Dibikin Grogi Petugas Imigrasi

Setiap berpesiar salah satu yang saya khawatirkan adalah ketika menghadapi petugas imigrasi. Jantung yang selalu berdebar saat menunggu waktu dipanggil bapak ibu petugas imigrasi selalu bikin saya kebelet pipis. Terkadang informasi dari orang lain yang selalu bilang “petugas imigrasi di Bandara X sungguh bikin lemes” membuat saya sering pening saat mendekati petugas.

Ada pepatah yang bilang malu bertanya sesat di jalan, tetapi seringnya kebanyakan nanya dan tahu bikin saya takut berhadapan dengan petugas imigrasi. Masalahnya terkadang apa yang selalu ditakut-takuti oleh mereka yang berpengalaman justru tidak kejadian jadinya anti klimaks.

Meski demikian, memang tidak ada yang bisa menandingi sensasi menanti passport menerima cap masuk ke suatu negara. Kalau banyak yang bilang petugas imigrasi itu jenis manusia yang harus dihindari karena saking galaknya, justru saya sering menemui petugas imigrasi yang malah enak diajak ngobrol.

Tidak memungkiri, sih, kalau saya pernah mengalami masalah saat hendak masuk satu negara. Kejadian saat itu adalah saya hendak masuk Thailand melewati perbatasan Padang Besar tetapi ditolak dengan alasan keseringan berkunjung ke negeri siam tersebut. Nah, loh. Akibatnya saya balik badan lagi ke Malaysia. Cerita lengkapnya di sini.

Seorang teman pernah bilang kalau muka petugas imigrasi itu memang sudah diatur sedemikian rupa untuk tidak tersenyum. Muka kaku tersebut sengaja dipasang sebagai “ujian” bagi para pelancong, niatnya untuk menciptakan suasana tidak nyaman. Dengan cara tersebut, petugas imigrasi yang katanya bisa membaca raut wajah seseorang dapat mendeteksi apakah calon pendatang ke negaranya memiliki niat baik atau tidak.

Sepanjang kunjungan ke negara-negara di Asia Tenggara saya tidak pernah takut karena memang niatnya berlibur. Dan rasanya petugas imigrasi pun lebih santai kepada penduduk negara anggota ASEAN. Pengalaman pertama saya yang bikin agak deg-degan adalah saat kunjungan pertama saya ke Australia dengan Work and Holiday Visa. Seharusnya saya tidak usah ragu karena sudah mendapat izin masuk negara tersebut, lagi-lagi karena kebanyakan membaca kisah orang yang bilang memiliki visa tidak menjamin kita bisa masuk suatu negara, saya sedikit jiper saat antri imigrasi.

Banyak persiapan jawaban yang saya kantongi sebagai amunisi berhadapan dengan bapak “penerima tamu”. Eh,,, ternyata bapaknya enggak banyak nanya, cuma lihat passport dan ketik sana-sini dan dicaplah passport saya itu. Iya semudah itu, enggak ditanya bawa duit berapa banyak dan mau ngapain di Australia.

Saat hendak keluar Australia pun saya tidak mengalami kendala berarti. Kekhawatiran saat itu cuma kalau saya ketahuan masih punya tagihan yang belum dibayarkan ke pemerintah Australia. Seingat saya sih semua denda juga tilang sudah dibayarkan. Dan benar saja saya diizinkan keluar Australia dengan mudah.

Petugas imigrasi di Bandara Townsville, QLD, saat itu sangat ramah. Dengan sedikit kaget dia bilang “oh,,, ini hari terakhir kamu di Australia ya? Mepet ya jadwal penerbangannya.” Jadi visa saya berlaku sampai 26 Oktober 2015 dan saya meninggalkan Australia pada tanggal tersebut pukul sebelas malam. Nekat, karena bisa saja pesawat dibatalkan dan baru berangkat hari berikutnya. Kalau sudah begitu saya bakal dikenakan sanksi karena kelebihan masa tinggal.

