[WHV] Berkenalan Dengan Cherry

Dua hari setelah keluar dari Sydney, saya sampai di Young, NSW. Jarak kedua kota hanya 377 kilo meter. Termasuk dekat untuk ukuran Australia, bisa ditempuh lebih kurang lima jam perjalanan. Namun, berhubung saya masih kagok menyetir dan banyak berhenti barulah setelah 48 jam saya berhenti di pusat cherry nasional Australia tersebut.

Dash terparkir di halaman pusat informasi turis kota Young. Saya mencari informasi area perkemahan, hostel, dan juga agen kerja. Berharap mendapat pencerahan untuk mengais rejeki. Saya hanya mendapatkan sebuah peta berisikan rute ke arah caravan park. Petugas informasi bilang saya bisa bertanya soal lapangan pekerjaan di tempat tersebut. Ya, biasanya caravan park  dipenuhi para pejalan, makanya tidak heran kalau dianggap seperti pusat konsentrasi tenaga kerja. Tidak jarang pemilik kebun akan mengontak petugas di caravan park kalau ada lowongan pekerjaan di tempat meraka dan membutuhkan tenaga kerja.

Berbekal peta tersebut, niat saya pun bulat ingin menginap di caravan park. Belum sempat membuka pintu mobil, seorang bapak paruh baya menghampiri. Ia bertanya apakah saya hendak mencari pekerjaan. Saya hanya menggangguk. Dia langsung bertanya, “mau kerja di tempat saya? petik cherry, 10 AUD per lug?”. Tangan saya terjulur mengajak bapak tersebut bersalaman. Deal! Seketika itu juga status saya berubah menjadi fruit picker.

Bapak bernama Albert tersebut meminta saya mengikuti kendaraannya. Saya mengekor selama sepuluh menit untuk sampai di kebunnya. Dia menawarkan tempat tidur lengkap dengan kasur. Tidak terlalu akomodatif tetapi lebih baik ketimbang tidur di dalam mobil ataupun tenda. Saya hanya perlu membayar 20 AUD per minggu untuk biaya air dan listrik. Lumayan. Albert pun meminjamkan kompornya untuk keperluan memasak.

Rupanya sudah ada dua pemetik yang sudah mulai bekerja di kebun. Saya tidak melihat mereka saat itu, karena mereka sedang berada di tengah kebun bekerja. Hari sudah menjelang sore dan kondisi fisik saya yang lelah berkendaraan pun tidak siap untuk langsung bekerja. Saya memutuskan untuk berkeliling kebun dan kemudian menyiapkan makan malam.

2016-08-17-15-24-46
Hai, cherry!

Cherry termasuk golongan stone fruit, buah berbiji keras, yang hanya berbuah setahun sekali. Masa panennya hanya pada musim panas dengan durasi sekitar 1-1,5 bulan. Albert menjelaskan bagaimana cara memetik cherry dan mengingatkan bahwa buah yang sudah dipetik harus diletakan di bawah bayangan pohon supaya tidak layu. Ia pun menjelaskan kalau saya bisa bekerja selama saya mau.

Kami memulai hari setiap pukul 6 pagi. Matahari terkadang masih malu-malu tetapi kami tidak boleh terbuai untuk terus meringkuk di tempat tidur. Karena, kami harus memanfaatkan pagi tersebut untuk bekerja cepat sebelum matahari mengganas pada pukul 9 pagi. Makin siang tentunya makin panas. Terkadang suhu mencapai 40 derajat celcius.

Pernah saya mendapat wejangan dari seorang kenalan yang berpengalaman memetik cherry. Menurutnya lebih baik memulai memetik cherry dari pukul 6 pagi dan bekerja non stop selama 9 jam dan selesailah pekerjaan untuk hari itu. Ia menekankan lebih baik untuk tidak mengambil jeda istirahat makan siang karena akan merusak konsentrasi memetik.

Saran tersebut memang ada benarnya. Pekerjaan memetik cherry cukup membosankan karena terlampau monoton. Biasanya kita hanya berdiri di satu posisi dan hanya jari-jari yang banyak bekerja. Pemetikan sebenarnya tidak terlalu sulit, kita hanya perlu menyenggol pangkal tangkai cherry yang memang mudah patah. Dengan sedikit senggolan cherry akan jatuh ke dalam keranjang yang kita gendong di bagian depan tubuh. Begitu terus. Kadang-kadang, sih, kita harus memanjat untuk menjangkau buah yang ada di pucuk tertinggi pohon.

Nah, pekerjaan yang monoton itu terkadang membuat alam bawah sadar kita bekerja tanpa harus kita perintah. Maksud saya, tangan dan mata memiliki tingkat koordinasi yang tinggi karena sering melakukan kegiatan yang sama berulang-ulang. Kadang saya malah bisa bekerja sambil melamun tetapi tangan tetap bergerak cepat. Kalau sudah pada tahap tersebut, memang berhenti untuk makan siang akan mengganggu pace memetik. Kekenyangan sehabis makan akan membuat malas untuk kembali bekerja. Terlebih harus memulai ulang pace dan konsentrasi kerja.

