Australia, Antara “Ya” dan “Tidak”

Australia dengan segala pesonanya memang melenakan para pejalan yang sempat mencicip kehidupan di negara tersebut. Tidak terkecuali saya yang seakan enggan pergi saat visa Bekerja dan Berlibur (Work and Holiday Visa/ WHV) selesai dan harus mengucapkan salam perpisahan.

Setelah menghabiskan waktu setahun di negeri kangguru tersebut rasanya saya sedih harus melepas segala kenyamanan dan kemudahan yang ada. Jangan tanya soal kerelaan untuk tidak lagi mendapat upah kerja yang lumayan. Pertanyaan “balik lagi ke Australia lagi atau enggak, nih?” pun mengendap di kepala dan menunggu jawaban.

Apa saja, sih, yang membuat saya berat hati meninggalkan Australia? Banyak!

Kemudahan birokrasi menjadi salah satu hal yang bakal saya rindukan. Bikin akun di bank bisa lewat laman situs bank pilihan. Daftar nomor pajak hanya sebatas klik sana dan sini, nomor pajak pun langsung datang ke rumah beberapa hari kemudian. Bayar tilang kendaraan dapat dilakukan per telepon. Jarang menemukan birokrasi yang neko-neko di sana.

Tanah lapang ada di mana-mana. Luasan negara terbesar di selatan khatulistiwa ini memang tidak ada yang bisa menandingi. Ditambah jumlah penduduk yang mini, maka tidak jarang (bagi yang tinggal di pedesaaan) jarak antarsatu rumah dengan rumah lainnya bisa puluhan bahkan ratusan meter. Ruang privasi pun jadinya sangat luas. Bagi saya yang suka menyendiri tentunya banyak sekali tempat yang membuat saya bisa sendiri tanpa merasa terganggu oleh orang lain.

Minim polusi. Paru-paru saya sangat dimanjakan udara bebas asap kendaraan. Pun asap rokok tidak mudah ditemukan kecuali nongkrong di area merokok. Tidak perlulah itu memakai masker kemana-mana.

Keindahan alam Australia tidak perlu ditanyakan lagi. Setiap pelosok pasti memiliki keunikan tersendiri, bukan cuma tempat yang jadi andalan promosi wisata. Dulu saat jenuh bekerja saya selalu menyempatkan diri untuk bermain ke sungai atau pantai dekat rumah. Hanya 10 menit berkendara tanpa macet.

Sebagai negara yang sungguh makmur, Australia pun menawarkan upah kerja yang menggiurkan. Salah satu hal yang bikin saya terlena dan sangat mata duitan. Maklumlah, mengingat masa tinggal yang hanya setahun maka perlu dimanfaatkan toh?

Dengan segala hal menggoda di atas, tentunya pernah terbersit keinginan menetap lebih lama. Sayangnya ketentuan visa yang tidak bisa diperpanjang membuat saya harus pulang. Jika ingin kembali dan menetap untuk jangka yang panjang, banyak sekali jalannya seperti; sekolah, bekerja, dan juga menikah dengan warga negara Australia. Sayangnya dari semua opsi yang ada tidak ada yang menarik minat saya.

Melanjutkan sekolah merupakan salah satu opsi yang banyak diambil para alumni WHV. Tujuan dari sekolahnya sih bukan sekadar nambah ilmu, tetapi agar bisa tinggal lebih lama di Australia. Tidak sedikit yang sekolahnya hanya satu-dua kali dalam seminggu. Bahkan ada teman saya yang belajar bahasa inggris cuma dua jam dalam seminggu. Lalu sisanya? Ya dipakai buat bekerja.

Dengan visa pelajar kita diperbolahkan bekerja sampai 40 jam dalam kurun waktu dua minggu. Masalahnya penghasilan dari kerja 40 jam dalam dua mingggu itu belum tentu mencukupi kebutuhan sehari juga biaya kuliah. Solusinya adalah mencari pekerjaan sampingan yang dibayar tanpa pajak. Duh, rasanya untuk opsi yang ini saya tidak begitu tertarik, deh. Rasanya sayang banget harus ngeluarin duit untuk bayar sekolah yang tidak murah.

Kalau mau sekolah yang gratis jalur beasiswa, ya, solusinya. Banyaklah pilihan lembaga pemberi beasiswa yang dapat dimanfaatkan. Kenapa tidak dicoba? Ah, saya sudah malas belajar yang ribet-ribet. Sepertinya sudah tidak sanggup untuk menyerap teori yang diberikan dosen. Pening.

