Bekerja sambil Berlibur [WHV] di Australia

Ada sebuah artikel yang saya baca belum lama ini yang isinya saya setujui. Si penulis mengecam ajakan “quit your job and travel the world”. Menurut si penulis untuk menjadi pejalan, apalagi untuk jangka waktu yang panjang, uang adalah faktor penting yang tidak boleh di-liat-saja-nanti. Kecuali kalian adalah pemilik rekening bank dengan jumlah angka fantastis, ya, pasti tidak bekerja sama sekali bukan sebuah masalah besar.

Dulu saya termasuk penganut “udah berhenti kerja saja, terus jalan-jalan”, duh! betapa bodohnya saya saat itu. Jelas-jelas ajakan itu menyesatkan. Kalau melihat latar belakang pekerjaan dan juga penghasilan, jelas-jelas saya bukan termasuk kalangan pemilik rekening fantastis. Kalau saya berhenti bekerja, paling maksimal saya hanya bisa bertahan dua bulan karena mengandalkan penghasilan sebelumnya.

Beruntungnya saya dapat informasi soal Work and Holiday Visa (WHV) yang ditawarkan pemerintah Australia untuk para pemuda Indonesia. Seorang teman berbisik kalau dengan penghasilan bekerja di Australia cerita buku tabungan saya bisa berakhir bahagia. Dan, benar saja kawan, saya tidak pernah merasa bahagia saat melihat angka yang tertulis dalam rekening saya itu. Jangan tanya jumlahnya!

WHV sendiri bukan program baru yang dikeluarkan Australia. Memang kerja sama dengan Indonesia baru berjalan mulai 2009, namun dengan negara-negara lain sudah lebih lama dari itu. Saat kali pertama diadakan, pemerintah Australia hanya memberikan jatah 100 visa tiap tahunnya. Per 2012 kuota tersebut meningkat menjadi 1000 visa. Saya sendiri mengajukan visa pada awal 2014 dan sampai di Australia Oktober 2014.

Apa sih WHV?

Singkatnya program ini merupakan upaya pemerintah Australia untuk “memperkenalkan” budaya mereka kepada anak muda di seluruh dunia. Bagi saya, program ini merupakan cara murah dan mudah bagi Australia untuk mendapatkan sumber daya manusia untuk bekerja di negaranya (nanti saya ceritakan di posting terpisah). Nah, para pemegang WHV memiliki waktu setahun penuh untuk tinggal di benua kangguru tersebut. Selama menetap di Australia pemegang WHV bisa berlibur, bekerja, juga belajar (untuk jangka waktu tertentu). Kalau ogah tinggal setahun penuh pun tidak jadi soal, pemegang WHV bisa keluar masuk Australia selama visa masih valid.

Bagi saya WHV adalah cara termudah untuk menjajal hidup sebagai ekspatriat. Bagaimana tidak, dengan harga visa yang tidak terlalu mahal saya bisa bebas melakukan aktivitas apapun yang saya mau, bisa bekerja kalau butuh uang, jalan-jalan bisa dilakukan saya mau, dan duduk di ruang kelas pun mudah di lakukan kalau niat. Oleh karena itu, tanpa pusing-pusing saya langsung ajukan visa dan berangkat ke Australia.

Persyaratan yang diminta untuk untuk WHV pun enggak njelimet.

  1. Berusia antara 18-30 tahun saat mendaftar (ada rencana usia pendaftar akan dinaikan menjadi maksimal 35 tahun. Silakan baca di sini).
  2. Surat rekomendasi dari pemerintah Indonesia. Bisa didapat di sini.
  3. Bukti kepemilikan dana sekira AUD 5000.
  4. Memiliki level fungsional bahasa Inggris (informasi terakhir pembuktian kemapuan berbahsa Inggris ditunjukan dengan minimal score IELTS 4,5) .
  5. Pernah atau mengenyam pendidikan setingkat perguruan tinggi minimal empat semester.
  6. Paspor yang masih berlaku setidaknya 12 bulan.

Seingat saya sih itu saja persyaratannya, tapi sila dilihat laman daring milik imigrasi  Australia di sini supaya dapat informasi terbaru. Saran saya juga ikut bergabung grup WHV Indonesia di Facebook, cukup banyak informasi yang bisa didapat dari sesama pemburu WHV.

Dari persyaratan di atas yang paling mengganjal bagi banyak orang adalah poin nomor tiga. Saya juga sempat ciut melihat persyaratan itu. Tetapi tenang saja, sebagai penganut pepatah “banyak jalan menuju Roma” kita tidak boleh patah semangat. Tentu saja persyaratan tersebut bisa diakali, karena dana tersebut hanya perlu “tercatat” tidak perlu “dimiliki”. Bingung? Trik saya dulu adalah meminjam dari sna sini untuk mengumpulkan dana sebesar itu di tabungan saya. Saat meminjam saya pun memberikan penjelasan mendetil tentang keperluan saya dan berjanji tidak akan memakai uang tersebut untuk alasan lain. Uang akan dikembalikan langsung setelah visa didapat.

