[WHV] Jariku Sayang Jariku Malang

Sewaktu kecil saya berlanggann majalah khusus anak-anak. Majalah yang namanya bersinonim dengan aktivitas “tidur” itu penuh dengan bahan bacaan menarik. Saya tidak pernah alpa membaca bagian dongeng yang sarat dengan ajaran “yang baik akan mengalahkan yang jahat” atau “berakit-rakit dahulu berenang-renang kemudian”.

Salah satu bacaan yang masih berkesan dan tersimpan rapi dalam memori saya adalah tentang seorang pangeran berkuda yang sedang dalam misi mencari pendamping hidup. Meskipun sang pangeran bisa dengan mudah mendapatkan putri dari kerajaan lain, tetapi dia tidak memilih cara tersebur. Menurutnya bila ia mempersunting salah satu putri dari kerajaan lain itu tidak lebih dari sekadar mempererat hubungan dua kerajaan. Demi menghindar dari pernikahan politik tersebut, pangeran menanggalkan identitas kerajaannya dan mulai mencari wanita di luar lingkungan kerajaan yang akan mencintai dirinya bukan mereka yang silau oleh status sosial si pangeran.

Setelah berhari-hari mencari cinta sejati, sang pangeran jatuh sakit. Seorang wanita yang sedang memungut kayu bakar di hutan melihat sang pangeran terkapar sakit langsung membawanya ke rumah untuk diobati. Dengan telaten si wanita merawat pangeran. Setelah pangeran merasa lebih baik ia pun mengutarakan niatnya untuk menikahi si wanita. Dan mereka pun akhirnya hidup bahagia selamanya.

Tahukah kalian apa yang membuat pangeran jatuh hati? Tangan kasar si wanita. Selama dirawat pangeran merasakan kasarnya tangan si wanita namun ia bisa merasakan kehangatan dan kekuatan yang dimiliki  si wanita. Menurut pangeran, wanita dengan tangan yang kasar menunjukan bahwa si wanita merupakan pekerja keras dan mandiri. Dua kualitas itulah yang selama ini dicari sang pangeran dari calon istrinya.

Gara-gara bacaan di atas saya langsung ingin punya tangan kasar biar bisa mendapatkan pasangan hidup seorang pangeran. Sayangnya saya pemalas jadi jarang banget tangan saya bekerja keras. Walaupun tidak halus tetapi tangan saya tidup cukup membuktikan sebagai seorang pekerja keras. Untuk urusan rumah tangga saya masih bergantung pada ibu untuk melakukan hal ini-itu. Duh,,, jangan harap pekerjaan saya berpotensi membuat tangan saya rusak. Maklum pekerjaan saya dulu tidak pernah kasar, paling banter menekan-nekan papan ketik laptop.

Informasi mengenai beratnya pekerjaan di Australia sudah saya dengar jauh sebelum menjejak benua tersebut dalam rangka Work and Holiday (WHV). Iya sih segala macam pekerjaan memang berat, tetapi bagi saya pekerjaan di Australia berat bila dilihat dari segi fisik. Entah berapa kali tangan saya terluka akibat bekerja. Saya pribadi bukan orang yang manja, pengecualian hanya untuk tangan saya. Maklumlah mereka terlalu biasa untuk bekerja mudah akibatnya saat beraktivitas lebih daripada biasanya mereka kaget.

Penampakan tangan dan jari yang berubah drastis saya sikapi dengan senyuman karena saya dapat menunjukan kepada pangeran betapa kerasnya saya bekerja. Hahaha… sayangnya ibu saya histeris melihat foto jari dengan kulit terkelupas saya. Beliau sedih dan membayangkan betapa kerasnya pekerjaan saya. Iya sih, memang tidak bisa dibilang mudah, tetapi setidaknya saya puas saat berkeringat dan mendapat upah yang layak. Saya merasa dihargai secara patut.

Pekerjaan pertama yang menguras tenaga saya adalah sebagai tukang bersih-bersih di tempat penitipan anak. Saya hanya bekerja 3,5 jam sehari, lima hari dalam seminggu. Saya hampir selalu tidak bisa merasakan keberadaan tangan kanan setiap bangun pagi, seakan-akan mereka lumpuh tak berdaya karena kelelahan bekerja hari sebelumnya. Terkadang tangan sulit mengepal dan terasa kaku.

Untungnya bekerja sebagai tukang bersih-bersih sudah melatih tangan saya dan mereka pun siap menjalani pekerjaan berikutnya yaitu memetik cherry. Buah yang hanya dipanen saat musim panas tersebut memiliki cara pemetikan yang cukup unik. Sebagai pemetik kita hanya menggunakan ujung jari untuk mematahkan tangkai cherry. Sebenarnya kalau dilakukan untuk beberapa saat tidak akan melukai tangan mahpun jari, namun saat itu saya bekerja 9-10 jam sehari dan enam hari dalam seminggu. Meskipin gesekannya halus namun jika dilakukan berulang-ulang jari-jari saya pun luka. Kutikel kukupun mulai terkelupas. Belum lagi sengatan matahari yang membuat kulit tangan saya terbakar. Ah sungguh-sungguh deh…

image
Korban cherry

Seorang teman menyarankan saya menggunakan sarung tangan. Namun, saya menolak sarannya karena sarung tangan akan mengurangi sensitivitas jari saat memetik cherry. Yah, untungnya pekerjaan tersebut selesai dalam empat minggu. Saya pun berpisah dari pohon cherry.

