NATURAL WONDERS OF THAILAND

tulisan ini dimuat di “Le Mariage” edisi Juli-September 

Menyebut nama Thailand pasti kita akan langsung menghubungkannya dengan pantai nan eksotis. Destinasi yang populer dengan sebutan Negeri Gajah Putih ini memiliki garis pantai sepanjang 3.219 kilometer (km) baik di dataran maupun pulau-pulau kecilnya. Tak heran jika pamornya cukup kuat menarik hingga dua puluh juta wisatawan mancanegara untuk melancong setiap tahunnya.

Kebanyakan wisatawan di sini memang berasal dari negara barat yang merupakan pemburu matahari, maklum di negara asal mereka sinar matahari merupakan barang langka. Bagaimana tidak, sinar matahari dan keindahan alam yang ditawarkan sudah menjadi paket lengkap yang bisa Anda nikmati begitu menginjakkan kaki di negara ini. Belum lagi karakter budayanya yang juga memiliki daya pikat tersendiri.

Dengan mayoritas lebih dari 90 persen penduduk penganut agama Budha, Anda dapat dengan mudah menemukan candi di tiap sudut wilayah Thailand. Tak hanya itu, menyandang gelar sebagai negara yang tidak pernah dijajah, sejarah Thailand yang beberapa kali sempat berganti ibu kota kerajaan ini rasanya cukup menarik untuk diulik.

Saya membagi Thailand menjadi dua bagian, utara dan selatan. Bagi yang berminat mengorek budaya dan sejarah Thailand sebaiknya menyusuri Thailand bagian utara, tetapi bagi yang ingin berleyeh-leyeh di pantai tropis silakan melipir ke bagian selatan. Namun, apapun pilihannya, ada baiknya menghabiskan beberapa waktu di ibu kota si Negeri Siam, Bangkok.

How To Get There

Beruntung saya berdomisili di Jakarta yang dapat dengan mudah mencari penerbangan langsung ke Thailand. Dari Jakarta, saya memiliki dua tujuan Phuket atau Bangkok, sementara bagi yang berdomisili di luar Jakarta mungkin harus transit baik di Jakarta, Kuala Lumpur atau Singapura untuk sampai tujuan. Saya memilih Bangkok sebagai destinasi pertama. Sayang, saya membayar tiket penerbangan lebih mahal dibanding bujet dikarenakan jadwal kedatangan saya berdekatan dengan festival tahun baru Thailand, Songkran, pada 13-15 April.

Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta butuh waktu sekitar tiga jam untuk mencapai Bandara Internasional Suvarnabhumi, Bangkok. Ya, lelahnya perjalanan tersebut hilang seketika begitu panas matahari langsungmenyambut saya sesaat menjejakkan kaki di Bangkok. Terik dan gerahnya cuaca Jakarta tidak ada apa-apanya. Bagi Anda yang tidak tahan dengan terik matahari, ada baiknya untuk membawa payung di dalam tas.

Setiba di sana, teman perjalanan sudah menanti di bandara, siap mengantar saya ke penginapan di area Khaosan Road. Banyak opsi yang bisa dipilih untuk sampai Khaosan Road, mulai dari Airport Rail Link berupa kereta yang mengantar ke beberapa titik di kota Bangkok, atau dengan taksi maupun jemputan dari hotel tempat Anda menginap. Biayanya sekitar 100-200 baht per orang.

What To See

Grand Palace

Mengunjungi Bangkok tanpa mampir ke Grand Palace rasanya kurang pas. Pembangunan Grand Palace dimulai sejak 1782 pada pemerintahan Raja Rama I. Bangunan ini diperuntukan sebagai kediaman raja. Sampai 1925 Grand Palace memegang peranan penting sebagai tempat tinggal, namun sekarang kebanyakan dipakai untuk perayaan sejumlah acara seremonial.

Dari Khaosan Road saya berjalan kaki ke dermga Phra Arthit untuk mengambil kapal, pilihannya ada Kapal Turis seharga 40 baht atau kapal biasa berbendera kuning seharga 15 baht kemudian turun di dermaga Tha Tien kemudian berjalan kaki sekitar 5 menit. Untuk menikmati lanskap dan arsitektur megah Grand Palace pastikan datang sekitar pukul 8.30-15.30 waktu setempat. Siapkan uang 500 baht untuk membeli tiket masuk. Kalau merasa muka Anda serupa dengan warga asli Thailand, silakan tantang diri sendiri untuk masuk melalui jalur “for-Thai” bukan “for Tourist”, kalau berhasil Anda bisa berhemat 500 baht.

Bila mengingingkan panduan, Anda dapat menyewa alat bantu audio seharga 100 baht. O iya, perlu diingat, Grand Palace merupakan tempat suci bagi warga Thailand, berpakaian sopan merupakan keharusan ketika mengunjungi tempat ini. Tetapi, jangan khawatir, dekat pintu masuk terdapat penjual yang menjajakan kain serupa kain bali seharga 200 baht, atau Anda dapat meminjam didalam kompleks Grand Palace dengan deposit 200 baht yang akan dikembalikan setelah selesai berkeliling.

