Mewujudkan Mimpi Dengan Dapur Bundo

Pengalaman merantau membuat saya ketagihan untuk tidak memiliki pekerjaan. Saya merasa lebih bebas dalam beraktivitas, walau sebagian besar waktu saya habiskan untuk bermalas-malasan. Tetapi, menurut saya, lebih baik ketimbang bekerja untuk orang lain (lagi).

Setelah hampir 600 hari keluar dari rumah, saya kembali. Banyak penyesuaian yang saya lakukan dengan kondisi rumah dan sekitar. Gara-gara tempat perantauan yang melulu di daerah pedesaan, membuat saya tersiksa untuk berada di kota seperti Jakarta. Terlalu sibuk buat saya. Makin malas saja untuk berpikir bekerja di kota metropolitan itu. Terbayang sudah betapa banyaknya waktu yang saya harus buang demi mencapai tempat bekerja.

Seorang teman pernah membaca garis tangan saya. Saat itu, saya tertawa saja mendengar hasil pengamatannya. Tetapi, setelah direnungkan kembali apa yang dia utarakan cukup menggambarkan kondisi saya saat ini dan juga sepertinya untuk masa depan.

“Kamu tidak akan memiliki karier,” ujar teman yang berpura-pura menjadi cenayang.

Ah, saat itu saya baru mulai bekerja dan masih membawa idealisme kampus untuk menjadi “sesorang” yang berpengaruh dalam bidang pekerjaan. Maka dari itu saya anggap remeh ucapan teman tersebut. Eh, ternyata ada benarnya juga loh perkiraan dia itu.

Begini, sepanjang perantauan kemarin saya mendapat banyak ilmu yang tidak pernah didapat dari bangku sekolah. Ilmu memetik buah, mengikat tali ternah, menyortir sayuran, bekerja efektif, masak dengan berbagai macam teknik, dan lain sebagainya. Saya lebih “kaya” pengalaman.

Gong-nya adalah saat saya bekerja di kebun ubi yang dimiliki oleh keluarga dan telah diwariskan turun-menurun. Selama hampir lima bulan saya harus cermat dalam memilah dan mengepak ubi. Pekerjaan yang tidak saya sangka mengubah persepsi saya soal bekerja. Karena keseringan kena omel, saya pun bertekad setelah selesai di kebun itu saya tidak mau lagi bekerja untuk orang lain. Saya harus jadi bos!

Sekembalinya ke rumah dengan tekad menjadi bos. Saya coba mencari-cari peluang usaha. Ternyata kawan, peluang itu ada di depan mata, ibu saya sendiri. Sudah tahu dong kalau saya ini keturunan minang dari kedua orang tua. Dari garis keturunan ibu, mengalir deras darah pedagang nasi khas minang. Ibu saya sendiri cukup handal dalam urusan meracik bumbu dan mengolahnya hingga menjadi masakan menggugah selera. Ini namanya “mom with benefits“.

Pelan-pelan saya coba utarakan ide kepada ibu. Sengaja membahas ide saat ada adik saya, supaya bisa ikut mempersuasi ibu. Saya bilang bisnis zaman sekarang tidak perlu modal banyak, asal tahu promosi. Ide saya adalah berjualan penganan khas minang lewat media online seperti Instagram dan Facebook. Rupanya ibu terpengaruh. Yes!!!

Sebenarnya saya tidak tahu banyak soal jualan online. Tapi hajar sajalah. Kita tidak pernah tahu sebelum mencoba sesuatu kan? Kalaupun gagal ya tidak masalah yang penting bukan jadi orang yang bisanya ngomong doang tanpa aksi.

Kami kadang bertukar pikiran soal bisnis ini sembari belanja di pasar, di sela-sela masak, atau sekalian menyetrika pakaian. Hingga akhirnya niat kamipun terlaksana pada awal tahun 2016. Dapur Bundo, merek dagang kami, pun meramaikan jagad bisnis online.imageNama Dapur Bundo sendiri tercetus dari mulut saya. Ibu dan adik saya langsung setuju, entah karena memang terdengar asik atau karena takut saya ngambek. Hihihi…

Biar saya jelaskan alasan pemilihan nama tersebut. Dapur Bundo dipilih karena kami ingin masakan yang kami sediakan memiliki cita rasa rumahan. Pasti kalian tahulah betapa enaknya masakan ibu kalian dan tidak ada restoran manapun yang bisa menandinginya. Selain itu, saya juga ingin mengapresiasi kemahiran ibu di dapur. Kehandalan ibu itu terbukti dari angka berat badan kami sekeluarga yang jarang sekali berkurang.

Menu andalan Dapur Bundo adalah dendeng batokok dengan empat varian rasa. Ada lambok cabe merah, lambok cabe ijo, dendeng bakar cabe bawang, juga dendeng kering cabe merah. Seiring berjalannya waktu menu Dapur Bundo bertambah seperti rendang, bebek/ ayam cabe ijo, tambusu, jengkol balado, teri pete balado, udang balado, sop daging, dan lainnya.

Kami juga menawarkan resep andalan keluarga yaitu iga gulai kurban. Menu ini merupakan resep turun temurun keluarga ibu yang selalu dihidangkan saat Idul Fitri karena sangat istimewa. Kerabat yang berkunjung ke rumah kami pasti menunggu-nunggu gulai iga ini disajikan. Jangan tanya saya resepnya, karena saya enggak tahu dan juga rahasia dong!

Lalu bagaimana perkembangan bisnis? Bagi saya bisnis keluarga ini cukup berjalan dengan baik walau masih banyak hal yang harus diperbaiki di sana-sini. Pelan-pelan kami belajar untuk terus meningkatkan kualitas masakan, pelayanan pelanggan, juga promosi. Semuanya merupakan hal yang benar-benar baru bagi kami, tetapi kami menikmati semua prosesnya.

Penjual daging langganan kami pernah berseloroh “loh, kok, turun derajat sekarang? Dulu kerja kantoran sekarang jualan dendeng.” Dengan tegas saya membalas,”ya enggak dong. Dulu jadi kacung orang sekarang jadi bos usaha sendiri. Naik derajat lah!”

Walau usahanya masih kecil-kecilan, tetapi mimpi kami terwujud satu-satu. Buat saya, keinginan untuk tidak bekerja untuk kepentingan orang lain terwujud. Bagi ibu saya harapannya untuk memiliki usaha sesuai kemampuannya bukan lagi cuma angan-angan.

Pernah ibu khawatir kalau Dapur Bundo tidak mampu bersaing dengan kompetitor yang ada dan seabreg jumlahnya di dunia maya. Saya cuma bilang tidak usah khawatir, toh tiap persimpangan jalan selalu ada warung nasi padang tetapi bisnis mereka tidak pernah surut. Saya pun yakin kalau Dapur Bundo punya napas yang panjang. Kok, yakin banget, sih? Ya karena keyakinan itulah sumber tenaga dalam berusaha bukan?

Doakan semoga keyakinan kami tidak pernah putus. Demi memperkuat keyakinan kami, yuk yang sudah baca mampir ke Instagram @dapurbundo atau Facebook Page Dapur Bundo. Kalau sudah mampir jangan lupa order ya! hahaha…

Iklan

4 Replies to “Mewujudkan Mimpi Dengan Dapur Bundo”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s