Ada Apa Dengan Anjing?

Seumur hidup, baru di Thailand keseharian saya dikelilingi banyak anjing. Di setiap tikungan mudah sekali menemukan anjing baik dimiliki seseorang maupun liar. Dari kondisinya, meskipun liar mereka masih terlihat bersih dan sehat. Jarang menemukan yang bau.

Setiap melihat anjing saya coba menghindar. Jaga jarak. Terkadang jalan terburu-buru. Beberapa kali pesan dibisikan teman perjalanan untuk tidak menunjukan rasa takut di depan anjing, mereka bisa cium ketakutan itu dan akan makin menggertak. Pada dasarnya manusialah makhluk yang paling ditakuti semua makhluk hidup. Anjing menggonggong sebagai bentuk perlindungan diri, sebenarnya mereka takut juga pada kita manusia.

Sudah berbusa teman perjalanan mengingatkan saya akan hal itu. Tetapi saya tetap takut. Sampai ia bercanda, suatu saat nanti saya akan dikurungnya dalam kamar bersama anjing peliharaannya. Tujuan dia supaya saya sadar betapa lucu dan menggemaskannya makhluk ciptaan bertaring dan berkaki empat itu.

Ujian datang saat saya tinggal di lokasi di mana si empunya properti memiliki tiga anjing peliharaan. Bukan itu saja tiga anjing ini punya dua teman sepermainan yang sering mampir ke rumah mereka. Celaka mereka ada lima!

Pertama kali masuk pekarangan, ketiga anjing menggonggong. Saya pun menciut. Sungguh cobaan maha berat, harus bersikap berani walaupun membopong ransel belasan kilo. Tidak ada tenaga untuk memompa adrenalin agar berani menghadapi gerombolan anjing itu.

Teman perjalanan dan satu teman sekamar saya terus berkata “they are so cute!” dan ditambah pertanyaan “what is wrong with you?” setiap saya mengernyit dan berjalan di belakang mereka setiap ada anjing mendekat.

Karena kamu islam, jadi kamu takut anjing. Itu hipotesis yang keluar dari mulut teman perjalanan saya. Berkilahlah saya. Fobia itu sama sekali tidak berhubungan dengan agama yang dianut.

Mari kita lihat bersama dalam perspektif saya. Saya tidak pernah tahu kalau menggonggong itu cara anjing bertahan, saya kira itu tanda untuk menyerang. Tentunya saya takut mendengar suara mereka yang menyalak, ditambah mereka suka pamer gigi tajamnya. Imajinasi liar pun tumbuh, bagaimana kalau gigi itu menancap di badan saya, nanti berdarah atau mungkin daging saya dimakannya. Sumpah sangat menakutkan.

Kalau soal urusan agama, saya sih tidak coba menerka-nerka, sebab membaca kitab suci pun jarang, bahkan terjemahannya pun tidak pernah saya buka. Yang saya tahu anjing dalam islam dianggap haram. Dulu saya berpikir bahwa segala hal yang berhubungan dengan anjing haram, termasuk untuk menyentuhnya. Duh, takut sekali masuk neraka.

Salah satu contoh ke-absurd-an menjalankan syariat islam yang ada kaitannya dengan anjing terjadi di Malaysia. Baca deh, di sini.

Belakangan saya baru ngeh kalau yang diharamkan adalah air liur anjing, bukan anjing keseluruhan. Tetapi, entah kenapa saya baru sadar belakangan. Sepertinya orang tua saya juga mempengaruhi persepsi saya akan hewan yang satu itu. Sedari kecil selalu ditakut-takuti kalau nakal akan digigit anjing. Mungkin pola pengajaran “menakut-nakuti” itu memudahkan mereka untuk menjauhkan saya dari jilatan api neraka anjing. Dengan begitu mereka tidak perlu lagi berlelah-lelah untuk menjelaskan mengapa air liur anjing haram. Dan tidak perlu repot mengajarkan cara mensucikan diri dari najis air liur binatang tersebut.

Rupanya rasa takut juga dimiliki teman-teman saya yang lain. Mereka kadang menjerit ketakutan saat melihat ada anjing dari  kejauhan. Usut punya usut, rupanya orang tua kami memiliki pola pengajaran yang sama.

Salah satu prestasi yang patut saya banggakan dari perantauan kemarin adalah saya mulai berani berinteraksi dengan binatang, terlebih dengan anjing. Masih ingat kali pertama saya memegang kulit anjing. Walaupun sentuhan pertama itu cuma terjadi beberapa detik rasanya saya bangga sekali telah mengalahkan rasa takut menahun tanpa dasar tersebut. Dan, saya pun meyesal mengapa perkenalan tersebut tidak terjadi lebih cepat.

Afterwork refreshment with Mumu and Lucy. #merantau2014

A post shared by Efi Yanuar (@efi.yanuar) on

Sekarang saya berniat memiliki anjing sebagai hewan peliharaan. Tidak ada pengetahuan sama sekali, sih. Tapi, tak perlu khawatir karena pasangan saya seperti seorang dog whisperer. Untuk urus mengurus anjing biar menjadi tanggung jawabnya, sedangkan jatah saya adalah bermain-main dengan si anjing. hihihi…

Iklan

9 Replies to “Ada Apa Dengan Anjing?”

  1. Saya udah pernah diserang anjing 6 kali, ada beberapa bekas gigitan dan cakaran anjing di badan sampe sekarang. Tapi kalo suka, ya gimana..

    Salut, akhirnya berani buat pelihara anjing. Seru buat diajak main atau jalan-jalan 😁

    1. wadaw… serem juga sampe digigit gitu ya Mas Iyos. Tapi bener juga sih kalau udah sayang mah, mau gimana lagi.

      mau peliharanya yang lucu-lucu dan manja gitu mas. kemarin sempat ciut karena digonggongin anjing campuran labrador sama pitbull. tambah ciut pas liat kakinya berotot. hiiiii…serem.

      1. Oh iya. Tinggal di Jakarta kan ya? Setiap Minggu pagi ada komunitas pencinta anjing gitu di Taman Semanggi loh. Anjing kecil yang lucu ada, yang besar dan gagah (baca: sangar) juga ada. Mungkin tertarik main-main. Hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s