[WHV] Merantau Ke Australia

Sebagian besar orang Indonesia yang saya tanyakan alasan mengapa mereka memilih untuk mencoba program Work and Holiday (WHV) di Australia, pasti menjawab “karena jenuh dengan kegiatan yang itu-itu saja di daerah asal.” Saya pun memiliki alasan yang sama. Tetapi itu dulu, kalau sekarang saya dihadapkan pada pertanyaan yang sama saya akan jawab dengan tegas “karena saya punya kesempatan dan tidak mau membuangnya secara percuma”.

Ibu saya tidak terlalu senang dengan pilihan yang saya buat. Rezeki ada di mana saja tidak hanya di Australia, sanggahan dia atas alasan saya mau mencari uang lebih di benua kangguru tersebut. Beliau benar juga, tapi, toh, hidup yang saya jalani adalah milik saya sendiri jadi, ya, dilanjutkan saja niatnya.

Jauh sebelum mengajukan visa, ibu kembali mempertanyakan apa yang akan saya lakukan untuk bertahan hidup. Dengan “nakal” saya menjawab menjadi tukang cuci piring, tukang bersih-bersih, tukang pel, tukang buang sampah, sampai jadi pengasuh bocah. Kenakalan saya tersebut membuat muka ibu saya berubah menjadi masam. “Aduuuhhh, nanti apa kata orang? sarjana, kok, kerjanya kayak begitu. lebih enak di sini, kan?”

Tanpa disadari oleh ibu saya pernyataannya di ataslah yang memantapkan niat saya untuk merantau. Menempatkan pandangan orang lain (yang biasanya selalu negatif) sebagai salah satu faktor pertimbangan mengambil keputusan adalah hal yang bodoh. Saya sudah hapus hal itu dari kehidupan saya. Tidak ada satu orang pun yang bertanggung jawab atas hidup saya kecuali saya sendiri.

image

Terlahir dalam keluarga berdarah minang, mau tidak mau saya dekat dengan istilah merantau. Kakek saya merantau sejak usia muda ke Jakarta dari desanya yang sekarang hanya berjarak tiga jam dari ibu kota provinsi Sumatera Barat. Ia bertahan, bahkan mampu menghidupi keluarga kecilnya dengan layak. Ayah saya pun merantau saat bertugas menjadi abdi negara. Sepupu-sepupu saya pun tidak ketinggalan merantau sejak usia awal 20-an yang pada saat itu saya masih meminta uang bulanan untuk kuliah.

Idola saya, Mohammad Hatta, pun merantau. Tanpa menghitung perantauannya di Jakarta, Hatta menghabiskan sebelas tahun di tanah asing. Tentu saja perjalanannya itu tidak selalu mulus, tetapi hal itulah yang membuatnya menjadi sosok yang tangguh.

Pasangan saya pun seorang perantau. Sudah bertahun-tahun ia hidup di tanah orang. Rintangan yang dihadapinya di jalan membentuk dirinya menjadi seorang pribadi yang menarik.

Melihat banyaknya pengaruh tersebut, saya pun ingin menyandang status perantau. “Merantau itu urusan laki-laki,” kata ibu saya. Sekali lagi dia menambahkan “bensin” sehingga niat merantau justru makin berkobar menyala. Work and Holiday di Australia adalah tiket emas saya. Peluang ada di depan mata. Kesempatan untuk merantau pun terbuka.

Sebesar apapun niat yang saya punya, rasa was-was tidak serta merta hilang. Saya sempat khawatir apakah saya bisa bertahan. Kekhawatiran saya saat itu karena nominal uang tunai dikantong sangat minim. Saya takut kelaparan. Namun, saya masih bernasib baik, semesta mendukung harapan saya, tidak pernah sekalipun saya kelaparan. Setiap hari saya selalu bisa makan walau hanya berbekal makanan hampir kadaluarsa yang dijual dengan harga sangat murah.

image

Alasan lain yang membuat saya ngebet untuk merantau adalah saya ingin menjadi minoritas. Terlahir dan dibesarkan dalam lingkungan budaya mayoritas membuat saya takut menjadi orang yang tidak peka akan lingkungan sekitar. Boleh dikatakan harapan saya terkabul. Dengan menjadi minoritas memberikan saya perspektif berbeda. Saya pernah menikmati saat seorang teman berujar tidak percaya “gw gak tau kalo lo dibesarkan sebagai muslim!” Eh, tetapi jangan anggap teman saya seperti si peraih nobel perdamaian yang itu, ya, hanya gara-gara mengeluarkan pernyataan yang sama.

image

Sudah menjadi rahasia umum kalau bekerja di Australia memberikan peluang untuk membengkakan rekening tabungan. Duit adalah salah satu penguat mental saya untuk bertahan di Australia. Kebetulan saya memiliki sebuah proyek jangka panjang yang membutuhkan modal tidak sedikit. Saya hanya bekerja sembilan bulan di tempat yang memberikan upah menarik, meski demikian target nominal jauh terlampaui.

Sekarang, setelah perantauan di Australia selesai, saya berterima kasih pada diri sendiri yang telah membuat keputusan tepat dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang berlaku sekali seumur hidup tersebut. Saya bahagia karenanya. Benar itu apa kata si pembuat pernyataan “lakukan apa yang bisa kamu lakukan sekarang, karena bertahun-tahun yang akan datang kamu akan menyesali karena tidak pernah melakukannya”. Hidup pun cuma sekali, toh?

***

Teman-teman saya ini punya alasan lain mengapa mereka juga merantau ke Australia. Sila mampir, ya!

Iklan

4 Replies to “[WHV] Merantau Ke Australia”

  1. statment pandangan orang memang sangat mengganggu mbak. anw, ada cara khusus agar kita gak terlalu peduli dengan omongan orang lain tanpa menggerus kepekaan kita terhadap masukan? makasih mba, anw nice share one day harus coba untuk merantau ke LN 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s