KEMBALI KE ALAM

Oke Pit, suasana Thailand masih panas. Tetapi enggak terlalu terasa sama gw karena posisi gw yang jauh dari pusat pemerintahan. Gw sekarang berada sekitar 700 kilometer di Utara Bangkok. Lebih tepatnya gw ada di Chiang Dao.

Setelah bosen lihat-lihat atraksi turisme di Thailand, gw memutuskan untuk coba jadi volunteer di sebuah resort. Maggi, pemilik resort, lagi sibuk menata propertinya. Seperti yang lo tau, setiap sudut Thailand bisa dijadiin bisnis. Nah, Maggi mencoba peruntungan dengan membangun resort di kawasan wisata pegunungan di Chiang Dao. Akomodasi yang ditawarkannya berupa rumah natural.

Kerjaan gw tiap harinya bantu Maggi untuk memplester tembok bangunan. Berbeda dengan rumah pada umumnya, Maggi membangun resortnya dari bahan-bahan alami seperti bambu, gabah beras, jerami, tanah merah, pasir, dan air.

adonan untuk plester
adonan untuk plester

Gw, sih, enggak ikutan konstruksi rumah itu dari awal. Tetapi, gw dikasih tau proses pembuatan rumah itu. Jadi, gabah beras dimasukan ke dalam karung kemudian dibentuk sedemikian rupa menyerupai batu bata. Nah, karung-karung itu kemudian disusun bertumpuk yang pada akhirnya akan berfungsi sebagai tembok. Setelah semua konstruksi beres, barulah dimulai plasternya. Adonan tanah merah, jerami, pasir, dan air langsung ditempel ke permukaan karung. Waaah… Plaster itu ternyata enggak mudah karena harus dibikin setipis mungkin agar cepat kering dan kemungkinan retaknya cukup kecil. Gw sempet depresi.

Proses plaster sendiri dilakukan dua kali. Yang pertama hanya sebagai basis dan meratakan permukaan karung, sementara plaster kedua sangat halus. Untuk yang kedua ini jerami digantikan oleh kapur untuk memberikan efek halus pada permukaan tembok. Buat gw, plaster tahap dua ini cukup menyenangkan, karena bisa langsung terlihat hasilnya dan dapat diperbaiki saat itu juga kalau ada permukaan yang masih kasar.

plester tahap pertama
plester tahap kedua
para volunteer

Volunteer saat itu bukan cuma gw, ada beberapa orang lain dari beberapa negara.Kami mulai aktivitas dari jam 7.30 pagi, salah satu dari kami kebagian tanggung jawab bikin sasarapan. Sekitar jam 8 kami mulai kerja sesuai keinginan ada yang berkebun atau plaster. Gw selalu ambul bagian plaster karena gw bisa konsentrasi, gw berasa di dunia gw sendiri. Menyenangkan. Kadang gw juga suka emosi kalau hasil kerjaan ga oke. Untuk menenangkan diri biasanya gw ambil sepeda dan pergi ke danau atau sungai. Air sungai yang dingin bikin gw tenang. Pemandangan di danau juga menyegarkan.

Saat makan siang Maggi akan bawa makanan vegetarian. Sumpah rasanya nikmat, gw enggak menyangka kalau makanan vegetarian bisa sebegitu enaknya. Kami biasanya sambil mengobrol berbagi cerita dan pengalaman dari negara masing-masing.

Si pemilik resort termasuk naturalis. Segala sesuatu kegiatan yang dilakukan harus kembali ke alam. Menjadi vegetarian dan membangun tumah natural ini merupakan salah satu cara dia menghargai alam.

Pola pikir Maggi itu yang cukup membuka mata gw. Selama ini gw bermimpi punya rumah sendiri. Rumah yang gw bikin sendiri tanpa bantuan dana dari bank atau pengembang manapun. Sebelumnya gw berpikir untuk bikin rumah dari bambu, selain murah juga cepat selesai. Tetapi setelah kegiatan ini, gw jadi punya opsi lain, seperti bikin rumah dari lumpur atau tumpukan batu. Iya semua itu memungkinkan. Gw bisa bangun sedikit-sedikit rumah karena tergantung bujet. Tetapi gw yakin itulah nikmatnya membangun rumah sendiri. Bahkan, katanya, dengan bahan alami itu rumah gw bisa tahan sampai ratusan tahun. Sudahlah tekad gw bulat untuk membangun rumah tanpa semen yang kita tahu bersama dalam hitungan bulan bisa dilihat keretakan di sana-sini.

selesai kerja bersihin badan dulu di danau

 

sambil berenang menikmati pemandangan ini

Ada kejadian lucu. Gw yang sangat menikmati kegiatan ini coba membagikan pengalaman sama keluarga di Jakarta. Sayangya reaksi yang gw terima tidak sesuai ekspektasi. Nyokap menganggap kegiatan yang gw lakukan hal remeh dan enggak seharusnya gw lakukan hanya karena status gw sebagai sarjana.

Gw jadi paham, Pit. Terkadang kita terjebak di antara mereka yang memiliki standar kebahagiaan yang ditetapkan oleh orang banyak. Mungkin saatnya buat kita-kita untuk egois dan tidak mendengar pendapat orang saat mengomentari kegiatan yang kita suka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s