Korban Stereotype

Salah satu alasan saya merantau adalah supaya bisa hidup bebas. Bebas dari prasangka orang-orang yang mengenal saya sebagai seorang perempuan Indonesia. Saya enggak pernah jadi laki-laki jadi tulisan ini murni berdasarkan pengalaman saya sebagai perempuan selama tiga puluh tahun.

Kalau ada yang bilang jadi perempuan itu sulit, percayalah. Apalagi kalau mereka yang berjenis kelamin perempuan sendiri yang bilang. Karena perempuan selalu benar. Kalau berani menyanggah yah siap-siap aja konsekuensinya. Hihihi…

Lahir dan besar di keluarga keturunan minang saya sudah terdoktrin untuk selalu menjaga nama baik keluarga besar. Seorang wanita minang harus seperti ini dan itu. Tidak boleh berperilaku melanggar etika. Sekali kamu berbuat salah, taruhannya adalah nama orang tua dan mamak (paman), dan bersiaplah untuk menerima nasib digunjingkan semua orang.

Meskipun saya sekolah sampai perguruan tinggi, setelah lulus saya diinginkan untuk segera menikah. Karena apalah artinya bertitel sarjana tapi belum pernah duduk di kursi pelaminan.

Oleh karenanya, saya menggebu-gebu sekali bisa merantau keluar dari lingkungan keluarga. Tujuan saya adalah menjadi seseorang yang mendapat perlakuan karena pribadinya bukan karena jender. Dulu, saya pikir orang luar negeri itu lebih paham soal emansipasi wanita. Ternyata saya salah. Dimana-mana sama saja.

I need no man to enjoy life

Pengalaman dinomorduakan karena menjadi seorang wanita di India cukup bikin saya sedih teramat dalam. Saat itu, kebetulan saya memiliki teman perjalanan pria asal benua Amerika. Orang-orang India itu sama saja seperti orang Indonesia, melihat bule langsung heboh. Ya sudah selama kami bepergian, si teman menjadi pusat perhatian.

Bukan masalah kalah pamor yang bikin saya sedih. Justru saya menyukainya karena saya menjadi tak terlihat, dan menurut saya hal itu bermanfaat karena saya jauh dari keusilan orang-orang. Sementara teman saya itu harus meminta para “fans” untuk menjauh darinya.

Lalu apa yang bikin saya sakit hati? Suatu kali seorang teman India kami memperkenalkan kami pada teman-temannya. Teman kami memperkenalkan kami satu per satu. Nama teman bule di sebut duluan dan kemudian nama saya. Teman India kami belum selesai menyebutkan nama saya, eh malah teman-temannya sudah heboh bertanya basa-basi pada teman bule.

Haiiii!!!! Saya ada di sini, loh!

Keesokan harinya teman India meminta kami untuk masak sesuatu dari negara kami masing-masing. Dia mengundang juga temannya yang pernah nyuekin saya. Duh, selama kami di dapur orang-orang itu tidak menganggap saya ada sama sekali. Mereka hanya mengerubung teman bule. Hingga satu momen saya menjadi pusat perhatian saat mereka bertanya basa-basi soal pekerjaan saya.

Percaya atau tidak, mereka tertarik sekali saat mengetahui saya adalah lulus perguruan tinggi dan pernah menjadi wartawan di Jakarta. Menurut mereka saya hebat karena sudah mengenyam pendidikan tingkat tinggi dan memiliki pekerjaan yang dianggap keren itu. Biarlah mereka tidak usah tahu soal kinerja saya di kantor terdahulu, yang penting keberadaan saya terdeteksi.

Kalau saya pikir bisa terbebas dari prasangka saat berada di luar negeri. Ternyata hal itu tidak selamanya demikian. Ketika sedang menunggu bus yang akan membawa saya ke Kuala Lumpur International Airport, seorang pria mengajak ngobrol. Awalnya dilayani dengan baik-baik, namun lama kelamaan omongan si pria tidak mengenakan. Sayapun malas menjawabnya.

