Bertualang di Sanghiang

Jujur saja seumur hidup saya belum pernah memberikan diri sendiri hadiah berupa perjalanan pada hari jadi. Berhubung sudah punya kuasa terhadap diri sendiri terutama urusan finansial, saya memutuskan untuk membuat diri senang pada hari tersebut.

Mendekati hari jadi, saya mulai kembali menjelajah forum diskusi CouchSurfing. Voila! ada satu perjalanan tepat di hari jadi saya dengan bujet yang sangat-sangat ramah, Rp 370 ribu all in (per Juli 2012) dan hanya dua hari perjalanan. Destinasinya adalah Pulau Sanghiang yang berlokasi satu jam berlayar (asiiiik!) dari Anyer, Banten. Satu tawaran yang ada dari paket perjalanan itu adalah snorkeling, saya langsung ok saja walau tidak paham benar soal tempat tujuan tersebut.

Ada 30 orang yang tergabung dalam perjalanan tersebut, hanya dua orang di antaranya yang saya kenal. Terus terang saya lebih menyukai perjalanan dengan orang yang tidak terlalu saya kenal, lebih bebas tanpa ketergantungan. Selain menyukai matahari, saya juga punya ketertarikan tersendiri dengan manusia, maksudnya personality mereka. Banyak hal yang bisa diperhatikan dan dimaknai dari mereka. Akan tambah menarik saat melihat mereka berinteraksi di alam bebas.

Sekitar tengah hari, kapal kayu kami merapat di Pulau Sangiang. Suguhan pertama dari pulau seluas 100 hektare itu adalah pantai berkoral, sempit, serta diapit tebing. Saya sudah lupa kalau semalaman belum tidur saat melihat air laut biru terbentang di depan mata. Kegirangan. Bukan hanya saya, tetapi mereka-mereka yang sebagian besar waktunya dimakan oleh si kota kejam Jakarta berlarian (eh,,,ini saya saja yang seperti ini) sepanjang mulut pantai.

2016-11-16-18-37-04
Bibir pantai berkoral

Air laut cukup tenang saat itu, tidak banyak ombak besar yang masuk ke teluk kami. Di sini, saya bergaul dengan Oshin, Ayu, Majd (Palestina), dan Khaled (Mesir). Mereka semua anggota CouchSurfing. Keberadaan dua pria arab berbadan besar itu seharusnya membuat kami para wanita aman, tetapi ternyata mereka lebih nampak seperti bayi besar dan harus kami jaga agar tidak terjatuh. Serius saya tidak bohong.

Row for your life.

A post shared by Efi Yanuar (@efi.yanuar) on

Pulau Sanghiang memiliki posisi strategis, di tengah-tengah Selat Sunda, tak mengherankan kalau Jepang pernah menaruh menara pantaunya di pulau ini sepanjang Perang Dunia II. Katanya, masih ada benteng peninggalan Jepang di Sangiang, sayangnya kami tak sempat menyusurinya. Gosip yang beredar ada harta karun di pulau ini, banyak yang coba peruntungan tapi nihil. Sangiang sendiri telah ditetapkan sebagai suaka alam oleh pemerintah, tidak heran ada beberapa pos tentara di sana.

Puas bermain di pantai, kami digiring naik ke atas menara pantau di atas tebing. Jalur pendakian sangat mudah, tangga batu yang bagus disertai pegangan di kanan kirinya memudahkan langkah kami. Perkiraan saya, tangga tersebut dibuat oleh pengembang properti yang sempat mencoba peruntungan bisnis pariwisata sebelum akhirnya krisis moneter 1997 memaksa mereka menggulung tikar.

2016-11-16-18-34-08
Horison

Breathtaking! Kata tersebut pas untuk menggambarkan pemandangan yang terhampar di depan mata serta betapa napas saya tingal satu satu karena banyaknya anak tangga yang dilewati.

Snorkeling time! semua antusias, tak terkecuali saya. Tetapi, sempat urung turun karena teman yang sudah menyebur malah menggelengkan kepala sebagai penilaian pemandangan bawah laut Sangiang. Arus air yang kencang membuat spot snorkeling di Selayar menjadi keruh, sulit melihat hamparan koral di bawah sana. Meskipun begitu, saya tetap menyeburkan diri, sayang sudah jauh tapi tidak basah-basahan. Karena air laut cukup deras, saya memilih untuk diam dan membiarkan diri terombang-ambing dan sesekali ditampar ombak.

Minimnya penduduk pulau membuat tanaman tumbuh subur. Nyiur, melinjo, mangroove, dan pohon-pohon lainnya menghijau. Di beberapa sisi ada rawa-rawa yang menjadi kerajaan nyamuk. Perperangan manusia melawan nyamuk menjadi pemandangan seru setiap melewati rawa.

