[WHV] Berteman Dengan Beras

Musim panen beras yang dinantikan rupanya datang terlambat. Kabarnya panen agak sedikit tertunda gara-gara pasokan air yang kurang mengakibatkan petani menunda proses penanaman yang berujung pada melambatnya waktu panen.

Ketika masuk waktu panen mulailah banyak truk datang ke pabrik penyimpanan beras kami. Wah, saya tegang sekaligus deg-degan karena akhirnya menjadi shed operator setelah bosan membersihkan bin selama sebulan terakhir.

Baca cerita Berkenalan Dengan Beras Sebelum Panen

Berdasarkan isu yang beredar, katanya saya adalah cewek pertama yang bekerja sebagai shed operator. Biasanya mereka mempekerjakan cewek di weigh bridge atau quality control. Bukan apa-apa dikarenakan pekerjaan sebagai shed operator memang butuh tenaga cukup besar. Teman saya yang pernah bekerja sebagai operatortahun sebelumnya pun khawatir apakah saya cukup bertenaga mengingat ukuran badan saya tergolong kecil untuk ukuran Australia (patut dipahami cewek Australia tidak melulu seperti Miranda Kerr).

Kami dipasang-pasangkan untuk bekerja di satu pit. Jadi dalam satu shed biasanya ada beberapa pit. Nah, setiap pasangan bertanggung jawab untuk satu atau dua pit secara bersamaan. Satu pekerja bertanggung jawab untuk menyalakan mesin distribusi beras, sementara pekerja lain bekerja dengan thrower di atas bin. Bingung ya?

Pabrik kami merupakan tempat penyimpanan bulir dan juga bibit beras. Setiap petani akan mengirimkan hasil panennya dengan truk berkapasitas 20-40 ton. Pertama kali datang, pekerja di quality control akan mengambil sampel beras untuk dihitung kadar kelembapannya. Kemudian truk berpindah ke weigh bridge untuk ditimbang berat total. Lalu, pengemudi truk akan di arahkan ke shed yang telah ditentukan. Masing-masing shed memiliki jenis beras yang berbeda. Selain itu, beras pun dibagi lagi tergantung peruntukannya ada yang untuk bibit juga komersial.

Setiap shed memiliki beberapa pit. Nah, di pit lah pengemudi truk akan menumpahkan isi muatannya. Dasar pit terbuat dari teralis besi yang memungkinkan beras jatuh ke bagianbawah tanah pit dan kemudian ditransfer ke mesin yang akan membawa beras ke bin yang dituju.

Operator pertama akan berada di pit mengecek jenis beras apakah sesuai dengan lokasi penyimpanan. Jika cocok, operator pertama akan menyalakan semua mesin distribusi beras. Tidak hanya itu, operator pertama pun harus membuang gabah yang tidak lolos seleksi penyimpanan. Kadang sampah gamba bisa sampai puluhan kilo gram. Begitu seterusnya sampai seluruh muatan truk habis.

Operator kedua memiliki tanggung jawab berbeda. Dia akan berada di atas bin mengendalikan thrower yang memuntahkan beras. Bayangkan saja selang sebagai thrower, alih-alih air selang mengeluarkan beras. Operator kedua harus memastikan beras tertata rapi di dalam bin.

Sometime at work #merantau2014 #australia #whv

A post shared by Efi Yanuar (@efi.yanuar) on

Berbeda dengan air yang menempati ruang, beras tidak demikian. Kalau operator kedua kurang cekatan menggeser thrower ke kiri dan kanan, bisa-bisa permukaan beras di dalam bin berundak-undak. Hal itu tidak diperbolehkan karena akan memengaruhi tingkat kelembapan beras selama penyimpanan. Nah, maka tugas operator kedua tidak bisa dianggap sepele. Kalau permukaannya tidak rata maka kami harus meratakannya dengan sekop secara manual. Dan, itu sangat melelahkan.

Graham mengatakan saya hanya akan bekerja sebagai operator pertama mengingat thrower terkadang cukup berat untuk dikendalikan. Eh ternyata di beberapa pit ada thrower yang sangat mudah dioperasikan bahkan hanya butuh satu tangan. Saya suka berada di posisi operator kedua karena bisa seperti bermain game ketangkasan. Harus pintar mengatur posisi thrower supaya beras berhasil ditembakan ke posisi yang diinginkan.

Teman sekamar dan sekaligus rekan kerja saya, Oli, bilang kalau musim panen datang biasanya kami akan bekerja sampai larut. Ia menceritakan misim panen tahun lalu bahkan mereka kadang tidak sempat mengambil jatah makan siang karena truk datang berturut-turut. Meski melelahkan, Oli berharap tahun ini pun kami dapat bekerja untuk waktu yang panjang. Sudah tentu kami berharap akan ada lembur yang rate upahnya besar itu.

Sayangnya harapan kami tidak terkabul. Musim panen kali ini tidak terlalu bagus. Produksi pertanian yang menurun memastikan tonase beras yang disimpan pun ikut menyusut. Saking jarangnya, kami terkadang bisa tertidur sambil menunggu truk datang. Benar-benar hampir makan gaji buta deh. Aturannya adalah kami bekerja delapan jam setiap hari.

Kami memulai hari pukul delapan pagi, pukul sepuluh kami mendapat jatah istirahat 15 menit yang biasa disebut “smoko” oleh orang Australia. Pukul dua belas siang kami berhenti untuk makan siang selama tiga puluh menit. Dua jam kemudian kami mendapat smoko, dan setelah dua jam bekerja maka tuntaslah hari kami. Biasanya kami menunggu waktu smoko untuk beristirahat, namun karena kami kebanyakan menunggu smoko tidak lagi menarik kecuali buat teman-teman saya yang merokok.

Teman kerja saya, mengajarkan cara agar mendapatkan tambahan jam lembur. Ia menyarankan agar saya bertanya pada pengemudi truk apakah ia akan datang kembali pada hari itu, jika jawabannya “ya” mintalah pada si pengemudi untuk datang sekitar pukul 4.15 sore sebelum jam kerja selesai.

Proses pengosongan truk bermuatan 20 ton memakan waktu sampai 20 menit, sementara untuk memastikan semua beras tertata di dalam bin butuh waktu tambahan 15 menit belum lagi ditambah urusan bersih-bersih pit yang butuh waktu sampai 15 menit. Ujung-ujungnya kami selesai bekerja pukul lima sore.

Biasanya supir truk setuju dengan permintaan kami, itung-itung bantu teman, katanya. Oleh karena itu kami lebih suka bersantai-santai di pagi hari dan bersusah-susah di sore hari. Suatu kali sepasang operator tidak bekerja sama sekali di pagi hari, namun saat detik-detik terakhir jam kerja datanglah truk bermuatan 40 ton. Mereka pun sumringah. Rezeki baik untuk mereka.

Iklan

3 Replies to “[WHV] Berteman Dengan Beras”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s