[WHV] Terjebak Mafia Perkebunan

Berakhirnya musim cherry menjadikan pertanda saya harus kembali pindah ke lokasi baru. Seorang teman menyarankan untuk pergi ke kota Griffith, sekitar 250 km ke arah barat dari Young. Berbekal pengalaman Berkenalan Dengan Cherry selama satu musim cherry saya pun percaya diri untuk mencari pekerjaan serupa di kota yang banyak dihuni “mafia” perkebunan itu.

2016-09-11-11-39-20
Fairey Firefly Historic Display yang terletak di samping pusat informasi Griffith

Griffith dianggap sebagai salah satu pusat penghasil produk pertanian di seluruh Australia. Pertanian di daerah ini berlangsug sepanjang tahun, mereka pun jarang sekali kekurangan pasukan air karena mengandalkan sistem pengairan yang berasal dari sungai Murrumbidgee. Peluang pekerjaan akan banyak, pikir saya saat itu.

Nasib berkata lain, waktu kedatangan saya rupanya kurang tepat karena berdekatan dengan masa libur natal dan tahun baru. Semua pemilik perkebunan memilih untuk mengambil libur panjang pada masa tersebut. Demi menghemat saya menginap di areal perkemahan Lake Wyangan.

baca kisah tentang pengalaman berkemah di Australia: Tenda dan Mobil Sebuah Pelajaran Perjalanan 

Dewi fortuna baru datang setelah pergantian tahun. Seorang kontraktor yang sebelumnya pernah saya kontak menawarkan pekerjaan di kebun bawang. Tawarannya adalah memanen bawang. Setiap satu bin bawang (sekitar 200 kg) dihargai AUD 50. Dia bilang umumnya dalam sehari setiap orang dapat memanen dua bin. Berdasarkan hitungan tersebut maka saya berprospek mendapat AUD 100 per hari.

Hari pertama kerja, sang kontraktor mengajari cara memanen bawang bombay berwarna ungu yang biasanya digunakan untuk salad. Bawang-bawang tersebut sudah berada di atas permukaan tanah karena sehari sebelumnya tanah sudah digemburkan. Pekerjaan saya pun jadi lebih mudah. Tugas saya adalah memotong daun dan juga akar bawang yang kemudian dimasukan ke dalam bin besar.

Seberat-beratnya bekerja memetik cherry, memanen bawang lebih buruk. Australia masih musim panas saat itu, suhu masih mencapai 40 derajat celcius, dan saya harus bekerja di luar ruang. Kebun bawang tersebut tidak memiliki pohon atau tempat berteduh lainnya. Saya hampir dehidrasi karena kepanasan.

Belum lagi selama bekerja saya harus berjongkok, maunya sih duduk saja di tanah tetapi banyak sekali tanaman berduri. Hari pertama saya hanya berhasil mengumpulkan uang hanya AUD 40. Saya harus membagi upah dengan teman yang ikut membantu memenuhi bin saya.

Hari kedua saya datang dengan harapan bisa bekerja lebih baik karena sudah memiliki pengalaman hari sebelumnya. Dengan tekad kuat saya memulai kerja sejak pukul 6 pagi supaya terhindar dari sengatan matahari. Sayangnya, memang agak mustahil bisa memanen bawang sampai dua bin dalam waktu 8-9 jam. Hari itu pun saya hanya berhasil menambah pendapatan AUD 50.

Selesai bekerja saya langsung bilang pada kontraktor untuk berhenti bekerja. Dia nampak nrimo sambil berkata “ya udah enggak apa-apa. Emang pekerjaan ini sulit, kok”. Ia pun menambahkan kalau upah saya akan dibayarkan dua hari kemudian karena hanya tiap Jumat dia mendapatkan bayaran dari pemilik kebun.

Pada hari yang dijanjikan saya mengontak kontraktor dan menanyakan kapan upah saya bisa dibayarkan. Panggilan telepon saya tidak pernah diangkat. Pesan singkat tidak pernah dibalas. Saya panik dan sedih. Jumlahya memang tidak seberapa, tetapi saya merasa berhak atas uang tersebut yang saya hasilkan dengan susah payah.

2016-09-11-11-53-02
produk pertanian dan turunannya unggulan Griffith

Seorang teman yang juga bekerja di kebun yang sama mengabarkan kalau dirinya bertemu dengan si kontraktordi sebuah supermarket. Saat ia menagih upah yang menjadi haknya, si kontraktor berjanji akan membayar pada Senin. Mendengar hal tersebut saya berpikir kalau upah tersebut akan saya dapatkan pada hari yang sama.

