Menjadi Ratu di Negeri Orang

Menapaki negeri orang sering memberikan pengalaman-pengalaman seru. Sudah pasti pengalaman tersebut jarang kita dapat di negeri sendiri. Terkadang saya suka tertawa sendiri kalau mengingat kejadian tersebut karena enggak cuma sekali saya merasa gagap budaya.

Butuh beberapa saat bagi saya untuk merasa tidak takjub akan suatu keadaan yang baru. Misal, tidak selalu percaya dengan omongan manis orang India karena ebagian besar jarang menjadi kenyataan. Atau harus bisa cuek dan misuh-misuh kalau ada orang Thailand berbicara dengan bahasa lokal kepada saya.

Dari beberapa kejadian yang berhubungan dengan perbedaan budaya, saat berada di Australia lah yang cukup berkesan. Saya selalu kagok saat diperlakukan sebagai “ratu” saat berbelanja. Tahu kan idiom “pembeli adalah raja”? Ya, karena saya perempuan makanya diubah jadi ratu.

Terlampau terbiasa diperlakukan seperti rakyat biasa di Indonesia, saya sering hampir menangis saat hak saya dihormati saat berbelanja. Beberapa kali saya mendapatkan keuntungan dari kesalahan dari pihak penjual.

Bermula dari minggu pertama saya di Australia. Saat itu saya hendak memasak, pergilah saya ke supermarket terdekat. Saat sedang melihat-lihat sayuran, mata saya terpaku pada tulisan “Buy 1 $1,5. Buy 2 $2” yang ditaruh di bagian jeruk lemon. Hati mana yang tidak tergugah melihat harga diskon itu. Saya pun langsung ambil 2 buah lemon. Lumayan.

Puas berbelanja saya langsung membayar di mesin bayar swalayan. Saat saya memasukan item lemon muncullah kejanggalan, dua buah lemon yang saya ambil dihargai $3. Tidak seperti promo yang tertera. Kalau saat itu saya berada di Indoneia pasti saya mikir “ah, ya sudahlah cuma $1 ini”. Tapi, saya ada di Australia meski $1 adalah recehan tak terlalu berharga tetapi bagi saya yang belum berpenghasilan saat itu sedolar pun sangat berharga.

Saya panggil supervisor yang berjaga. Saya terangkan pula keluhan saya. Sang supervisor pergi ke arah rak lemon. Saat kembali dia mengutak-atik mesin pembayaran dan memasukan dua buah lemon kedalam kantong belanjaan saya.

“Lemonnya gratis. Seharusnya promo berakhir kemarin, tetapi kami lupa mencabut labelnya. Maaf ya!” – supervisor supermarket.

Mendengar si mbak supervisor saya agak gemetar. Kalau enggak salah ada sedikit air mata bahagia di pelupuk mata saya. Perasaan itu timbul karena dua hal; saya berhemat $1 dan saya diperlakukan adil sebagai konsumen. Saya ternganga untuk beberapa saat. Ketika teman serumah saya pulang, saya tuturkan kejadian di supermarket. Jawaban teman saat itu membantu saya memahami akan perlakuan yang saya terima. Menurutnya, apa yang dilakukan oleh supervisor adalah hal yang wajar karena pihak merekalah yang melakukan kelalaian dan merugikan pelanggannya.

image
lihat, deh, lemonnya tidak tertulis di struk belanja saya.

Semenjak kejadian lemon di supermarket, saya jadi ketagihan mencari barang-barang promo siapa tahu bisa menjadi ratu lagi. Sayangnya niat jelek itu tidak didukung oleh semesta. hahaha…

sampai suatu hari saya membeli mix seafood di supermarket. Saat itu harga perkilonya memang sedang dipotong dari $11 menjadi $10. Keinginan saya membeli mix seafood yang berisi ikan, kerang, cumi, dan udang itu bukan karena diskon tetapi saya kepingin makan laksa bareng teman serumah. Ya sudah dibeli saja.

Saat pesanan mix seafood sudah ditangan saya cek harga yang tertempel dan ternyata pesanan saya dihargai $11 per kilo. Saya pun bertanya kepada mbak yang melayani mengapa saya dikasih harga lama sementara di nampan mix seafood jelas-jelas tertulis harga baru adalah $10 per kilo. Si mbak sempat bingung dengan maksud saya sampai dia melihat sendiri label yang tertulis di nampan. Dan dari ekspresi mukanya, saya tahu dia sadar telah berbuat salah.

Dapat saya rasakan saat itu saya akan kembali menjadi ratu. Si mbak mengambil bungkusan mix seafood dari tangan saya dan menghampiri atasannya. Tidak berapa lama si mbak datang, mengembalikan bungkusan seafood saya. Tidak lupa dia meminta maaf atas ketidaknyamanan. Saya langsung melihat harga yang tertera pada bungkusan seafood dan harganya berubah menjadi $6. Sumringah, saya langsung bilang ke si mbak “iya, saya maafkan. Tidak apa-apa.”

image
laksa saya pun semakin nikmat karena harga bahan bakunya didiskon.

