DRAMA VISA

Halo Pit,

Menanggapi posting lo sebelumnya, perkenankanlah gw cekikikan. Hihihi…

*PUK-PUK*

Selamat karena Anda sedang beradaptasi. Paham bener gw perasaan lo. Seperti biasa komentar gw ¨nikmatin saja¨, toh, sebentar lagi kuliah lo bakal dimulai dan segala kegalauan itu juga bakal hilang. Tenang saja pembatas antara lo sama orang-orang yang lo tinggal cuma waktu dan daratan.

Gw sih yakin kalo perjalanan lo bakal sangat menyenangkan. Persiapkan mental untuk itu. Hahaha… Berasa berpengalaman banget, ya, gw. Tapi, memang benar mengasikan.

Gw masih inget omongan lo soal Tuhan yang Maha Pembolak-balik hati. Mungkin Tuhan juga yang bikin cerita perjalanan gw sekarang penuh drama. Kali ini soal Visa.

Saat masuk Thailand gw dapet izin tinggal 30 hari (terima kasih ASEAN). Nah, selama gw tinggal ternyata gw betah dan berujung pada hampir habisnya masa tinggal gw. Sekitar beberapa minggu sebelum visa abis gw memutuskan untuk pergi ke India. Tapi karena satu dan lain hal akan sangat mepet kalau gw maksa daftar Visa India dengan terbatasnya waktu gw di Thailand.

Sebelum gw berangkat ke Chiang Dao, gw memutuskan untuk memperbarui visa di perbatasan. Istilah keren untuk urusan ini, Visa Run. Caranya mudah, berdasarkan pelacakan di internet, gw tinggal ke negara tetangga dan kembali ke Thailand pada hari yang sama. Dengan cara itu gw bisa dapat izin tinggal 15 hari di Thailand (kalau lewat jalur udara dapat 30 hari).

Ada beberapa perbatasan yang pas untuk melakuka ini seperti Malaysia, Laos, dan Kamboja. Posisi gw yang saat itu ada di utara Thailand membuat gw milih menyebranf ke Lao. Perbatasan terdekatnya ada di Chiang Khong yang bersebelahan dengan Huay Xai, Laos.

Dari hasil bacaan gw, untuk sampai ke negeri sebrang gw bakal naik perahu kayu dan melintasi sungai Mekong. Waaaw… Berasa petualang banget gw. Eh, sayangnya informasi yang gw dapet udah basi. Sejak Desember 2013, kedua negara meresmikan Friendship Bridge IV. Ya sudah besokannya gw melintas Mekong pake bus seharga 20 baht.

Gw sampe Laos sekitar jam 8 pagi. Sebenarnya gw bisa langsung keluar Laos dan kembali naik bus untuk balik ke Thailand. Tapi gw sok ikut-ikutan turis yang mau ke perbtasan lama. Di situ ada pelabuhan kapal lambat buat mereka yang mau ke Luang Prabang. Untuk sampai di TKP gw naik tuk-tuk dan bayar 100 baht.

Sesampainya di pelabuhan, gw melihat-melihat sekeliling dan pemandangan di seberang Mekong dan sepertinya gw melihat penampakan guest house gw.

Gw memutuskan untuk jalan kaki kembali ke perbatasan yang gw angggap deket, ternyata gw harus kuras tenaga sampai dua jam supaya bisa sampai ke perbatsan dengan selamat. Gempor kaki gw, tapi ya lumayan sih bisa liat-liat sedikit Laos. Icip-icip makanan pinggir jalan. Di sana gw bisa pake baht, kembalian bisa gw dapat dalam baht atau kip.

Visa run pertama gw selesai. Aman. Gw berancana untuk melakukan visa run kedua, maklum gw kere jadi ogah bayar visa. Sayangnya ada aturan baru yang dikeluarkan imigrasi Thailand yang membatasi Visa Run di perbatasan maksimal satu kali. Waaah,,,gara-gara aturan ini banyak forum jadi rame. Ada yang bilang beberapa turis enggak bisa keluar dari Thailand karena dikhawatirkan mereka akan melakukan Visa Run.

Gw kaget  sekaligus bersyukur. Aturan itu diaplikasikan dua hari setelah keberhasilan gw nyebrang ke Laos. Bisa lo bayangin kalau waktu aplikasi pada hari yang sama gw keluar dari Thailand? Artinya gw harus bertahan hidup dengan 400 baht tersisa di kantong, sementara Laos itu sangat mahal.

Dengan adanya aturan itu, gw pun memutuskan untuk daftar visa turis di Viantiane, ibu kota Laos. Karena masih ada waktu beberapa minggu sebelum visa kedua gw abis, gw memilih untuk jadi volunteer di Chiang Dao.

Kalau enggak salah inget tanggal 20 Mei 2014, gw berangkat ninggalin Chiang Dao menuju Chiang Mai dengan tujuan akhir Viantiane. Sebelum berangkat gw dapet informasi kalau militer sudah ambil alih pemerintahan Thailand. Gw diminta berhati-hati oleh para volunteer lain. Pada akhirnya gw selamat sampai tujuan sekitar pukul 9 pagi.

Dari perbatasan gw langsung pergi ke kedutaan Thailand. Gw enggak peduli walaupun belum mandi selama 24 jam terakhir. Tujuan gw cuma daftar visa dan balik ke Thailand secepatnya.

Proses pembuatan visa cuma butuh waktu satu hari. Berbekal visa di paspor gw memutuskan balik ke Thailand. Secara total gw cuma tinggal selama 31 jam di Laos. Sekitar jam 16.30 gw udah nongkrong di stasion Ubon Ratchatani dengan selembar tiket kereta menuju Bangkok. Dengan sambungan wifi gratisan gw coba isi waktu liat ini itu, sampai konsentrasi gw teralihkan saat ada pesan singkat masuk dari temen gw yang bilang kalau militer sudah mengkudeta pemerintahan.

Alamak! gw panik, tapi terlalu capek untuk mikir. Gw cuma berharap perjalanan 12 jam gw bakal aman-aman saja. Tetapi, pas tengah malem si ibu yang duduk di depan kursi gw berusaha membangunkan gw dengan menendang kaki gw. Sambil berusaha sadar gw melotot ke si Ibu. Tidak berapa lama datanglah dua tentara dengan senjata lengkap memeriksa tiap gerbong kereta. Gw melongo. Ternyata kereta sengaja diberhentikan oleh militer untuk pengecekan.

Setelah kejadian itu, tidak ada kejadian istimewa. Gw sampai di Bangkok jam 4.30. Awalnya gw mau nongkrong di stasiun sampai waktu check in hostel. Tapi niat itu gw hapus saat lihat beberapa orang memakai kaos anti pemerintahan. Mungkin gw terlalu panik, dan memutuskan cabut dari stasiun secepat kilat daripada gw berada di antara kerumunan orang enggak jelas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s