Sanghiang bukan tempat wisata yang akomodasinya memadai. Karena sedikitnya kamar mandi, Majd memilih untuk membersihkan diri di kamar mandi yang airnya harus ditimba sendiri. Tidak lama setelah masuk kamar mandi, dia menghampiri saya “I droped the basket into the well. I thought the rope binded to something, unfortunately it is not.” *tepok jidat*

Sebagian dari kami menginap di rumah warga, sebagian lainnya di pinggir pantai. Sebenarnya saya menginap di rumah warga, tetapi sebelum tidur kami menyambangi mereka yang tidur di pantai. Disentuh angin malam, mendengar debur ombak, dan dipayungi bintang membuat penutupan hari itu menyenangkan.

My sunrise is different than yours

A post shared by Efi Yanuar (@efi.yanuar) on

Hari berganti. Rencana kami pagi itu adalah trekking menuju goa kalelawar. Keren, sih, goa kalelawar itu. Goa sempit dengan air laut deras di bawahnya yang kemudian pecah menjadi  tetesan air ketika menghantam batu di mulut goa. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, kerennya pecahan ombak di bawah goa tersebut harus diimbangi dengan bau tak sedap dari kalelawar yang bertengger di langit-langit goa. Mau berfoto di mulut goa? jangan lupa tahan napas, yah, supaya tidak mual.

2016-11-16-18-39-41
I got the power! Foto oleh Majd
7c3df-389093_10151075992343707_1902207467_n
Harus banget foto loncat-loncatan. Foto oleh Oshin.

Tujuan kami berikutnya adalah pantai Tanjung Bajo. Pantai ini tempat teman-teman menginap semalam. Dalam perjalan menuju pantai kami harus menerobos hutan, Majd mengingatkan saya yang berjalan dibelakangnya untuk memperhatikan kepalanya.

Saya: ih,,,ngapain juga ngeliatin kepala lo?

Majd: look, if my head hit branches it will stretch and swing back and it will hit your head!

Saya: tapi, kalo ngeliat ke atas dan tidak memperhatikan langkah saya bisa terpeleset.

Majd: Up to you! Which one is more important your head or your feet?!

Sebelum penjelajahan selesai untuk hari itu, kami kembali mengunjungi spot snorkling. Berdasarkan penilaian bapak pengemudi kapal, kondisi air laut cukup memungkinkan bagi kami untuk bermain-main. yeaay!!!

Saya bisa berenang, tetapi takut akan kedalaman laut, jadi meskipun agak menyiksa life vest selalu terpasang. Ayu menenangkan dan menyarankan saya untuk tidak panik. Diambilnya pelampung tersebut dan membiarkan saya berenang sendiri. Aman. Ayu pun tidak pergi jauh-jauh dari saya, khawatir tiba-tiba saya panik dan tidak ada yang menolong.

Tak berapa lama, Ayu menyusul yang lain untuk melompat ke laut dari atap kapal. Saya mengamati saja dari bawah. Seru juga melihat teman-teman meloncat. Saya tanya Ayu apakah aman. Dengan suara menenangkan dia menjawab “aman, kok. yuk!” Lembutnya suara Ayu membuat saya trans, dan tanpa disadari saya sudah berdiri di atap kapal.

Kembali saya disergap kepanikan. Lautnya dalam. Meskipun indah, koral yang ada di bawah sana tampak menakutkan dan saya khawatir terantuk dan terluka. Awalnya hanya saya, Ayu, dan Oshin yang hendak melompat. Ehhh,,, ternyata Majd, Vera, dan Mario mengekor. Serupa pertunjukan, semua penumpang memperhatikan kami. Berenam kami meloncat bersama.

2016-11-16-18-35-58
Yous jump, I jump! Lupa deh siapa yang ambil gambar ini.

That was liberating moment for me!

Ketakutan tak beralasan sebelumnya pecah ketika badan saya menghantam air laut. Buih air laut menggelitik kulit, sakit tapi nikmat. Suara cipratan air mengisi telinga, menarik saya entah kemana untuk beberapa saat. Saya tertawa terbahak ketika kepala berhasil menyembul dari permukaan air. Saya merasa menjadi sedikit lebih rileks. Saya mulai menghitung-hitung berapa kali saya harus melakukan ritual itu agar saya bisa rileks dandan enggak penakut.

That’s a wrap for that day.

Off we go to Jakarta!

Semua muka yang ada di dalam bus sumringah. Saya kembali merasakan romantisme pascaperjalanan. Nothing can make me down for a while, am still on vacation high. Was a good move to always give yourself a getway on your birthday.

Iklan

5 Replies to “Bertualang di Sanghiang”

  1. Wih. Referensi baru! Ke. Mana. Aja. Saya. Ga. Tau. Ada. Pulau. Sanghiang? Tadi baca, langsung kepikir Pulau Semak Daun di Kep Seribu dengan versi lebih luas dan lebih kompleks.. 😃

    Hmm.. Namanya agak-agak sakral ya? Atau kebetulan aja mirip Sang Hyang?

    1. Saya juga enggak tau soal pulau ini mas. Pergi juga karena murah bujetnya. Hahaha

      Duh, Pulau Semak Daun mah seiprit. Hahaha…

      Soal nama saya malah baru ngeuh sekarang. Iya ya mirip. Buat saya namanya lebih familiar sama nama lokasi di Tangerang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s