Australia Pada Pandangan Pertama

2016-01-20-16-49-33
Saking besarnya, Australia dapat “menampung” banyak (penduduk) negara lain.

Sebelum sampai Australia, saya pikir hampir seluruh penduduknya berkulit putih dan sisanya kulit berwarna. Ternyata saya salah kaprah. Meskipun banyak yang berkulit putih, tetapi tone warnanya berbeda-beda. Sungguh saya tidak pernah berpikir kalau Australia adalah salah satu melting pot dunia.

Kota pertama yang saya jejak adalah Sydney. Saat mengantri di imigrasi, saya dikelilingi oleh mereka yang tidak berbahasa inggris. Saya berpikir, “ah, mungkin mereka pelancong seperti saya”. Tetapi, sekeluarnya dari gerbang kedatangan banyak dari mereka yang telah ditunggu kerabatnya yang juga tidak berbahasa Inggris. Saya pikir hanya kebetulan.

Saya tinggal sekitar satu jam perjalanan ke utara dari Sydney. Sesampainya di rumah tumpangan sudah terlampau malam, saya tidak sempat melongok daerah sekeliling. Keesokan harinya saya yang tidak merasa jetlag (iyalah cuma beda 3 jam dari negara terakhir yang saya tinggali) berjalan-jalan untuk memastikan kalau sudah benar-benar sampai di Australia. Saya lihat pengemudi bus, pegawai toko, pengantar koran, dan tetangga sebelah berwarna kulit berbeda dari saya.

Karena masih hari pertama, saya coba “tes ombak” ke daerah pemukiman lain, pantai, pusat perbelanjaan, lagi-lagi saya mendengar banyak bahasa asing. Saya coba curi-curi pandang pada mereka, berkulit putih tapi fitur muka bukan kaukasian. Teman saya bilang, kalau daerah yang saya datangi ini merupakan pusatnya orang Brasil. Sadarlah saya kalau bahasa yang sering saya dengar itu merupakan bahasa Portugis. Si teman menambahkan, kalau ada beberapa titik sekitar kota Sydney yang menjadi pusat bermukim etnis tertentu.

Butuh setidaknya tiga bulan buat saya untuk menjalin hubungan akrab dengan mereka yang bena-benar Australia. Maksud saya mereka yang pemilik asli benua ini, maupun mereka yang “dikirim” langsung dari Inggris ratusan tahun lalu. Saya pun sampai meminta maaf karena tidak bisa memenuhi pesanan seorang teman untuk menjodohkan dirinya dengan pria Australia. “Maaf ya, lebih sering ketemu imigran di sini,” balasan saya untuk pesan WhatsApp-nya.

Walau baru secuil yang saya lihat di Australia membuat saya melihat kondisi di ranah kelahiran. Memang tidak sama tapi cukup serupa. Soal kemajemukan seharusnya bukan barang baru buat saya, coba lihat saja berapa banyak budaya, bahasa, dan etnis yang ada di Indonesia. Tetapi kali ini rasanya berbeda, mungkin di sini saya tergolong dalam kelompok kecil Asia, bahkan kalau mau disempitkan lagi Indonesia. Tidak, saya tidak gegar budaya, tetapi saya lebih membuat saya merenung.

Mari bayangkan, apa jadinya kalau 20% penduduk Australia bukan imigran? pasti tiap hari saya makan Fish & Chips. Kalau sampai hal tersebut sebuat kenyataan, pasti saya sampai sekarang tidak tahu betapa nikmatnya menyantap barbeque ala Brasil buatan teman saya dan juga ala Lebanon yang disajikan bos saya.

Sempat saya membaca sebuah blog, si penulis bilang kalau Australia merupakan tanah impian. Banyak mimpi orang ditanam di benua kangguru ini. Buat si penulis, impiannya adalah dapat kuliah di negeri sebrang dengan dana hasil bekerja di Australia. Ah,,, niat si penulis dan saya sama, mungkin juga niat ini yang terpatri di banyak benak pendatang.

Seperti yang saya bilang sebelumnya, beberapa bulan di Australia saya belum banyak bergaul dengan warga asli, kebanyakan pejalan. Keinginan mereka pun sama, mendulang dollar. Cukup menggiurkan memang potensinya. Saya sempat bertukar cerita dengan seorang teman yang bekerja di perusahaan media di Belanda. Dia bilang kalau upah harian saya sebagai pemetik buah jauh lebih besar ketimbang penghasilannya per hari.

Kalau dia yang tinggal di Belanda saja berkata demikian, apalagi saya yang berasal dari Indonesia, sudah pasti terkaget-kaget dengan pendapatan harian itu (ini bukan menunjukan sikap inlander loh ya). Jadi memang tidak salah kalau Australia menjadi negara incaran para pencari uang dengan cara legal, semi-legal, dan juga ilegal. Maafkan saya yang melulu berbicara soal uang, tenang saja Australia memiliki daya tarik lain yang mengundang banyak pejaan untuk datang. Mungkin akan saya ceritakan dalam tulisan berikutnya.

Iklan

2 Replies to “Australia Pada Pandangan Pertama”

  1. Pengalaman waktu tinggal di hostel di Perth, sekamar sama org Korea, Jerman dan Scotts, terus di social room sering ngobrol sama org Taiwan yg lagi WHV, dan front linernya ternyata org Indo. Memang Aussie itu melting pot banget sih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s