LIMA RATUS

Baiklah…

Per tanggal 22 Agustus 2015 tepat sudah 500 hari saya pergi dari rumah.Cepat, tidak terasa sama sekali. kalau tidak ada aplikasi yang pintar menghitung hari kepergian, sudah pasti saya tidak akan ingat akan angka yang kalau dilihat-lihat bikin hati berdebar. Entah karena rindu akan rumah atau karena bahagia sudah melewati banyak hari dengan memori.

Saat saya ceritakan perihal “prestasi” ini, si dia nyeletuk “Desember besok saya akan 2500 hari jauh dari rumah.” Oh yah, sangat kecil sekali jumlah angka saya disandingkan dengannya. Tak apalah, toh, saya menjalani hari saya sendiri dan menikmatinya.

Dulu saat kuliah ada satu dosen yang akan meminta tiap-tiap mahasiswa membuat sebuah catatan refleksi pada akhir semester untuk mata kuliahnya. Refleksi ini dimaksudkan supaya para mahasiswa sadar atas apa yang sudah dipelajari dan bagi dosen menjadi bahan penelaahan apakah mahasiswa menangkap materi dengan baik atau tidak. Nah, sebagai penanda 500 hari perantauan ini saya pun akan membuat sebuah refleksi.

Lagi-lagi si dia bilang, dulu sekali saya pernah nyeletuk kepingin merantau. Mendengar pernyataan saya dia menyemangati dan bilang kalau saya pasti bisa menjadi seorang perantau. Dia benar, inilah saya sekarang, perantau. Saya bukan tipe orang yang sering memutuskan perkara besar, merantau mungkin adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup saya saat ini. Dan, saya pun mensyukuri pilihan tersebut. Hidup saya pasti akan memiliki warna lain andai saja merantau tidak saya lakukan. Saya tidak peduli apakah warna lain itu bisa jadi lebih cerah karena hanya warna perantauan ini yang saya suka dan nikmati.

Karena tema tulisan kali ini adalah refleksi, ada baiknya saya mulai uraikan apa-apa saja yang sudah saya nikmati selama 500 hari terakhir. Yang paling patut dibanggakan adalah rampungnya tulisan ini. Ini prestasi, loh, karena saya tidak ingat kapan terakhir bisa menulis panjang. Selama ini kegiatan tulis menulis terbatas di media sosial yang sangat terbatas ruang. Sebenarnya itu bukan alasan utama, kepala saya sangat terbatas kemampuannya saat ini. Menulis menjadi sebuah pekerjaan yang tidak lagi menyenangkan. Maka dari itu, tolong bantu merayakan keberhasilan saya kali ini dengan terus membaca tulisan ini sampai selesai. Saya ucapkan terima kasih sebelumnya.

Hari pertama merantau bukan perkara mudah, penyesuaian sana-sini saya lakukan. Tetapi memang agak beruntung karena negara pertama yang saya kunjungi adalah Thailand. Negeri yang rileks dan siap menyambut siapa saja yang datang. Waktu di Thailand saya habiskan untuk tidak melakukan apa-apa. Hanya saja sesekali menyambangi pusat pariwisata. Pelan-pelan saya beranjak ke arah utara dan terhenti di Chiang Dao. Salah satu “highlights” kunjungan pertama saya di Thailand itu adalah adanya kudeta politik.

Sempat was-was, tetapi kondisinya sama saja seperti di Indonesia, gejolak politik cuma benar terasa di ibu kota negara, untuk daerah pelosok yang berjarak ratusan kilometer dari pusat pemerintahan suasana cukup kondusif. Meski demikian, karena adanya pemberlakuan jam malam saya sempat dibangunkan oleh penumpang kereta api yang duduk di depan saya karena anggota militer masuk ke dalam gerbong lengkap dengan senjata laras panjang dan memeriksa kondisi di dalam. Hiii… ngeri.

