Aplikasi Visa AS Tidak Rumit dan Menyeramkan

Banyak baca, banyak tahu. Banyak tahu, bikin banyak pikiran. Sebelum mengajukan aplikasi visa Amerika Serikat (AS) saya terlalu banyak mendapatkan informasi dari mereka yang sudah berpengalaman. Ceritanya ada yang bagus ada juga yang bikin hati ciut.

Visa yang saya ajukan adalah visa kunjungan untuk keperluan rekreasional B/B1. Karena tujuan itu, saya pun mengubek-ubek informasi yang ada di sebuah grup pejalan yang ada di Facebook. Satu-satu saya baca pengalaman mereka, setiap menemukan kisah penolakan saya langsung gugup. Keadaan makin parah malam sebelum hari wawancara, saya cuma bisa tidur tiga jam gara-gara grogi. Setelah selesai wawancara dengan hasil aplikasi saya disetujui, ternyata semua ketakutan sebelumnya tidak perlu ada.

Setidaknya inilah beberapa informasi yang seharusnya bikin saya mantap menghadapi wawancara tetapi berefek kebalikannya:

  1. Jawab pertanyaan dalam bahasa Indonesia biar enggak keliatan grogi.
  2. Jangan jawab punya kenalan di AS walaupun memang punya, sebab akan dicurigai bakal jadi imigran.
  3. Mereka yang sering bepergian ke luar negeri berpeluang lebih besar aplikasinya diterima. Namun, pernyataan ini dibantah oleh orang yang passportnya masih polos tetapi tetap mendapatkan visa AS.
  4. Memiliki tabungan setidaknya Rp 100 juta. Satu ini pun dibantah oleh teman saya yang visa AS-nya sudah tertempel di passport walau jumlah nominal yang saya miliki jauh dari angka yang disebut sebelumnya.
  5. Mereka yang bernama kearab-araban akan sulit dapat visa. Nama saya ada unsur arabnya dan hanya satu nama tetapi visa AS sudah ada dalam genggaman.

Informasi di atas baru sebagian dari banyaknya informasi membingungkan lainnya. Fokus kekhawatiran saya adalah bagaimana saya bisa meyakinkan pihak konsuler bahwa saya bukan calon imigran gelap di negaranya. Kalau kata seorang teman, kualifikasi saya sangat cocok sebagai orang yang sekali datang ke AS dan tidak akan keluar lagi.

Begini, usia saya masuk katagori produktif, belum menikah, tidak punya tanggungan, tidak bekerja, dan berbahasa Inggris. Bisa dikatakan kondisi saya saat ini tidak memiliki keterikatan dengan Indonesia dan bisa saja memutuskan untuk tinggal secara ilegal di AS. Duh, enggak kepikiran sama sekali deh untuk main kucing-kucingan di negara orang.

Sebelum memulai proses aplikasi saya memikirkan alasan yang dapat diterima mengenai niat saya berkunjung ke AS. Hingga muncullah satu alasan yang saya rasa cukup kuat untuk dipakai. Saya akan bilang kalau saya seorang pejalan yang baru selesai bekerja di Australia selama setahun dan saat ini akan menikmati jerih payah tersebut dengan berjalan-jalan di AS. Dapat dipercaya, kan? Untuk menguatkan alasan tersebut saya mencetak rekening koran dan juga bukti bayar gaji selama di Australia.

Setelah yakin dengan jawaban di atas. Saya mulai mempersiapkan aplikasi visa berbekal baca-baca informasi di sini dan juga nonton ini. Karena tujuan saya adalah plesir jadi katagori visa saya masuk ke Non Imigrant Visa (NIV). Secara garis besar prosesnya hanya mengisi fom DS-160 di sini, bayar biaya visa sebesar $160, atur waktu wawancara, dan datang wawancara. Saat wawancara selesai kita langsung mengetahui hasil aplikasi visa.

