Tenda dan Mobil Sebuah Pelajaran Perjalanan

Pada suatu siang di musim panas Australia, seorang teman berkata “saya dapat pekerjaan, mulai Senin akan pindah tempat tinggal.”

Menjadi seorang perantau seharusnya membuat saya terbiasa menghadapi perpisahan, tetapi saat mendengar kalimat di atas hati saya bersedih. Satu, karena teman saya tidak akan tinggal dekat lagi. Dua, karena si teman akan tidur di dalam kamar. Oh, percayalah memiliki tembok dan atap serta kasur yang empuk akan membuat tidur kita nyenyak.

Kalian harus dengar cerita saya dulu mengapa tingkat baper saya saat itu cukup tinggi.

Kalau saya tidak salah hitung setidaknya selama sepuluh bulan masa awal perantauan saya tidak bisa mengklaim satu tempat tidur sebagai milik pribadi. Saya selalu menyewa kamar di hostel, tinggal di rumah penduduk lokal baik melalui couchsurfing atau sekadar kenalan, tidur di tenda dan mobil. Dengan budget ala kadarnya mau tak mau saya harus berbagi ruangan dengan banyak orang, dengan menginap di tempat orang saya harus terima kalau hanya ditawarkan tidur di sofa, dengan tidur di tenda atau mobil saya harus iklas telentang di atas matras tipis.

Sudah mulai mengerti mengapa memiliki kamar menjadi obsesi saya?

Meski demikian, saya tetap bisa menikmati perantauan kemarin. Bahkan, saya masih suka tersenyum kalau mengingat-ingat “tempat tidur” saya kemarin. Dari sekian banyak pengalaman, tidur di dalam tenda dan mobil selama di Australia adalah yang paling saya ingat.

Selama tiga bulan pertama di Australia saya hanya seminggu menyewa kamar di hostel. Bukan main mahalnya biaya sewa satu tempat tidur per malam. Kalau tidak salah saya harus membayar sampai $30 per malam. Untuk saya, harga tersebut sangat menyiksa dompet. Beruntung saya mendapat pekerjaan di perkebunan cherry yang pemiliknya memperbolehkan saya tidur di rumah berbilik kayu dengan kasur ala kadarnya. Saya hanya membayar $20 per minggu. Dikarenakan musim panen berakhir saya pun harus keluar dari kebun itu dan terdamparlah saya di Danau Wyangan, Griffith, NSW. Sejak saat pertama saya memasuki wilayah kemping Danau Wyangan maka pengalaman baru saya pun dimulai.

Danau Wyangan merupakan tempat rekreasi bagi warga sekitar. Mereka bisa berenang, mancing, atau aktivitas air lainnya. Mereka pun bisa bersantai-santai sambil menyantap daging ala barbecue. Namun, bagi saya dan segerombolan perantau dari berbagai penjuru dunia area kemping gratis Danau Wyanganlah yang membuat kami bahagia. Bagaimana tidak, dengan hanya memasang tenda kami bisa kembali memiliki “rumah”. Tidak sedikit juga perantau yang tidur di dalam mobil van yang disulap jadi rumah berjalan.

image

Hari pertama saya sampai di danau tersebut saya sulit tidur di dalam mobil karena terlalu panas. Saya pun coba menggelar tikar tidur dan bergelung di dalam kantung tidur di luar mobil. Sayangnya jumlah nyamuk malam itu sungguh tak terhingga membuat saya harus kembali ke dalam mobil. Hari sudah larut dan saya ogah mendirikan tenda saat itu.

Keesokan harinya saya mendirikan tenda. Sayangnya, karena gratis masa tinggal di Danau Wyangan pun dibatasi, maksimal tiga malam. Sebenarnya bisa lebih dari itu karena tim pengawas Danau Wyangan tidak melulu datang tiap hari untuk mengecek. Saat pertama kali mendirikan tenda, saya mampu bertahan selama tujuh malam tanpa diketahui oleh pengawas. Tenda saya lipat saat mendapatkan notifikasi tertempel di pintu tenda yang mengharuskan saya untuk mengisi data berupa nama, nomor telepon, dan tanggal kedatangan. Kalau saja saya mengisi data tersebut dan memberikannya kembali kepada pengawas saya masih bisa tinggal sampai tiga malam berikutnya. Saya memilih untuk tidak memberikan data jadi pengawas tidak mendeteksi keberadaan saya karena saya ingin tinggal lebih lama.