Cherry yang berada dalam kemasan memang sungguh menggoda bukan. Bulat merah dan ranum sungguh menarik. Tetapi, saya sempat muak karena berjam-jam melulu melihat cherry. Mata saya lelah karena harus melihat warna cherry. Saya bisa keki kalau mendapatkan pohon dengan buah kecil karena artinya saya harus bekerja leih banyak untuk memenuhi lug berkapasitas 11-12 kilogram itu.

Dua hari pertama saya berhasil memetik delapan lug per hari. Artinya saya hanya mendapat 80 AUD. Setelah dihitung-hitung dan membandingkan upah di tempat lain, saya dan seorang teman meminta upah dinaikan. Albert tidak begitu suka ide tersebut. Bukan maksud menggertak, tetapi saya dan teman bilang kepadanya kalau kami akan mencari kebun lain untuk bekerja. Albert akhirnya setuju untuk menambah bayaran 2 AUD untuk tiap lug yang kami kerjakan.

2016-08-17-15-22-16
Untuk satu lug kami diupahi 12 AUD

Keputusan Albert tersebut bukan karena saya pekerja yang cukup andal dan harus dipertahankan. Eh bukan berarti saya pekerja yang jelek ya. Penyebabnya adalah saat musim panen kali ini Albert merasa kesulitan mencari pekerja, makanya dia berusaha mempertahankan pekerja yang ada saat itu. Kehilangan pekerja sehari saja berarti ia kekurangan target produksi.

Masalah kekurangan tenaga kerja sudah dialami Albert dari beberapa kali. Akibatnya cukup fatal bagi bisnis yang sudah dijalankan puluhan tahun itu. Suatu kali musim panen ia tidak bisa memetik semua cherry dan berakibat banyak buah yang tidak terpetik dan menjadi busuk di pohon.

Menurut Albert panen pada musim panas akhir 2014 tersebut cukup besar. Hal itu tidak hanya berlaku untuk kebunnya tetapi juga kebun milik orang lain. Ia berkisah, bahwa tahun lalu saat mendekati musim panen ada badai yang menerjang Young. Bencana tersebut menggugurkan bunga cherry. Jatuh sebelum berkembang. Akibatnya sebagian besar pemilik kebun merugi. Oleh karena itu, ia tidak mau menyianyiakan kesempatan panen musim itu.

Akibat Bergaul Dengan Cherry

Pekerjaan luar ruang ini membuat saya terkaget-kaget saat bercermin. Kulit muka kusam pun kutikel jari saya rusak luar biasa. Sinar matahari yang mentereng bikin wajah saya tersengat dan terbakar. Olesan tabir surya tidak terlalu membantu. Sementara itu, penampakan jari saya dengan kutikel yang rusak disebabkan banyak bergesekan dengan batang cherry.

Tidak hanya itu, punggung saya pun selalu nyeri ketika bangun pagi. Keranjang penampung cherry yang kadang beratnya sampai lima kilogram dan selalu tergantung di pundak membuat tulang belakang kelelahan menanggung beban. Tiap hari rasanya saya hendak berhenti, tetapi niat itu selalu gugur saat mengingat tabungan saya belum menunjukan cerita yang baik.

Suatu kali saya pernah terbayang adegan fim 12 Years of A Slave yang berkisah tentang buruh perkebunan yang bekerja berat namun hanya mendapat penghasilan yang tidak sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan. Saya memang berlebihan kalau menganggap nasib saya sama dengan para buruh itu. Namun, setidaknya saya bisa ikut berempati dengan mereka. Sungguh berpeluh-peluh di bawah sinar matahari berjam-jam itu enggak enak.

Baca kisah Jariku Sayang Jariku Malang

Terlalu lelah ditambah kondisi lapangan yang tidak bersahabat membuat mental saya terusik. Makin lama sama makin merasa menjadi salah satu buruh seperti dalam film 12 Years Of A Slave. Padahal tidak ada yang menjadikan saya budak, kalaupun mau berhenti bisa saja bilang pada Albert. Tetapi entah mengapa saya selalu bilang pada diri sendiri “sebentar lagi panen selesai!”. Niatnya sih ingin menyemangati diri sendiri, tetapi kadang tidak berhasil.

Pikiran jelek itu berakibat pada menurunnya performa saya. Sehari paling hanya berhasil mengumpulkan 7 lug padahal saya menargetkan sepuluh lug. Semakin tidak bersemangat bekerja. Hingga akhirnya saya hanya bekerja apa adanya dan menerima upah seadanya.

Saya bertahan karena tidak tahu harus kemana. Daripada bingung ya lebih baik tetap bekerja. Hingga akhirnya musim panen berakhir. Kebanggaan saya hanyalah bisa mencantumkan pengalaman memetik cherry dalam satu musim tersebut dalam resume pekerjaan. Bagaimana dengan tabungan? Wah, ceritanya masih menyedihkan. hahaha…

 

Iklan

5 Replies to “[WHV] Berkenalan Dengan Cherry”

    1. Karena gw lelet, satu jam, Mi. Tapi kalau buahnya bagus dan gede2 bisa lebih cepat penuhnya. Iya nasib kerja kontrak buat yabg lelet ya begini, wage per jam kecil. Enakan kerja jam-jaman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s