Pengalaman yang agak menegangkan lainnya adalah saat mengunjungi Amerika Serikat dengan bekal visa turis. Kali itu saya patut cemas karena jenis visa yang saya gunakan rentan ditolak untuk masuk. Bener loh. Jangankan visa turis, pemilik visa bisnis yang disertakan undangan dari perusahaan berbasis di Amerika Serikat saja tidak perbolehkan masuk. Setidaknya itu kata teman saya yang mengisahkan pengalaman teman dekatnya.

Saya mendarat di John F. Kennedy, New York, yang petugas imigrasinya terkenal cukup ketat. Bekal jawaban sudah tersimpan rapi dalam memori otak perihal tujuan kunjungan, jumlah duit yang dibawa, sumber pendanaan, tempat menginap, dan juga mengenai kerabat atau kenalan di Amerika Serikat. Mengapa saya menyiapkan jawaban soal kerabat dan kenalan? Karena berdasarkan asumsi banyak orang, pihak imigrasi akan mencurigai siapapun yang memiliki kerabat atau kenalan di Amerika Serikat karena memiliki potensi untuk menetap lama dan tinggal secara ilegal.

Petugas imigrasi yang mengaku sudah capek kerja karena dapat jam kerja malam hingga pagi tersebut bertanya-tanya tentang tujuan kedatangan saya sambil memasukan data ke komputernya. Momen menegangkan adalah saat ia bertanya nama belakang yang tidak saya miliki. Walhasil saya harus menjelaskan kalau memiliki satu nama merupakan hal yang wajar di Indonesia. Saat itu saya pikir dia hanya penasaran, tetapi setelah saya pikir-pikir dia hendak mencari tahu lebih jauh tentang siapa saya sebenarnya. Kalau saya memiliki dua nama tentunya akan mudah baginya untuk mendapatkan informasi data pribadi saya.

Pertanyaannya pun makin memojokan. Awalnya dia memuji bahasa inggris saya yang menurutnya cukup bagus dan saya jawab kalau pernah kursus bahasa tersebut. Saya kira dia memuji, sampai dia bertanya “bahasa inggrisnya bagus, memangnya beneran belum pernah ke Amerika Serikat sama sekali?” dan hilanglah semua rasa jumawa. Rupanya dia mencurigai kalau saya pernah menggunakan identitas lain dan tinggal di Amerika Serikat gara-gara saya lancar berbahasa inggris. Demi mempercepat urusan saya pun menjelaskan kalau enah tinggal setahun di Australia maka dari itu bahasa inggris saya lumayan. Tidak lama setelah penjelasan itu saya pun diizinkan masuk dan diberikan masa tinggal sampai enam bulan.

Memang benar kalau ada yang bilang apa yang ada di kepala petugas imigrasi hanya dia dan Tuhan yang tahu. Saking misteriusnya terkadang suka dibikin kaget sama kelakuan mereka. Suatu kali petugas imigrasi di Bandara I Gusti Ngurah Rai mengajak saya mengobrol dengan alasan tidak banyak orang yang mesti dilayani. Dengan hati-hati saya bertanya apakah ada yang salah dengan saya sampai diajak mengobrol. Iya toh? siapa, sih, yang mau berlama-lama di imigrasi. Tetapi petugas itu malah bilang “santai aja!”

Awalnya hanya ada satu petugas imigrasi selang beberapa saat kemudian dua petugas lainnya ikut nimbrung. Mereka memperhatikan halaman passport saya dan berkomentar ini dan itu. Sekali lagi saya melontarkan pertanyaan, “ada masalah apa ya Pak?” karena merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut. Eh, dasar saya juga suka mengobrol, walau deg-degan malah ngomong ngalur ngidul dengan mereka. Takut kebablasan ngomong saya pun meminta diri untuk ke ruang tunggu penerbangan. Sampai sekarang saya tidak tahu alasan dibalik ajakan mengobrol tersebut.

Iklan

4 Replies to “Dibikin Grogi Petugas Imigrasi”

  1. Emang susah sih ya ktnya masuk ke US. belum pernah sih tapi… hehehe…
    tapi temen katanya waktu itu pernah visanya hampir ditolak karna jenggotan..

    1. Iya banyak yg berkomentar seperti itu Mas. Emang tergantung nasib masing2 orang ya.

      Trus temennya gimana Mas? Lolos visanya? Ada2 aja ya masa cuma karena jenggot.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s