Saat mengisi formulir DS-160 jangan lupa untuk menyimpan nomor registrasi. Nomor tersebut memudahkan kita bila ingin membuka kembali aplikasi, mengeditnya, atau melihat kembali data yang diisi sebelum diajukan ke pihak kedutaaan. Pertanyaan yang terdapat di formulir DS-160 tergolong standar, masalah data pribadi, orang tua, status pekerjaan, dan juga tujuan datang ke AS. Dua poin terakhir yang menarik perhatian saya.

Untuk bagian status pekerjaan saya kembali kurang percaya diri saat mengisinya. Setelah merenung sejenak saya mencantumkan penulis lepas dan juga wirausaha sebagai pekerjaan saya saat ini. Untuk jumlah penghasilan saya hanya cantumkan Rp 2 juta per bulan. Ternyata benar saja hal ini menjadi perhatian konsuler AS yang mewawancarai saya.

Konsuler bertanya telah berapa lama saya menjalani pekerjaan tersebut, mukanya berubah saat tahu kalau saya baru saja memulai menjadi wiraswasta awal tahun 2016. Dia pun menelisik pekerjaan apa yang saya lakukan sebelumnya. Saya pun menyebutkan profesi terdahulu yang kemudian saya tambahkan, “Saya berhenti bekerja dua tahun yang lalu karena saya merantau ke Australia dengan visa bekerja dan berlibur.”

Rupanya jawaban saya dapat diterima dengan baik. Slip kertas putih sebagai tanda aplikasi diterima sudah dalam genggaman. Kekhawatiran pun musnah sudah. Rasanya ingin berteriak terima kasih pada semesta karena kemudahan yang saya dapat.

Bukan tanpa sebab karena setelah saya mendapatkan visa pun banyak yang tidak percaya. Bahkan seorang teman bercerita kalau dirinya pernah ditolak karena memiliki kualifikasi seperti yang saya sebutkan di atas “berpotensi menjadi penduduk ilegal” padahal saat mengajukan visa dia berstatus pegawai kantoran di Jakarta.

Jadi apakah saya punya saran untuk siapapun yang hendak mengajukan visa kunjungan ke AS? Jawabannya iya dan tidak. Loh, kok, begitu? Ya, bagaimana ya, berkaca dari banyaknya pengalaman orang lain yang sudah mengajukan visa banyak sekali informasi yang terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan dan keadaan oran lain. Nah, kalau boleh saya memberi saran mungkin seperti di bawah ini:

  1. Selalu percaya diri. Petugas konsuler pun pasti bisa menilai siapa yang percaya diri dalam menjawab siapa yang tidak. Semakin percaya diri semakin sedikit grogi semakin cepat urusannya.
  2. Ingin rasanya bilang, enggak punya pekerjaan enggak masalah, tapi kok takut menyesatkan. Selama kita bisa meyakinkan kalau kita memang ingin berlibur di sana, saya rasa siapapun bisa mendapatkan visa turis.
  3. Semakin banyak jumlah tabungan semakin berpotensi mendapatkan visa. Saya kurang yakin dengan ini. Meskipun tidak diminta untuk menunjukan rekening tabungan, sebaiknya disiapkan saat wawancara. Jumlahnya berapa banyak? Saya cuma bisa bilang secukupnya. Contoh kasus saya yang bilang hanya akan berkeliling selama dua minggu saya perkirakan sehari habis $100 untuk makan, transportasi, dan akomodasi. Jadi dikalikan saja.
  4. Saat diwawancara sebaiknya menggunakan bahasa apa? bahasa apapun sesuai kenyamana kita. Petugas konsuler bisa berbahasa inggris dan indonesia.

Semoga bermanfaat ya pengalaman saya ini. Maju terus pantang mundur! Kalau ada yang memiliki kondisi sama seperti saya tetapi aplikasinya ditolak, ya berarti tingkat keberuntungan saya lebih tinggi dari kalian.

Selamat berjuang!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s