Menyusuri Ikon Terkenal Kota New York (Bag 2)

Cek cerita sebelumnya di sini ya.

Hari 3
Dalam catatan rencana perjalanan hari terakhir ini, tidak banyak lokasi yang akan saya kunjungi. Saya pun memutuskan untuk keluar dari penginapan agak siang. Kalau hari sebelumnya saya memutari Upper Manhatan, kali ini saya mengeksplorasi Downtown Manhattan.

Tujuan pertama adalah melihat patung Liberty. Tidak hanya ke Roma yang banyak jalan, menikmati si patung ikon Amerika Serikat pun banyak cara. Salah satunya adalah menggunakan jasa tur ferry yang akan membawa kita mendekat ke pulau kecil dimana si pataung berlokasi. Untuk memanfaatkan jasa ini, kita harus mau merogoh kocek setidaknya $20. Saya menolak. Tenang ada opsi lainnya yang gratis.

Saya berjalan menuju South Ferry Terminal. Di sini bersandar ferry yang akan membawa penumpang ke pulau Staten. Ferry ini gratis dan memiliki jadwal yang cukup padat. Saya sampai di terminal pukul 12 siang, ferry sedang bersiap berangkat. Saya langsung menuju dek sebelah kanan untuk bisa melihat patung Liberty. Jauh memang, tetapi setidaknya pernah melihat secara langsung.

Butuh waktu 25 menit untuk sampai ke pulau Staten. Begitu sampai saya langsung berlari keluar ferry dan langsung mengantri untuk kembali masuk ferry yang akan balik ke New York City. Kali ini saya memilih dek sebelah kiri dengan tujuan yang sama melihat kembali si patung Liberty dan juga pemandangan borough Manhattan dari kejauhan.

Ferry yang menghubungkan New York dengan pulau Staten sebenarnya diperuntukan untuk mobilitas warga sekitar. Namun, tidak sedikit turis yang juga ikut memanfaatkannya untuk menghemat biaya wisata. Saya salah satunya. Untuk perjalalanan gratis ini hanya dibutuhkan waktu satu jam dan saya pun kembali menjejak dataran New York.

Letak tempat bersandarnya ferry yang berdekatan dengan Battery Park membuat saya duduk dan melepas penat barang sesaat. Salah satu hal yang saya suka dari sebuah kota besar negara maju adalah banyaknya taman kota yang dapat dikunjungi. Ya, walaupun ada satu kekurangan dari taman kota di New York, tidak ada toilet umum. Kalau kebelet bagaimana? ya cari saja restoran cepat saji, siapa tahu beruntung boleh numpang buang hajat. Mohon dicatat terkadang restoran tersebut memasang “Restroom for Customer Only”, boleh ke toilet asal belanja dulu. Duh!

Target kaki melangkah berikutnya adalah 9/11 Memorial. Bekas gedung menara kembar yang luluh lantak itu kini telah menjadi tempat peringatan atas kejadian yang terjadi pada 2001 itu. Di lokasi kejadian dibangun kolam yang dikelilingi tembok bertuliskan nama-nama korban.

Kolam peringatan tersebut mengingatkan saya pada ruang gelap yang terdapat di Kementerian Sihir. Eh, ini saya berusaha mengaitkannya dengan cerita Harry Potter ya. Ingatkan kejadian saat Sirius Black meninggal dan jatuh ke dalam “gerbang” yang membuat jasadnya tidak lagi berada di dunia nyata? Nah, saya membayangkan kolan peringatan tragedi 9/11 itu sama seperti itu. Melihatnya membuat saya sesak, mugkin karena mengingat banyaknya korban yang tidak berdosa harus meregang nyawa. Semoga mereka tenang di semesta lain.

Wilayah finansial New York adalah tujuan saya berikutnya. Saya langsung berjalan ke Wall St. Hah! melihat papan nama jalan membuat napas saya memburu, teringat masa-masa masih menulis berita terkait pasar saham. Apa yang terjadi di Indonesia pasti ada sangkut pautnya dengan pasar finansial di Wall St.

