Tirupati: Terpesona Pemujaan Sri Balaji

“Terdampar” di Tirupati merupakan sebuah kebetulan. Tuan rumah saya di Chennai sempat kebingunan mengapa kota itu menjadi pilihan dari banyak pilihan wisata di India. Teman perjalanan saya beralasan kalau ia tertarik dengan nama Tirupati dan memutuskan untuk pergi ke sana. Alasan yang makin membuat alis tuan rumah saya berkerut.

Setelah berpanas-panas di dalam kereta selama lima jam dari Chennai, sampailah kami di Tirupati. Stasiunnya cukup besar, kami pun yakin pasti ada sesuatu yang menarik dengan kota ini. Tujuan pertama kami adalah menemukan penginapan. Keluar stasiun kami melihat banyak bangunan bertuliskan “hotel”. Sayangnya kata yang tidak asing itu tiba-tiba memiliki arti lain. Di India, hotel bukanlah tempat untuk bermalam melainkan sebuah restoran. Beruntung ada seorang supir auto (kendaraan serupa bajaj beroda tiga) mengantarkan kami ke sebuah penginapan tidak jauh dari stasiun.

Baca cerita kesulitan yang saya alami di India di sini

Nama Tirupati sangat asing di telinga kami. Sungguh tidak ada informasi yang kami miliki soal kota yang terletak di negara bagian Andra Pradesh ini. Namun satu yang mencolok dari kota ini adalah banyaknya orang berkepala plontos. Saya kira ada festival musiman yang baru saja diselenggarakan, namun perkiraan tersebut melenceng. Ada sesuatu yang lebih menarik dan besar dari sekadar festival.

Bagi umat Hindu India, Tirupati menempati posisi penting untuk urusan peribadatan mereka. Kota ini adalah pintu masuk ritual “naik haji” mereka. Tiap hari ribuan umat Hindu berbondong-bondong datang ke Tirupati untuk dapat melaksanakan ritual pemujaan terhadap Dewa Venkateswara biasa disebut juga Sri Balaji yang merupakan rupa lain dari Dewa Wisnu. Informasi ini saya dapatkan dari seorang bapak warga lokal yang tertarik melihat teman perjalanan saya dan ia pun memulai pembicaraan dan menceritakan tentang Tirupati.

Lokasi pemujaan sendiri terletak di kuil Sri Venkateswara Swamy yang berada di sebuah puncak di daerah Tirumala sekitar 30 menit dengan bus dari Tirupati. Sang bapak mengajak kami untuk mengunjungi sebuah gedung yang sangat besar. Katanya gedun itu merupakan milik Tirumala Tirupati Devasthanams (TTD) sebuah lembaga yang mengelola dana sumbangan jemaah untuk kepentingan ibadah di Tirumala.

Kami berkeliling sejenak. Rupanya bangunan tersebut diperuntukan sebagai tempat tinggal jemaah. Banyak ruangan untuk tempat beristirahat, mandi, dan juga makan. Kebetulan saat itu sudah memasuki jam makan siang, si bapak menyuruh kami ikut mengantri makan. Karena gratis kami tidak menolak walaupun pada akhirnya kami menjadi pusat perhatian gara-gara perawakan, pakaian, dan kepala berambut yang berbeda dengan yang lainnya.

Diperkirakan ada sekitar 75 ribu jemaat yang mengunjungi Tirumala tiap harinya. TTD menganggarkan dana sampai INR 2530,10 crore (1 crore sama dengan 10 juta) atau setara 4,7 triliun untuk tahun 2015-2016. Dana tersebut merupakan donasi dari jemaat. Besar ya!

Tertarik akan kuil tersebut, kami pun mengiyakan ajakan kenalan baru kami untuk pergi ke Tirumala. Kami berangkat sekitar pukul tujuh malam. Saya pikir pasti tidak akan ada kegiatan apa-apa, ternyata Tirumala tidak ada tanda-tanda akan berhenti berdenyut. Rupanya banyak yang memilih untuk memulai ritual pemujaan pada malam hari demi menghindari sengatan matahari. Keputusan tersebut berdasarkan pertimbangan harus menaiki 5.000 anak tangga sebelum sampai di kawasan kuil tempat Sri Venkateswara berada.

Saya tentunya berpikir ratusan kali kalau harus melewati anak tangga sebanyak itu. Teman baru saya menyarankan untuk menggunakan bus keesokan hari untuk sampai ke kuil. Saran yang dengan senang hati saya terima. Keesokannya kami berdesakan di dalam bus dengan jemaat yang memilih cara cepat sampai di kuil.

