Gagap di Amerika

Sepekan sudah kaki menjejak tanah di benua baru. Tanah yang katanya ditemukan seorang pelaut asal benua biru, Amerika. Tujuh hari yang bisa dikatakan singkat tetapi cukup memberikan saya gegar budaya yang lebih besar ketimbang negara lain yang pernah saya kunjungi.

Negara pertama dari benua ini yang saya datangi adalah Amerika Serikat (AS). Pesawat udara yang saya tumpangi mendarat di bandara John F. Kennedy di kota New York. Setelah perjalanan hampir 36 jam dari tanah air saya berupaya memaksimalkan masa tinggal di negeri Paman Sam tersebut. Saya tiba saat matahari masih bersinar terang, beruntung masih dalam musim panas dan matahari terus bersinar sampai pukul delapan malam. Banyak waktu bagi saya untuk mengenal kota tersebut saat masih terang. Sayangnya saya masih kelelahan dan memutuskan beristirahat sepanjang sisa hari.

Waktu efektif saya di kota yang katanya tidak pernah tidur tersebut hanya dua hari. Tak pelak saya “berlari” ke segala penjuru kota untuk melihat banyak hal dengan mata saya sendiri karena selama ini hanya menyaksikannya dari rangkaian serial televisi juga film produksi Hollywood. Dan, memang setiap sudut kota New York memberi kesan seakan saya berada di sebuah set film. Dari beberapa tempat yang saya datangi, Columbia University, apartemen Monica, Rachel, Joey, dan Chandler, juga New York Stock Exchange memberikan sensasi hangat dalam hati.

Dulu saya pernah bercita-cita mengenyam pendidikan di Columbia University. Dulu saya tumbuh bersama serial F R.I.E.N.D.S. Dulu pekerjaan saya selalu menjadikan apa yang terjadi di bursa New York yang terletak di Wall St. sebagai acuan.

Sempat ada kekhawatiran saya akan merasa tidak nyaman berada di New York. Saya bukan penyuka kota besar. Nyatanya saya selamat dan cukupe menikmati kota tersebut. Meskipun memiliki tata kota yang rapi dan juga polisi yang berkeliaran di setiap sudut selalu ada peluang untuk melakukan pelanggaran seperti menyebrang seenaknya, membuang sampah sembarangan, dan banyak hal lainnya. Bagi saya, hal-hal tersebut membuat New York cukup mudah untuk ditinggali ketimbang beberapa kota di negara lain yang selalu memajang peraturan dan denda yang harus dibayar kalau berani melanggarnya.

Kolombia
Tujuan utama saya melakukan perjalanan kali ini adalah menemui teman perjalanan yang sudah terpisah beberapa bulan. Saat ini ia menetap di Kolombia, maka dari Amerika Serikat saya pun langsung menuju negeri latin itu. Kota pertama yang saya kunjungi adalah Cartagena. Sebenarnya waktu tempuh dengan pesawat dari Cartagena ke tempat teman perjalanan saya berada hanya satu jam perjalanan. Namun saya memutuskan untuk mampir sebentar di Cartagena.

2016-07-02-20-26-55.jpg

Terletak di sisi laut membuat Cartagena cukup panas dan lembab. Sesampainya di penginapan yang berpendingin ruangan membuat saya langsung terlelap saat merebahkan diri di kasur. Terbangun karena lapar saya pun bergegas mandi dan langsung mencari makan. Selepad makan saya kembali tidur dan bertekad untuk berkeliling keesokan hari.

Sekitar pukul sebelas siang saya memulai penyusuran kota tua Cartagena. Nampaknya saya masih kelelahan. Terhitung lima hari sudah saya pergi dari Indonesia dan saya selalu bergerak tiap harinya. Puncaknya adalah saya tidak menikmati waktu eksplorasi Cartagena. Saya memutuskan untuk kembali ke penginapan dan kembali beristirahat.

