Cewek Jagoan

Sewaktu kecil dan menggemaskan dulu ibu saya selalu berpesan untuk tidak percaya pada orang asing yang tidak dikenal. Petuah itu tertanam sepanjang umur anak-anak saya. Hasilnya, tidak pernah sekalipun saya diculik.

Seiring waktu ajaran itu agak terlupakan. Pengalaman hidup dari masa remaja sampai dewasa mengajarkan saya untuk tidak berburuk sangka pada orang baik sudah maupun belum dikenal. Bagi saya prinsip itu cukup menenangkan karena saya tidak melulu curiga pada tiap orang, karena menurut saya berprasangka hanya menambah pikiran. Hal yang selalu saya hindari.

Sayangnya saya terlalu naif. Setiap ada orang asing yang ajak mengobrol saya ladeni. Iya, sih, banyak pembicaraan menarik yang didapat dari para orang asing tersebut, tapi enggak cuma sekali saya terjebak pembicaraan dengan para calo juga penjaja transportasi yang saya temui selama perantauan kemarin.

Suatu kali teman perjalanan di India bilang “kalau ada cowok yang ajak ngobrol jangan diladenin!” Loh, kok, enggak boleh? “Lo enggak pernah baca berita, ya?” Oh barulah saya tersadar kalau obrolan sederhana dari orang asing yang tampak ramah bisa berujung pada hal-hal yang tidak menyenangkan. Akibatnya saat saya dewasa jadi lebih takut diculik ketimbang saat masih kecil dulu.

Contoh yang diberikan oleh teman perjalanan memang ekstrim. Tetapi itu berhasil membuat saya lebih waspada akan setiap kejadian yang mungkin terjadi kalau saya terlampau percaya pada orang baru dikenal. Hal itu penting mengingat saya tidak melulu punya teman perjalanan.

Suatu kali di Thailand seorang supir tuk-tuk coba menawarkan jasanya. Karena terlalu sering dan bikin kesal akhirnya muncullah ide supaya mereka ogah mendekati saya lagi. Biasanya metode pendekatan mereka adalah dengan memepetkan tuk-tuk kepada turis asing, membunyikan klakson sambil berucap “tuk-tuk…tuk-tuk”. Nah, cara saya menghindar adalah dengan bercakap dalam bahasa asing selain Inggris. Suatu kali saya berjalan dengan teman yang berbahasa Spanyol yang sudah saya berikan instruksi operasi menghindar dari pengemudi tuk-tuk.

Begitu pengemudi mendekat dan mulai berisik. Kami mulai berbicara dalam bahasa Spanyol. Dia tentu fasih, sementara saya hanya ala kadarnya. Pengemudi tuk-tuk bertanya “go where? tuk-tuk?” Saya menjawab “no hablamos ingles!” yang kalau diartikan adalah “kami enggak ngomong bahasa Inggris”. Pengemudi pantang menyerah, tetap gigih menawarkan jasa, kami pun sama. Sampai akhirnya dia kesal dan kabur dengan nyerocos dalam bahasa Thailand yang saya asumsikan sebagai umpatan.

Cara lainnya yang membuat mereka kesal adalah dengan memberikan jawaban nyeleneh. Saat baru keluar dari stasiun kereta di Ayutthaya, Thailand, saya yakin akan banyak tantangan yang akan ditampilkan oleh pengemudi tuk-tuk. Di tengah teriknya musim panas Thailand saya tambah keki saat para pengemudi mendekat. Salah satu dari mereka memepet dan bertanya “what do you want?” Idiiihhh, mereka pasti enggak tahu, deh, pertanyaan mereka bisa dianggap kasar oleh penutur bahasa Inggris. Karena kesal saya jawab, “I want fried chicken!” sambil ngeloyor pergi dengan muka datar. Teman perjalanan saya cekikikan melihat si pengemudi tuk-tuk diam dan berhenti berbicara.

Terkadang cara penjaja jasa maupun pedagang kepada turis cukup halus. Tetapi, kalau sering menghadapi hal serupa sudah pasti kalian juga bakal risih dan berharap untuk tidak ada yang mendekati saat kalian berjalan di keramaian entah di lokasi wisata atau pasar tradisional sekalipun.

