TIDAK ADA YANG MUDAH DI INDIA

Hai..hai..Pit,

Lama tak saling berkabar-kabari. Nyaman kah? Gw mau berbagi cerita dari negara bekas koloni negeri yang lo tinggalin sekarang.

Sebelum sampai India gw sudah berkeyakinan kalau hidup di negara ini tidak akan mudah. Maksud pernyataan gw itu, buat para penduduk lokal. Alasan tersebut dikarenakan besarnya jumlah penduduk yang sampai 1,2 miliar jiwa. Bayangkan betapa ketatnya persaingan di negeri itu.

Sebagai pelancong gw pikir kesulitan cuma seputar urusan budaya. Hal itu pun sangat wajar. Sayangnya harapan gw untuk bisa hidup mudah dengan status turis tidak bisa didapatkan dengan mudah.

Bermula dari penerbangan gw dari Bangkok ke Chennai. Mayoritas penumpang adalah penduduk lokal India. Mereka berkelakuan seperti anggapan gw selama ini, agresif. Masuk ke dalam kabin pesawat pun grasak-grusuk. Bingung. Tetapi pas sampai di dalam badan pesawat barulah gw sadar kalau ternyata mereka buru-buru demi mendapatkan kabin untuk menaruh tas bawaan yang besar-besar.

Itulah pengalaman pertama saya dengan India.

Sehari sesampainya di India gw bermaksud membeli kartu telepon. Bagi gw cukup penting karena ingin tetap terkoneksi dengan orang-orang yang gw kenal. Sayangnya mendapatkan kartu telepon di India sangat sulit.

Saat masuk ke toko dan mengutarakan maksud kedatangan. Penjaga toko meminta paspor, kagetlah gw, buat apa lihat-lihat paspor. Dia bilang itu bagian dari persyaratan. Demi sebuah kartu telepon, gw berikanlah itu paspor. Kemudian dia meminta surat referensi warga lokal untuk memberikan gw kartu SIM. Makin aneh, gw tinggalin saja toko itu.

Di Chennai, gw tinggal dengan warga lokal, gw ceritain pengalaman mencari kartu telepon.  Dia coba cek di internet tentang ketentuan warga asing memiliki kartu SIM. Banyak sekali persyaratannya seperti: foto copy paspor, foto ukuran 3×4 berwarna dengan frame putih, dan referensi warga lokal atau hotel.

“Memangnya kamu tidak tahu aturan ini?”
“Enggak”
“Enggak cari tahu dulu cara mendapatkan kartu SIM sebelum sampai di sini?”
“Ya enggaklah. Mana saya tahu bakal rumit macam ini cuma untuk dapat kartu SIM!”
“Ini dimaksudkan untuk antisipasi aksi terorisme makanya agak ketat.”

Sekitar empat hari gw coba peruntungan mendapatkan kartu SIM India, hasilnya nihil. Bosan di Chennai gw pergi saja ke Tirupati di negara bagian Andrha Pradesh. Sekali lagi coba peruntungan. Banyak penjual kartu telepon menolak melayani. Sampai akhirnya gw berhenti di customer care sebuah provider. Gw mengaku sebagai turis yang ingin mendapatkan kartu SIM. Lagi-lagi ditolak karena tidak punya referensi. Petugas menyarankan gw untuk mendapatkan kartu SIM dari bandara internasional yang jaraknya sekitar lima jam perjalanan. Opsi lainnya adalah meminta referensi dari pihak hotel tempat gw menginap.

Opsi kedua lebih mudah dilakukan. Sayangnya pengelola hotel tidak kooperatif. Keesokan harinya gw datang lagi ke customer care dan mengadu kalau tidak dapat referensi dari hotel dan bermaksud meminta kemudahan. Petugas tak menaruh iba. Katanya tak ada yang bisa dibantu karena ini merupakan kasus langka.

Hampir saja putus asa sampai seorang warga lokal mau menolong. Ia meminjamkan namanya untuk mendapatkan kartu SIM. Si penolong ini mengaku juga seorang petualang dan paham betapa depresinya menghadapi situsi seperti yang gw hadapi.

Selama proses aplikasi, si petugas terlihat komat-kamit saat mengentri data si penolong. Gw menerka jangan-jangan dia khawatir kalo gw orang jahat yang akan menyalahgunnakan kartu SIM tersebut. Bahkan ia sempat ngotot kalu paspor yang digunakan sebagai aplikasi tidak valid karena tidak ada tanda tangan pejabat imigrasi yag mengeluarkan paspor itu. Gw sih heran mengapa mereka mempermasalahkan hal itu padahal pihak imigrasi mereka sudah mempersilakan gw masuk negaranya.

Cerita belum selesai. Setelah SIM ada di tangan, gw menjalankan niat untuk pindah ke kota lain di state yang lain pula. Ternyata meskipun India digadang-gadangkan sebagai pusat IT kawadan Asia dan mememiliki Silicon Valley versi mereka sendiri ternyata jaringan ponsel mereka belum bebas roaming. Ada biaya yang harus dibayar untuk menerima telepon gratis. Untuk urusan satu ini saya punya cerita tidak mengenakan.

Bagi gw proses mendapatkan kartu SIM cukup menguras tenaga. Saat menceritakan hal tersebut ke warga lokal mereka nampak bisa menerima dan anggap hal tersebut justru demi kebaikan bersama. Entahlah gw tidak melihatnya seperti itu. Bagi gw tindakan tersebut merupakan reaksi berlebihan dan justru memberikan ketidaknyamanan.

Selang beberapa waktu, gw ketemu temen yang juga berstatus turis di India. Dia masuk India dari New Delhi dan mengaku tidak mendapat kesulitan berarti dalam mendapatkan kartu telepon. Gw pun berkesimpulan, kesulitan yang gw dapet karena gw berada bukan di daerah para turis asing biasanya berkumpul. Mungkin ceritanya akan lain kalau gw berada di tempat lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s