Kapok Ditilang di Australia

Tidak terhitung berapa banyak Dash, mobil saya, memberikan kemudahan mobilitas saya selama di Australia. Memori menyenangkan tertumpuk yang menarik diceritakan. Meski demikian tidak sedikit pula kisah yang membuat jantung berdebar walau sekadar mengingatnya.

Saat kepemilikan Dash baru beberapa hari saya berusaha menyetir dengan mematuhi peraturan yang ada. Tidak pernah ngebut, parkir sembarangan, ataupun berani melewati garis pembatas jalur. Maklum karena saya belum terlalu paham budaya berkendara di benua kangguru tersebut. Semakin sering berkendara, kepercayaan diri saya meningkat, dan semakin tahu juga kalau ada beberapa aturan yang dapat diakali.

Sebulan sejak kami bersama, saya mulai berani menggeber Dash melebihi batas kecepatan. Pikir saya “yah, enggak mungkin adalah polisi di sekitar sini.” Ya memang sih, terkadang Highway Road membelah Australia di bagian tak berpenghuni, kecuali kangguru. Tidak heran bila ada rambu batas kecepatan 110 km per jam saya tidak ragu memacu Dash melewati ambang batas. Sayangnya kebiasaan tersebut berbuntut jelek,

Saat saya tinggal di Lake Wyangan yang berjauhan dari perumahan warga batas maksimal kecepatan adalah 80 km per jam. Saya anggap batas kecepatan tersebut sama ketika memasuki kawasan pemukiman. Sekali dua kali aman. Sampai suatu hari di penghujung 2014 saya dihentikan polisi.

Lampu kelap-kelip merah biru terlihat dari spion. Saya panik dan bertanya kepada teman perjalanan, “di belakang itu polisi ya? berhenti nih?”. Anggukan teman perjalanan sebagai jawaban pertanyaan menjadi legitimasi buat saya menghentikan Dash di pinggir jalan. Selang beberapa detik kemudian seorang petugas berseragam mendekati arah kemudi.

Terbayang sudah adegan film barat yang sering menampilkan polisi dalam ceritanya. Jantung saya hampir meledak karena berdetak sangat cepatnya. Terus terang saya tidak tahu apa kesalahan yang sudah diperbuat sampai menarik perhatian polisi. Saya takut dipenjara di negeri orang.

“Selamat malam! saya petugas X dan saat ini pembicaraan kita sedang direkam,” ujar si petugas. Persis seperti adegan film.
“Iya Pak,” saya enggak tahu harus menjawab apa.
“Coba kamu berhitung dari satu sampai lima,” ujar petugas seraya menyodorkan alat seperti perekam suara.
one…two…three…four…five…” oh,,, rupanya itu alat pendeteksi apakah saya sedang di bawah pengaruh minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang.
“Kamu tahu sudah melebihi batas kecepatan?” tanya petugas X.
“Enggak Pak. Memangnya ada tandanya ya?” respon terlalu naif. Seharusnya saya diam saja.
“Adalah. Batas kecepatan di daerah permukiman itu 50 km per jam, tadi kecepatan kamu sampai 70 km per jam,”
“Masa, sih, Pak?”
“Yaudah mana surat-surat kamu. Saya tilang ya,”

Petugas kembali ke mobilnya setelah beberapa menit petugas datang kembali dan menyodorkan surat tilang. Dia menjelaskan kalau saya bisa saja menangguhkan tilang tersebut dan mengajukannya ke pengadilan setempat dengan biaya peradilan ditanggung sendiri. Kalau mengaku salah maka silakan untuk membayar denda yang tertera di surat tilang.

Si petugas yang menyadari kalau saya seorang pejalan dan tampak tidak banyak tahu soal peraturan di Australia bilang kalau alasan penilangan saya adalah melebihi batas kecepatan sampai 10 km per jam dari yang seharusnya 20 km per jam. Petugas menambahkan kalau saja dia “jujur” maka denda yang saya harus bayarkan bisa sampai AUD 400. Karena ketidakjujuran si petugas saya pun hanya didenda AUD 254. Aduuuuh, uang makan dua minggu setengah amblas begitu saja.

image

Semenjak kejadian itu saya pun semakin berhati-hati dalam berkendara. Rasanya kapok harus mengeluarkan dana besar akibat kelalaian yang seharusnya bisa dihindari. Sayangnya, saya sempat dihentikan polisi lagi. Kali itu saya ingat sekali tidak ada kesalahan yang diperbuat. Kali ini polisi beralasan kalau mobil saya belum teregistrasi. Tentunya saya bingung, karena pembaruan registrasi sudah saya lakukan dua bulan sebelum si polisi memberhentikan saya.

“Ya sudah pulang saja kalau begitu. Jangan lupa cek ke RMS (Samsat-nya negara bagian NSW) ya soal registrasi kamu,” ujar polisi. Lega. Eh, enggak juga karena si polisi menambahkan kalau dia sedang berbaik hati, tetapi bisa saja nanti saya bertemu petugas lain karena masalah registrasi, Dash bisa mereka bawa sampai urusan saya selesai.

Saya pun bertekad tidak mau berurusan dengan polisi lagi. Semenjak kejadian itu, jika saya sedang menyetir dan melihat polisi berpatroli saya akan langsung berhenti di pinggir jalan pura-pura beristirahat sambil menunggu si polisi menjauh.