Ada trik lain yang diajakarkan teman. Si teman dan teman lainnya hanya memiliki simpanan separuh dari persyaratan, mereka pun secara bergantian mengirim sejumlah uang ke rekening masing-masing. Hingga pada akhirny jumlah saldo setara AUD 5000. Cara ini cukup manjur, karena menunjukan ada aktivitas dalam rekening tersebut sehingga meyakinkan si pemilik akun benar-benar memiliki uang.

Pertanyaan berikutnya pasti adalah “waktu masuk Australia bakal diminta bukti tabungan enggak?” Untuk kasus saya dan teman-teman yang lain, tidak ada pertanyaan berapa banyak uang yang kami miliki. Bahkan seorang teman hanya punya AUD 200 untuk memulai hidup di Australia.

Saya baru menyelesaikan perantauan di Australia yang selalu saya syukuri karena hal tersebut adalah keputusan yang tepat. Selain uang (saya matre!) banyak pelajaran yang saya tuai. Kalau saja saya bisa kembali lagi, pasti saya akan lakukan. Bila kalian sedang berpikir-pikir untuk mengambil WHV, kalian bisa jadi beruntung karena ada wacana WHV subclass 462* dapat mendapatkan visa untuk tahun kedua asal mengikuti persyaratan yang berlaku.

Kembali ke soal ajakan untuk tidak peduli dengan uang yang saya tulis di atas, ada baiknya kalian jangan terlalu percaya. Memiliki kepastian dana merupakan kunci untuk bisa menikmati perjalanan terutama buat mereka yang melakukan perjalanan dalam jangka waktu yang panjang. Oleh karena itu, pikirkanlah masak-masak kalau mau menurut sama kutipan-kutipan besar yang ditulis di atas gambar yang terlihat inah itu. Sebab bisa saja itu menyesatkan. Eh… tetapi kalau kalian mau berhenti kerja karena memang tidak nyaman dengan apa yang dikerjakan, ya, bebaskanlah diri kalian.

*Australia memiliki dua sub-klasifikasi untuk Visa Bekerja dan Berlibur yaitu 417 dan 462. Warga Negara Indonesia dan beberapa negara lain masuk ke dalam sub klasifikasi 462 . Berbeda dengan sub klasifikasi 462, pemilik visa sub klasifikasi 417 sudah bisa mendapatkan visa tahun kedua asal mengikuti sejumlah persyaratan. Informasi per 19 November 2016: pemegang subclass 462 sudah bisa mendapatkan visa tahun kedua. Informasinya lihat di sini.
Iklan

13 Replies to “Bekerja sambil Berlibur [WHV] di Australia”

    1. Iya betul banget, banyak sekali pengalamannya di tanah rantau.

      wah dulu ada kasta penerima WHV ya? baru denger nih yang kayak begini. apa karena dulu kuota cuma 100 jadinya ada pembatasan.

  1. Mbak, permisi numpang tanya, kalau surat rekomendasi dari pemerintah Indonesia udah keluar dari imigrasi sudah pasti berangkat belum??
    Ada kemungkinan ga kalo surat rekomendasi udah keluar dan lalu pengajuan ke AVAC dan sudah bayar biaya visa dgn nominal yg lumayan itu terus dinyatakan gagal???
    Mohon informasinya terimakasih sebelumnya..

    1. halo mbak/mas Nandaperput, sebelumnya mohon maaf ya nanti jawaban saya jangan dijadikan patokan karena urusan imigrasi enggak ada yang tahu. jawaban saya ini murni pendapat pribadi dengan segala keterbatasan informasi yang saya punya.

      Menurut saya, adanya SRPI memang bikin peluang kita untuk dapat WHV lebih besar. Dulu sekali saya pikir kalau SRPI udah ditangan udah dipastikan bakal dapet visa. Tetapi, setelah denger pengalaman beberapa orang emang enggak langsung mulus dapetnya ada juga yang ditanya-tanya sampai mendetil, saya dulu enggak seperti itu. Saya cuma bisa bisa bilang kalau sekarang agak lebih strict dibanding tahun-tahun sebelumnya. tetapi kalau semua dokumen lengkap dan meyakinkan, saya rasa enggak ada alasan buat mereka untuk menolak pengajuan WHV.

      Semoga membantu ya jawabannya. Good luck!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s