Orang-orang India cukup ramah terhadap orang asing, mereka tidak ragu untuk memulai pembicaraan. Topik pembahasan cukup standarlah darimana asal, nama, mau kemana, dan sebagainya. Hingga pada satu titik saya ogah berbagi info tentang saya dan mulai mengarang cerita kalau saya bukan orang Indonesia, saya mengaku dari Amerika Latin dan sedikit berbahasa Inggris. Trik itu pernah saya gunakan untuk menghindar dari penjajaja aksesoris di pasar Mysore, India.

Setelah menggeleng-gelengkan kepala sebagai tanda tidak akan beli aksesoris saya kembali berpura-pura berbahasa spanyol “no hablo ingles!” Saya tidak bisa bahasa Inggris. Sialnya si penjual menjawab saya dengan bahasa yang terdengar seperti spanyol tetapi saya tidak mengerti sama sekali apa itu. Untungnya teman perjalanan saya bilang dalam bahasa spanyol, “iiihhhh,,, itu bahasa italia, bukan spanyol!”  Aduuuh,,, untung saja si penjual juga enggak bisa bahasa spanyol, coba kalau dia fasih, bisa mati kutu saya. Senjata makan tuan. Hahaha…

Belajar dari pengalaman di atas, saya tidak boleh lengah lagi. Tidak bisa lagi berpura-pura, lebih baik hadapi langsung si pengganggu kenikmatan perjalanan saya. Suatu kali teman perjalanan saya terkikik geli melihat cara saya meladeni seorang supir auto (kendaraan roda tiga macam bajaj di Jakarta).

Begini ceritanya, supir auto di Mysore punya cara halus untuk menawarkan jasanya. Mereka tidak berteriak “auto…auto..!” macam supir tuk-tuk di Thailand. Supir auto akan memulai penjajakan dengan bertanya dari mana asal kita, umur, sudah berapa lama di Mysore, sudah kemana saja. Atraksi wisata utama Mysore adalah istana, pasar tradisional, dan juga sekolah yoga. Kalau saja supir auto mendengar kita tidak menyebut salah satu dari atraksi tersebut mereka akan menawarkan diri untuk mengantar ke tempat tersebut.

Saking serignya dihampiri supir auto, saya sampai hapal polanya. Hingga satu supir auto ketimpa sial. Saat dia mendekati saya yang baru selesai makan chicken tikka (ayam goreng) dan mulai membuka pembicaraan. Sebelum dia berlanjut saya mencecar dia dengan pertanyaan yang sering diajukan supir auto kepada saya:

  • kamu asli dari sini?
  • tinggal di mana?
  • umur berapa? Oh, kok enggak keliatan umur segitu ya?
  • udah ke Isatana Mysore?
  • Suka yoga juga, ya?
  • Kalau ke pasar beli apa?
  • Suka jalan-jalan enggak?
  • udah punya pacar?
  • kapan mau kawin?
  • orang tua setuju?

Mungkin dia bosan dengar pertanyaan saya sampai akhirnya dia undur diri dan beralasan mau buka puasa. Saat itu waktu maghrib memang hampir datang, saat dia beranjak pergi saya bertanya “kok, enggak pake seragam? kamu supir auto, kan?” Rupanya dia memang berniat berkamuflase supaya tidak dicurugai sebagai supir auto makanya seragamnya dilepas.

Berbekal sejumlah pengalaman saya pun jadi semakin percaya diri menghadapi orang asing yang coba-coba ambil peruntungan dari saya. Jangan harap!

Terbukti, loh, tingkat keagresifan devensif saya meningkat cukup lumayan. Sudah tidak gampang dibohongin orang asing. Ibu saya pasti bangga. Saking pede-nya kadang malah saya yang coba-coba bikin orang kapok mempermainkan saya.

Suatu ketika saya di sebuah toko barang bekas di Australia. Ada seorang lelaki curi-curi lihat ke arah saya. Sudah dipastikan dia mendekati dan mulai berbasa-basi memulai percakapan. Saat tahu bahwa saya orang Indonesia dia semakin tertarik dan mengak sebelum dirinya sampai Australia dia “singgah” dulu beberapa tahun di Indonesia (saya harap kalian tahu mengerti maksud saya). Buat yang enggak mengerti lelaki itu adalah seorang imigran. Percakapan tidak berlangsung lama karena saya cuek dan melanjutkan perburuan barang bekas.