Baca cerita Berkenalan Dengan Cherry

Saya pikir jari sudah cukup kebal, ternyata hanya sebagian dari jari saya yang kebal yaitu yang berdekatan dengan kuku. Sementara kulit di bagian buku-buku jari masih terlampau halus. Mereka mendapat pelajaran penting saat saya bekerja di pabrik penyimpanan beras. Sebelum masa panen datang kami harus membersihkan gudang. Kami pun harus mengecek setiap sudut gudang dan harus segera memperbaiki bila ada sesuatu yang dianggap tidak beres. Salah satu bagian yang paling menyita perhatian adalah ventilasi gudang. Ventilasi tersebut ditutupi dengan kawat jala, nah, terkadang bagian inilah yang sering bermasalah karena berlubang. Kalau sudah demikian kami harus segera menggantinya. Gara-gara penggantian kawat ventilasi itulah tangan saya terluka dan membuat ibu saya bersedih.

image
Dengan penampakan seperti ini, pangeran masih mau sama saya enggak ya?

Jadi, dalam proses penggantian kawat jala, kami harus memotong kawat sesuai ukuran yang dibutuhkan. Selain itu kami pun harus memotong kawat untuk dijadikan pengait kawat jala tersebut. Proses pemotongan menggunakan tang yang cara pakainya macam gunting itu loh. Lagi-lagi dikarenakan gesekan dengan gagang tang berkali-kali membuat kulit di bagian buku jari kapalan dan lama-lama terkelupas. Dahsyat ya, padahal saya sudah pakai sarung tangan untuk mengurangi friksi saat bekerja, loh.

Baca kisah Berkenalan Dengan Beras Sebelum Panen

Lain lagi saat bekerja di kebun ubi, justru pergelangan tangan saya selalu nyeri. Jenis pekerjaan kali ini mengharuskan saya menggerakan pergelangan tangan setiap saat mulai dari panen umbi hingga proses pengepakan. Berhubung saya harus mengepak ubi yang berukuran besar maka pergelangan tangan saya cepat lelah. Sebagai gambaran ubi yang saya sortir beratnya mulai dari 800 gr sampai 1,2kg. Bukan cuma itu, terkadang saya juga harus memisahkan ubi berkuruan jumba yang kadang berbobot sampai 6kg. Setelah bekerja selama dua bulan saya merasakan nyeri di pergelangan tangan. Teman yang sudah lama bekerja di kebun tersebut bilang saya bukan orang pertama yang mengalami cidera seperti itu, pendahulu-pendahulu saya pun banyak yang menderita.

Sebenarnya bukan cuma pergelangan tangan yang bermasalah. Siku dan tulang belikat saya pun sakit. Seorang teman yang pernah jadi tukang urut bilang kalau kondisi saya dinamakan “golf elbow“, masalah yang lazim dialami oleh pemain golf. Baik pengepak ubi dan pemain golf sama-sama terlalu sering menggunakan otot di bagian siku sehingga menyebabkan kelelahan dan rasa nyeri.

image
Demi mengurangi rasa nyeri pergelangan tangan pun harus dibebat

Saya sempat khawatir tidak bisa lanjut bekerja. Saat itu masa tinggal saya di Australia masih ada satu bulan. Terbayabg sudah kalau tidak bisa bekerja saya akan kekurangan penghasilan dan lebih parahnya saya bisa menguras tabungan untuk bertahan hidup. Pilihan launnya adalah kembali ke tanah air lebih cepat dari rencana. Semesta maha baik kekhawatiran saya dihilangkan dengan cepat karena kondisi pergelangan tangan, siku, dan tulang belikat lekas membaik dan saya pun bisa bekerja dengan tenang.

Sebenarnya bukan cuma bagian tangan yang sering mengalami cedera. Punggung pun sering nyeri karena keseringan menggendong tas cherry dan membungkuk saat panen ubi. Mata juga sering kelelahan. Suatu kali saat kami harus menyortir kentang saya merasa mata berkunang-kunang. Penyebabnya adalah kentang yang berjalan di atas conveyor belt secara konstan membuat mata saya stress dan saat mesin dimatikan saya seperti melihat semua benda mati bergerak.

***

Sekarang pertanyaannya adalah apakah dengan segala cidera dan luka yang pernah saya alami ada pangeran yang menghampiri? Ya elah, hari gini masih percaya dongeng. Realistis ajalah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s