[WHV] Berkenalan Dengan Beras Sebelum Panen

Saya baru membereskan peralatan makan dan menyimpannya di kompartemen mobil. Sejenak duduk santai di kursi kemudi sambil memandang danau Wyangan, banyak burung bermalasan di pinggir danau mungkin mereka juga baru selesai makan siang.

Ponsel berbunyi. Tidak ada nama hanya barisan angka. Orang tak dikenal menghubungi, semoga ada berita baik, harap saya.

“Hi Efi, ini Col. Besok bisa mulai bekerja ya!”

Akhirnya masa itu datang juga. Memang sudah beberapa hari saya menanti panggilan kerja. Mulai detik telepon ditutup saya pun beralih profesi menjadi buruh pabrik beras untuk musim panen 2015. Kelegaan itu menjadi-jadi karena upahnya sangat besar (paling besar dibanding pekerjaan yang saya lakoni selama di Australia) dan masa kerjanya mencapai tiga bulan. Juga saya bekerja untuk perusahaan besar, Australia Grain Storage (AGS) yang merupakan anak usaha dari SunRice produsen beras ternama di Australia. Pengalamannya pasti menarik.

Semua indah pada waktunya. Setelah tiga bulan luntang-lantung maka pada bulan keempat nasib saya berubah. Hal itu bermula ketika saya berkeliling kota Griffith mencari pekerjaan. Selain menyambangi satu-satu kebun untuk mencari pekerjaan, saya mendatangi sebuah working hostel.

Kepada resepsionis saya bilang ingin bekerja. Sayang saat itu tidak ada pekerjaan tersedia. Dia cuma bilang bakal ada pekerjaan baru dalam beberapa waktu ke depan. Oleh karena itu, dia meminta saya untuk mengisi nama dan nomor telpon di selembar kertas. Jika ada pekerjaan saya akan dikontak tapi dengan syarat saya harus menginap di akomodasi mereka. Saya setuju.

Seminggu kemudian saya dipanggil dan dijelaskan kalau dibutuhkan tenaga kerja untuk AGS. Manajer working hostel menjelaskan dengan mata bersinar setiap mengucapkan kalimat “this is one of the best job you can get in Griffith!” Saya ikut sumringah saat si manajer menunjukan slip gaji pekerja tahun lalu yang jumlahnya mencapai 20 ribuan dollar untuk masa kerja sekitar empat bulan.

Seperti yang sudah saya ceritakan di Terjebak Mafia Perkebunan, Griffith merupakan lumbung makanan Australia. Banyak perusahaan besar yang memiliki pabrik di sekitar kota ini. Selain bekerja untuk SunRice, bekerja di winery (pabrik pembuatan wine) pun sangat menarik. Biasanya perekrutan pekerja musiman untuk winery dilakukan tiap Oktober/ November. Sementara SunRice baru mencari pada Januari.

Manajer meminta saya mengisi formulir online. Ia mengatakan akan ada sesi wawancara dalam beberapa hari ke depan. Kece. Pada hari yang dijanjikan saya dan lima pejalan asal Jerman pergi ke kantor AGS di kota Leeton sekitar 40 menit dari Griffith. Di situlah saya bertemu Col, AGS Area Manager. Wawancara berlangsung singkat, pertanyaannya apa saja saya lupa tetapi mudah dijawab karena sempat baca-baca sedikit soal perusahaan.

Col juga menjelaskan apa saja yang akan menjadi tugas saya selama musim panen di AGS. Saat itu, tidak ada satupun omongan Col yang tersimpan di memori kepala saya. Pria paruh baya itu tidak bisa berbahasa inggris dengan baik. Sebenarnya bisa sih, saya cuma frustasi sama aksen yang dia pakai, sulit untuk dimengerti. Kemudian hari saya baru tahu kalau bukan cuma saya yang sulit mengerti Col, teman kerja yang asal Australia pun selalu mengucap “pardon” ketika mereka berbicara dengan Col.

Setelah wawancara kami diharuskan melakukan tes kesehatan di sebuah klinik. Wah, benar-benar bonafide nih perusahaan. Untuk segala tes yang dilakukan saya tidak dipungut biaya sama sekali. Padahal sebelum mendapatkan pekerjaan ini saya sempat berniat melamar pekerjaan di pabrik pengolahan daging di South Australia, namun saya harus vaksin dengan biaya yang mencapai AUD 300 yang harus dibayar sendiri. Duh, males banget.