Wat Pho dan Wat Arun

Thailand merupakan negeri seribu candi (wat), beberapa candi yang paling banyak dikunjungi adalah Wat Pho dan Wat Arun. Tiket masuk untuk Wat Pho sebesar 100 baht sudah termasuk air mineral dingin. Jam operasional Wat Pho mulai 8.30 hingga 18.00. Mau uji nyali dengan melewati jalur “for Thai”? 

Saya hanya perlu berjalan memutar ke bagian belakan dan menemukan pintu masuk Wat Pho. Atraksi utama Wat Pho adalah reclining Budha, patung Budha yang tertidur dengan menyanggah kepala. Terbentang sepanjang 46 meter dengan dominasi warna emas. Patung Reclining Budha ini dibangun pada 1832 dan merupakan yang terpanjang di Thailand.

Selesai Wat Pho, saya kembali ke dermaga Tha Tien, saya mau menyebrang ke Wat Arun menggunakan kapal penyebrangan seharga 3,5 baht. Kurang dari 5 menit saya sudah sampai di Wat Arun yang memiliki jam operasional 8.30-18.00 waktu setempat. Tiket masuk hanya 50 baht. candi ini merupakan favorite saya. Dari jauh terlihat gelap dan tidak menarik, namun saat didekati ternyata hiasan candi ini berupa keramik warna-warni. Cantik.

Selain cantik, Wat Arun atau yang dikenal sebagai Temple of Dawn, diberi nama setelah Aruna, dewa dari India. Dari candi ini, kita bisa melihat tampak atas sungai Chao Praya. Saran saya bagi para wanita jangan memakai rok pendek saat mengunjungi candi ini bila Anda tidak mau ada yang mengambil kesempatan mengintip.

Khaosan Road

Bila ingin sekadar menikmati bir dingin dan musik, Khaosan Road bisa jadi pilihan Anda. Lokasi ini seakan tidak pernah tidur, semakin malam semakin ramai. Selain bar, Anda juga bisa membeli souvenir seperti kaos, gelang etnik, tas, atau penganan ekstrim seperit kalajengking, ulat pohon, jangkrik dan semacamnya. Bila lapar menyergap Anda bisa melenggang ke gang sebelah, Rambuttri Road, di mana Anda bisa menikmati sejumlah penganan di restoran yang berjejer di sepanjang jalan. Menu andalannya sea food dan western food.

Where to Go

Pasar Chathucak

Bila Anda berada di Bangkok saat akhir pekan, tidak ada salahnya mengunjungi pasar Catthucak yang hanya buka pada Sabtu dan Minggu. Dari Khaosan Road jalan sedikit menuju Phra Arthit Road dan tunggu bus nomor 3 kemudian turun persis di depan pasar Cathucak. Di sini Anda bisa berbelanja di pasar yang sangat luas dan menawarkan segala jenis macam barang dari yang asli hingga tiruan.

Penat dengan hiruk pikuk Bangkok saya memutuskan untuk mengunjungi Ayyuthaya, sekitar 1,5 jam dari Bangkok menggunakan kereta. Saya mengambil kereta dari stasiun Hua Lamphong, Bangkok, dengan tiket seharga 20 baht. Usahakan pergi di pagi hari dan kembali ke Bangkok sekitar pukul 16.00 dengan kereta.

Ayyuthaya merupakan ibu kota Thailand selama 417 tahun sejak 1350 sebelum diintervensi tentara Burma. Selama masa kerajaan Ayyuthaya dipimpin oleh 33 raja dari 5 dinasti berbeda. Meski tidak lagi menjadi pusat negara, bukti kejayaan berupa runtuhan bangunan masih terlihat di Ayyuthaya Historical Park.

What To Do

Siapkan amunisi dan berperanglah!

Cuaca panas Bangkok seakan menjadi tukang bujuk paling mujarab bagi siapapun untuk turun ke jalan dan “berperang” dalam festival Songkran. Syarat utama dalam peperangan ini, diharamkan marah pada mereka yang menyemprot atau menyiram air kepada Anda. Tidak ingin basah, sebaiknya tinggal di dalam penginapan. Siapapun yang berani menunjukan batang hidung di area terbuka, bersiaplah untuk basah.

Festival Songkran merupakan festival menyambut tahun baru di Thailand. Festival ini awalnya merupakan ritual keagamaan yang dilaksanakan tiga hari. Penganut Budha di Thailand biasanya akan pulang kampung, bertemu sanak famili, dan berdoa di candi sekaligus memandikan patung Budha. Air bekas mandi patung Budha yang kemudian diguyurkan ke pundak setiap orang yang ditemui, maknanya untuk membersihkan diri menyongsong tahun baru.

Ritual tersebut pun menjadi komoditas pariwisata. Area turis di Bangkok seperti Khaosan Road berubah menjadi arena peperangan. Setiap orang berbekal senjata masing-masing, saya membeli sebuah senjata air seharga 180 baht, senjata yang fungsional meski tidak terlalu gaya. Sepanjang festival banyak penjual menjajakan senjata air dengan bentuk-bentuk yang lucu dengan harga penawaran mulai 250-350 baht. Amunisi andalan saya adalah air dingin yang memberikan sensasi dingin yang menyenangkan. Saya membeli air dingin seharga 5 baht 1,5 liter botol air mineral.

