.

“I know it is Songkran, but I had enough of it!” Gw ngomel-ngomel si turis cuma cengengesan merasa enggak bersalah. keki.

Hari kedua kegilaan makin menjadi. Dan gw mulai jengah, maklum anaknya bosenan. Gw ogah jalan kemana-mana karena banyak orang di jalanan jadi saj gw memutuskan untuk nongkrong depa penginapan. Bareng tamu penginapan lainnya kami pesta air di depan penginapan. Awalnya hanya menyemprot mereka yang lalu lalang baik pejalan kaki maupun pengendara sepeda motor. Nah, ada yang punya ide nakal untuk menyemprotkan air ke dalam kendaraan roda empat atau bus yang jendelanya terbuka.

Songkran dirayakan pada masaa terpanas di Thailand. Sedikit disiram air suhu normal cukup menyenangkan, tapi kalau disiram air es di saat suhu panas sumpah bukan hal yang mengenakan, gw sendiri berasa kesetrum. Nah, gilanya lagi ada yang menyemprotkan air dingin ke dalam bus berpendingin yang sedang menurunkan penumpang. Aduh gw enggak kebayang deh seberapa sakit kepalanya si orang yang kena semprot itu.

Karena enggak boleh ada yang marah, mereka yang punya senjata air berasa perkasa. Mereka bakal semprotkan air kemana mereka suka, gw terbawa suasana. Siapapun yang gw liat masih kering, cowok cakep (harus tetap usaha. Hahaha…), cewek enggak cakep (karena banyak orang hanya menyemprot ke cewek cakep, gw sebagai yang merasa senasib harus memberikan kepercayaan diri tambahan buat mereka. Heu), penumpang di dalam mobil berjendela tertutup (kadang mereka bereaksi juga kalau air tiba-tiba tersembur ke kaca). Memang menyenangkan loh Pit. Tapi rasa senang itu enggak lama setelah gw lihat ada turis yang menyorongkan senjatanya ke badan biksu yang berada di dalam bis.

Biksu kebasahan dan dia protes. Gw bengong, mungkin si biksu protes bukan karena basah tapi lebih dikarenakan tidak terima ritualnya diaplikasikan berbeda oleh para turis, termasuk gw.

*

UPDATE: Raja Bumipol meninggal dunia pada pertengahan 2016 Kepergian pimpinan yang dikasihi rakyat Thailand tersebut membuat seluruh negeri berada dalam masa berbela sungkawa selama setahun. Setiap kegiatan yang terkesan hura-hura diminta untuk lebih menghargai masa berduka tersebut. Kabarnya, Songkran tahun 2017 pun disarankan untuk lebih santai dibanding tahun-tahun sebelumnya. Cek beritanya di sini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s