Why is it hard for people to see girls also have potentials as men do?

Dia bertanya saya akan pergi kemana. Saat saya menyebut mau ke Australia, dia meluncurkan pertanyaan apakah saya punya pacar di sana. Saya hanya menggangguk. Dia kembali bertanya apakah pacar saya orang putih (sebutan orang Malaysia buat para bule). Kembali saya mengangguk. Pertanyaan berikutnya yang keluar dari mulut si pak cik ini bikin saya hampir menonjok mukanya.

“Sudah, jadi pacar saya saja kalau lagi di Malaysia. Kalau di Australia baru jadi pacar orang putih!” Begitu katanya.

Saat itu saya berasumsi kalau dia berpikir saya adalah tipikal wanita Asia yang mengincar laki-laki bule untuk hidup nyaman. Ya, sebel aja dilabeli sesuatu yang jelas-jelas bukan karakter saya. Kalaupun saya bule hunter, ya saya juga pikir-pikir kalau mau mendua. Sudah pasti saya enggak akan pilih pak cik itu dengan segudang alasan.

Kasus pelabelan masih berlanjut saat saya tiba di Australia. Suatu hari saya sedang memilih baju di toko barang bekas. Dua orang pria kasak-kusuk di depan saya. Satu di antaranya saya kenal. Saya sempat menangkap si pria yang saya kenal menyebut “Indonesia… Indonesia…” kepada temannya sambil melirik ke arah saya. Karena enggak mau ge-er, saya cuek saja sampai satu di antara mereka menghampiri saya. Saya tidak kenal pria itu.

Si pria mulai banyak bertanya soal di mana saya tinggal, apa pekerjaan saya, apakah punya teman atau tidak, punya kendaraan pribadi atau tidak. Sesekali si pria bercakap dalam bahasa Indonesia, hal itu dilakukan karena dia bilang pernah tinggal di Indonesia. Kalau dilihat dari fitur wajahnya saya sepertinya yakin dia pernah menjadi manusia perahu dan terdampar di Indonesia sebelum berhasil mencapai daratan Australia.

Sebenarnya saya sedang malas basa-basi saat itu karena entah kenapa perasaan saya tidak enak. Yah, kan tadi saya sudah bilang wanita itu selalu benar. Dan, benar saja perasaan tidak enak itu terbukti. Si pria meminta nomor telepon saya. Alasannya karena dia mau punya pacar perempuan Indonesia.

“Cewek Indonesia enak!”

Pipi saya sudah merah ketika mendengar itu karena kesal bukan main. Entah mengapa saya merasa direndahkan dengan pilihan kata si pria.

“Duh, maaf saya enggak suka laki-laki. Saya lesbi.”

Jawaban nyeleneh itu rupanya ampuh bikin si pria kaget. Saya cuma pasang senyum manis manja ngeselin buat dia. Sukurin!!!!

Kalau kalian pikir “ah mungkin hanya orang Asia saja yang terlampau over streotyping!” Please lanjutin baca kisah saya, ya.

I worked my ass off to pay my own bill

Masih di Australia. Saya berada di ruang rekreasi hostel tempat saya menginap. Ada seorang warga negara Amerika Serikat juga di situ. Kami menonton bersama sebuah film yang saya lupa judulnya. Di salah satu adegan film tersebut ada seorang wanita muda cantik dan seksi memiliki pasangan seorang lelaki tua tetapi kaya raya. Saat adegan si pria tua sedang menunggu reaksi dari obat kuat yang baru saja diminumnya, si orang Amerika Serikat mengajukan pertanyaan kepada saya.

Are you a gold digger aswell?

Saya bengong. Mencoba menerka-nerka dari manakah dia mendapat pemikiran seperti itu tentang saya. Padahal kami tidak pernah bercakap-cakap sebelumnya. Saya cuma jawab sambil cengengesan dan menolak pendapat dia. Padahal dalam hati saya mau menjawab “ho oh, saya gold digger. Makanya dari tadi saya enggak deketin kamu!”