Selain senjata air, Anda juga bisa membeli kapur yang kemudian dicairkan, tempelkan kapur cair tersebut ke muka orang yang Anda lihat dijalan. Kapur ini berasa dingin seperti sari Po Haci, cukup menyejukan muka. O iya, hati-hati untuk urusan pupur ini, terkadang ada yang mengambil kesempatan untuk memegang tubuh Anda dengan alasan mengaplikasikan kapur tesebut.

Susur Sungai Chao Praya

Ekskursi di Sungai Chao Praya tidak bisa dilewatkan. Sungai yang memegang peranan penting dalam distribusi komoditas Thailand ini juga bisa dijadikan pilihan bagi para wisatawan. Sungai sepanjang 372 kilometer ini melewati sejumlah provinsi di Thailand termasuk Bangkok. Untuk merasakan sensasi menyusur sungai kita bisa membeli tiket Tourist Boat seharga 40 baht.

Untuk kali pertama saya ambil Tourist Boat dari dermaga Phra Arthit dengan tujuan akhir Saphan Taksin Station. Sebenarnya saya agak malas memakai fasilitas buat turis, karena biasanya harus bayar lebih ketimbang harga wajar, tetapi tidak ada perasaan menyesal dengan pilihan kali ini. Sepanjang sekitar 40 menit perjalanan, pemandu dengan apik menginformasikan tempat yang layak dikunjungi serta sejarahnya seperti Grand Palace, Wat Pho, Wat Arun dan lainnya.

Sesampainya di dermaga terakhir, saya memutuskan untuk balik arah. Tujuan saya Grand Palace atau dermaga Tha Tien. Kali ini saya bayar hanya 15 baht, bukan karena jaraknya yang dekat, tetapi saya memilih kapal dengan bendera jingga. Di tiap dermaga terdapat rute kapal yang dibedakan oleh warna bendera, tiap warna beda harga.

Pijat ala Thailand

Sebelum terbang ke Thailand, saya sudah berjanji untuk memanjakan diri dengan pijat ala Thailand. Karena sangat memegang teguh janji, berdasarkan bisikan seorang teman, saya pun melangkah ke lokasi Thai Masage yang paling mantab di kawasan Wat Pho. Wat Pho Thai Traditional Medical and Massage School merupakan pusat pelatihan Thai Masage pertama yang diizinkan oleh Kementerian Pendidikan Thailand.

Saya memilih satu jam pijat. Saya harus membayar harga farang 420 baht, sementara untuk warga lokal hanya 260 baht untuk satu sesi yang sama. Saya harus mengantri beberapa menit sampai nomor antrian dipanggil dan kemudian diantarkan ke tempat pemijatan. Harus diingat jam operasional sekitar pukul 8 pagi sampai 6 sore, baiknya datang agak pagi sebab menjelang siang pasti banyak turis yang kelelahan dan ingin menikmati pelayanan yang sama.

Berbeda dengan pijat tradisional Indonesia, bagi saya Thai Masage seperti assisted-yoga pose. Nikmat rasanya relaksasi sejenak setelah lelah berjalan-jalan mengitari wat. Kalau tidak mau sesi satu jam ada juga yang hanya 30 menit, selain itu bisa juga pilih pijat kaki selama 30 atau 60 menit.

Bersepeda di Ayutthaya

Keliling taman sejarah di Ayutthaya memang tepat dinikmati dengan bersepeda. Saya hanya perlu merogoh kocek 30 baht untuk menyewa satu sepeda sepuasnya. Terdapat penyewaan di jalan sebrang stasiun. Kemudian, saya menuju ke dermaga kecil diujung jalan untuk menyebrang, total saya membayar 8 baht, 2 baht untuk saya dan 4 baht untuk sepeda.

Bersepeda memungkinkan saya untuk berhenti semaunya, kalau lelah tinggal berhenti di samping danau dan masukan kaki ke dalam air. Segar. Selain murah, bersepeda juga romantis bila dilakukan berdua dengan pasangan. Banyak lokasi yang mantab dijadikan latar belakang foto bersama pasangan. Pastikan sepeda Anda memakai pakaian yang mudah menyerap keringat, sepeda nyaman dikendarai, dan tidak ketinggalan pasokan air minum.

Manjakan Lidah

Bagi saya makanan paling otentik suatu daerah adalah makanan pinggir jalan. Posisi Thailand yang diapit dua budaya kuat yaitu China dan India membuat kulinernya terpengaruh kedua kebudayaan tersebut. Di bagian timur Thailand unsur India cukup terasa, saya menikmati mi koh soi di Chiang Mai. Sementara menu favorit yang terpengaruh China favorit saya adalah ayam goreng dengan nasi hainan. Penganan pinggir jalan Thailand pun bermacam-macam dan sangat sayang untuk dilewatkan. Saya suka sate jamur berbalut daging yang dicocol kedalam saus pedas, asam, manis. Satu tusuk hanya 20 baht atau  pad thai dengan udang seharga 50 bath.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s