Lucunya sebelum masuk kompleks kuil kami harus keluar dari bus guna melewati alat pendeteksi metal barulah kemudian kembali lagi ke bus. Nah, dikarenakan selama separuh perjalanan saya duduk terpisah dengan teman, maka saat kami kembali ke dalam bus kami duduk berdekatan. Sayangnya saya kena semprot penumpang lain karena dianggap mengmbil kursinya. Saya pun kembali ke tempat duduk saya semula yang ternyata kosong. Rupanya ada aturan tidak tertulis untuk menghormati hak orang lain yang dalam kasus kali ini adalah kursi bus.

Untuk mencapai kuil Sri Balaji bus harus menanjak. Bagusnya permukaan jalan sangat mulus jadi tidak ada kendala berarti selama perjalan kecuali kelokan yang terkadang menukik. Mata pun disuguhi pemandangan bukit berbatu serta pemandangan kota Tirupati dari atas. Bus sampai di area ibadah saat matahari tepat berada di atas ubun-ubun. Panas. Seketika saya merasa telah membuat keputusan tepat untuk tidak nekad menapak ribuan tangga hanya sekadar ikut tahu bagaimana capeknya ritual ini.

Umat hindu berkepala plontos berseliweran. Saya menerka mereka baru saja selesai beribadah. Akhir dari ritual ini adalah memangkas seluruh rambut sebagai persembahan kepada Sri Balaji. Alkisah suatu saat Sri Balaji tertimpa kemalangan yang menyebabkan sebagian rambutnya hilang dan meninggalkan petak tanpa rambut di kepalanya. Neela Devi, seorang putri Gandharva, merasa iba dan memangkas rambutnya dan menanamkan rambut tersebut ke kepala Sri Balaji. Oleh karena kejadian itu, Sri Balaji berjanji bahwa pengikutnya kelak akan memngorbankan rambut mereka untuknya. Rambut-rambut tersebut akan menjadi milik Neela Devi.

Tiap hari diperkirakan ada sekitar satu ton rambut yang dikorbankan oleh mereka yang menjalankan ritual ini. Rambut tersebut dijual kepada produsen rambut palsu. Penjualan rambut tersebut mencapai $6 juta per tahunnya. Fantastis.

Sebenarnya saya agak kagok setiap masuk areal peribadatan apalagi dengan menenteng kamera. Saya selalu risih mengabadikan ritual pemujaan karena khawatir merusak kesakralan ibadah. Tetapi, pemandangan yang ada di depan mata terlampau eksotis dan sayang untuk diabadikan. Saya sedikit nyaman karena ternyata tidak ada yang menegur karena merasa terganggu. Eh, tetapi saya enggak sembarangan kok. Maksudnya saya tidak dengan seenaknya keluar masuk areal ibadah, cukup melihat dari jauh.

Berhubung cuaca hari itu semakin panas, saya dan teman memutuskan untuk berkeliling saja dengan bus gratis untuk berkeliling kompleks kuil. Selain untuk menghindari sengatan matahari, kami pun tidak tahu mau kemana lagi. Eh, sebelumnya kami juga melipir melihat pembagian penganan manis khas India, laddu. Bagi para jemaah, laddu yang berasal dari kuil Sri Balaji penuh berkah dan juga cocok dijadikan oleh-oleh ke kampung halaman.

Seorang ibu yang baru saja mendapatkan laddu bilang ia akan membagikan sebagian kepada tetangganya. Dia bilang sudah memberitahu tetangga kalau dia akan pergi ke kuil Sri Balaji. Ada aturan tidak tertulis yang “mewajibkan” mereka yang pergi ke kuil Sri Balaji untuk membawa oleh-oleh laddu. Hal itu, mengingatkan saya akan ritual menyiapkan kurma dan kacang arab oleh jemaah haji Indonesia. Hal yang membedakannya adalah yang satu didapat dari lokasi ibadah sementara yang lain bisa dibeli di Tanah Abang.

Setelah puas berputar-putar kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Sepanjang perjalanan pulang saya masih terkagum-kagum pada setiap orang yang memiliki spiritual tinggi dan rela menempuh jarak jauh untuk berdoa dan menyembah Tuhan kepercayaannya. Sebuah pertunjukan kesetiaan yang sangat menarik. Untungnya saya tidak lemah iman saat tuan rumah di Chennai bilang “tidak ada apa-apa di Tirupati”, kalau saja saya menurut tentu akan melewatkan aktivitas menarik ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s