Pada hari yang berbeda, masih di lokasi yang sama, saya terlibat pembicaraan dengan pasangan asal Estonia. Awalnya saya hanya mengobrol dengan si pria, karena saat itu cuma dia satu-satunya orang yang bisa diajak ngobrol di ruang rekreasi. Tak berapa lama pasangannya datang dan langsung duduk di pangkuan si pria.

Saya memperhatikan gerakan si wanita, terlihat aneh saat dia membelai rambut pasangannya. Entah mengapa buat saya gerakan tanggan si wanita tidak berkata “aku sayang kamu” yang ditujukan buat pasangannya, melainkan “jangan macam-macam, ya. Dia ini milik saya” dan ditujukan kepada saya.

Asumsi saya itu kembali benar. Soalnya tak berapa lama saat si wanita mengetahui kalau pasangan saya sedang berada di Thailand sendirian, dia berkata “saya tidak akan pernah membiarkan pacar saya pergi sendirian ke Thailand. Tau, kan, di sana banyak cewek-cewek seperti itu…”. Si wanita tidak pernah meneruskan pernyataannya tetapi saya mengerti.

Sama mengertinya saya kalau si wanita tidak begitu nyaman saat si pria berbincang dengan saya si wanita Asia. Mungkin yang ada di kepalanya karena saya wanita Asia sudah pasti akan tergila-gila pada pasangannya yang berkulit putih itu.

Big Durian girl tries the Big Apple.

A post shared by Efi Yanuar (@efi.yanuar) on

I could take on anything I wish for

Menjadi seorang wanita terlebih berasal dari Asia khususnya Asia Tenggara sepertinya tidak bakal mudah lepas dari bayang-bayang stereotype. Sehebat-hebatnya kamu pasti selalu saja dipandang sebelah mata hanya karena status jender.

Buktinya suatu kali saya pernah menggunakan jasa ojek berbasis aplikasi di Jakarta. Tujuan saya saat itu pergi ke sebuah bank yang dari namanya sudah ketahuan bank tersebut merupakan bank asing. Si pengemudi ojek pun tergelitik bertanya.

“Mbaknya punya pacar bule ya?”

“Hah? kenapa gitu bang?”

“Dulu mantan saya selingkuh sama bule. Dia sering ke bank asing buat narik duit transferan dari selingkuhannya.”

Saya tidak pernah bercerita apa kepentingan saya pergi ke bank asing tersebut, tetapi si abang ojek sudah mencurigai saya hanya sebagai wanita tukang tadah dari laki-laki. Sebel!!

Iklan

7 Replies to “Korban Stereotype”

  1. huhuhu I feel you mak! Akuh bencik sekali jadi sasaran digodain dan dipandang remeh di ruang publik. Lebih baik kalau gw dicuekin aja. Hushhh jauh-jauh syuhhh

  2. kemarin gw abis nonton film india judulnya pink. tentang pelecehan perempuan yang sebabnya ya stereotype. dari ttg apa yang dipakai, gestur, mimik muka, kata-kata, gaya hidup. gemes emang… haha semoga perempuan bisa lebih dianggap ada bukan pas dia jadi ibu aja.. selamat hari ibu fi 😜

  3. Wah baca cerita km aku kaget jg. Untungnya aku gak pernah merasa disepelekan/diremehkan sebagai wanita. Kalo merasa di rasis-in sih pernah. Hihihi

    Stereo type yg plg aku males adalah, ‘wah udah lama diluar dpt bule dong?’, atau ‘lo tinggal diluar krn nikah sama bule ya?’. Padahal gak pernah punya pacar bule, dan tinggal diluar krn dpt kerja. Banyak jg temen2 cewe indonesia yg sukses dan bisa menetap diluar tanpa harus nikah sama bule. Tp tetep aja sterotype nya masih gt ya 😜😆

    1. dimana-mana sama aja ya ternyata. temen saya punya pasangan bule, tapi justru dia yang bawa suaminya untuk tinggal di LN karena temen saya dimutasi ke negara lain. hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s