Memanjakan Lidah dengan Kuliner Thailand

Rekan perjalanan pernah bertanya apakah saya bisa melihat diri sendiri tinggal di Thailand dalam jangka waktu yang lama. Dengan yakin saya menjawab “bisa!”.

Pesona negeri siam itu memang tidak bisa dilawan. Penduduknya yang ramah dan tidak kepa noanya-nanya urusan pribadi orang (kalau ini kayaknya karena saya enggak mengerti bahasa mereka. hihihi…), lingkungannya pun bersih dan banyak tempat ruang terbuka hijau.

Selain itu yang membuat saya betah berlama-lama di Thailand adalah penganan khasnya yang jarang bikin lidah kecewa. Sebagai orang yang doyan jajan, Thailand memang surga buat saya. Seperti di Indonesia, banyak sekali pedagang yang berjualan di pinggir jalan dan variannya banyak sekali. Saya tidak pernah kecewa saat membayar setelah melahap semua pesanan.

Yah, terkadang saya kesulitan juga sih saat mencari makanan. Daftar menu yang selalu dalam bahasa Thailand dan keterbatasan bahasa membuat tingkat kesulitan memilih makanan cukup tinggi. Terlebih teman perjalanan saya tidak bisa makan udang. Hal tersebut bikin energi makin terkuras saat harus menjelaskan masalah alergi tersebut.

Tidak hanya sekali kami harus berdiri di depan warung dan melihat apa yang disajikan penjual. Kami pun tak segan melihat piring pembeli lain, kalau terlihat menarik kami akan menjadikannya sebagai rujukan kepada penjual. Yah mau bagaimana lagi coba?

Daftar makanan Thailand favorit saya sangat panjang. Hanya saja saya enggak tahu namanya dan tidak sempat difoto. Hehehe… Meski demikian setidaknya ada beberapa yang sempat saya abadikan dan dapat dijadikan daftar makanan yang harus saya coba pada kunjungan berikutnya ke Thailand.

1.Koh Soi

2016-10-23-09-42-38
Koh Soi khas Chiang Mai

Saya tahu soal keberadaan Koh Soi dari situs http://www.travelfish.org dari berbagai referensi mengenai Chiang Mai, penganan ini disarankan untuk dicoba. Dari ulasan yang ditulis tampak menggiurkan, oleh karena itu saat berkeliling di pasar dan melihat ibu-ibu menjual Koh Soi saya langsung memesan.

Loh, kok, tahu si ibu jualan Koh Soi? Ohh,,, itu karena si ibu tulis menu besar-besar dalam huruf latin. Hehehe….

Saat mengudap Koh Soi saya seakan berada di rumah. Itu loh, kuahnya bersantan, berbeda dengan masakan khas Thailand lainnya yang cenderung berkuah bening. Koh Soi sebenarnya salah satu varian sup mie dengan daging bebek, ayam, atau babi. Favorit saya adalah daging bebek karena lebih gurih dan cocok dengan kuahnya. Saat disajikan, Koh Soi dilengkapi dengan irisan jeruk nipis juga acar bawang merah serta asinan sawi. Duh, tambah nikmat deh saat ditambah sambalnya yang pedas. Untuk menyantapnya hanya butuh THB 40.

Oh,,, saya ingin ke Chiang Mai sekarang juga!

2.Mamee dan Seafood

2016-10-23-09-32-23
Mie instan dengan tambahan seafood

Makanan satu ini lagi-lagi berbahan baku mie. Namun yang digunakan adalah mie instan kemasan. Kalau cuma makan mie instan tidak ada istimewanya, tapi kalau ditambah seafood segar seperti udang, cumi, dan ikan siapa yang bisa menolak. Aku, sih, no!

Untuk yang satu ini saya harus membayar THB 70. Mahal! Sekali-sekali tidak masalah lah ya. Varian rasa mie instan yang pas dengan seafood adalah “tom yum”. Rasa asam ciri tom yum pas sekali untuk mengimbangi amis seafood.

3. Masakan Vegetarian

2016-10-23-09-35-46
Yang berwarna hitam adalah batang jamur yang rasanya seperti gepuk daging.

Mendengar kata vegetarian, kok, kayaknya terbayang sayur-sayuran yang membosankan ya? Ternyata anggapan saya salah. Suatu kali masuk ke tempat makan yang memiliki banyak pilihan masakan siap saji. Sebenarnya saya tidak tahu kalau tempat tersebut hanya menyediakan menu vegetarian. Pilihan mampir ke tempat tersebut cuma karena berpikir hanya perlu tunjuk-tunjuk makanan yang sudah tersedia tanpa harus buang banyak tenaga untuk bertanya.

Karena semua makanan tampak menarik saya pilih tiga jenis makanan pendamping nasi. Entahlah apa saja yang saya pesan, tetapi YA TUHAN semuanya enak! Siapa sangka batang jamur terasa seperti gepuk daging? Terus ada juga semacam sosis yang dimasak dengan saus dan terasa sangat manis gurih. Duh, mak! Surga dunia sekali saat itu. Dan tebak saya bayar berapa? Cuma THB 40 untuk seporsi nasi dan tiga makan pendampingnya.

Saran saya kalau mampir ke kota dimanapun di Thailand jangan sungkan untuk bertanya di mana lokasi rumah makan vegetarian terdekat.

