Menyusuri Ikon Terkenal Kota New York (Bag 1)

Ada yang mengikuti soal berita terhangat di Amerika Serikat baru-baru ini? Itu loh soal penembakan warga kulit hitam oleh polisi kulit putih yang diikuti oleh aksi protes massa yang berujung pada penembakan dan membuat beberapa polisi di Dallas, Amerika Serikat meninggal.

Saya sebenarnya malas mengikuti berita bertemakan konflik rasial tersebut, tetapi seorang teman menunjukan video “live” pengguna Facebook saat kericuhan yang menyebabkan polisi berguguran. Bagi yang sudah menontonnya pasti setuju kalau adegan dalam video tersebut seperti di film-film produksi Hollywood yang kita pernah tonton.


Mengingat adegan yang ada di dalam video tersebut membuat saya kembali percaya bahwa akan sangat sulit bagi saya untuk menyadari apakah realita yang ada di depan saya saat di Amerika Serikat adalah nyata atau bagian dari cerita sebuah film. Eh bener loh, setiap saya melangkah di New York City saya berasa seperti bintang film entah apa judulnya. Mungkin karena pengaruh gedung-gedung tinggi yang waau menjulang ternyata tidak menyeramkan.

Bisa juga perasaan itu muncul karena saya sudah ter-AmerikaSerikat-kan. Maklumlah Amerika Serikat cukup terkenal di Indonesia baik dari sisi kehidupan soial, ekonomi, politik, dan juga budaya.

Nah, secara pribadi saya terpapar cukup sering oleh budaya Amerika Serikat seperti musik, film, majalah, juga serial televisi. Makanya, selama dua hari eksplorasi Mew York City saya seperti mengenalnya sejak lama. Tidak terlalu gagap, malah cenderung cepat beradaptasi secara alami.

Dikarenakan waktunya yang mepet, saya seperti kejar tayang mengunjungi banyak tempat yang beken seantero dunia. Kalau biasanya saya tergolong pejalan yang lambat dalam bereksplorasi entah kenapa saat di New York saya seperti kesetanan menjelajah berbagai tempat. Asumsi saya karena biaya tinggal di kota itu yang cukup mahal maka saya harus manfaatkan setiap waktu yang saya punya.

Hari 1

wp-1468714638366.jpeg
rute penerbangan Beijing-New York yang melewati kutub utara.

Butuh sekitar 36 jam buat saya untuk sampai Amerika Serikat. Perjalanan Jakarta-Bangkok-Beijing-New York membuat badan saya kelelahan. Setelah melewati imigrasi Bandara John F. Kennedy yang deg-deg-ser, saya langsung meluncur ke tempat menginap. Waktu ketibaan yang masih siang membuat saya punya banyak waktu untuk dimanfaatkan hari itu. Tetapi saya memilih untuk beristirahat saja semalaman dengan harapan badan akan bugar keesokan harinya dan saya siap menjelajah.

Hari 2

Saya bukan tipikal orang yang suka mengatur rencana. Lebih senang “lihat saja nanti”. Tetapi untuk kali itu, kebiasaan itu saya singkirkan sementara. Setelah membaca bebera informasi di grup pejalan, rupanya banyak titik atraksi di New York City yang katanya “wajib” dikunjungi. Setelah memilah-milah saya akhirnya menyusun rute perjalanan hari itu dan menghapal jalur subway.

Berbekal MetroCard dengan kredit $10 saya memulai petualangan. Lokasi pertama yang saya datangi adalah Columbia University. Dulu saat kuliah, banyak literatur yang dibuat oleh lulusan universitas ini. Jurusan jurnalistik yang dimiliki universitas ini pun terkenal di penjuru dunia. Maka dari itu, saya pernah bermimpi untuk melanjutkan sekolah di sini. Tetapi ya, sebaik-baiknya mimpi adalah yang kita bangun dari tidur dan mewujudkannya. Sampai sekarang saya masih tertidur dan melanjutkan mimpi indah tersebut.

Saat menapakan kaki di kampus University of Columbia saya gemetar. Saya seperti seroang mugle yang berkunjung ke Hogwarts. Mata terpana oleh kemegahan bangunan kampus. Ahh,,, mimpi itu kembali datang, terbayang betapa kerennya  kalau bisa menyebut alma mater saya adalah Universitas Columbia. Tetapi langsung teringat omongan seorang teman yang bilang kalau untuk masuk universitas itu banyak persyaratan yang harus dipenuhi dan tidak mudah. Mimpi pun hampir buyar.

Puas berura-pura kuliah saya melangkahkan kaki ke arah Amsterdam Ave. Tujuan saya adalah toko “Halal Boys” yang katanya nasi campurnya enak sekali. Dan, apa yang orang bilang itu benar. Saya pesan menu “plater” berisi campuran nasi, daging sapi cincang, salad, potongan roti pita, kemudian disiram dengan saus berwarna putih yang saya rasa seperti bawang putih dan juga saus sambal. Saya memilihnya untuk dibungkus dan ingin memakannya di taman.

Central Park, taman kota di jantung New York City menjadi pilihan saya untuk beristirahat sambil menyantap makan siang. Sayangnya saya lupa mencari tahu lokasi kece untuk beristirahat di Central Park. Banyak yang bilang kalau taman kota itu memiliki segudang atraksi didalamnya, karena terlampau lelah saya mencari tempat duduk terdekat yang saya temui dan menghabiskan plater yang nikmat itu.

