Romansa Pengembara

Tipe pejalan seperti apakah kamu? Kalau saya sih tipe “tergantung”. Maksudnya saya lebih suka berjalan-jalan sendiri ketimbang repot berjalan ramai-ramai dalam satu grup. Tetapi saya tidak masalah kalau harus berpergian bersama pasangan saya yang kadang seleranya tidak selalu sama.

Patut saya akui, meskipun berjalan-jalan sendiri mengasyikan tetapi mengetahui ada seseorang di sisi kita itu suatu anugrah. Bukan hanya sekadar teman mengobrol dan juga berbagi biaya perjalanan bersama tetapi juga lebih memudahkan kalau kita butuh perhatian lebih.

Suatu kali seseorang pernah bilang untuk tidak menjalin hubungan spesial dengan pejalan dari manapun, terlebih mereka yang sering melakukan perjalanan panjang. Alasannya karena sesuai kodratnya pejalan tidak akan pernah menetap di suatu temat dan ada kemungkinan besar mereka memiliki pasangan sementara di setiap tanahah yang dipijaknya. Wiiihhh… serem juga ya!

Lalu apa yang saya lakukan? Ya, tetap saja hubungan saya dengan pasangan yang seorang pengelana itu tetap berlanjut walau kami sering berjauhan. Mungkin karena saya berpikir kami sama-sama menganut paham monogami saya pun tidak ambil pusing kalau si pasangan bakal mencari pasangan sementara. Naif.

Saat saya masih berada di Indonesia saa tidak pernah memiliki pikiran aneh-aneh, tetapi ketika perantauan dimulai dan sering bertemu dengan pejalan lain pikiran saya pun terbuka. Dan, percaya atau tidak saya pun setuju dengan pendapat “jangan berhubungan dengan pejalan”.

Banyak yang heran mengapa saya membiarkan pasangan saya berkelanan di Asia Tenggara sendirian. Seorang wanita Eropa berkata “kalau saya, sih, enggak bakal membiarkan pacar saya pergi ke Thailand sendirian!” sambil merangkul erat pasangannya. Dia melanjutkan kalau wanita Asia akan agresif melihat pria putih berjalan sendirian. Oh benar juga, alasan yang kuat.

Teman-teman kerja saya di Australia pun memberikan komentar tidak percaya kalau pasangan saya akan kuat menahan diri untuk tidak berpaling. “Kamu enggak takut kalau nanti dia suka cewek lain?” tanya seorang teman. Saya bilang, “ummm,,, enggak juga sih. Seharusnya dia yang takut kalau saya dikejar-kejar cowok lain. Lagipula kami sama-sama tahu, kalau sampai sekali kami bermain kotor artinya salah satu dari kami yang akan merugi”.

Sebenarnya tanggapan saya itu sekadar membesarkan hati. Pasalnya saya sudah melihat beberapa bukti kalau pejalan itu sulit diajak menjalin hubungan serius, apalagi kalau jarak jauh. Wassalam deh.

Baiklah akan saya ceritakan apa saja pertanda-pertanda yang bikin hati saya kebat kebit. Teman A bercerita kalau dia pernah menjalin hubunga khusus dengan seorang cewek selama dua bulan. Hubungan itu spesial karena ada aktivitas fisik di antara mereka. Urusan hati jangan ditanya, karena tidak ada rasa, setidaknya bagi si Teman A. Ketika dia bercerita banyak hal negatif tentang si cewek yang saya dengar. Aduuh, saya sakit hati mendengarnya.

Lain lagi soal si Teman B. Dia berkelanan sendiri di Australia Sebelum berangkat dia dan pasangan di negara asalnya berikrar kalau mereka tidak lagi terikat satu sama lain. Namun, bila saat Teman B kembali ke negara asal dan si cewek tidak punya pasangan mereka masih bisa jadi teman bobo. “Yep, we are fcuk buddy, Fi!” jelas Teman B. Saya langsung pening. Kok, bisa, sih, membagi-bagi perasaan seperti itu? Teman B beralasan kalau manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan jasmani yang harus dipenuhi, kalau keadaan fisik berjauhan pasti sulit kan. Jadi buat apa terus-terusan mempertahankan hati.

Pada lain kesempatan Teman C mengutarakan sesuatu yang seakan-akan menguatkan alasan Teman B. Teman C bercerita kalau sedang menjalin hubungan jarak jauh juga dengan pasangannya. Teman saya berada di Australia sedangkan pacarnya yang baru dikencani selama empat bulan itu berada di Inggris. Mereka sudah berjauhan selama empat bulan juga. Selama itu pula Teman C tidak pernah melirik sana-sini. Itulah yang bikin dia pusing ditambah urusan kerjaan yang bikin kepala tambah mumet.

Sampai satu saat sepulangnya kami dari belanja dia mengeluarkan uneg-unegnya “what bother me the most is I haven’t had sex for months!” Saya yang sedang menyetir kaget mendengar ucapan Teman C. Saya cuma bisa nyengir. Dia menambahkan “gw cuma pengen curhat!” Saya deg-degan. Kenapa juga dia curhat ke saya, kan, takut enggak kuat iman.

Jangan kira ya hubungan jarak jauh saja yang bisa bermasalah, ternyata walau pasangan ada di samping kita bisa saja bubar di tengah jalan gara-gara status sebagai pejalan. Teman D pernah bercerita kalau dia pernah memergoki salah seorang teman perempuannya berciuman dengan lelaki yang bukan pasangannya. Yang bikin enggak habs pikir adalah pacar si cewek ada di lokasi yang sama. Memang sih para pelaku saat itu sedang mabuk dan enggak ingat apa-apa, entah bener atau enggak. Gara-gara kejadian itu pasangan tersebut memutuskan untuk ambil jalan masing-masing. Godaannya berat bung!

Rupanya kebiasaan untuk tidak setia dicium oleh penduduk lokal Australia. Saya berteman dengan Teman E. Dia juga kenal dengan pasangan saya. Kami sering menghabiskan waktu bersama untuk sekadar mengobrol juga makan malam. Pokoknya asiklah. Sampai suatu saat pasangan saya tidak ada di tempat, Teman E berusaha masuk ke dalam mobil yang telah beralih fungsi menjadi kamar tidur saya. Dia tiba-tiba memeluk saya dengan kuat, bikin saya panik dan kebelet kencing. Bru-buru saya izin ke toilet dan langsung ngibrit ke tempat ramai orang. Saya langsung kontak teman lain dan minta izin menginap di tempatnya. Saya takut kalau malam-malam saya sedang tidur di mobil dan tiba-tiba Teman E datang ikut nimbrung.

Pernah enggak sih kalian baca artikel yang isinya memberikan poin-poin positif yang dimiliki pejalan dan menjadikan mereka kandidat pasangan yang baik? Iya, sih, ada benarnya juga mereka yang sering berjalan-jalan akan lebih terbuka pikirannya, enggak bawel kalau mendpatkan kesusahan, asik diajak berbicara, dan masih banyak poin positif lainnya. Tapi, ya, bagi saya tetaplah kesetiaan nomor satu. Tidak peduli seberapa terbukanya pikiran seseorang tetapi punya bakat mendua, saya sih “no!” Enggak tahu, deh, yang lain.

Beruntungnya saya memiliki pasangan yang kukuh memegang prinsip monogami dan sudah teruji beberapa kali. Saya pun akan berpikir dalam-dalam kalau mau “nakal”, apakah saya siap kehilangan seseorang yang kece secara jasmani dan rohani plus setia? Tentu saja jawabannya “tidak” dong. Kalau kamu?

Iklan

5 Replies to “Romansa Pengembara”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s