[WHV] Sydney: Sebuah Permulaan

Terpengaruh buaian informasi mengenai kemudahan mendapatkan uang di Australia maka menyesatkan dirilah saya di benua kangguru tersebut. Pekerjaan di Jakarta yang tidak bisa dikatakan mapan pun berani saya lepaskan demi mendapatkan peluang penghasilan lebih besar.

Berbekal Work and Holiday Visa (WHV) saya melangkahkan kaki menuju jajaran petugas imigrasi di Bandara Kingsford Sydney di negara bagian New South Wales. Walau hati dag dig dig takut ditanya punya bekal dana berapa untuk tinggal di Australia, saya berusaha tetap terlihat santai. Cap masuk tertera di paspor. Saya resmi memulai babak baru kehidupan.

Menyadari kondisi keungan yang mengenaskan saya pun langsung mencari pekerjaan apapun jenisnya. Situs segala ada yang cukup terkenal di Australia, http://www.gumtree.com.au, menjadi penyelamat saya. Baru empat hari saya sudah mendapatkan pekerjaan dengan bayaran 10 AUD per jam. Mantab, kan? Menurut saya iya, tetapi tidak buat teman saya. Setelah melewati hari pertama bekerja saya baru mengerti mengapa nominal tersebut jauh dari menarik.

Baca juga cerita Cara Cari Kerja di Australia

Pelajaran dari hari pertama bekerja adalah, ketahui jarak tempat tinggal dengan lokasi bekerja. Saya harus menghabiskan waktu sampai 45 menit untuk sampai lokasi. Bila Jakarta dijadikan pembanding tentu durasi tersebut masih wajar, tetapi waktu adalah uang. Semakin banyak waktu terbuang di jalan semakin sedikit penghasilan di dapat mengingat sistem pengupahan berdasarkan jumlah jam kerja. Kalau waktu tempuh tersebut saya gunakan untuk bekerja tentunya pendapatan saya hari itu akan bertambah.

Mengetahui upah minimum adalah pelajaran berikutnya. Tawaran yang diberikan di atas ternyata di bawah standar upah minimum yang saat itu sekitar 17 AUD. Ketidaktahuan saya berujung pada eksploitasi. Eh, enggak, juga ding. Saya, sih, senang-senang saja karena hari pertama kerja mendapat upah 90 AUD. Jumlah yang besar untuk saya yang sudah setengah tahun tidak pernah menerima gaji.

Kemampuan menawarpun harus ditingkatkan. Itulah pelajaran ketiga yang saya dapat dari pekerjaan pertama di Australia. Biasanya para pemberi pekerjaan akan mencantumkan bayaran yang bisa didapatkan peminat dalam setiap “iklan” yang dipasang lewat Gumtree. Nah, kita harus melihat jenis pekerjaan yang ditawarkan dan mempertimbangkan tawaran upahnya. Biasanya semakin khusus jenis pekerjaannya akan semakin tinggi upah per jamnya. Selain itu, apabila pekerjaan tersebut hanya untuk jangka pendek upah pun bisa semakin tinggi. Mengetahui hal-hal tersebut dapat mempermudah posisi tawar kita.

Baca  Australia Pada Pandangan Pertama

Pekerjaan pertama yang saya dapat adalah membantu mengepak barang untuk pindahan. Saya kira akan mengepak perabotan rumah, ternyata pemberi kerja saya adalah pengoleksi barang “rongsokan”. Koleksinya teronggok di gudang sewaan. Ia harus segera pindah karena pemilik gedung hendak merobohkan bangunan tersebut. Karena saya tidak tahu tiga pelajaran di atas, maka saya menerima tawaran 10 AUD per jam. Menurut si boss, saya boleh bekerja selama saya mau mengingat jumlah barang yang harus dikemas terlampau banyak sementara batas waktu pengosongan kurang dari seminggu.

2016-08-17-16-04-48
Hanya sebagian kecil yang tertangkap amera. Untuk mendapatkan gambaran seutuhnya, kalikan saja dua puluh, maka terbayang betapa besar dan banyaknya barang yang harus dikemas.

Hari kedua saya kembali datang walaupun saya tersadar kalau upah yang di bawah standar. Seorang kenalan ada juga yang bekerja mengepak barang dan mendapat upah 20 AUD per jam. Rasanya saya enggan bekerja tapi butuh uang, jadi saja saya tetap bertahan. Keesokan harinya si boss mengontak saya yang sampai siang tidak kunjung muncul di gudangnya. Melihat gelagat dia membutuhkan saya, maka saya memberanikan diri untuk meminta upah tambahan. Saya mengajukan 15 AUD per jam. Tawaran saya kirimkan per sms. Sampai sekarang tidak ada sms balasan dari si boss.

Kembali menganggur. Saya kembali berkutat dengan memeloti situs gumtree. Sesekali saya pergi ke pusat perbelanjaan demi memerhatikan papan pengumuman bersama. Biasanya ada yang menempelkan selebaran perihal jual beli dan kalau beruntung juga ada tawaran pekerjaan. Hasilnya masih nihil. Sampai suatu hari rekan sekamar menawarkan pekerjaan menjadi petugas kebersihan di tempat penitipan anak.

Saya langsung mengangguk setuju saat diberitahu bahwa upahnya 16,5 AUD per jam. Lokasinya pun hanya 15 menit dari tempat tinggal. Hanya saja jam kerjanya yang relatif pendek hanya 3,5 jam per hari dan lima hari seminggu. Lagi-lagi saya coba berpikir rasional “biar sedikit tetapi bisa buat bertahan hidup”.