Opsi mendapat visa bekerja pun terbuka lebar peluangnya. Hanya saja selama bekerja di Australia dengan WHV saya bekerja pada perusahaan yang tidak loyal dalam memberikan sponsor bagi pekerja asing. Hilang sudah kesempatan itu.

Nah, menikah dengan WN Australia bisa menjadi keuntungan bagi mereka yang sudah punya pasangan dari negara tersebut. Tetapi jangan berkecil hati, kesempatan itu selalu ada. Suatu kali saya pernah melihat ada seorang WN Australia yang menawarkan jasa “kawin kontrak” agar si “pasangan” bisa tinggal di Australia dengan visa pasangan. Sekali lagi, cara ini tidak terlalu cocok buat saya. Rasanya terlalu nelangsa sekali sampai harus berpura-pura menikah dengan seseorang hanya demi selembar surat.

***

Semua opsi di atas menjadi mentah gara-gara saya tidak begitu tertarik untuk tinggal di Australia dengan “gaya” baru. Maksud saya ketertarikan saya dengan Australia adalah karena ketentuan WHV yang fleksibel membuat saya bisa “loncat” kemanapun yang saya mau dengan mudah. Kalau saya sekolah, kan artinya harus menetap di satu tempat.

Selain itu, terkadang ada hal yang nikmat dirasakan karena dilakukan pertama kali dan dalam waktu yang terbatas. Air dari gelas pertama saat kita benar-benar haus memberikan sensai yang berbeda dibanding gelas kelima. Begitupun dengan pengalaman tinggal di Australia. Setahun memang tidak terlalu memuaskan, tetapi sudah cukup buat saya.

Australia merupakan salah satu negara tujuan dari perantauan edisi pertama saya. Setelah menghabiskan waktu 596 hari jauh dari rumah, saya pun ketagihan. Makanya saat masa tinggal di Australia habis saya tidak terlalu ngoyo untuk mencari cara supaya bisa tinggal lebih lama. Toh, masih banyak tempat merantau lain yang bisa saya kunjungi.

Entah sampai umur berapa saya bisa bertahan hidup. Selagi masih bisa merantau, saya pun akan memilih tempat lain yang patut saya lihat dengan mata sendiri ketimbang mendekam di satu tempat, ya, kan?  Eh, tetapi saya masih punya keinginan untuk ke Australia untuk melakukan road trip seutuhnya (berbagi kendaraan dengan orang lain, hitchike, berkemah, dan lainnya) dalam kurun waktu yang panjang tanpa bekerja. Kapan? Kapan-kapanlah.

2016-09-03-14-49-01
cita-cita yang belum terlaksana di Australia, road trip dengan camper van macam ini.

 Kegalauan soal menetap di Australia bukan cuma saya yang mengalami. Simak deh cerita teman-teman saya di sini:

 

Iklan

12 Replies to “Australia, Antara “Ya” dan “Tidak””

  1. Jarak rumah terdekat dari rumahku 20km. Itupun tak berpenghuni. Sementara dari rumah ke jalan raya itu 7km, dirt road. Alhasil kalo pas lagi hujan seperti hari ini, ya terisolasi di rumah sendiri. 😄😄

    Well written Ef.
    Btw, love the last photograph 🙌🙌
    Hehehe

      1. Well, selain kerja, baca buku, nonton tv/film, main ps, mancing (tepat di belakang rumah ada sungai gede), motret, nembak roo di sekitaran farm naik 4×4, pretty much heaps things to do, hehehe.
        Nggak enaknya pas sakit, trus hujan lebih dari 40mil, tamat sudah. Makanya mesti stock up makanan minuman sama obat di rumah. Hehehe

  2. wah asik sekali ya pengalamannya. Work and holiday visa ini gak bisa di extend ya? Cuman sekali seumur hidup?

    Keren juga ya australi mau membuka kesempatan untuk warga Indo. Soalnya setau aku di negara lain gak ada program seperti ini utk Indo. Keren perjalanannya. Sukses terus!! 👍

    1. Hai Mbak Clara, sekarang untuk pemegang WHV dari Indonesia sudah bisa perpanjang asal ikut syarat dan ketentuan yang berlaku. Iya, ini cuma bisa sekali seumur hidup.

      Kalau mau baca soal WHV sila mampir ke sini https://raunround.wordpress.com/2016/01/19/bekerja-sambil-berlibur-di-australia/

      Sampai sekarang sih emang baru Australia yang menjalin kerjasama dengan Indonesia. Mudah-mudahan ada negara lain kemudian hari. Makanya, bagi saya, harus dimanfaatin bener-bener nih mumpung masih muda dan memenuhi persayaratan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s