Ulasan Film: Banana Pancake and The Children of Sticky Rice

Sutradara: Daan Veldhuizen
Produser: Valérie Schuit
Naskah: Daan Veldhuizen, Tamara Vuurmans
Rilis: Januari 2015 (Belanda)
Durasi: 1 jam 33 menit

Film ini saya tonton tidak lama setelah perantauan bagian pertama selesai. Ada sedikit kelegaan saat menontonnya, karena film ini seperti merealisasikan pendapat saya tentang dunia pariwisata.
Bercerita tentang dua sahabat Khao dan Shai yang hidup di sebuah desa kecil di utara Laos. Keduanya mengambil kesempatan dari banyaknya pejalan asing yang datang ke desa mereka. Awalnya mereka memulai usaha bersama, namun akhirnya mereka berjalan masing-masing. Pariwisata tidak hanya mengubah relasi pertemanan kedua sahabat ini, juga wajah desa tempat mereka lahir dan tumbuh besar.

Digambarkan betapa cantiknya tempat tinggal Khao dan Shai, sungai mengalir cantik dan dikelilingi perkebunan milik warga menjadi magnet pejalan asing yang berburu keindahan alam tropis. Memang benar, mereka tidak salah pilih. Bermula dari segilintir pejalan yang datang, lama-kelamaan jumlah pendatang pun bertambah. Penduduk yang melihat peluang pun mencoba peruntungan dengan membuka homestay serta agen perjalanan.
Kenyamanan dan keindahan suasana pedesaan memang memikat bagi siapapun yang terbiasa dengan suasana kota yang selalu sibuk. Berada di sebuah desa kecil dengan fasilitas yang seadanya adalah sebuah bentuk penyegaran bagi banyak orang. Dan, itulah yang menjadi daya tarik desa Khao dan Shai. Sayangnya penduduk setempat malah ingin mengubah wajah desanya.
Penyesuaian pun dilakukan oleh warga setempat demi mengakomodasi kenyamanan para turis yang kebanyakan berasal dari Eropa tersebut. Salah satunya adalah menu sarapan pagi tidak lagi nasi ketan, sticky rice, melainkan banana pancake. Tidak hanya itu, warga pun pelan-pelan mulai meninggalkan ladang karena dianggap tidak cepat memberikan dampak ekonomi yang signifikan ketimbang menjadi tour guide.
Kekhawatiran saya juga diungkapkan oleh seorang pejalan yang sedang bercengkrama di antara mereka.
“Can you imagine how this place would be when it’s already on Lonely Planet?”
Ya, sudah pasti bakal makin banyak pejalan yang ingin mencicip suasana otentik desa di pedalaman Asia Tenggara gara-gara mengikuti petunjuk kitab suci para pejalan tersebut. Tetapi apakah mereka akan menemukan hal tersebut ketika penduduk setempat justru mengubah gaya hidupnya demi memanjakan para pejalan?
Film besutan sineas Belanda Daan Veldhuizen ini memang berniat menunjukan persimpangan yang terjadi saat dua budaya yang berbeda bertemu karena turisme. Veldhuizen dengan baik menyampaikan sisi lain dampak dari pariwisata bagi kehidupan sosial sebuah komunitas kecil.
Iklan

2 Replies to “Ulasan Film: Banana Pancake and The Children of Sticky Rice”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s