Cerita Soal Dash

14c96dbe36993d7564fb121b338f6f79
D.A.S.H

Salah satu hal yang saya rindukan saat ini adalah mengendarai mobil yang pernah saya miliki di Australia. Sekitar empat bulan lalu, mobil kesayangan itu sudah memiliki empunya baru. Jikalau bukan karena paksaan keadaan, tidaklah saya akan melepas barang kesayangan satu itu.

Namanya Dash. Maksud hati supaya saya tersugesti kalau mobil itu mampu melaju cepat, ya, sesuai artinya dalam bahasa Inggris. Bukan hanya itu alasan Dash menjadi pilihan, tetapi juga salah satu karakter film animasi favorite saya The Incredible memiliki nama yang sama. Si karakter adalah bocah lelaki yang cakep, bandel, ngegemesin, dan enggak bisa diam.

Dash adalah kendaraan pertama yang saya beli dari hasil jerih payah. Di Jakarta, kendaraan yang saya pakai memang atas nama saya tetapi itu pemberian orang tua. Perasaan memilikinya tidak terlalu besar. Selain itu, Dash adalah kendaraan patungan saya dan pasangan. Bertambahlah kandungan kecintaannya karena berbagi dengan orang tersayang. Ahem!

Ada yang pernah berkomentar ada baiknya tidak memiliki kendaraan kalau hanya tinggal setahun di Australia. Si pengomentar beralasan akan sulit menjual kembali kendaraan sebelum keluar dari Australia. Berstatus pejalan atau backpacker pasti hanya sanggup membeli mobil bekas yang kalau saat membeli kita tidak teliti akan kondisi kendaraan akan membuat kita kecele. Memang ada benarnya juga komentar itu. Untuk hal ini, saya harus berterima kasih kepada semesta sekalian alam yang menjauhkan segala keribetan kendaraan. Dash memang anak baik.

Dash saya beli dari seorang kenalan yang memang sering jual beli kendaraan bekas. Dia bilang kendaraan bekas itu dia dapat dari pelelangan mobil, namun Dash didaatnya dari seorang kenalan yang menurut dia apik dalam merawat mobil. Sebelum dijual kepada saya Dash sudah diperiksa oleh mekanik yang mengatakan anak saya itu masih layak pakai.

Kelahiran 1997 dari pabrikan Mitsubishi, Dash merupakan tunggangan terbaik yang pernah saya punya (ingat kalau dia satu-satunya kendaraan yang saya miliki?). Bertipe station wagon Dash cukup lapang untuk lima orang penumpang dan juga cukup nyaman buat dua orang tidur di dalamnya.

Sudah banyak jasa Dash buat kehidupan saya di Australia. Ia setia menemani saya mendatangi pintu tiap perkebunan untuk mencari pekerjaan. Ia pun tidak bertingkah saat saya tiduri selama sebulan karena saya tidak punya uang untuk menyewa kamar. Larinya cukup lincah di setiap medan jalan baik yang beraspal, berkerikil, tanah merah, bahkan ia mampu menembus genangan air saat Bruce Highway di negara bagian Queensland banjir.

Oh, Dash!

Walau tidak banyak menjelajah tempat indah Australia, tetapi Dash tetap berperan dalam membawa saya keluar dari kejenuhan pedalaman Australia. Benua terbesar di selatan dunia itu sungguh luas dan aksesibilitasnya cukup terbatas untuk urusan kendaraan umum dan alternatifnya. Kendaraan pribadi adalah penyelamat untuk memenuhi hasrat melihat “dunia lain” selain lingkungan rumah. Sungguh Dash membantu mobilitas saya yang doyan ke supermarket dan juga pantai atau sekadar jalan-jalan-sore.

Kami juga pernah mengalami pengalaman menegangkan bersama. Pada minggu pertama kebersamaan kami, saya hampir mati di tengah jalan. Saat itu waktu menunjukan pukul sembilan malam, kami sedang mencari tempat beristirahat. Kombinasi jalanan sepi dan permukaan yang mulus membuat saya memacu Dash. Ia lari sampai 110 km/ jam. Sesaat saya meleng dari kemudi, eh, pas melihat jalan ada kangguru di tengah jalan. Saya banting stir. Beruntunglah saya, Dash, dan kangguru tidak kenapa-kenapa.

Hati berdebar kencang setelah kejadian. Sebenarnya tindakan yang saya lakukan cukup berbahaya sebab saya menghindar cukup kuat dan membuat mobil keluar jalur, beruntungnya saat itu tidak ada kendaraan dari lawan arah sehingga semunya baik-baik saja (terima kasih semesta. lagi!). Sudahlah tidak usah dipikirkan kemungkinan kedua dari aksi koboy tersebut.

Saran dari seorang teman bila keadaan yang sama terulang adalah tabrak saja si kangguru. Terdengar kejam ya? kenapa juga harus mencederai hewan yang cuma terkesima cahaya lampu kendaraan, ya, kan? Oh tapi percayalah, kalau cuma sekadar station wagon, kangguru tidak akan terluka parah, kecuali truk besar yang menabraknya. Enggak percaya? seorang teman pernah menabrak kangguru dan mengakibatkan dia harus mengganti kap mobil bagian depan serta memperbaiki mesin bagian AC yang remuk akibat tabrakan tersebut.

e2023ae35b7553c10ce135bb3ffbf8ba
Menanti juru penyelamat

Dash dan saya punya pengalaman menegangkan lain. Pekerjaan saya saat itu memaksa saya harus berangkat kerja pukul lima pagi hari. Karena saking malasnya bangun pagi, saya baru bisa benar-benar siap berangkat pukul 5.15. Kaget karena telat, saya langsung menggeber Dash tanpa memikirkan kondisi saya baru bangun tidur dan kondisi jalan berkerikil. Di sebuat tikungan saya tidak bisa mengontrol kemudi dan membuat Dash terjerembab ke dalam semak pinggir jalan. Anak saya tidak bisa bergerak sampai seorang teman datang dan menarik Dash dengan traktornya.

Sebagai seorang yang butuh waktu untuk diri sendiri, keberadaan Dash cukup bermakna. Dia menjadi “gua” saat saya ingin berdiam. Saya tinggal mengarahkan kemana saya mau, sungai, pantai, taman nasional, atau ke kota.

Dash, saya sungguh rindu!!!

Saya ingat betapa detilnya perhitungan saya dalam mencari SPBU mana yang memberikan harga bahan bakar terendah.

Tidak hilang dari memori bagaimana kamu menjadi saksi perkembangan mengemudi saya. Kamu pun tidak rewel saat teman-teman saya memanfaatkan kamu untuk belajar mengemudi.

***

Saya sempat memohon kepada pemilik baru Dash untuk menjaga dan merawat kesayangan saya itu dengan apik. Semoga saja Dash baik-baik saja.

***

Sekali lagi saya sangat beruntung karena tidak mau percaya sama tukang komentar betapai tidak menguntungkannya memiliki kendaraan di Australia untuk jangka waktu satu tahun. Kebersamaan saya dengan Dash hanya sepuluh bulan dan tidak ada masalah berarti justru sebaliknya.

Iklan

4 Replies to “Cerita Soal Dash”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s