Tentang Seseorang

Dalam sebuah media sosial pertemanan antarpejalan saya selalu menemukan profile yang generik. Kebanyakan dari para anggota media sosial tersebut selalu menyebutkan “suka bertemu orang baru” dalam kolom “deskripsikan diri Anda” untuk profil mereka. Saya selalu ketawa membacanya, karena selama periode perjalanan kemarin saya cukup jenuh bertemu orang baru.

Saya lelah harus memulai pembicaraan tentang hal remeh temeh sekadar basa-basi. Buat saya memperkenalkan diri kepada orang baru butuh energi dan kadang energi tersebut terbuang percuma gara-gara teman baru tersebut tidak “klik”. Oleh karenanya saya menjadi cukup selektif dalam menyapa orang baru. Teman sekamar, teman serumah, teman kerja, dan teman semeja makan merupakan pengecualian.

Jumlah kenalan saya selama perjalanan kemarin cuma sedikit. Dari jumlah yang minim tersebut hanya beberapa yang masih saya jaga hubungannya karena beberapa alasan. Namun, ada beberapa orang yang tidak lagi saya hubungi karena memang saya inginkan seperti itu.

Kenapa? karena pengalaman saya dengan mereka cukup indah untuk saat itu. Dan saya mau tetap menjaga keindahannya dalam kenangan saya. Mudah-mudahan kalian mengerti apa yang saya maksud.

Salah satu teman yang hadir dalam perjalanan saya adalah N. Pria kaukasia yang sering kikuk dan menyebabkan dirinya menjadi bulan-bulanan teman serumah. N menarik perhatian saya dari gayanya berbicara dan mendengarkan lawan bicaranya. Ia pun gigih untuk belajar bahasa inggris mengingat levelnya saat itu masih sangat di bawah. Saya suka.

N dan saya tidak terlalu akrab tetapi kami selalu terlibat dalam pembicaraan yang menarik. Saya bukan penyuka bahan pembicaraan yang simpel, N memenuhi kebutuhan saya akan topik yang cukup berisi. Saya pun merasa lebih senang menghabiskan waktu dengannya membahas berbagai macam hal. Bagi saya bertukar pikiran dengan N adalah oase bagi otak saya yang hampir tumpul karena jarang diajak berpikir.

Suatu malam kami berdua kembali duduk terpisah dari teman-teman serumah yang lainnya. Teman-teman lain lebih tertarik berbicara kencang sambil mendengarkan musik. Terlalu bising bagi saya. Rupanya N berpikir sama sehingga kami lebih memilih untuk mengucilkan diri di beranda depan rumah sambil mengudap makan malam dan minuman dingin di tengah gerahnya malam musim panas Australia. Obrolan ngalor-ngidul kami sampai pada topik berfoto saat melakukan perjalanan.

Saya berpendapat memiliki koleksi perjalanan cukup penting karena mungkin di saat kita tidak berjalan-jalan lagi kita masih mengingat masa lalu dari koleksi foto tersebut. N menyanggah saya. Baginya berfoto bukan sesuatu yang penting karena dia hanya ingin “hidup untuk saat ini”. Bila ia sedang mengalami pengalaman menarik maka akan dinikmatinya sampai puas tanpa harus bertanggung jawab untuk dirinya di masa depan dengan mengabadikan momen.

“Jika di masa depan saya bahagia karena mengenang masa lalu dari foto yang saya ambil tidak akan membuat saya kembali ke masa itu. Cukuplah mengingatnya dalam memori otak saja,” papar N.

Saya dan seorang teman yang baru saja bergabung di meja makan kami terdiam. Tak lama teman saya berujar, “berat amat sih!”

Percakapan selama makan malam dengan N hanya terjadi beberapa kali karena saya harus pindah tempat tinggal. N sempat menolak salam pamit saya. Ia bergumam “kalau kamu pergi saya mengobrol sama siapa?” Ada air mata tertahan diujung mata saya karena pertanyaan yang sama ada di kepala saya.

Meskipun sudah pindah tempat tinggal yang berjrak sekitar 45 menit dari tempat yang lama, saya sesekali mengunjungi N. Pembicaraan sederhana kami pun masih berlanjut. Namun sayang keadaan itu tidak bertahan lama karena N harus pindah ke kota lain. Saya tidak sempat melepasnya pergi.

Tidak ada ucapan terima kasih atau sampai jumpa yang sempat saya ucapkan untuknya. Saya tidak pernah menyimpan kontak N karena saya tidak pernah meminta pun ia tidak pernah menawarkan. Tidak ada satupun dari sekian banyak koleksi foto perjalanan saya terselip muka N. Mungkin ini salah satu N untuk mengajarkan esensi “nikmatilah saat ini dan simpanlah dalam memori otak” pada saya. Mungkin teori tersebut baru berhasil kalau N ajarkan pada mereka yang memiliki kapasitas memori besar. Bagaimana dengan saya? karena keterbatasan tersebut saya harus mengabadikan memori itu dalam bentuk tulisan seperti sekarang ini.

Untuk semua kesan yang terbangun saat itu, terima kasih N! Semoga kita berjodoh dan bertemu di kemudian hari entah di mana pun itu.

2016-02-15-11-30-25
N dari kejauhan

Iklan

4 Replies to “Tentang Seseorang”

    1. Dulu gw juga begitu Dea. Semenjak kamera ilang dan kamera hape juga rusak, akhirnya kegiatan moto-moto berkurang drastis.

      Indeed he is one particular personality. I miss him tho’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s