DERITA BERPASPOR HIJAU

Banyak yang mengeluh betapa “butut” paspor hijau yang masyarakat Indonesia miliki. Maksud dari ungkapan itu karena tidak mudah bagi kita untuk masuk keluar negara lain seenak jidat. Hanya ada beberapa negara yang tidak mewajibkan kita untuk memiliki visa sebelum berkunjung. Bagi yang hanya sekadar melancong seminggu dua minggu di negara yang bebas visa, tentulah tidak ada masalah, tetapi bagi mereka yang hendak tinggal lebih dari masa tersebut persoalan akan muncul.

Saya alami sendiri waktu di Thailand. Sebelumnya sudah saya ceritakan soal “visa run” di perbatasan Thailand-Laos di sini. Nah, setelah pulang dari India saya melancong sebulan di Malaysia dan masih belum berniat untuk ke Australia. Dikarenakan hanya punya jatah tinggal 30 hari, saya pun melipir ke Thailand dengan pertimbangan lebih murah ketimbang menengok Singapura yang juga bertetangga dengan Malaysia.

Perbatasan yang saya tuju adalah Padang Besar yang dapat diakses dengan kereta dari Georgetown, Penang, Malaysia. Saya lupa berapa biaya yang saya bayar untuk tiket kereta tersebut, seingat saya cuma pembelian tiket dilakukan terpisah, Georgetown-Padang Besar (Malaysia) dan Padang Besar (Thailand)-Hatyai. Sesampainya di Padang Besar saya minta cap keluar dan masuk dari kedua negara. Seharusnya saya bisa melanjutkan perjalanan dengan kereta, hanya saja harga tiketnya teramat mahal. DIputuskanlah untuk berjalan kaki dari stasiun ke pintu keluar jalur kendaraan bermotor. Keputusan tepat, karena biaya bus ke kota tujuan yang sama sepertiga lebih murah karena tidak ada “international fee”. pffft…

Sayangnya karena memasuki Thailand melalui jalur darat saya hanya dapat jatah tinggal 15 hari, sedangkan teman perjalanan saya 90 hari. Terlihat perbedaannya kan? Betapa merananya saya yang harus hengkang dari Thailand jauh lebih cepat daripada si teman. Saat masa tinggal saya habis, si teman perjalan menyarankan saya untuk kembali melakukan “visa run”, sebenarnya saya ogah, tapi saya lebih males untuk kembali ke Malaysia. Akhirnya saya pun nurut saran teman itu.

Kembali saya menyambangi perbatasan Padang Besar. Si teman menunggu saya di Thailand dan saya berjalan ke Malaysia yang cuma lima menit. Proses keluar Thailand-masuk dan keluar Malaysia cukup mudah. Masalah muncul saat saya hendak masuk kembali lagi ke Thailand. Saya ditolak masuk dengan alasan terlalu banyak stempel imigrasi Thailand di paspor dan petugas imigrasi menyinggung soal melakukan “visa run” hanya boleh sekali. Pelan-pelan saya jelaskan bahwa ini merupakan kali pertama saya melakukan “visa run” tanpa visa. Dalam kunjungan saya terakhir, empat bulan dari hari tersebut, saya memakai visa turis. Oh, sungguh si petugas menjalankan amanat dinas dengan baik, saya tetap ditolak.

Saya diarahkan menuju atasan si petugas yang sedang berada di kantornya. Saya coba bujuk dan menjelaskan, kalau saya diijinkan masuk, akan tinggal di Thailand tidak lebih dari waktu yang ditentukan. Beralasan kalau barang-barang saya tertinggal di hostel pun tidak digubris. “Pergi ke Malaysia dan daftar visa, setelah itu balik ke Thailand.” Masalahnya kedutaan Thailand yang terdekat dari perbatasan adalah Georgetown yang berjarak lima jam perjalanan dengan kereta. Saya ogah bolak balik dan menyarankan si teman untuk mengambil seluruh barang-barang kami di hostel dan hengkang dari Thailand hari itu juga.

Selagi menunggu si teman, seorang petugas imigrasi yang lain datang menghampiri dan membuka obrolan soal ketatnya aturan di Thailand. Dan menurutnya, pemerintah sangat tegas memberlakukan aturan tersebut. Tetapi diujung obrolan, dia menawarkan “bantuan”. Dia sebutkan harga pembuatan visa yang tiga kali lipat dari harga seharusnya. “Saya enggak balik ke Thailand ajalah kalo harga visanya segitu,” saya bilang kepada petugas imigrasi.

Asia Tenggara memang sungguh korup dan hal itu lumrah karena memang selalu ada celah untuk mengakali aturan tersebut. Saya menunggu teman perjalanan di kantin sambil makan nasi goreng, sayup-sayup terdengar suara berat seorang pria yang dari gayanya seperti seorang calo. Saya coba curi pandang, benar saja setidaknya ada empat orang yang mengelilingi dia dan ditangannya terdapat paspor dengan jumlah yang sama. Saya coba mendekat, dia melihat dan mulai bertanya-tanya perihal keberadaan saya di situ. Saya jelaskan, dia dengan bahasa Melayu yang super duper berantakan berniat membantu. Hanya saja bantuan yang ditawarkan akan berhasil dilakukan kalau masalah saya adalah “B” sementara masalah yang saya punya adalah “A”.

Teman perjalanan sampai dengan selamat membawa gembolan milik kami. Sambil berjalan lesu kami memikirkan alasan apa yang harus diberikan kepada imigrasi Malaysia soal kondisi saya. Tetiba saya ketakutan, jangan-jangan petugas Malaysia juga kesal sama saya karena bolak-balik dan enggan kasih izin saya masuk negaranya. Kalau saya ditolak masuk saya harus kemana? nanti kalau lapar makan apa? tidur malam hari di mana? sungguh pening.

“Pak cik, saya tak boleh masuk sama Thailand. Dia bilang sudah banyak cop. kalau mau masuk harus buat visa ke Penang. Saya nak pergi ke Penang lah,” saya beralasan pada petugas imigrasi. Untungnya mereka santai, sepertinya saya bukan kasus pertama jadi mereka pun dengan sigap membatalkan status “keluar” dari Malaysia dan saya berhak tinggal 30 hari.

Ternyata masalah belum selesai sampai di situ. Sewaktu hendak keluar dari Malaysia ke Australia, saya sempat tertahan di imigrasi. “Seharusnya awak ada di Thailand, kan?” Saya pun kembali pening dan harus menjelaskan semua masalah dari awal. Setelah beberapa menit dan petugas berkonsultasi dengan atasannya, saya pun diperbolehkan keluar Malaysia.

Asumsi saya, petugas imigrasi di Padang Besar lupa membatalkan status “keluar” saya. Jadi keberadaan saya selama dua minggu di Malaysia tidak terdeteksi oleh negara manapun. Lucu, padahal tidak lama sebelum saya datang ke Malaysia ada kasus penumpang yang menggunakan paspor asli tapi palsu dan lolos dari pengamatan petugas dan masuk ke penerbangan pesawat nahas Malaysia Airlines yang hilang saat menuju China. Sungguh bahaya!

Sekarang boleh makin percaya kalau memang paspor hijau bikin mobilitas kita terbatas. Meski demikian saya masih bersyukur karena punya paspor karena banyak yang tidak seberentung saya karena negara mereka tidak diakui keberadaannya.

Iklan

6 Replies to “DERITA BERPASPOR HIJAU”

  1. klo saya yg ngalamin kek gtu. udah nangis2 darah di perbatasan.. wkwkwk
    pernah sekali di bentak petugas imigrasi singapore aja saya lgsg nangis.. wkwkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s