Pekerjaan bersih-bersih tersebut dimulai pukul 17.30 ketika para bocah lucu menggemaskan itu dijemput orang tuanya masing-masing. Tugas saya adalah mengumpulkan sampah, mengganti kantung sampah, menyapu, mengepel, membersihkan toilet, dapur, juga ruang bermain anak-anak.

2016-08-17-15-26-01
Tukang bersih-bersih di tempat penitipan anak 16,5 AUD per jam

Meskipun pengupahan berdasarkan per jam, tetapi waktu bekerja saya dibatasi hanya 3,5 jam per hari. Kalau saya bisa menyelesaikan pekerjaan kurang dari waktu yang ditentukan saya tetap berhak atas upah 3,5 jam, nahasnya adalah kalau saya bekerja lebih lama dari ketentuan saya tidak akan dibayar lebih.

Dikarenakan bekerja di ruangan besar menjelang malam dan sendirian cukup tidak nyaman sayapun berusaha bekerja cepat. Alasan lainnya adalah saya harus mengejar bus ke rumah yang jadwalnya adalah pukul 20.58. Kalau saya terlewat bus tersebut saya harus menunggu untuk yang berikutnya dan baru akan tiba pada 21.40. Ogah.

Seminggu berstatus sebagai “cleaner” upah pun masuk ke rekening. Kalau tidak salah gaji saya saat itu sekitar 250 AUD per minggu. Besar bila dikonversi ke rupiah, tetapi terlalu kecil untuk sekadar bertahan dan menabung di Australia. Saat itu, saya masih bisa menyisihkan dana untuk menabung gara-gara dapat tumpangan tidur gratis. Pengeluaran hanya untuk makan dan transportasi.

Memasuki minggu ketiga rejeki besar datang. Saya dapat ajakan dari seorang teman untuk bekerja membereskan kebun. Untuk pekerjaan tersebut kami dijanjikan upah 22 AUD per jam. Delapan jam sehari selama lima hari, kalau begitu berarti saya dapat mengantongi 900 AUD di akhir masa kerja. Tahu apa saya soal berkebun? Tidak ada. Beruntungnya saya bekerja dengan teman yang paham harus melakukan apa dan saya bekerja sebagai “pembantunya”. Tidak masalah karena saya selalu mendapat arahan harus melakukan apa.

Pekerjaan berkebun tersebut dimulai pukul 7.30 pagi sampai 3.30 sore. Dengan jadwal tersebut, memungkinkan saya untuk tetap bekerja sebagai cleaner. Iya, saya punya dua pekerjaan. Total saya bekerja dua belas jam sehari, namun bila dihitung dengan transportasi dari dan ke tempat kerja saya menghabiskan waktu di luar rumah selama empat belas jam. Hal itu berdampak pada tangan yang kaku tiap pagi gara-gara kaget bekerja keras. Kasihan.

Pada hari terakhir bekerja sebagai tukang kebun saya memutuskan untuk menyudahi masa tinggal di Sydney. Berbekal penghasilan pada minggu ketiga tersebut saya membeli mobil yang kemudian saya namai DASH dan langsung mengemasi barang dan mengucapkan selamat tinggal kepada boss cleaner.

Tujuan tidak begitu jelas saat itu. Berbekal nama kota yang dilihat di peta, pergilah saya ke sana. Tidak nekad, kok, karena kota-kota tujuan adalah titik pertanian Australia. Saya mencoba peruntungan di industri perkebunan yang memiliki kekuatan bisnis tinggi di benua kering ini.

Kota tujuan pertama adalah Orange, NSW. Jalur menuju kota tersebut melewati area Snowy Mountain. Kebetulan hari sudah gelap, saya memarkir mobil di area perkemahan di sekitar hutan nasional tersebut, barulah keesokan harinya melanjutkan perjalanan. Setiap melihat ada perkebunan, saya berhenti dan mengetuk pintu berharap pemilik kebun membutuhkan pekerja. Entah berapa banyak pintu  perkebunan terketuk. Tak terhitung pula berapa banyak buku telepon milik pemilik kebun yang menyimpan nomor telepon saya demi berharap mendapat panggilan kerja.

Selain “menjual diri” langsung, saya juga berhenti di “Tourist Information Center” di kota Orange. Hanya dengan menyebut “hai I’m a backpacker and need job” para petugas akan langsung memberitahukan agen mana saja yang bisa dihubungi untuk mencari pekerjaan. Dari mereka pula saya tahu lokasi perkebunan terdekat dan jenis perkebunannya. Dewi Fortuna belum berpihak pada saya. Tidak ada pekerjaan untuk saya saat itu di Orange.

Dash pun kembali melaju. Tujuan berikutnya adalah Young, NSW. Kota kecil yang dijuluki pusat cherry nasional Australia. Rejeki berpihak. Saya pun menyandang status pekerjaan baru: pemetik buah.

2016-08-17-16-11-33
Hai Young! Saya tiba.

bersambung…

Iklan

8 Replies to “[WHV] Sydney: Sebuah Permulaan”

    1. Samalah was wasnya kayak saya dulu. Tapi niat banget emang. Coba deh cari temen2 di grup FB WHV Indonesia pasti bisa bikin was was sedikit berkurang . hayuk dicoba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s