Merantau, Metode Diet Terbaik

Ada banyak hal yang saya lakukan agar fit sebelum pergi merantau. Rajin berolah raga di rumah sampai ikut kelas fitnes di pusat kebugaran. Harapannya, sih, supaya selalu bugar saat mulai perjalanan dan kalau bisa turun berat badan ya saya pun akan bersyukur.

Untuk standar Indonesia perawakan saya cukup besar bahkan cenderung gendut. Saya sendiri enggak pernah ngeh kalau saya gede, oleh karenanya saya harus berterima kasih pada orang-orang sekitar yang selalu melabeli saya “sehat”, “montok”, “bongsor”, “bahagia” dan sebagainya.

Entah dikarenakan persiapapan olah tubuh sebelum merantau atau memang saya punya daya tahan fisik yang cukup baik, tidak sehari pun saya terkapar kesakitan. Ya, paling cuma masuk angin gara-gara kedinginan, tapi kan saya orang pintar jadi langsung minum cairan pengusir masuk angin yang terkenal itu loh. Nah, kalau sebelumnya niat saya untuk mendapatkan berat badan ideal tidak terkabul, ternyata saat mulai merantau saya mulai singset.

Satu foto yang saya unggah di media sosial dikomentari “kurusan!” oleh seorang teman. Atas komentarnya itu saya berujar “traveling indeed is the best diet plan!” Iya, merantau itu ternyata ampuh buat menurun berat badan. Sebulan pertama merantau, berat badan saya turun 2,5 kg. Jangan pikir saya mengurangi asupan makan, karena hal tersebut tidak mungkin terjadi terlebih saat itu saya berada di Thailand, surga makanan enak.

Sekira empat bulan pertama perantauan, baju saya semakin longgar dan saya pun harus semakin mengencangkan ikat pinggang supaya celana tidak kedodoran. Saat itu, tidak ada cermin di tempat saya tinggal dan sekali saya melihat diri sendiri saya pun terkejut melihat kontur muka yang berbeda, tirus. Saya pun baru ngeh kalau perut ini tidak lagi buncit.

Sebelumnya saya mau minta maaf terlebih dahulu karena dalam tulisan ini tidak akan ada rincian program diet yang saya jalani. Ya, karena memang tidak ada! Tetapi jangan khawatir karena saya akan beberkan teori yang tidak dibaluri alasan akademis sama sekali.

  • Beban yang berat. Yang saya maksud di sini yaitu beban backpack yang digendong kemana-mana. Setidaknya kalau saya harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain saya harus memanggul lebih dari 20 kg gabungan antara backpack dan daypack. Kalau diingat-ingat sekarang sungguh bodoh membawa beban sebanyak itu. Memanggul tanpa berjalan kaki saja sudah menghabiskan banyak energi ditambah terkadang saya harus hilir mudik mencari penginapan. Kadang jalan yang saya tempuh harus menanjak, waduh cukup melelahkan. Keringat bercucuran deras. Entah berapa banyak kalori yang saya bakar setiap meter jalan yang ditempuh.
  • Grogi. Setiap berada di tempat baru saya pasti gugup. Kepala saya pun penuh dengan banyak pikiran baik dan buruk. Otak saya tidak berhenti bekerja untuk menentukan dimana harus tidur, harus makan apa, berapa banyak uang yang tersisa di kantong, akan bertemu siapa di jalan, apakah saya menaiki bus sesuai tujuan, dan masih banyak pikiran lainnya. Menurut hemat saya (tetiba formal) semakin banyak pikiran yang berseliweran di kepala semakin banyak energi yang kita keluarkan. Percaya deh sama teori ini. Dulu saat skripsi belum kelar-kelar pun berat badan saya turun drastis, biasalah banyak pikiran.
  • Terus bergerak. Kalau dibandingkan dengan gaya hidup sebelum merantau yang minim gerak, sejak hari pertama perantauan saya tidak pernah berhenti bergerak. Pekerjaan saya di Jakarta sangat meminimalisir pergerakan tubuh karena banyak menghabiskan waktu untuk duduk dan mengetik, sementara saat merantau saya lebih banyak berjalan kaki. Opsi tersebut dipilh bukan karena alasan kesehatan tetapi lebih karena ingin menghemat uang.
  • Variasi makanan. Nah, kalau menurut saya asupan makanan juga memainkan peranan penting dalam proses perampingan. Ternyata sebagai orang yang gampang dimasukin jenis makanan apapun adalah sebuah berkah. Saya tidak pernah rewel kalau tidak ketemu nasi seharian atau bahkan semingguan. Tubuh saya siap menerima asupan karbohidrat lain seperti kentang, singkong, roti, dan pasta. Dari sebuah artikel kesehatan yang pernah baca semakin variatif pilihan makanan semakin cepat kerja sistem metabolisme kita. Berat badan saya berkurang drastis saat saya ada di India. Menu makanan rumah yang disajikan oleh tuan rumah selalu didominasi kari berbahan baku kacang-kacangan. Tau sendiri kan kalau kacang-kacangan dimakan sedikit tapi bikin kenyang lebih lama? Nah, gara-gara kacang itulah saya sedikit mengonsumsi karbohidrat seperti nasi.
  • Cemilan berkurang. Untuk poin ini yang saya maksud adalah cemilan pabrikan yang berlumur MSG itu, loh. Saat itu, sih, enggan memilih cemilan pabrikan karena banyak pilihan lain di pinggir jalan yang benar-benar baru untuk lidah saya. Selain terbebas dari MSG cemilan pinggir jalan jauh lebih segar dan sehat. Saya baru tahu kalau kita terlalu banyak mengonsumsi MSG bikin badan mudah gendut karena si MSG akan mengikat lemak dan terus bertahan di dalam tubuh.

 

 

Seselesainya merantau bobot saya kembali seperti semula karena saya tidak lagi mengalami hal-hal seperti empat poin di atas. Hahaha…

Iklan

3 Replies to “Merantau, Metode Diet Terbaik”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s