Kelelahan semakin bertambah saat saya tidak cepat beradaptasi soal nilai tukar mata uang. Makan malam pertama saya di Cartagena ternyata seharga penginapan saya untuk semalam, sungguh mahal. Sayangnya saya baru menyadarinya saat sudah berada di kamar bukan saat mengecek menu dan menyantap makan malam. Kalau sekarang saya pikir-pikir sepertinya saya tahu apa penyebab gagap uang tersebut. Saya tidak terlalu apik dalam menghitung uang tetapi saya tahu mana barang murah dan mahal.

Jadi begini Kolombia memiliki nominal uang yang mirip dengan Indonesia. Nominal uang terbesar yang saya miliki adalah 50.000 Colombian Peso (COP), selain itu ada 20.000 COP, 10.000 COP, dan seterusnya. Nah karena kemiripan tersebut saya kecele, karena 50.000 IDR tidak sekuat 50.000 COP. Dengan nominal yang sama, ternyata mata uang COP memiliki nilai lebih kurang empat kali lipat dari IDR. Pada makan malam pertama saya menghabiskan 36.000 COP yang kalau dikonversi ke IDR sekitar 150.000 IDR. Pusing dong karena biasanya bujet makan cuma 30.000 IDR. Lelah fisik membuat kemampuan berhitung saya semakin kacau.

Sempat saya berpikir apakah kondisi fisik saya yang kurang enak saat itu merupakan akibat dari jet lag. Seharusnya sih ya saya mengalaminya mengingat perbedaan waktu dengan rumah yang sampai 12 jam. Tetapi entahlah saya tidak merasa susah tidur atau sulit makan. Atau mungkin karena perbedaannya yang 12 jam itu tidak terlalu berpengaruh pada metabolisme tubuh karena jam makan tetap sama hanya berbeda apakah terang atau gelap, maksudnya kalau saya biasa sarapan jam delapan pagi berarti kan di Kolombia jam delapan malam yang sudah masuk waktu makan malam.

Saya selalu berpikir kalau akan mudah beradaptasi dengan situasi negara berkembang. Nyatanya tidak. Justru saya lebih mudah beradaptasi dengan kota besar seperti New York, dulu saat pertama kali sampai di Sydney juga saya merasa biasa-biasa saja. Teman perjalanan saya berteori mungkin penyebab mudah beradaptasi dengan dua kota besar tersebut karena saya merupakan penutur bahasa setempat, sedangkan saat sampai di Kolombia level bahasa spanyol saya masih tiarap.

2016-07-02-20-33-40.jpg
kamus saku selalu dalam genggaman. semoga membantu.

Teori lain yang mungkin menyebabkan saya merasa gegar budaya adalah tidak adanya kedekatan budaya antara Indonesia dengan Kolombia. Beberapa negara yang saya kunjungi sebelumnya memiliki unsur kedekatan yang cukup besar, baik dari segi budaya pun jarak. Di Amerika Serikat pun saya tidak merasa aneh karena bukan satu-satunya orang Asia. Sementara di Kolombia saya adalah alien di dataran Andes.

Faktor lainnya adalah makanan. Saya pernah berpikir kalau saya dapat mengecap segala jenis makanan, oh ternyata tidak selalu kawan-kawan. Saya rindu makanan serba digoreng khas Indonesia. Jangan pula lupakan sambel dan cengek yang rasanya tidak ada makanan yang nikmat tanpa keduanya.

wp-1467509807937.jpeg
tipikal sarapan di Kolombia, aromatica berupa minuman hangat dengan rempah-rempah dan pandebono roti yang terbuat dari tepung jagung, singkong, juga keju. Kangen nasi uduk sambel kacang.

Waktu saya masih panjang untuk menaklukan rasa keterasingan. Saya yakin pasti bisa beradaptasi dan tidak cengeng karena kangen kampung halaman. Kita lihat saja nanti.

 

Iklan

2 Replies to “Gagap di Amerika”

  1. Woaaaah asik seru banget Efi! Jelajah benua Amerikaaaa! Aku baru pernah ke Vietnam dan Australia aja. Yang satu gagap saking murahnya yang satu lagi saking mahalnya hahaha. Keep posting!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s