Karma Itu Ada Dan Nyata

Merantau memberikan kesempatan bagi para pelakunya untuk mendapatkan kenalan baru. Perkenalan dengan orang yang ditemui di jalan bisa bertahan sampai semangkuk mie ayam habis atau bisa berlanjut lebih lama. Tidak menutup kemungkinan dari yang hanya sekadar basa-basi bisa berujung pada pertalian yang bertahan lama.

Menyenangkan memang bila bertemu dengan orang baru, apalagi kalau memiliki kecocokan. Tetapi, tidak jarang juga saya jenuh bila harus memulai percakapan dengan orang asing. Tak jarang saya lebih memilih untuk diam ketimbang menghamburkan energi sekadar mengetahui nama dan asal lawan bicara.

Ada sebuah artikel yang menjelaskan akan ada masanya kita sebagai pribadi makin selektif dalam berteman. Biasanya perilaku seperti itu muncul pada usia akhir dua puluhan dan memasuki fase tiga puluhan. Alasannya karena kita sudah banyak pengalaman dalam berteman dan akhirnya akan membuat kita semakin tahu gelagat orang dan lebih terampil dalam memilih teman.

Saat ini, saya berada dalam fase tersebut. Dan memang benar saya lebih sulit memutuskan siapa yang pantas dijadikan teman. Walaupun saya masih suka bergaul dengan siapapun. Dari sebagian kecil jumlah orang yang bisa saya anggap sebagai teman hanya beberapa yang memberikan kesan mendalam.

***

Perkenalan saya dengan H terjadi sekitar empat tahun lalu. Dia seorang pejalan dan terdampar di Indonesia. Entah mengapa saat itu saya terasa luwes saat berbicara dengannya, mungkin karena dia seorang pejalan ulung yang pandai menempatkan diri tergantung lawan bicaranya. Entahlah. Bagi saya H istimewa. Sampai sekarang saya tidak berhenti terkagum-kagum akan pribadinya. Oh iya, H inilah salah satu sumber “tenaga” mengapa saya mau merantau.

Sampai tulisan ini dibuat H hampir enam tahun tidak pulang ke rumah. Ia memulai perjalanannya sekitar delapan tahun yang lalu. Dua tahun merantau ia kembali ke rumah. Bertemu dengan keluarga. Sebulan kemudian dia kembali menggendong ranselnya dan belum berniat untuk pulang.

Sepertinya H adalah pejalan jangka panjang pertama yang saya kenal. Saya terkesima dengan ceritanya. Apalagi soal hitchike yang dia lakukan selama dua bulan dari negara asalnya ke negara kekasihnya saat itu. Saya lupa berapa negara yang ia lewati, semuanya terdengar menarik.

Dari rentetan kisahnya merantau di beberapa benua yang diceritakan tanpa maksud jumawa, saya akhirnya mengetahui kalau H adalah pribadi yang sangat menarik. Suatu hari di tengah gurun, dia sedang tertidur nyenyak harus terbangun karena pintu tendanya diketuk. Enggak bunyi tok…tok…tok… sih, tetapi ada seseorang diluar yang memanggilnya. Ternyata si pengetok pintu ingin ikut berteduh di dalam tenda H karena tenda miliknya roboh dan sulit diperbaiki di tengah hujan badai malam itu. H pun membagi ruang di dalam tenda dengan dua tamu barunya ditambah ransel-ransel mereka.

H bukan orang dengan rekening gendut. Dia tentunya memiliki uang tetapi karena ia berambisi untuk berjalan-jalan dalam jangka panjang maka pengeluaran pun harus ditekan seminim mungkin. Tetapi hal tersebut tidak membuatnya menjadi seorang yang pelit. Suatu hari dia bercerita harus menyewakan kamar bagi seorang pejalan yang tidak punya uang sama sekali. Si pejalan ini rupanya tertimpa kemalangan dan sedang menunggu kiriman uang dari keluarganya. Merasa iba, H pun mengajak si pejalan untuk makan malam sekaligus memastikan kalau dia memiliki atap untuk tidur malam itu.

Satu harapan H kalau si pejalan mendapatkan uang kiriman secepatnya. Sebab menilik kondisi keuangannya dia pun tidak sanggup berlama-lama menyokong  biaya pejalan itu. Saat saya tanya kenapa tidak meminta kembali uang yang sudah dikeluarkan kepada si pejalan ketika ia mendapatkan kiriman uang? H cuma menggeleng sembari menjawab “kalaupun diminta sepertinya enggak bakalan dikasih. Pejalan itu tukang mabuk dan pasti lupa sama apa yang sudah lakukan buat dia. ikhlas sajalah”.

Semakin sering kita bertemu orang, semakin cepat pula kita dalam menilai kepribadiannya. Dari semenjak saya berteman dengan H saya tahu dia orang yang baik, terlihat dari cara dia bicara. Tetapi apalah arti perkataan tanpa aksi. Suatu kali kami sedang bermotor ada pohon tumbang dan menutup separuh badan jalan. H berhenti dan meminggirkan batang pohon tersebut. “Biar orang lain jalannya lancar,” kata dia.

Kali berikutnya kami berada di Bali, lagi-lagi H menghentikan motor dan berlari menghampiri anjing yang tergeletak di pinggir jalan. Ia coba mengecek detak jantun si anjing. Tak terbaca. Ia membuka kelopak mata si anjing dan coba mencoloknya, pupil anjing tersebut tidak bergerak. H tidak menangis tetapi suaranya tercekat “masih hangat, nih, baru saja mati.” Kemudian ia meletakan anjing kintamani tersebut di bahu jalan agar tidak terlindas kendaraan.

Jangan sekali-sekali berbuat tidak baik di depan H karena ia tidak segan-segan akan melakukan konfrontasi. Dia sudah insaf menggunakan anggota tubuh, tetapi konfrontasi verbalnya masih sangat menyakitkan. Suatu kali kami sedang mengobrol dengan beberapa teman di sebuah ruang publik. Seorang teman wanita kami didatangi seorang pria yang ia kenali. Rupayanya pria itu sedikit mabuk dan bertindak sesuatu sampai teman wanita kami risih. H langsung memperingatkan si pria mabuk ¨get rid off your hands off my friend or I lay mine on you!¨ jangan pegang-pegang teman saya atau kamu enggak selamat.

Saya percaya akan keberadaan karma. Tetapi entah mengapa saya jarang sekali karma baik menyirami H. Bukan hanya sekali, H sering tertimpa sial. Tidak mendapatkan kembali uang yang dipinjamkan ke orang lain, kehilangan jaket musim dingin, digigit kuda, tersambar petir, keseleo, jatuh dari motor, kena timpuk telur oleh orang iseng, dan masih banyak rentetan ketidakberuntungan lainnya.

Beberapa kali mendengar ceritanya saya sering menangkap nada frustrasi. Meski demikian, keceriaan H tidak pernah kurang. Perangainya yang periang tersebut merupakan senjata andalannya. Kemanapun ia pergi dan bergaul pasti ia memiliki teman baru dan siap membantunya.

Saat ini H tengah dalam proses mewujudkan mimpinya. Jalannya cukup berlubang. Hampir saja ia menyerah, sampai seorang teman datang membantu. Sinar mata H semakin terang. Saya melihat semangatnya semakin membara. Melihatnya seperti itu saya pun berharap H dapat merengkuh mimpinya. Jika suatu saat harapannya terwujud, maka itulah karma baik yang patut ia terima. Saya percaya karma itu ada dan nyata terlebih untuk persona seperti H.

Iklan

2 Replies to “Karma Itu Ada Dan Nyata”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s