4. Bubur

2016-10-24-16-03-02
Bubur encer mengenyangkan

Perjumpaan saya dengan bubur ini terjadi ketika pagi-pagi berjalan di Phra Sumen Road, Bangkok, yang tidak jauh dari area backpacker, Khao San Road. Penjualnya ibu berkaca mata yang memiliki kemiripan muka dengan saya (anggap saja informasi penting). Dia berjualan persis di mulut gang menuju masjid di daerah tersebut.

Kalau di Jakarta umumnya bubur nasi cukup kental, yang satu ini malah encer. Rasanya gurih karena dimasak dengan ceker ayam. Isiannya terdiri ayam rebus suwir, bawang goreng, dan seledri. Supaya ada kriuk-kriuknya, si ibu penjual menambahkan semacam bihun goreng garing di atasnya. Yang bikin saya jatuh hati adalah sambal dan jahe serut yang jadi pendampingnya.

Seporsi bubur ini kalau tidak salah ingat hanya THB 20-25. Biasanya saya membayar THB 30 karena spesial pakai telur.

5. Masakan Halal

2016-10-24-16-05-10
Menu halal bercita rasa Melayu

Menemukan makanan halal di Thailand sepertinya tidak terlalu sulit. Meski penganut Islam tidak banyak tetapi mereka tersebar di mana-mana. Kalau di Bangkok, sih, jangan ditanya ya, namanya juga ibu kota.

Di dekat Khao San Road terdapat pemukiman muslim. Nah, tempat tersebut menjadi surga makanan halal. Salah satu langganan saya adalah ibu penjual nasi di pintu masuk gang ke arah masjid. Mulai berdagang pukul 10 pagi warung si ibu selalu ramai apalagi menjelang makan siang. Memiliki konsep seperti warteg di Indonesia, si ibu menyediakan banyak pilihan makan siap dipilih. Enaknya, tiap hari pilihan menunya berubah jadi tidak bikin bosan. Suatu kali saya makan cumi tumis pete. OH WOOOW!!! Untuk sekali makan siapkan uang sekitar THB 50-60.

7. Ikan Bakar Garam

2016-10-24-16-10-13
Ikan mandi garam

Sewaktu melintas di depan stasiun Ayutthaya, mata saya tertuju pada satu tempat makan pinggir jalan. Makanan yang satu ini bikin alis saya naik saat melihat proses memasaknya. Siapa yang enggak kaget saat melihat si ikan dibaluri garam kasar di seluruh badannya. Dan baluran garam tersebut tidak tipis, loh. Seluruh kulit ikan benar-benar tertutup dan tidak terlihat sama sekali. Awalnya sempat ragu karena saya takut kena darah tinggi, eh akhirnya saya malah ketagihan karena rupanya tidak terlampau asin.

Sebenarnya yang membuat saya ketagihan adalah sambal cocolnya yang seperti sambal kacang namun terasa asam. Rasa tersebutlah yang menyeimbangkan asinnya ikan. Untuk ikannya sendiri, sih, tidak terlalu istimewa karena bumbunya hanya berupa garam di bagian luar dan daun pandan serta serai di bagian dalam. Satu ekor ikan ini pas dimakan untuk berdua. Saya merogoh kocek sekitar THB 100 untuk seekor ikan, semangkok bihun, dan lalapan.

8. Ayam bakar dan nasi ketan

Menu yang satu ini mah juara banget deh. Ayam bakarnya manis tapi enggak semanis ayam bakar Indonesia yang pake kecap itu. Lebih enak makannya dengan nasi ketan hangat dan sambal yang agak asam tapi segar.

Untuk yang satu ini sih gampang banget ditemuinnya. Setiap pengkolan pasti ada yang jualan. Alasan lain menu ini jadi favorit adalah tidak perlu ribet saat memesannya, tinggal tunjuk! hihihi…

***

Selain menu-menu di atas saya juga paling sulit menolak cemilan pinggir jalan seperti ayam goreng, sate jamur, cumi kering bakar, papaya salad, mango sticky rice, es cincau, dan masih banyak lagi.

Kalau berbicara soal makanan Thailand pasti yang terlintas pertama kali adalah pad thai. Bagi saya makanan tersebut tidak terlalu istimewa, teman saya yang asli Thailand pun bilang kalau kepopuleran pad thai terlalu berlebihan.

Kalau kalian sendiri apa menu favoritnya? Siapa tahu saya bisa contek dan coba saat ke Thailand nanti.

Iklan

9 Replies to “Memanjakan Lidah dengan Kuliner Thailand”

  1. ahh negara thailand memang membuat saya tergila-gila apalagi mencari makanan halal pun tidak terlalu susah karena tersebarnya musim thailand dimana-mana meskipun mayoritasnya beragama budha..

  2. Ikan garam? Itu adalah makanan Thailand yang paling saya hindari… Favorit saya, adalah Kaduk, dan omelete. Entah kenapa, omelete Thailand juara banget buat saya, melebihi daerah lain

    1. Saya gak suka kulitnya mas Heri karena asin bgt. Tapi maknyus banget kalo dicocol sambel asam manisnya.

      Kaduk enggak tau kayak gimana. Googling dulu, ah.

      Omelete ya? Hmmm… Kayaknya saya belom pernah coba deh karena mikirnya “ya elah telor doang”. Hehehe tapi nanti dicoba lagi deh.

    1. selalu bingung sih kalao liat menu. hihihi paling cuma liatin orang yang sudah makan aja dan bilang yang ke jual kalau mau seperti yang dimakan orang lain. 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s