Melihat banyak yang beraktivitas di Central Park yang sejuk itu saya jadi iri. Memiliki taman kota merupakan sebuah keuntungan bagi warga, bagaimana tidak seabrek kegiatan bisa dilakukan mulai dari arisan, kumpul bareng teman, bersepada, berlari, dan masih banyak yang lain. Bahkan, pentas teater di taman pun bisa dilakukan, setidaknya Central Park sudah membuktikannya, jadwalnya tercatat di situs pengelola taman tersebut. Asik ya!

Melangkah ke tujuan berikutnya, High Line Elevated Park. Sebuah tempat menarik yang menunjukan bahwa hal yang sudah tidak terpakai masih bisa dimanfaatkan dengan baik. Jadi High Line Park ini merupakan jalur kereta api di atas tanah yang sudah terbengkalai. Karena tidak pernah digunakan tanaman liar pun tumbuh dengan sendirinya. Eh, tercetuslah ide untuk dibikin taman yang lebih terawat. Hasilnya adalah sebuah taman yang cantik. Menariknya adalah jalur kereta itu membelah gedung-gedung bertingkat New York City, jadi kalau kita jalan dari ujung ke ujung kita akan bersisian dengan bangunan yang ciamik dijadikan latar belakang foto selfie.

Menjelang matahari terbenam saya terdampar di Madison Square. Enggak tahu kenapa bisa ada di situ. Saat cahaya matahari berpendar keemasan disela-sela bangunan saya memutuskan untuk diam sejenak dan memerhatikan orang berlalu lalang. Cantik juga ternyata. Sayangnya saat itu matahari tidak terbenam persis di antara bangunan tinggi, istilahnya Manhattanhenge. Dua minggu setelah saya meninggalkan New York City peristiwa tersebut baru terjadi. Enggak jodoh.

Manhattanhenge sendiri memungkinkan untuk terjadi. Analisa sok tahu saya adalah karena tata ruang New York City yang rapi dan terblok-blok sehingga membentuk garis lurus dari barat ke timur. Jadi, setiap beberapa waktu matahari pun akan berada di tengah-tengah bangunan dan memantulkan cahaya keemasannya. Walaupun terdengar aneh tetapi hutan beton ternyata bisa menciptakan suasana magis juga.

Hari saya hampir selesai, destinasi terakhir adalah Times Square. Melihat di peta, ternyata Madison Square ke Times Square hanya berjarak beberapa blok, karena terlapau irit tidak mau membuang $2,75 untuk subway saya memutuskan berjalan kaki. Andai saja saya tidak terlalu banyak berjalan kaki dari pagi, rasanya jarak yang tidak sampai lima km itu dapat saya tempuh dengan cepat. Sayangnya saya harus berhenti di sana-sini sekadar untuk mengistirahatkan kaki.

Dalam perjalanan menuju Times Square, saya melewati Empire State Building. Gedung yang tinggi menjulang tersebut dibuka untuk umum bagi mereka yang mau menikmati Manhattan dengan lampu-lampunya dari ketinggian. Kalau tidak salah biaya masuknya sampai $30. Wah, jauh dari anggaran. Skip.

Sebenarnya, kita bisa saja tidak menghabiskan uang untuk membayar biaya masuk tempat wisata. Sebab kota sebesar New York memiliki banyak hal yang memanjakan mata. Setiap kegiatan masyarakatnya pun sudah seperti hiburan buat saya, mungkin sama rasanya seperti bule melihat daerah kumuh di Jakarta. Menarik untuk diperhatikan.

Malam itu saya sedang beruntung, menemukan satu lagi atraksi menarik dan gratis. Masih dalam perjalanan ke Times Square saya melewati Bryant Park. Sebuah alunan musik terdengar kencang dan dari jauh ada keramaian yang auranya tidak terasa menakutkan. Saya mendekat. Wah ternyata ada pertunjukan musik irama salsa. Musik yang menggoda setiap pendengarnya itu berhasil membuat banyak orang menari.

Seketika saya langsung jatuh hati dengan New York. Buat saya kota ini berhasil memanusiakan manusia dengan memberikan fasilitas bagi masyarakatnya yang butuh hiburan dan gratis.

Akhirnya Times Square. Terus terang saya tidak tahu banyak tentang tempat ini. Namanya familiar di telinga tetapi sedikit informasi tentangnya yang saya tahu. Oh ternyata, tempat ini adalah salah satu pusatnya kerlap-kerlip kota. Beberapa kali saya harus memicingkan mata karena terlalu banyak cahaya lampu yang benderang. Sampai tulisan ini dibuat saya tidak mencari informasi tambahan soal Times Square. Lagi-lagi analisa sok tahu saya keluarkan bahwa Times Square merupakan tempat yang tepat untuk promosi bagi siapapun dan apapun.

Saya melihat promosi album atau single terbaru Rihana. Ada beberapa studio stasiun TV Amerika Serikat berlokasi di Times Square. Promosi pertunjukan Broadway pun bertebaran. Memang sih, lokasi Broadway tidak jauh dari sana. Puas memanjakan mata dengan gemerlap cahaya Times Square, saya memutuskan petualangan hari itu untuk berakhir. Waktu menunjukan pukul 10.10 malam.

Cerita hari berikutnya bersambung ke postingan ini ya!

 

Iklan

2 Replies to “Menyusuri Ikon Terkenal Kota New York (Bag 1)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s