Bertahan di Belantara Jakarta

Mendekati masa-masa akhir menetap di Australia saya sering gelisah. Masalah utamanya adalah saya haru mulai menata gaya hidup baru di tanah air. Sempat bingung apakah harus tinggal di tempat orang tua atau menyewa kamar sendiri. Tetapi di mana?

Jakarta menjadi pilihan utama karena di sanalah keluarga saya menetap. Lahir dan besar di Jakarta tidak pernah membuat saya benar-benar cinta kota metropolitan itu. Malah saya selalu berharap bisa tinggal di desa jauh dari hingar bingar sumpek Jakarta.

Perantauan selama 596 hari tentunya membentuk gaya hidup baru. Dan yang selalu menjadi momok adalah gaya itu tidak sesuai dengan nilai yang dianut orang tua, terutama ibu. Kegundahan muncul dan berujung pada ketakutan saya akan mati kutu di kota kelahiran itu.

Terbiasa untuk tidak memiliki rencana saya pun menenangkan diri dengan mantra, “let it flows“. Rapalan mantra tersebut rupanya cukup memberikan asupan tenaga untuk bertahan di kerasnya ibu kota.

Jakarta pada akhir November 2015 akhirnya kembali menyambut kedatangan saya. Riuhnya suasana bandara Soekarno-Hatta seakan membangunkan bagian jiwa Jakarta dalam diri saya. Ditambah sebotol teh kemasan dingin yang selalu diminum apapun makanannya itu menemani saya menunggu keluarga yang menjemput saya di terminal yang salah.

Touch down home after 596 days away. #merantau2014 #jakarta #travel #backpacker

A post shared by Efi Yanuar (@efi.yanuar) on

“Hai Jakarta, saya pulang!”

Kembali gagap budaya?

Jawabannya tidak. Entah mengapa semua terasa sangat normal. Paling yang membuat tercengang saat itu adalah banyaknya bangunan baru di sekitar tempat tinggal. Itu saja. Saya malah tidak kesulitan menggunakan tangan kosong saat makan nasi padang.

Sebenarnya sebelum sampai Jakarta, saya sempat singgah sebentar di Bali. Pulau itu memang tujuan paling tepat bagi saya yang baru selesai Work and Holiday (WHV) di Australia. Mengingat banyak sekali backpacker di Bali membuat saya merasa berada dalam elemen yang tepat. Selain itu, pasti kalian setuju kalau atmosfer di pulau tersebut sungguh ajaib dan menenangkan.

Keberadaan saya di Bali kurang dari 24 jam, namun saya berhasil menyantap nasi campur, sate ayam, gule kambing, mie goreng dan juga kerupuk. Bercengkrama dengan resepsionis hostel pun membuat saya bisa pelan-pelan beradaptasi dengan Indonesia.

Setelah Bali saya memutuskan terbang ke Bangkok, Thailand. Satu keputusan yang juga sangat tepat saya lakukan dalam masa transisi peralihan budaya. Kunjugan kali itu membuat saya menetapkan Thailand sebagai rumah kedua. Maksudnya saya bisa melihat diri ini untuk tinggal dalam kurun waktu yang lama di negara itu. Sebulan di Thailand berhasil membangun kesiapan mental untuk kembali ke Jakarta.

Apa yang salah dengan Jakarta sampai saya begitu enggannya pulang?

Polusi, macet, padat, panas, kotor, dan sederet daftar panjang ketidaksukaan lainnya menjadi alasan saya ogah menjejakan kaki di Jakarta. Tetapi ibu saya bilang kalau kita harus menerima keadaan dan tidak boleh terlalu menjelek-jelekan Jakarta sebegitu dalamnya. Saya sudah pasti tidak setuju dengan pernyataan beliau, karena saya punya pilihan untuk keluar dari kota yang tidak nyaman itu.

Friksi pun tercipta. Saya benar-benar tidak nyaman untuk tinggal di Jakarta. Bisa dikatakan selama beberapa minggu saya menyesali keputusan untuk kembali ke Jakarta. Tidak seharipun saya menggunggah senyum di rumah orang tua. Sampai suatu hari saya harus berdamai dengan keadaan untuk tetap tinggal bersama ibu bapak dan adik. Alasan saat itu adalah saya mau menghabiskan banyak waktu dengan keluarga sebelum perantauan kedua dimulai.

Saya juga sempat mencoba untuk menghidupkan kembali gaya hidup selama di Jakarta, yaitu duduk berjam-jam di coffe shop yang punya fasilitas wifi kencang. Bedanya dulu saya duduk untuk membuat berita, nah sekarang tidak ada kerjaan penting yang harus diselesaikan. Maka dari itu, kebosanan pun muncul.

Untungnya Jakarta punya banyak kegiatan menarik yang bisa dilihat dan kunjungi. Beberapa kali saya menghabiskan waktu untuk menonton film di sejumlah lembaga budaya kedutaan asing, pertunjukan seni yang diadakan oleh banyak lembaga swasta  juga museum. Untuk yang terakhir malah hampir setiap akhir pekan saya berkunjung ke museum.

Sampai suatu ketika akhirnya tercipta ide untuk jualan. Bersama dengan ibu dan adik, kami merintis usaha bersama. Memberdayakan kemampuan masak ibu yang mumpuni maka lahirlah online shop masakan khas minang, Dapur Bundo. Ibu bertugas sebagai tukang masak, semantara saya dan adik berperan sebagai penjaring pembeli dan juga kurir karena basis penjualan kami mengandalkan jaringan internet.

Walau sempat uring-uringan di awal, saya pun bisa bertahan tinggal selama tujuh bulan di Jakarta. Ya selama itu pula saya tinggal di bawah atap rumah orang tua. Bukan hal yang mudah untuk berdamai dengan keadaan, namun saya mampu bertahan.

Iklan

2 Replies to “Bertahan di Belantara Jakarta”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s