Enaknya tinggal di area kemping yang dipenuhi perantau garis miring pejalan adalah kita bisa mendapat tips dan trik baru. Tips berguna yang saya dapat salah satunya adalah memasang kawat nyamuk di jendela mobil saya. Kawat nyamuk ini penting loh, karena saya masih bisa mendapatkan udara dari luar tanpa diganggu nyamuk. Saya pun tidak kepanasan lagi kalau tidur malam dan tidak perlu mendirikan tenda setiap saat.

O iya, mobil saya itu bukan jenis van. Dash,  nama mobil saya, hanya station wagon berkapasitas lima orang. Kursi penumpang dibagian tengah dapat direbahkan sehingga saya memiliki ruang yang cukup luas di belakang kursi kemudi. Nah, ruangan inilah yang saya sulap jadi kamar tidur. Saya menaruh matras di sisi kanan mobil, sementara tas punggung, peralatan makan, dan peralatan masak di sisi lainnya. Kaca di kanan kiri mobil saya tutup dengan sun-shade yang selain berfungsi memberikan saya privasi saat tidur juga bisa menyejukan temperatur di dalam mobil. Dash cukup nyaman untuk ditiduri oleh satu orang tetapi dia pun masih bisa menampung satu orang lagi tanpa mengorbankan banyak kenyamanan.

Saya bertahan dengan kondisi seperti itu hampir lima minggu. Ada beberapa alasan mengapa saya betah. Satu, karena saat itu saya tidak memiliki pekerjaan dan tidak sanggup membayar uang sewa untuk satu tempat tidur. Dua, dengan memiliki kamar berjalan berarti saya selalu membawa barang-barang saya dan tidak perlu khawarir bakal ada yang mencuri. Ketiga, saya bertemu banyak orang baru di area kemping.

Mungkin alasan nomor tiga memberikan dorongan tenaga cukup besar buat saya untuk tetap bertahan. Bagaimana tidak karena saya merasa tidak sendiri mengalami “penderitaan” tidak punya uang banyak. Rata-rata perantau garis miring pejalan itu juga berkantung tipis sehingga memilih untuk tinggal di area kemping. Karena jumlah kami yang tidak sedikit maka tiap malam akan selalu ada keramaian seperti masak bersama, berbagi minuman, juga bernyanyi bersama. Biasanya kalau sudah berkumpul seperti itu kami sering berbagi informasi mengenai pekerjaan. Saya yang lebih menjadi pendengar yang baik langsung buka suara jika mendengar informasi “picker needed”, artinya ada pemilik kebun yang butuh tenaga tambahan selama musim panen komoditas yang ia miliki. Hal mengasyikan lainnya adalah saat kami mulai berbagi hasil panen. Sebagai pekerja di kebun kadang kami boleh mengambil hasil panen untuk kami konsumsi. Nah, berhubung teman-teman saya bekerja di kebun yang berbeda-beda kami tidak kekurang variasi bahan makanan. Setidaknya kami selalu memiliki melon, semangka, jeruk, almond, bawang, tomat, dan sebagainya.

Salah seorang teman bercerita kalau ibunya panik saat mengetahui tempat tinggal sang anak saat itu. Si ibu bingung bagaimana cara anak mandi dan juga ke toilet di area kemping tersebut. Teman saya menjawab sekenanya saat itu “kalau mau mandi bisa langsung ke danau”. Tentu saja ibunya panik, padahal dia tidak melihat kondisi danau, kalau saja dia melihat dengan mata kepala sendiri pasti ia akan menjemput paksa anaknya untuk pulang. Saya sendiri tidak pernah berenang di danau gara-gara ragu dengan warna airnya. Tetapi teman saya melemparkan pertanyaan “menurut kamu air yang dipakai di kamar mandi umum sumbernya dari mana?”

Semenjak saat itu saya selalu berusaha menyempatkan diri mandi di taman pusat kota yang berjarak sepuluh menit dengan mobil dari Danau Wyangan, selain lebih bersih juga dilengkapi air hangat. Mewah! Dan yang paling penting adalah fasilitas tersebut gratis digunakan oleh siapun. Biasanya saat saya pergi ke pusat kota saya selalu mampir ke perpustakaan untuk mengisi daya ponsel juga menikmati wifi gratis. Kalau saya datang sekitar pukul dua siang, perpustakaan akan penuh oleh perantau garis miring pejalan yang memiliki niat sama, mengisi energi peralatan elektronik. Tidak hanya itu, banyak juga yang menumpang tidur dengan  posisi terduduk. Maklumlah, biasanya mereka yang datang pada masa baru selesai bekerja di bawah sengatan matahari musim panas, sejuknya perpustakaan membuai mereka. Bagi saya ada tujuan lain pergi ke pusat kota yaitu mengisi wadah air minum berkapasitas 10 liter dari kran air di samping kantor Informasi Turis Griffith.

