Makna Puasa Bagi Perantau

Matanya berbinar. Mukanya terbingkai lucu oleh rambut dan poni. Suaranya nyaring saat melafalkan surat pembuka Al Quran. Ibunya menambahkan keterangan di video yang diunggah di akun sosial media “anak saya mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga lancar ibadahnya.”

Air mata mengalir tak lagi kuat saya tahan. Sayapun tergugu dipelukan teman perjalanan saya. Tidak pernah rasanya saya serindu itu dengan rumah. Tidak pernah saya begitu ingin merasakan atmosfer ramadan di tanah kelahiran.

Ramadan 1435 H adalah kali pertama saya tidak berada di rumah. Juga kali pertama saya tidak merayakan hari raya idul fitri. Saya bukan penganut agama yang taat, tetapi saya dibesarkan dengan budaya islam dan suasana ramadan yang berbeda dibanding bulan-bulan lainnya cukup menciptakan memori indah di kepala saya dan sangat wajar bila saya merindukannya.

Lama perjalanan saya waktu itu baru dua bulan. Masa-masa rentan rindu kampung halaman. Dikarenakan sering melihat lini masa sosial media yang penuh unggahan ucapan selamat berpuasa dari teman-teman membuat saya makin terasing di tanah perantauan. Saat itu saya berada di India tepatnya di kota Mysore, tidak pernah sekalipun mendengar azan kecuali saat saya sedang bepergian ke pusat kota.

Suara azan baru lebih sering saya dengar saat saya berhenti di Wayanad, Kerala. Negara bagian di selatan India yang menganut paham komunis ini banyak penganut kristen dan islam. Hindu masih dominan tetapi penganut dua agama lainnya juga tidak sedikit jumlahnya. Pada masa-masa awal tinggal di Wyanad saya sering mendengar lantunan doa dari kuil hindu bersahutan dengan ayat-ayat Al Quran dari mushola. Sungguh indah.

Ketika saya berpindah ke Josegiri, masih di Kerala, suasana Ramadan semakin tak terasa. Desa yang dihuni 250 kepala keluarga tersebut mayoritas penduduknya adalah nasrani. Mendekati hari idul fitri, saya bertanya pada penduduk lokal dimanakah saya bisa merasakan suasana lebaran. Dijelaskanlah bahwa ada satu kota yang berjarak sekitar tiga jam perjalanan yang mayoritas penduduknya beragama islam, dan bisa dipastikan suasana lebaran akan ramai di sana. Sayangnya tidak ada yang mau menemani saya pergi dan saya dilarang untuk pergi sendirian, jadilah saya menghabiskan masa lebaran di rumah teman lokal. Beberapa kali saya mencoba kabur dari kerumunan oang di rumah demi mendapatkan jaringan ponsel demi sekadar dapat berkirim pesan singkat dengan relasi di rumah.

Tidak ada ketupat dan opor pun sambal goreng kentang yang nikmat buatan ibu saya. Seperti ada cuilan hati yang patah sendirian di perantauan dan tidak merayakan hari raya.

Waktu berlalu hingga akhirnya saya kembali bertemu Ramadan di tanau rantau. Jauh sebelum Ramadan datang, ibu bertanya apakah saya akan berpuasa, saya menjawab asal dan menjadikan status musafir sebagai alasan tidak berpuasa.

Kali kedua Ramadan di tanah asing saya lalui di Australia. Musim dingin saat itu seharusnya bisa saya manfaatkan karena waktu berpuasa akan lebih pendek ketimbang di Jakarta. Kebetulan saat itu saya bekerja di kebun ubi yang sangat menguras tenaga di pagi hari dan saya rasanya kok tidak sanggup.

Posisi saya yang jauh dari pusat kota cukup menyulitkan untuk berinteraksi dengan muslim. Mungkin cerita akan berbeda bila saya tinggal di kota besar yang penduduknya lebih inklusif. Tinggal di kota besar pun memudahkan saya bergaul dengan warga Indonesia yang sebagian besar beragama Islam. Bisa saja pengalaman saya akan berbeda, bisa jadi saya bisa menikmati aneka macam gorengan sebagai pembatal puasa. Teman-teman dari grup WHV tidak sekali mengadakan acara buka puasa bersama, sementara saya hanya bisa meratapi nasib dari jauh.

Momen emosional paling kuat saya alami saat hari idul fitri datang karena bertepatan dengan ulang tahun ibu. Selepas bekerja hari itu saya sempatkan menelpon rumah dan berbicara pada semua orang yang sedang berkumpul. Sesak rasanya dada saat mendengar mereka berbicara di ujung telepon Seharusnya saya ada di sana, pikir saya. Air mata yang sudah berusaha sekuat tenaga ditahan tak terbendung. Tangis kembali pecah dan betapa saya berharap berteman dengan Doraemon untuk meminjam Pintu Kemana Saja supaya bisa pulang saat itu juga.

Puas menghabiskan air mata hari itu saya langsung tertidur dengan mata bengkak, badan masih penuh tanah sisa bekerja pagi itu. Tengah malam saya terbangun karena kelaparan gara-gara lupa makan malam. Saya menyiapkan makan malam ala kadarnya, seporsi mie instan. Saya berharap itu hanya fatamorgana, saya berharap yang ada dihadapan adalah ketupat sayur dan opor ayam.

Saya hanya dua kali puasa dan dua kali lebaran tidak pulang, namun sungguh merasa nelangsa. Tidak terbayang bagaimana perasaan Bang Toyib yang tidak pulang tiga kali lebaran berturut-turut. Pasti kondisinya sangat mengenaskan.

Iklan

2 Replies to “Makna Puasa Bagi Perantau”

  1. Di India ramadhan maupun lebaran tidak semeriah di Indonesia, bagaimanapun kita berada di komunitas muslim tetap saja merasa sepi saat ramadhan maupun lebaran. Salam kenal, saya sekarang berdomisili di India juga 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s