[WHV] Berkenalan Dengan Jeruk

Sudah tiga minggu saya tinggal di Griffith namun belum ada pekerjaan yang saya jabanin. Sudahlah jangan anggap pekerjaan panen bawang yang hampir kena tipu itu. Anggap saja sebagai pembelajaran soal betapa kerasnya hidup sebagai pekerja sektor pertanian di Australia.

Sebenarnya Griffith tidak kekurangan lapangan pekerjaan, semua jenis perkebunanan buah dan sayur ada di sini. Belum lagi pabrik anggur, beras, juga peternakan berserakan di kota ini. Sayangnya saya belum bernasib baik. Usaha saya mengetuk pintu perkebunan dan menawarkan diri sebagai pekerja belum berbuah manis.

Hingga suatu hari saat saya dan teman perjalanan iseng berhenti di sebuah kebun jeruk dan bertanya pada pemilik kebun apakah mereka membutuhkan tenaga kerja atau tidak, saya pun akhirnya kembali bekerja. Rupanya si pemilik kebun membutuhkan pemetik pada saat itu juga, sontak saja kami langsung mengganti pakaian (enaknya punya “rumah berjalan” semua perlengkapan perang ada di dalam mobil).

Saya lupa jenis jeruk yang dipetik saat itu. Yang saya hanya ingat pada Januari merupakan musim pemetikan jeruk khusus bahan baku jus. Untuk jenis itu, pemetikannya cukup mudah, tidak perlu menghiraukan ukuran, warna, maupun bentuk yang penting tidak ada satu jeruk pun tersisa di pohon.

Baca kisah betapa kejamnya industri pertanian di sini Pesona Semesta

Selama tiga minggu bekerja memetik jeruk saya berpindah dari satu kebun ke kebun lainnya. Setidaknya saya memetik di tiga kebun berbeda. Lah, kok, pindah-pindah? Kekurangan bekerja di lapangan adalah jam dan hari kerja yang tidak menentu. Terkadang saat cuaca bagus kita bisa bekerja sampai waktu yang panjang. Kalau saja sehari sebelumnya hujan lebat, dipastikan keesokan hari tidak akan bekerja karena kondisi tanah terlalu becek. Selain itu, pemetikan juga bisa dihentikan sementara kalau pabrik pemerah jus kebanjiran pasokan.

Gara-gara alasan di atas makanya disarankan untuk memiliki pekerjaan cadangan. Ah iya, memasuki musim jeruk pekerjaan jadi melimpah. Saat saya dan para pejalan lain ngobrol pun biasanya kami saling menyebar informasi kebun mana yang membutuhkan tenaga kerja. Biasanya kalau ada tawaran yang lebih menarik, banyak pejalan akan melepaskan pekerjaan yang mereka lakoni saat itu. Pekerjaan itu pun biasanya ditawarkan pada pejalan lain yang tidak memiliki pekerjaan.

Upah untuk tiap-tiap kebun pun berbeda. Untuk satu bin ukuran sekitar 500 kg upah yang saya dapat saat itu berada di kisaran AUD 25-30. Perbedaan tersebut bergantung pada tinggi pohon dan kemudahan pemetikannya. Begini, untuk pohon yang pendek dan tidak diperlukan tangga untuk memetik jeruk di puncaknya saya diupahi AUD 25. Saat harus menggunakan tangga saya diganjar upah AUD 28 per bin. Nah, kalau pohon dengan buah jarang saya mendapatkan upah AUD 30.

Sistem pengupahan tersebut menurut saya sangat adil. Semakin banyak energi yang dikeluarkan untuk memetik maka imbalannya pun setimpal. Iya dong, kalau pohonnya tinggi kita, kan, harus memanggul tangga dan memindahkannya dari satu pohon ke pohon lain. Hal itu, memperlambat kecepatan bekerja kita. Begitu juga untuk pohon berbuah jarang, waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi bin akan lebih lama dibanding pohon yang penuh buah.

Di ketiga kebun tersebut saya dibayar tunai, tanpa pajak. Sebenarnya agak berisiko, sih, langkah yang saya ambil. Dengan dibayar tunai seperti itu, saya bisa saja mendapat upah di bawah standar karena pemerintah Australia tidak bisa mengawasinya. Tetapi, saat itu saya tidak berpikir ke arah sana, yang penting dapur ngebul.

Lalu, apakah saya diupah rendah? Setelah dihitung-hitung enggak juga. Jadi sistem pengupahan yang saya ceritakan saat ini namanya “kontrak”. Kalau kita pekerja yang cepat dan ulet maka bisa mendapatkan penghasilan yang bagus, sementara kalau lelet, ya, pendapatannya juga seret. Contohnya saya dalam sehari bisa mengumpulkan empat bin, sementara teman yang lain bisa 6-7 bin. Dengan waktu kerja dan harga bin yang sama maka teman saya memiliki penghasilan lebih besar dari saya.

2016-09-11-11-49-26
selesai untuk hari ini

Panen jeruk memiliki masa panen yang cukup terbatas. Maka dari itu, setiap pemilik kebun akan mencari pekerja sebanyak-banyaknya sebelum jeruk-jeruk mereka layu di pohon. Oleh karena itu, saya bertemu banyak pekerja lain dari berbagai macam negara. Namun, terkadang jumlah pekerja yang terlalu banyak justru membawa masalah.

Saya sempat kesal karena pohon yang menjadi jatah saya diambil pekerja lain. Masalahnya pekerja lain itu hanya mengambil jeruk yang mudah dipetik, sementara buah yang ada di dalam dan puncak pohon dibiarkan. Karena berdasarkan aturan semua pohon harus bersih dari buah mau tidak mau saya harus menjulurkan tangan menerobos ranting pohon yang tajam dan juga memanjat tangga.

Seorang teman baik yang melihat keadaan itu menyuruh saya menegur pekerja lain bila melanggar aturan. “Kalau ada yang memetik bagian bawah pohon jatah kamu suruh dia bersihkan bagian atasnya juga, jangan sentuh sama sekali pohon itu,” saran teman saya.

2016-09-11-11-54-28
tiga bayi burung di puncak pohon jeruk. Cantik. pelepas kepenatan bekerja.

Pada minggu ketiga saya memutuskan untuk berhenti bekerja memetik jeruk. Meskipun upahnya tidak jelek-jelek amat, saya memutuskan untuk berisitrahat mengingat tangan saya sudah banyak tergores dan punggung saya selalu sakit saat bangun tidur. Untungnya tidak lama menganggur saya mendapatkan pekerjaan baru yang sangat baik dan membuat cerita buku tabungan saya menarik untuk diperhatikan.

Iklan

18 Replies to “[WHV] Berkenalan Dengan Jeruk”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s