Good luck at work! #merantau2014 #australia #labour #work #workandholiday

A post shared by Efi Yanuar (@efi.yanuar) on

Pada hari pertama kerja barulah saya bisa mengerti apa yang dikatakan oleh Col. Tempat kerja saya berada di Whitton, sekitar 30 menit dari Griffith, pukul tujuh pagi saya sudah sampai dan menemui Site Manager untuk Whitton, Graham. Gaya bicara Graham berada di bawah Col, lebih mending sedikit walau saya tetap saja terus-terusan bilang “excuse me?“.

Graham menjelaskan musim panen baru akan datang sebulan lagi. Tugas kami sebelum panen adalah membersihkan bin penyimpanan beras. Saya kira bin yang dipakai sama seperti panen jeruk, eh ternyata beda banget. Satu bin paling kecil yang ada kapasitasnya mencapai 600 ton.

Baca kisah saya bekerja sebagai pemetik jeruk di perkebunan Australia.

Tapi, menurut Graham, saya tidak akan ikut bersih-bersih, cuma pekerja yang berstatus “shed operator” yang kebagian pekerjaan itu. Saya sendiri diposisikan sebagai “weigh bridge operator” yang kerjanya didalam ruang berpendingin dan menimbang berat sebelum dan sesudah truk pembawa beras yang datang. Tetapi pekerjaan ini tidak jadi saya lanjutkan gara-gara saya dipindah jadi shed operator.

Agak kecewa sih, karena saat masa panen, jam kerja di weigh bridge lebih panjang dibanding shed operator. Sementara itu, ada posisi lain yaitu “quality control” yang juga lebih ringan tetapi waktu kerja lebih panjang. Sayang saya tidak berjodoh dengan posisi itu.

Bekerja sebagai shed operator memungkinkan saya untuk bekerja fisik. Saya suka karena tidak sekadar duduk, selain itu selalu ada teman-teman lain jadi bisa saling bertukar cerita dan juga bisa diajak berantem (nanti saya ceritakan terpisah).

Dibayar Untuk Bersantai

Hampir sebulan kami membersihkan sekitar 30-an bin dari enam shed yang ada di Whitton. Dari yang bangunannya baru dan kokoh sampai yang berumur kami bersihkan. Saat bekerja kami diberikan seragam khusus supaya tidak bersentuhan langsung dengan serangga, kami pun disediakan obat semprot anti serangga. Seorang teman bernasib sial karena tidak memakai seragam, dia digigit serangga dan akibatnya sekujur tubuhnya bentol-bentol merah. Saya dibuat merinding gara-gara melihat totol itu juga kaget karena dia menunjukan area pantatnya yang paling parah terkena gigitan serangga.

Dikarenakan area kerja yang berdebu dan berisik, kami diwajibkan menggunakan masker juga sumbat telinga. Sarung tangan plus sepatu boots dengan pelapis baja pun disediakan. Semua perlengkapan tersebut dibagikan gratis untuk para pekerja.

New job. New outfit. #merantau2014 #australia #workandholiday #but #too much #work

A post shared by Efi Yanuar (@efi.yanuar) on

Sebelum sampai di Australia saya dengar kalau tidak ada toleransi akan kemalasan dalam bekerja. Kalau bos lihat kita ogah-ogahan kerja, bisa langsung dipecat. Makanya, saya berusaha banget kerja serius di AGS. Tetapi ternyata kadang kerjanya enggak serius-serius amat. Pernah suatu kali Graham meminta kami untuk menurunkan kecepatan kerja.

“Kalian kerjanya terlalu cepat, santai aja. Musim panen masih dua minggu lagi. Dengan kecepatan seperti ini bisa-bisa semua bin selesai dibersihkan dalam satu minggu ke depan. Nanti mau mengerjakan apa lagi?”

Lucu, pikir saya. Dari tiga belas pekerja yang ada saat itu, tiga di antaranya pernah bekerja tahun sebelumnya. Dan, berdasarkan pengalaman mereka, tim musim panen 2015 lebih kece dibanding dari tahun sebelumnya. Apakah karena saya menjadi bagian dari tim ini? Bisa jadi sih. Hehehe…

Setiap hari kami mengecek kelayakan bin untuk menyambut musim panen. Kami harus membersihkan ventilasi yang ada di dalam bin, memastikan jalur udara tidak tersumbat. Di beberapa bagian kami pun memperbaiki kawat jala ventilasi yang berlubang, membuang gabah padi yang sudah membusuk, membunuh ular (daripada dibunuh duluan).