Kaki saya sebenarnya sudah lelah, tetapi terus melangkah menuju tempat transaksi saham yang namanya selalu saya kutip selama tiga tahun berprofesi sebagai jurnalis pasar modal. Senyum merekah tercipta seraya berkata “hai New York Stock Exchange apakah kamu akan bullish atau bearish hari ini?”

Rupanya rasa lelah pada dua kaki tidak lagi terbendung. Saya memutuskan untuk beristirahat di warung kopi sambil mengisi daya kamera. Warung yang dindingnya penuh dengan kaca tembus pandang itu membuat saya leluasa memandang keluar mengamati tingkah polah penduduk kota ini, New Yorker. Rupanya mereka tidak terlalu patuh-patuh amat dengan peraturan, banyak yang saya lihat masih menyebrang sembarangan, sampah pun dibuang seenaknya. Ah, seperti di Jakarta saja.

2016-07-16-18-46-23.jpg
Tidak melulu rapi. Sampah banyak berserakan.

Matahari hampir terbenam, daftar tempat kunjungan saya masih tersisa dua. Setelah menimbang-nimbang saya pun memutuskan untuk tidak menyebrangi Brooklyn Bridge yang terkenal dengan gaya gothicnya itu. Saya hanya melihatnya dari jauh. Memang sungguh gagah si jembatan.

Alasan saya menganaktirikan jembatan Brooklyn adalah saya tidak mau terlalu kelelahan karena keesokan hari harus mengejar pesawat pagi. Alasan lainnya adalah, tujuan berikutnya jauh lebih memiliki kedekatan emosional.

Saya menuju stasiun subway terdekat dan langsung mencari kereta yang menuju ke South Ferry Terminal dan turun di Cristopher St. Menurut petunjuk yang saya dapat dari seorang pejalan, dari stasiun saya saya harus berjalan menuju Bedford St. Katanya tidak perlu waktu lama sampai ke tujuan. Penyakit nyasar saya kambuh dan akhirnya berputar-putar tidak tentu arah. Bertanya pada orang pun banyak yang tidak tahu nama jalan tujuan. Setelah berjalan lebih kurang tiga puluh menit sampailah saya pada tujuan.

Bagi penggemar sitkom F.R.I.E.N.D.S pasti mengenal gedung yang bagian luarnya selalu diambil gambarnya karena di situlah tempat tinggal Rachel, Monica, Chandler, dan Joey. Saat sedang berfoto-foto seseorang menyapa “kamu penggemar F.R.I.E.N.D.S juga ya?” saya pun menjawab “iya. How you doin?”

Puas berfoto saya pun bergegas pulang. Tuntas sudah eksplorasi kota New York selama dua hari. Singkat dan padat. Bagi saya sekali saja sudah cukup, tetapi kalau rejeki berkata lain di masa depan, saya tidak akan menolak untuk kembali menyambangi New York dan menikmatinya lebih santai.

TIPS

  1. Bila mengunjungi New York lebih dari dua hari lebih baik membeli MetroCard yang berlaku tanpa batas selama tujuh hari seharga $30. Dengan fitur tersebut akan lebih hemat karena untuk sekali memakai subway tarifnya $2,75.
  2. Manfaatkan wifi dimanapun, tidak usah berlangganan paket data. Syaa sendiri memanfaatkan wifi gratis yang ada di stasiun subway. Karena pintu masuk bertebaran dimana-mana jadi kalau tiba-tiba butuh informasi ya tinggal melipir ke pintu stasiun terdekat.
  3. Kalau bepergian sendiri dan lapar lebih baik membeli porsi besar ketimbang regular. Dengan perbedaan harga yang tidak seberapa kita bisa membagi dua porsi makanan tersebut.
  4. Saat berbelanja selalu perhatikan harga karena terkadang jumlah yang tercantum belum termasuk pajak.

 

 

Iklan

4 Replies to “Menyusuri Ikon Terkenal Kota New York (Bag 2)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s