Sayangnya saya kembali ceroboh. Suatu kali saya menginap di sebuah hostel di Brisbane, QLD, yang tidak memiliki lahan parkir. Resepsionis berkata kalau parkir di depan hostel tidak masalah. Kejadian yang tidak diinginkan kembali terjadi. Sebuah surat cinta tersemat di kaca mobil keesokan harinya. Tilang sebesar AUD 113 karena parkir sembarangan.

image

Bodohnya saya terlalu percaya pada resepsionis. Saat saya perhatikan memang saya parkir di area yang tidak seharusnya. Sepanjang jalan tersebut ada garis kuning yang memang berarti dilarang parkir. Semua mobil yang terjajar rapi di sana pun mendapatkan surat cinta yang sama.

Selidik punya selidik, ternyata jalan tersebut memang sering dijadikan lahan parkir. Tidak pernah ada masalah walau memang dilarang. Sialnya saya menginap di hostel yang lokasinya bersebrangan dengan stadion yang saat itu sedang menghelat pertandingan kriket Australia versus New Zealand, sudah pasti banyak polisi berkeliaran. Duh!

Ketakutan saya pada polisi semakin bertambah. Berpapasan dengan polisi yang sedang mampir ke restoran cepat saji pun bisa bikin saya keringat dingin. Makanya saat suatu malam saya dihentikan oleh polisi di area wisata pantai 1770 di QLD ingin rasanya berteriak “aku salah apa sih Tuhan? kok berjodoh terus dengan polisi!!!”

“Hai selamat malam! Tolong tiup pipa ini ya, yang kencang sampai jarumnya menyentuh batas merah,”
“Oke!fiuuuh….”
“Oke baiklah, silakan jalan. Selamat malam dan hati-hati di jalan!”

Ooh,,,rupanya saya baru saja menjalani tes kadar alkohol dan obat-obatan terlarang. Kali ini saya beruntung, sebab sebelumnya saya berniat meminum bir sambil menikmati matahari terbenam. Niatan tidak terlaksana, dan sayapun terhindar dari masalah dengan polisi. YEAAAAAAY!!!!

Membayar Denda
Saya selalu berusaha menjauh dari yang namanya berurusan dengan polisi jangankan di negeri orang, di negeri sendiri pun ogah. Apalagi setelah “berkenalan dengan Inspektur Vijay” di India. Terlebih di Australia yang segalanya serba teratur dan mahal.

Selain dari pengalaman pribadi di atas, saya juga sering mendengar cerita dari mulut teman tentang tilang di Australia. Suatu kali seorang teman memasang lampu sen kanan dan dia malah berbelok ke kiri. Surat tilang pun sampai di tangan dengan denda sebesar AUD 120. Lain lagi seorang teman yang kena denda gara-gara tangannya beristirahat di stir mobil saat menunggu lampu merah. Suatu kali di Sydney ramai diberitakan kalau pejalan kaki yang mencuri menyebrang saat lampu merah kena denda AUD 70. Tidak memakai helm saat bersepeda bisa dikenakan sanksi AUD 70. Gila kan?!

Polisi Australia memang tidak suka ba-bi-bu. Sekali kita ketahuan salah pasti akan kena denda tanpa bisa ditawari “uang damai”. Dan pasti akan ditagih. Seorang teman yang saat berwisata menggunakan mobil sewaan di Australia terkaget-kaget saat melihat surat tilang karena mengebut sampai di rumahnya di Jakarta.

image
Garis putih. Parkir aman.

Untungnya urusan pembayaran tilang cukup mudah. Di setiap surat tilang yang saya terima baik dari kepolisian NSW atau QLD tertera nomor telepon yang bisa dihubungi untuk membayar. Kita hanya perlu mengontaknya dan menunggu sampai mesin penjawab mengarahkan untuk memilih layanan. Pembayaran bisa dilakukan dengan kartu kredit apapun. Jangan lupa mencatat nomor resi dan waktu pembayaran sebagai bukti transaksi. Mudah kan? Mau coba? Saya mah kapok! Enggak mau lagi.

Iklan

8 Replies to “Kapok Ditilang di Australia”

  1. Saya mebayangkan adegannya kok malah deg2an sendiri, walah ada dendanya juga kalo kalo ngga jujur. Australia luar biasa atau semua negara maju kaya gt ya?

    1. Iya loh. Pas balik ke Jakarta di bunderan HI pos polisinya kan pake lampu merah biru saya langsung parno. Takut kena tilang padahal lagi naik bus. Hehehe

      Kurang tahu juga deh kalau negara maju lainnya seperti apa kalau soal tilang-menilang.

      1. “hampir” dapet surat cinta juga di situ. Untungnya mbak-mbak hostel kuning berbaik hati memberi tahu kalau sedang event, pak popo biasanya galak-galak disono, hahahaha

      2. Terus parkir dmn?

        Saya nginep di Woodduck cuma beda $10 seharusnya nginep aja di YHA yang biasanya ada paekiran. Nasiiiiiiib

      3. Jadinya parkir di dalem Hostel-nya, (Big Bird Hostel). Bayar $10 semalam buat parkir, tapi karena langganan nginep situ dikasi diskon 50% buat parkir 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s