Pernah seorang teman berkata, “ngapain, sih, ngerjain pekerjaan yang notabene kerjaan cowok!” saat dia tau saya ikut-ikutan membabat rumput untuk kasih makan sapi di India. Iya, menurut dia arit itu bukan perkakas yang pantas dimanfaatkan kaum hawa. Saya diam saja waktu itu. Iya diam saja karena belom mikir. Setelah dipikir-pikir, apa untungnya membagi-bagi jenis pekerjaan untuk jenis kelamin tertentu. Lah, wong, saat saya kerja motong rumput ada seorang pekerja wanita India yang sangat mahir mengayun arit ketimbang teman perjalanan saya yang di indentitasnya tertulis sebagai laki-laki.

Sewaktu di Thailand pun saya bekerja bareng dua perempuan berumur beberapa tahun lebih tua dari saya membangun rumah. Iya, kedua wanita itu bekerja sebagai tukang bangunan, ikut aduk-aduk semen, memplester dinding, juga mengecatnya. Di Australia saya sering melihat perempuan sebagai juru mudi taksi. Saya jadi kepikiran, apa sebenarnya maksud ucapan teman saya itu, apakah dia khawatir kalau-kalu jari jemari perempuan Indonesia tidak lagi mulus karena melakukan pekerjaan kasar atau dia masih memandang rendah kemampuan perempuan? Entahlah. Saya juga enggak peduli, kok, soalnya semua hal itu tergantung niat dan determinasi. Ini serius. Sudah saya bilang kan kalau ada perempuan yang mampu membabat rumput dengan sangat apik, lebih cepat dibanding teman perjalanan saya. Bahkan si perempuan yang bernama Joobi itu sanggup mengangkat puluhan kilo rumput di atas kepalanya.  Itu bukti siapapun  bisa melakukan apa yang mereka mau. Joobi sendiri sudah bekerja di kebun itu bertahun-tahun lamanya dan sudah pasti keahliannya sungguh terasah.

Saya sendiri pun merasakan “diskriminasi” gender saat bekerja di pabrik beras di Australia. Teman kerja yang sudah pengalaman bilang, “kebanyakan pekerjaan di sini untuk laki-laki, nanti kamu kerja yang gampang-gampang saja.” Ternyata dia salah, supervisor malah mempekerjakan saya di posisi yang sebelumnya hanya diisi para lelaki. Dan, saya bisa mengerjakannya. Bukan karena saya seorang wanita perkasa, tetapi memang pekerjaan yang saya lakukan bisa diselesaikan oleh siapa saja. Sekali lagi semua itu tergantung determinasi.

Ngomong-ngomong soal determinasi, hal yang satu itu memang sangat penting untuk dipunya. Pekerjaan yang saya lakoni saat inilah yang membuka mata saya. Pekerjaan terakhir saya (mungkin) di Australia adalah memanen dan mengemas ubi. Mengepak ubi bukan keahlian saya, jangan heran kalau setiap hari saya kena omel bos. Sebulan dua bulan pertama merupakan neraka bagi saya. Bertahan untuk bekerja hanya untuk mendapat tambahan tabungan. Teman-teman kerja terus menyemangati untuk tidak putus asa.

Sempat hendak mengutarakan niat untuk tidak lanjut bekerja kepada si boss, tapi urung. Saya bilang pada diri sendiri, “bertahan setidaknya sampai hari terakhir yang sudah kamu janjikan. Walau tidak ada peningkatan kerja yang signifikan setidaknya kamu bukan jadi pengingkar atas janji yang sudah diutarakan!”

Di kebun ubi itu saya bilang pada boss akan komitmen bekerja selama tiga bulan. Hal itu saya utarakan sebelum mulai bekerja. Bagi saya mengepak ubi sangat melelahkan otak. Bayangkan saja setidaknya dalam lima jam sehari harus melakukan repetisi, cek bentuk dan ukuran ubi kalau perlu memotong bagian yang busuk. Keadaan akan tambah buruk bila ubi penuh akan tanah yang membuatnya sangat kotor kalau sudah begitu hukumnya haram bagi si ubi untuk masuk ke dalam kardus. Mungkin karena determinasi untuk bertahan pada bulan ketiga kinerja saya sedikit membaik dan omelan dari bos pun berkurang. Bekerja pun menjadi nyaman. Sekarang saya paham maksud dari “semua indah pada waktunya”.