Klimaksnya adalah saat saya selelsai berburu dan keluar dari toko, saya menangkap gelagat si cowok mengikuti saya dari belakang. Ternyata dia meminta nomor telepon saya dan tentu saya tidak kasih. Saya bilang kalau tidak akan memberikan nomor telepon kepada orang asing (ingat pesan ibu). Dia tetap memaksa dan saya terus menolak. Kegemesan saya pada si cowok itu berakhir saat dia bilang “saya suka cewek Indonesia”. Ya teruuuuus? Saya mau punya pacaran sama cewek Indonesia. Oh, baiklah! inilah saat yang tepat untuk memukul telak si dia. “Aduh, gimana ya. Saya enggak mau pacaran sama cowok. Saya suka cewek.” Mendengar ucapan saya yang saya utarakan dengan halus itu si cowok pun tersenyum kecut dan langsung melambaikan tangan perpisahan. YESS!!!! MENANG!

Keahlian pinter ngeles sangat dibutuhkan, setidaknya menurut saya, jika kita punya wajah Asia dan sedang berada di luar benua Asia. Suatu kali saat saya berada di dalam sebuah toko di Australia, seorang cowok yang bertampang Asia mendekati saya sambil tersenyum. Dia bertanya apakah seorang pria Australia yang ada di lorong toko adalah suami saya atau bukan. Mendengar jawaban “tidak” dari saya dia langsung menebak kalau saya orang Filipina sama seperti dia. Aduh, sungguh deh saya malas berbasa-basi saat itu jadi saya langsung tinggalkan saja cowok itu.

Saat saya asik memilih peralatan kemping si cowok Filipina kembali mendekati dan memberikan secarik kertas tertuliskan nomor teleponnya. Saya simpan dan berharap dia langsung pergi. Ternyata saya salah karena dia tetap berusaha mengajak saya mengobrol dan langsung mengajak saya untuk datag ke tempatnya. Tetapi dia tidak memaksa, kalau tidak bisa hari ini lain kali pun tak apa, ujarnya. Dengan “baik hati” dia menawarkan rumahnya kalau saya mau menginap dan dia menambahkan kalau dia tinggal sendirian.

OK! PERMAINAN DIMULAI!

Saya: oh, tinggal sendirian. Emang mau disewain ya kamarnya?

Dia: Dateng saja. Kamu bisa makan, minum, juga tidur di tempat saya.

Saya: Ya, udah nanti saya kasih nomor kamu ke temen saya, deh, kebetulan mereka mau sewa kamar.

Dia: mereka orang Indonesia juga?

Saya: bukan.

Dia : Malaysia?

Saya: Bukan. Mereka orang Jerman.

Dia: Aduh enggak mau, ah. Cewek Jerman mah berisik dan tukang inum.

Saya: Eh, temen saya bukan cewek, tapi cowok. Mereka berlima. Nanti saya kasih nomor kamu ke mereka ya. Terima kasih loh.

Melihat muka si cowok Filipina yang langsung kecut saya langsung pamit pulang. Puas rasanya. Kata seorang teman, tindakan saya itu cukup berbahaya. Dia khawatir cowok-cowok itu kesal kepada saya dan bisa saja mereka justru bertindak kasar kepada saya. Tetapi, saat itu terus terang deh saya kesel sama mereka. Kesal karena saya yakin mereka memandang saya rendah karena saya seorang cewek Asia yang ada di tanah Australia, mereka dengan pikiran negatifnya pasti mengira tujuan saya di sana adalah mencari peruntungan untuk mendapatkan bule Australia. Ya, bagi saya sih apa yang dilakukan di atas merupakan salah satu cara perlindungan diri sendiri.

Pelajaran memang bisa didapat di mana saja dan dalam bentuk apapun. Merantau tentu telah memberikan banyak pelajaran buat saya agar lebih mawas diri. Kalau dilihat-lihat sih sekarang saya lebih agresif dan kalau enggak suka terhadap sesuatu pasti langsung diekspresikan. Bahkan kemarin saya sempet berteriak pada tukang ojek yang terus-terusan mengklakson saya dari belakang. Jangan harap dulu saya berani bertindak seperti itu, lebih baik diam dan menghindar dari keributan. Hehehe….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s