Meskipun kami sudah berupaya melambatkan kerja tetap saja kami selesai lebih dulu ketimbang datangnya musim panen. Graham yang kehabisan ide akhirnya menyuruh kami melakukan hal-hal yang tidak ada di dalam kontrak kerja. Saya beberapa kali kebagian mencuci truk dan traktor. Pernah juga disuruh membersihkan ruang istirahat. Ruangan sebesar 4×4 meter itu saya bersihkan dalam waktu 1,5 jam. Sengaja saya pelan-pelan membersihkannya karena saya yakin tidak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukan.

#merantau2014 #australia #whv

A post shared by Efi Yanuar (@efi.yanuar) on

Dalam kontrak kerja disebutkan kalau status saya adalah pekerja lepas (casual). Berdasarkan hukum Australia, pekerja casual memiliki jam kerja maksimal 38 jam dalam seminggu. Nah, di sinilah menariknya bekerja di perusahaan besar dan taat pajak, mereka enggak bakal main-main saat mengupah pekerjanya karena semuanya tercatat dan dilaporkan ke pemerintah. Bisa berabe urusannya kalau mereka main curang.

Saya ikut menikmati keuntungan dari ketaatan perusahaan terhadap aturan. Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, status saya sebagai pekerja casual hanya diperbolehkan bekerja maksimal 38 jam seminggu. Namun, AGS mempekerjakan saya 40 jam dalam seminggu. Konsekuensinya apa? Saya dapat tambahan gaji, tapi dengan nilai yang berbeda untuk tiap jamnya.

Begini, dalam kontrak kerja dijelaskan upah saya sekitar AUD 20-an per jam. Nah, angka tersebutlah yang rate yang saya dapatkan kalau bekerja 38 jam. Lalu dua jam sisanya dikenakan pinalty rate atau overtime rate sebesar 1,5 kali upah normal. Nah, untuk dua jam sisanya upah saya menjadi AUD 30 per jam. Biasanya pinalty rate tersebut berlaku pada hari kerja biasa, Senin sampai Jumat. Pinalty rate bakal jadi dua kali lipat kalau kita bekerja pada akhir pekan menjadi AUD 40 per jam. Bagi mereka yang bekerja pada shift malam pun mendapatkan upah dua kali lipat dibanding yang bekerja pada siang hari.

Asik ya? Eh belom sampai di situ. Karena status kami sebagai pekerja casual kami mendapat insentive tambahan sebesar 25% dari upah dasar. Artinya saya mendapat tambahan AUD 5 per jam. Jadi total upah saya per jam sudah AUD 25. Dikarenakan lingkungan kerja yang berdebu kami mendapat insentif tambahan sebesar AUD 0,85 per jam. Kalau ditotal semuanya sekitar AUD 26 per jam. Kalau dibandingkan dengan tenaga yang dikeluarkan, gaji saya kali ini terasa sangaaaaaaaat besar.

Selain gaji, pemerintah Australia mewajibkan perusahaan untuk membayarkan jaminan hari tua bagi pekerjanya atau yang sering disebut super anuation. Besaran kontribusi perusahaan adalah 9% dari jam kerja biasa yang 38 jam, lembur enggak dihitung.

Saya mendapatkan pekerjaan ini dari sebuah working hostel. Satu dari beberapa cara mencari pekerjaan di Australia.

Melihat prospek penghasilan sebesar itu saya pun memutuskan untuk menyewa kamar kos dan mengucapkan salam perpisahan pada area perkemahan danau Wyangan. Walaupun saya mendapat pekerjaan dari working hostel saya ogah menginap di sana karena dua alasan.

Satu, karena lokasinya jauh dari tempat kerja. Dua, karena harganya mahal. Saya berhasil “menghilang” dari radar manajer working hostel, sayang teman-teman saya lima orang pejalan asal Jerman yang saya sebut di atas terjebak dan mereka harus menginap di rumah yang telah disediakan oleh manajer working hostel. Menurut teman-teman saya itu tempat tinggal mereka sungguh tidak layak huni dan harga sewanya tergolong mahal. Saya jadi berpikir, mungkin karena saya hanya sendirian maka si manajer hotel malas buang-buang tenaga memaksa saya untuk tinggal di tempatnya.

Kenyamanan diri sendiri patut diutamakan, bukan?

Iklan

19 Replies to “[WHV] Berkenalan Dengan Beras Sebelum Panen”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s