Tidak pernah saya sadari kalau ternyata saya mengidap “inferior complex” cukup akut. Sebelum sampai di Australia saya selalu menjadi orang nomor dua disapa setelah teman perjalanan. Si dia seakan selalu menjadi juru bicara dalam setiap percakapan. Saya yang gila eksistensi harus bekerja keras supaya orang sekadar ingat nama saya. Pernah sekali di India saya harus mengaku kalau saya pernah bekerja di media massa. Hal itu membuat kepala mereka menoleh kepada saya dan berniat mendengar saya berbicara.

Pernah sekali seorang pejalan asal Eropa barat bertanya identitas kebangsaan saya dan saat mengetahuinya dia bilang pernah berkunjung dan menikmatinya. Obrolan jadi menarik sampai akhirnya dia mengeluarkan pertanyaan yang membuat saya “maksud, lo?!!!!”. Dia heran akan level bahasa inggris saya yang katanya selama dia di Indonesia sangat sulit berkomunikasi dengan orang lokal karena jarang ada yang berbahasa Inggris. Saat itu saya ingin berkomentar “yang salah lo sih sebenernya, emangnya lo ga tau kalo kami gak pake bahasa Inggris?” tetapi saya cuma jawab tergantung kemana dia pergi dan siapa yang dia temui. Saya juga jelaskan kalau beberapa teman saya malah level kemampuannya sudah sangat tinggi dan jumlah kawan saya yang seperti itu bukan cuma satu dua.

Setibanya saya di Australia dan tinggal sementara di rumah yang penghuninya berasal dari Amerika Latin barulah saya sadar kalau saya sangat minderan. Dan, masih berhubungan dengan kemampuan berbahasa. Jadi mereka penghuni rumah datang ke Australia mengadu nasib dengan menggunakan visa pelajar. Umumnya mereka belajar bahasa Inggris. Sayangnya meski sudah berbulan-bulan tinggal di negeri berbahasa inggris ditambah mengambil kelas khusus, kemampuan berbahasa mereka jauh dari level “basic”. Ah, ternyata si orang Eropa Barat itu tahu kalau bahasa Inggris bukan bahasa utama di Indonesia oleh karenananya dia kaget saat ada yang mahir bercakap-cakap dalam bahasa asing itu. Dia kaget dan mungkin kagum karena banyak orang-orang Eropa atau Amerika Latin yang dia temui harus jauh-jauh pergi ke Australia untuk belajar bahasa Inggris, sementara ada orang Indonesia yang cuma belajar bahasa inggris di negaranya punya kemampuan yang lumayan. Ah,,,ini mungkin salah satu keuntungan memiliki “inferiority complex”, semangat belajar jadi tinggi soalnya kalau bisa berbahasa asing jadi kelihatan keren. Muahahahahaha…

***

Kalau kalian seriang baca tautan yang isinya menggadang-gadangkan betapa nikmatnya jadi pejalan dan sungguh besar manfaatnya dalam pencarian jati diri, maaf saya cuma mau bilang kalau saya tidak percaya dengan tulisan-tulisan manis itu. Biasanya artikel itu akan menjelaskan kalau kalian akan lebih mengerti diri sendiri dan menjadi lebih tahu apa yang mau diperbuat di kemudian hari. Semua itu bohong, karena hal tersebut tidak bakal saya alami. Tinggal beberapa hari sebelum saya kembali ke rumah tetapi saya belum ada rencana akan menghabiskan waktu dengan cara apa. Seorang teman pernah bilang “kalau kamu tidak tahu mau melakukan apa, pergilah berkelana. Tetapi ingat pengelanaan itu bukan garansi nanti kamu akan menemukan sesuatu untuk dikerjakan pada masa yang akan datang.”

Sungguh saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan nanti. Marilah berdoa semoga ada jalan keluar buat saya supaya otak ini tidak tumpul.

Saat ini, yang saya tahu dan ingin lakukan di masa depan adalah mengajarkan keturunan saya banyak hal sederhana seperti memasak, berkebun, mencuci baju tanpa bantuan mesin, merawat binatang, bertukang, berenang, dan berbahasa. Entahlah kapan hal itu bisa saya laksanakan, tunggu sajalah kapan semesta bertindak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s