Kembali Ke Rumah

Perantauan saya terhenti di hari ke 596. Hari itu saya kembali bermalam di Jakarta, di tempat orang tua saya.

Sempat saya penasaran akan apa yang saya rasakan saat menjejak kaki kali pertama di kota kelahiran tersebut. Sebelum roda pesawat mendarat di landasan pacu saya tersenyum, dan ketika semua roda benar-benar menggelinding dengan pasti saya tertawa sembari berbisik “selamat datang ke rumah!” kepada diri sendiri.

“Saya baik-baik saja,” balas saya pada pesan pendek teman perjalanan yang menanyakan keadaan. Saat itu matahari telah tenggelam, syukurlah saya tidak disambut sengatan panasnya matahari Jakarta yang selalu tidak bersahabat. Tidak ada emosi yang cukup membuat saya kembali menangis di hadapan petugas imigrasi. Oh iya, saya ceritakan alasannya, Jakarta bukan kota pertama yang saya sambangi setelah perantauan kemarin. Saya sempat bermalam di Bali. Bila dibandingkan dengan pengalaman Bali, sungguh berbeda sekali emosi saya.

Petugas imigrasi: Nomor penerbangannya berapa Mbak?

Saya: umm… (ya ampun ada yang manggil saya “mbak”)

Petugas imigrasi: pesawatnya apa?

Saya: um… *tarik napas* um… J…Q…xxx

Petugas imigrasi: oh dari Australia, ya? Selamat datang kembali!

Saya: makasih *sesenggukan*

Teman-teman sempat tertawa mendengar cerita saya. Ah, andai kalian tahu betapa indahnya bahasa Indonesia yang saya dengar untuk pertama kalinya setelah sekian lama itu. Jika saja kalian paham kalau dipanggil “mbak” itu bagai sebuah legitimasi saya sudah kembali di “rumah” dan menjadi bagiannya. Saya benar-benar pulang.

Sembari menunggu jemputan keluarga, saya membeli sebotol teh kemasan. Ah… lunas sudah rasa rindu akan minuman segar itu. Sudah terbayang berbagai macam makanan pinggir jalan yang harus dinikmati sebagai hadiah untuk diri sendiri. Hahaha… kerinduan saya akan tanah kelahiran tidak jauh-jauh dari pemuasan hasrat kebutuhan perut.

Bagaimana dengan kerinduan akan keluarga? Wah… terus terang tidak ada yang terlalu “wah” dalam keluarga saya. Kalau kawan-kawan? Ya sama juga. Bahkan ada yang bilang “kita harus ketemu kalau kamu sudah di Jakarta!” eh… sesampainya saya di Jakarta, tidak pernah ada ajakan pertemuan itu. Sedih. Hahaha…

Beneran deh enggak ada yang antusiasme yang berlebihan, mungkin karena walau tidak terlalu intens kami saling berkabar selama perantauan saya. Jadi tidak terlalu tertinggal banyak. Meski demikian memang sungguh senang bisa kembali berada di lingkaran yang telah mengenal kita.

Betapapun saya menikmati berada di tempat asing, tidak ada yang bisa membandingi perasaan jauh dari ketakutan akan tersasar. Seberapapun adaptifnya saya terhadap bahasa baru, tidaklah lebih menyenangkan saat lelucon saya disambut tawa teman-teman satu bahasa.

Satu hal yang memberi tantangan bagi saya adalah kota yang ditinggali saat ini, Jakarta. Betapa besar dan tidak nyamannya kota metropolitan ini. Banyaknya jumlah penduduk memaksa saya harus bergesekan di dalam dengan para pekerja yang hendak mengau nasib di pusat kota. Entah kapan terakhir kali saya harus membiarkan kulit bersentuhan dengan orang lain. Saya merasa ruang pribadi terenggut dan harus ikhlas berbagi dengan orang-orang tidak saya kenal. Sungguh saya tidak terbiasa akan hal itu.

Betapapun menyebalkannya Jakarta, tidak ada hal yang lebih menyebalkan saat banyak orang tidak terima akan jawaban saya “enggak ngapa-ngapain, istirahat sja di rumah” untuk pertanyaan mereka “sekarang sibuk apa?”. Saking tidak percayanya mereka akan tambah pertanyaan “yang bener aja? Masak sih diem saja di rumah?!” Pertanyaan lain yang saya enggak tahu cara menjawabnya adalah “ceritain dong  perantauan kamu!” Saya cuma bisa mesam-mesem karena enggak tahu harus cerita apa dan bagaimana memulainya karena terlalu banyak kisah. Sekalinya saya memulai cerita, eh, malah bahan pembicaraan dialihkan. Sebel. Kesel.

Sebelum pulang, sempat saya membaca sebuah artikel tulisan seorang perantau yang kembali ke kampung halaman. Katanya, berhati-hatilah karena dalam hitungan singkat kenalan kalian akan tidak lagi antusias akan “kembali pulang” kalian. Ada saat kalian tidak akan lagi jadi pusat perhatian dan mereka tidak melulu meminta cerita perjalanan kalian. Ucapan terima kasih saya haturkan pada si pembuat artikel, setidaknya saya sudah tahu akan berakhir seperti apa nantinya saya. Demi menghindar dari perasaan “tidak populer” saya memilih untuk tetap kalem, enggak banyak omong. Anggap saja tidak ada yang pernah berubah, posisikan saja saya sebagai seorang kelahiran Jakarta, besar di Jakarta, dan tidak pernah merantau dari Jakarta. Sudah aman dunia.

Dulu bagi saya Jakarta adalah rumah, tetapi kini kota ini telah menjelma menjadi salah satu dari pelabuhan. Saya bersandar sejenak sebelum kembali merantau. Cara saya melihat Jakarta sekarang berbeda dibanding sebelumnya. Sekarang, Jakarta bukan lagi rumah, karena dunia inilah “rumah” saya. Saya sekadar pulang kampung demi ketemu handai taulan dan memanjakan lidah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s