Senin pun datang. Saya kembali mengontak kontraktor, sayangnya lagi-lagi tidak ada jawaban. Saya makin panik, sedih, dan kali ini ditambah marah. Seorang teman berasumsi kalau kontraktor segaja mencari pejalan yang kemudian ditawari pekerjaan panen bawang. Kontraktor tahu kalau pejalan pasti akan langsung menyerah pada hari pertama dan tidak menghiraukan upah yang tidak seberapa. Nah, kontraktorlah yang akan menikmati upah para pejalan yang cuek tersebut.

Saya tidak mau diperlakukan seperti itu. Sampai suatu hari saya mendapatkan nomor kontak pemilik kebun. Saya pun curhat kelakuan kontraktornya. Pemilik kebun juga kesal karena dia merasa sudah menjalankan kewajibannya membayar upah pekerja dan kontraktor.

“Alasan saya memakai jasa kontraktor biar tidak disibukan urusan pengupahan pekerja. Tetapi, kok, malah seperti ini jadinya?!” ujar pemilik kebun kesal.

Pemilik kebun pun ikut membantu saya mengontak si kontraktor. Sampai suatu hari ia menelpon saya dan mengatakan kalau si kontraktor akan membayarkan upah tersebut pada Senin pekan berikutnya. Pembayaran akan dilakukan dengan mentransfer upah ke rekening bank saya. Pemilik kebun mengingatkan, kalau sampai pada hari yang dijanjikan tidak ada dana yang masuk jangan segan-segan untuk menghubunginya kembali. Untungnya dana tersebut masuk pada hari Senin dengan total yang seharusnya.

Sebenarnya si pemilik kebun bisa sja berlaku acuh dan tidak membantu saya “mengejar” si kontraktor. Tetapi dia tidak bisa berlaku seperti itu karena ada kekhawatiran saya akan melapor pada ombudsman akan perlakuan tidak menyenangkan yang saya terima. Sebagai pemegang visa bekerja dan berlibur hak saya tentu dilindungi oleh pemerintah Australia. Kalau ada pelanggaran hak seperti yang saya alami pasti usaha pemilik kebun bakal kena imbas karena dianggap berbisnis tidak sesuai aturan.

Saat teman bekerja saya yang kebetulan berkebangsaan Italia mendapatkan upahnya ia pun berceletuk, “mafia itu bukan ada di Italia tapi di Griffith”. Saya cekikikan mendengar ucapannya karena kebetulan sebagian besar penduduk Griffith memang berdarah Italia yang rata-rata bernama “Frank”.

Orang-orang Italia dulu sekali merupakan pekerja di perkebunan di kawasan Griffith. Seiring berjalannya waktu mereka bertambah dan seperti menjadikan Griffith sebagai “Italia kecil”. Budaya dari negeri pasta tersebut cukup terasa di Griffith yang terlihat dari makanan, anggur merah, gelato, juga mafia. Hahahaha…

Teman saya yang lain pun pernah mengalami hal yag sama tidak mengenakannya. Suatu kali dia mendapatkan pekerjaan dari sebuah working hostel (semacam tempat penginapan yang juga menawarkan pekerjaan untuk para pejalan). Dia mendapatkan upah sebesar AUD 15 per jam. Setelah bekerja beberapa minggu ia baru tahu dari si pemilik kebun kalau upahnya adalah sebesar AUD 18 per jam. Rupanya manajemen working hostel mencatut sebagian upah si teman karena merekalah yang menerima pembayaran gaji dari pemilik kebun.

Pengalaman pahit memang guru terbaik. Saya pun pada akhirnya selalu berhati-hati saat mencari pekerjaan. Pengalaman juga yang memberikan saya Trik Terhindar Dari Penipuan Kerja di Australia.

Iklan

3 Replies to “[WHV] Terjebak Mafia Perkebunan”

  1. Mas,, Saya suka tulisannya. informatif banget walaupun dari pengalama pribadi. hanya saja ada stu hal yang ingin saya tanyakan.. saat bekerja untuk AGS kan mas menghilang dari working hostel, itu bagaimana caranya? hehe

    1. hehehe gak papa mbak salah sebut juga.

      Saya cuma disuruh untuk liat shared-house. Saya cuma iyain aja. abis itu enggak dihubungin lagi. mungkin karena saya cuma sendirian jadi mereka mikir juga kali ya ngapain buang tenaga buat satu orang doang.

      tapi temen saya yang enggak betah langsung keluar aja dari rumah. Ya, walaupun saat minta bond balik mereka kena semprot pihak working hostel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s