Sepanjang masa tinggal saya di Danau Wyangan, setidaknya saya berhemat banyak hal. Sudah pasti yang paling saya hemat adalah biaya sewa kamar. Anggaplah biaya sewa kamar adalah $150 per minggu, maka selama lima minggu saya berhasil menekan biaya hidup sampai $750. Untuk urusan makan pun demikian, karena banyak pasokan buah membuat saya bisa meminimalisir post tersebut. Pengeluaran terbesar saya saat itu, selain untuk makan juga bahan bakar untuk Dash. Maklum dia sering saya ajak untuk berkeliling untuk mencari pekerjaan.

Saya cukup menikmati kondisi saya saat itu. Area kemping yang cukup luas membuat saya selalu merasa bebas. Semburat jingga akibat dari matahari terbenam di Danau Wyangan menenangkan hati saya tiap hari. Taburan bintang di langit membuat saya mengerti maksud bahwa tenda termasuk “billion stars hotel”. Perlu diketahui, saat musim panas merupakan masa terbaik untuk menengadah ke langit di malam hari. Gugusan bintang dapat dinikmati dengan mata telanjang karena tidak tertutup awan, kalau kamu tinggal di kota pedalaman Australia yang tidak ada gedung bertingkat dan minim kendaraan maka pemandangan yang didapat akan lebih menakjubkan.

Betapapun saya menikmati tidur area kemping tersebut, tentu saya pun rindu tempat tinggal yang layak. Rasanya akan sangat bahagia bila saya bisa tidur di kasur yang empuk dan luas. Tekad saya bulatkan untuk mencari pekerjaan lebih giat supaya saya mampu menyewa kamar. Keinginan saya terwujud, akhirnya saya mendapatkan pekerjaan untuk tiga bulan. Memiliki kepastian bekerja sungguh membahagiakan, sayapun mulai berburu tempat tinggal. Seorang teman kerja mengajak saya berbagi kamar dengannya. Saat saya melihat kamar yang ditawarkan saya langsung jatuh hati pada kasurnya yang sungguh nyaman untuk ditiduri. Selain itu, kamar tersebut memiliki penyejuk udara. Kamar mandi pun luas dan dipisah antara wanita dan pria, karena saya satu-satunya cewek saat itu maka saya menguasai kamar mandi tersebut. Tidak perlu lagi terburu-buru saat mandi, juga yang paling penting saya tidak perlu ketakutan menginjak jarum suntik bekas pakai. Di beberapa dan kamar mandi umum saya sering menemukan tempat sampah khusus jarum suntik dan hal itu membuat saya paraboid bila ada orang yang nakal dan membuang sampahnya sembarangan.

Semenjak saat itu, saya selalu mendapat pekerjaan dengan masa kerja yang panjang. Saya pun selalu mampu untuk menyewa kamar. Meskipun demikian, terkadang saya rindu untuk tidur di dalam mobil. Suatu kali saya melipir ke Melbourne, selama tiga malam kunjungan tersebut saya memarkir mobil di area kemping sekitar pantai St. Kilda. Saat itu mulai memasuki musim gugur dan suhu udara Melbourne menyentuh belasan derajat celsius. Untungnya amunisi saya cukup lengkap saat itu, tidak hanya kantung tidur yang saya bawa, melainkan juga dua helai selimut.

image

Kalau dipikir-pikir kok sepertinya pelit sekali, ya? Tetapi percayalah ada perasaan yang sulit dijelaskan mengenai kenikmatan untuk tidur di dalam mobil atau tenda. Mungkin itu adalah rasa independen yang saya dapat, bisa juga menjadi pengakuan kepada diri sendiri kalau kita mampu beradaptasi dengan kondisi apapun. Bagaimana tidak, kita harus siap menggunakan fasilitas umum sepeeti kamar mandi dan toilet yang terkadang tidak bersih. Kondisi cuaca yang tidak menentupun tidak memberikan kita keluluasaan untuk mengatur suhu ruangan dengan mesin penyejuk maupun pemanas.

Bagi saya pengalaman tersebut cukup memberikan kesan yang dalam. Setidaknya saya bisa menurunkan tingkat kemanjaan dan berlatih bila roda kehidupan memosisikan saya berada di bawah saya siap untuk hidup ala kadarnya.

***

Tengok juga yuk cerita teman saya tentang pengalaman berkesannya selama di Australia.

Hilal: Akhir Pekan Yang Magis di Wide Open Space Festival

Hendra: Plesir Singkat Ke Philip Island

Iklan

10 Replies to “Tenda dan Mobil Sebuah Pelajaran Perjalanan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s