Cerita lainnya adalah ketika saya dan teman kerja makan malam bersama di sebuah sushi bar. Karena cuacaa saat itu cukup dingin, saya memilih untuk makan ramen. Teman yang lain pun memilih menu yang sama. Kebetulan saat itu saya sudah sangat lapar, jadilah ketika ramen datang saya langsung santap. Saat mengunyah, saya mengecap rasa yang janggal.

“Jamurnya mentah ya? seharusnya mateng atau bagaimana, sih?” tanya saya kepada teman yang duduk di sebelah kanan.

“Seharusnya, sih, matang. Tapi, saya sudah makan sepotong, nih,” ujar si teman kanan.

“Saya juga sudah makan. Kita bakal mati gak, nih?” tanya saya sambil menyeruput kuah ramen.

“Aman, sih, kayaknya. Sedikit saja gak bikin matilah,” tegas si teman kanan.

Kami pun lanjut melahap ramen yang cukup nikmat itu. Kami terhenti gara-gara teman di sebelah kiri yang sedari ramen datang masih sibuk dengan ponselnya komplain ke pelayan. Sudah pasti dia mempertanyakan, mengapa jamur di mangkoknya masih mentah.

Pelayan membawa mangkok si teman kiri ke dapur. Selang beberapa waktu si pelayan datang membawa mangkuk ramen teman kiri tanpa jamur dan bilang semua ramen kami malam itu digratiskan. Ya, benar, jamur-jamur itu seharusnya disajikan matang. Tetapi, sampai sekarang saya baik-baik saja, berarti aman.

***

Selepas makan malam, teman saya mengajak untuk mampir sebentar ke toko swalayan. Air kelapa kemasan favoritnya sedang turun harga saat itu, dari $2 menjadi $1. Waaah… Rejeki! Saya pun berniat membelinya. Namun sayang air kelapa kemasan tersebut sudah habis.

Berharap masih ada stok di gudang maka kami bertanya pada pelayan toko. Setelah dicek ternyata persediaan mereka sudah habis. Melihat kami sedikit kecewa si pelayan bertanya berapa banyak kemasan yang mau kami beli, setelah dihitung-hitung kami ingin membeli 20 bungkus. Pelayan pun meminta kami mengikutinya ke lorong lain dari toko tersebut.

“Maaf yah, merek yang kalian cari sudah habis. Bagaimana kalau kalian beli yang ini saja. Sebenarnya merek yang ini tidak diskon tapi saya akan kasih kalian harga diskon seperti promo katalog. Mau?” Tanya si pelayan toko.

Kami tertegun sejenak dan berusaha mencerna maksud si pelayan. Beberapa detik kemudian kami baru paham bahwa si pelayan memberikan kami harga diskon untuk produk yang tidak tertera di katalog gara-gara produk promo mereka sudah habis. Benar-benar tidak ingin pelanggan kecewa.

“Iya mau! Dua puluh bungkus yah!” Respon saya dan langsung disikapi dengan cekatan oleh pelayan, memasukan air kelapa kasan ke dalam troli kami.

Terus terang nasib saya sebagai konsumen di Indonesia tidak melulu baik. Acapkali malah saya pura-pura tidak terjadi apa-apa walau saya tahu sudah dikibulin oleh penjual. Misal, saya membel minuman kemasan yang ada di dalam lemari pendingin. Pilihan saya jatuh pada minuman dingin berperasa yang paling murah. Jatuhnya pilihan tentu setelah saya selesai memperhatikan label harga yang terpampang di depan minuman kemasan itu.

Sayangnya saya tidak terlalu teliti dan masuk ke dalam jebakan batman penjual. Rupanya si penjual menaruh kertas harga minuman kemasan yang murah di deretan minuman kemasan yang lebih mahal. Sudah dipastikan harga yang tersimpan di mesin pembayaran lebih tinggi dari perkiraan saya. Tapi karena males buang-buang energi komplain kepada penjual yang belum tentu didengar saya rela saja membayar lebih. Padahal, kan, kita sebagai konsumen sudah dirugikan dengan sengaja.

Makanya enggak salah dong kalau saya bersikap berlebihan saat mendapatkan perlakuan istimewa dari para penjual di Australia?

***

Bukan hanya saya loh yang cengok saat bersentuhan dengan budaya Australia. Baca, deh, cerita teman-teman saya yang lain di sini:

Meidiana: 10 Hal Yang Perlu Kamu Tahu Tentang Sydney – Australia
Hilal: “Iiihhh.. Tempat Pipisnya Kok Gitu Sih??” Di Australia Gegar Budaya (Culture Shock) Di Australia.
Hendra: Kerja di Negara Orang Itu… (Balada di Australia part 2)

Iklan

13 Replies to “Menjadi Ratu di Negeri Orang”

  1. Sama kita ciint…sukanya modis…modal diskon..Kalap selalu kalau nemu Sale dimana-mana.
    Disini kalau diskon ya gitu..bikin kita bahagia ya…
    Itu enak banget laksa 🙂

    1. hahaha kata siapa wanita sulit dipuaskan? kasih aja ke tempat diskonan pasti senang tak terperi. hahahaha

      iya loh bumbu siap sajinya mantep juga bikin nagih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s