Ribetnya Jadi Pejalan Perempuan

Bepergian dengan bujet terbatas mau tidak mau harus kita harus rela mengurangi barang bawaan. Tujuannya tidak lain tidak bukan adalah menekan biaya bagasi kalau kita bepergian dengan pesawat udara bujet. Selain itu, semakin ringan barang bawaan akan membuat punggung kita bahagia.

Saya bukan seorang ahli dalam mengepak barang. Backpack saya terkadang sudah terisi penuh padahal isinya hanya beberapa helai pakaian. Kegelisahan mengepak juga pernah dialami teman saya gara-gara dia terlalu bersemangat memindahkan isi lemari pakaian ke dalam backpack-nya. Kalau sudah begitu dia cuma bilang ¨gw kan cewek, printilannya banyak¨.

Dulu saya pernah berpikir kalau pernyataan seperti teman saya itu lebay. Tetapi percayalah memang menjadi seorang perempuan memang ribet apalagi kalau sedang bepergian.

Screenshot from 2016-08-24 21-32-15
contoh ribetnya jadi perempuan

Kabar soal polisi Perancis yang melarang wanita berburkini pasti sudah kalian dengar. Banyak yang mencibir karena dianggap sebagai bentuk rasisme dan ketakutan terhadap islam yang berlebihan. Eh, tetapi saya enggak membahas soal isu terkait agama ya. Perhatikan baik-baik apa yang dikatakan Negar Mortazavi, jurnalis berbasis di Amerika Serikat berdarah Iran, di atas, deh!

Bagi saya Mortazavi menunjukan betapa ribetnya menjadi seorang perempuan apalagi mereka yang sering bepergian. Perempuan harus pandai berbusana saat di manapun mereka berada.

Saat saya merantau kali pertama, saya tidak tahu apa yang harus saya bawa. Mulai dari baju yang berbahan adem sampai baju hangat mengisi backpack saya. Tidak hanya itu, baju renang yang dianggap pantas juga bikin ikut menambah jumlah barang bawaan. Pakaian yang saya bawa biasanya dalam dua versi: menutup banyak permukaan kulit dan tidak terlalu tertutup.

10390538_10203768781237966_8742994750190224589_n
gaya berpakaian favorit saya saat bepergian

Alasannya tentu saja karena tidak semua tempat yang saya kunjungi dapat menolerir baju kutung dan celana pendek. Kedua potong pakaian tersebut merupakan andalan saya saat berada di Thailand dan Australia saat cuaca panas. Saya nyaman seperti itu karena membuat saya bebas keringat dan juga tidak ada yang menengok saya sampai dua kali gara-gara cara berpakaian saya.

Gaya tersebut tentunya tidak pernah saya lanjutkan saat berada di India. Teman perjalanan sampai memaksa saya membeli pakaian yang representatif. Saya sempat menolak, tetapi akhirnya luruh juga. Dua tunik baru pun menjadi pendatang baru di backpack saya.

Bagaimana dengan teman perjalanan saya? Oh, dia tidak perlu membeli pakaian tambahan karena apapun pakaian yang dia bawa cukup representatif untuk segala tempat yang kami kunjungi. Saya pun iri dengan privilige yang dimiliki para pria pejalan.

Nasib yang sama pun dialami oleh pasangan pejalan lain. Tidak diceritakan langsung, sih, saya hanya menengok kumpulan foto yang dipublikasikan dalam akun media sosial mereka.  Dari banyak foto yang dipublikasikan, si perempuanlah yang penampilannya sering berubah. Saat di India ia memakai tunik seperti saya, di kesempatan lain saat berada di Iran teman saya harus memakai penutup kepala berupa scarf dan selalu berpakaian lengan panjang demi menghormati budaya setempat. Oh iya, si perempuan pun harus melakukan foto dengan penutup kepala sebagai persyaratan visa Iran.

Dari rentetan foto mereka, saya tidak melihat perubahan penampilan berarti yang dilakukan oleh sang pria. Bajunya itu-itu saja. Asik ya?

Nah, sekarang mengerti kan mengapa barang bawaan perempuan banyak. Bukan karena kami selalu ingin terlihat kece, tetapi juga karena tuntutan tempat bepergian. Enggak percaya? Kembali perhatikan baik-baik perbandingan yang diberikan Mortazavi di atas ya.

Bukan cuma itu, loh. Pernah seorang teman di tempat penginapan bilang kalau dia suka dengan saya walaupun saya tidak pernah mencukur bulu kaki. Iya kalian tidak salah baca. Memiliki kaki yang mulus bebas rambut merupakan ¨kewajiban¨ bagi setiap perempuan, kecuali saya. Maka dari itu, tidak sedikit perempuan pejalan yang menambahkan peralatan penunjang kecantikan selama bepergian. Jadi selain adanya aturan tertentu di lokasi bepergian, tetapi perempuan juga harus tetap mematuhi aturan tidak tertulis soal standar kecantikan.

Iklan

10 Replies to “Ribetnya Jadi Pejalan Perempuan”

  1. Fiii, dan gw mulai ngebayangin kalo jln2 lagi sama bocil2. Manalah bawaan gw banyak plus printilan2nya ditambah bawaan bocil. Lelah hayati… 😀 Laki mah tinggal kaos celana doang jadi yaa..

  2. sekarang setelah baru menikah saya dapat merasakanya sendiri kalo emang bawan perempuan itu segambreng yang tadinya pas masih single ga pernah beli bagasi selalu bawa backpack sekrang mau ga mau harus beli karena istri saya maunya bawa koper tapi meskipun begitu saya tetep cinta ko sama dia #malahcurhat #curhatannewhusband

      1. aku selalu bawa 2 lensa, yang fix sama yang wide..itu aja udah berat..trus selalu ada sendal dan sepatu..jeans 1, celana pendek 1 ama dress 1..dress ini buat jaga2 kalau diajak kencan sama suami 😀 kalau nggak diajak ttp kupake buat makan malam dimana gitu..dipinggir jalanpun oklah..sayang sudah kadung dibawa. Trus toiletries seadanya..udah itu aja…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s