Anak Rantau dan Mie Instan

Kebahagiaan anak rantau sebenernya cukup sederhana, mendapatkan susana seperti di rumah.  Yah, kalau enggak bisa menghadirkan lingkungan rumah, setidaknya dapat memanjakan lidah supaya rasa rindunya hilang.

Lahir dan besar di Indonesia saya cukup familiar dengan mie instan. Jumlah variannya tidak sedikit, pun produsennya tidak hanya satu dua, tetapi bejibun. Namun, dari sekian banyak produk mie instan, hanya satu yang menjadi seleraku, tidak lain dan tak bukan Indomie. Oh iya, patut dicatat ya, tulisan ini tidak berbayar. Keinginan menulisnya ya karena memang ada kedekataan perasaan dengan penganan yang satu ini.

Siapa, sih, yang tidak tahu soal Indomie. Hampir seluruh penduduk Indonesia pasti mengenalnya. Bahkan ada yang bilang kalau mie instan satu ini merupakan makanan pokok penduduk Indonesia. Saking akrabnya dengan kehidupan sehari-sehari tidak sedikit jokes  yang terinspirasi oleh Indomie. Misal, anak kos yang makan mewah di awal bulan tapi hanya makan Indomie di akhir bulan. Hmm,,, untuk yang satu itu saya sendiri pernah mengalaminya.

Untuk pilihan rasa saya tergolong tradisional. Favorit saya adalah mie soto ayam, mie goreng, mie ayam bawang. Sempat coba-coba rasa lainnya, tapi enggak terlalu cocok di lidah. Alasan utamanya karena terasa artifisial, contohnya mie goreng cabe ijo, juga mie goreng dendeng balado.

Sebenernya sih aya bukan die hard fans Indomie. Saat berada di Indonesia sepertinya bisa dihitung dengan jari tangan dalam sebulan berapa kali saya menyantap mie tersebut. Sepertinya karena di Indonesia mudah sekali mendapatkan asupan MSG dari makanan lain hihihi… Tidak hanya itu, kadang saya pun malas menyeduh mie dan lebih memilih untuk membeli mie ayam langganan.

Oleh karena itu, saat berada di Thailand selama dua bulan saya tidak terlalu kangen Indomie karena di pinggir jalan juga banyak penjual mie rebus. Mulai terasa kangen saat berada di India yang tidak mengenal mie instan. Suatu kali saya menemukan mie instan merek Maggi. Saya beli demi membayar rasa rindu, eh ternyata kurang mantab. Mie instan Maggi tidak dilengkapi dengan minyak penambah rasa dan tekstur mie terlampau lembut.

Kalau tidak salah ingat, saya puasa makan Indomie sampai enam bulan saat perantauan pertama. Barulah saat sampai Australia saya buka puasa. Suatu hari setelah pulang kerja saya mampir ke gerai 711 dan menemukan Indomie terpajang di etalase. Dengan perasaan suka cita saya belilah tiga bungkus. Ingin beli lebih tapi per bungkusnya cukup mahal AUD 0,85. Sedih banget. Kemudian saya baru tahu kalau beli per pak isi lima di supermarket harganya hanya AUD 0,65 per bungkus. Malahan kalau di toko Asia kadang hanya AUD 0,45-0,55 per bungkus.

Adaptasi Cara Masak

Setiap orang yang saya kenal pasti punya gaya masak Indomie tersendiri. Semuanng dengan selera masing-masing. Ada yang suka memadukan Indomi dengan telor, kornet, juga keju. Tidak jarang ada yang suka menyajikan Indomie dengan irisan cabe rawit yang banyak serta telur yang kuningnya setengah matang. Kalau lagi malas ada juga yang lebih memilih cara masak sesuai saran penyajian.

Kalau saya sendiri suka sekali cara penyajian seperti yang ibu saya bikin.. Bawang merah dan bawang putih diiri kemudian ditumis. Ketika sudah harum masukan air dan tunggu ampai mendidih, lalu masukan Indomie dan bumbunya. Setelah setengah matang masukan telur yang kemudian diaduk cepat sehingga menghasilkan kuah yang kental. Kalau ada boleh dimasukan irisan kol atau daun caisim. Jadi deh mie rebus yang enak dinikmati saat hujan.

Ada cara penyajian lain yang juga menjadi favorit saya. Indomie raa soto dicampur bumbu rendang. Cara penyajiannya gampang banget. Rebus mie sesuai petunjuk di kemasan, kemudian hidangkan dalam mangkuk kemudian tambahkan bumbu rendang. Kuah Indomie pun semakin berasa nikmat. *lap iler*

Sementara saat di Australia, saya melakukan penyesuaian. Saya coba mencoba resep mie rebus ibu saya, tidak pernah berhasil entah karena alasan apa. Selain itu, saya juga jarang sekali bikin rendang. Oleh karena itu, saya mencontek resep pasta yang sering dibuat teman saya.

Varian Indomie yang saya pilih adalah kari ayam. Saya hanya menggunakan eparuh dari bumbu yang disediakan karena saya tidak menyantapnya dengan kuah yang banyak. Nah, di wajan lain saya menggoreng bawang bombay sampai layu dan dibumbui dengan garam dan lada. Setelah bawang layu saya siramkan di atas sayuran yang biasa digunakan sebagai salad. Tidak hanya itu, saya juga menambahkan tuna asap kalengan sebagai pelengkap sajian Indomie. Nyaaaam…

Dapat Lungsuran

Pengalaman di Australia yang cukup mudah ditemukan memberikan ilusi kalau saya bisa mendapatkannya dengan tingkat kemudahan yang sama ketika berada di Kolombia. Oh, ternyata saya salah total, karena imigran Asia tidak terlalu banyak di Kolombia maka dari itu tidak ada impor.

Terakhir kali saya makan Indomie adalah ketika menginap di New York City pada Juni 2016. Host saya yang kebetulan berasal dari Indonesia menyediakan Indomie untuk sarapan. Banyaknya penduduk Indonesia di sekitar New York menjadikan Indomie bukan sebagai barang langka. Mungkin ini alasan yang sama soal keberadaan Indomie di Australia.

Oleh karena asupan MSG yang melorot tajam membuat saya merindu Indomie. Sampai suatu hari dapat kabar dari seorang teman yang mau melungsurkan Indomienya pada saya. Teman yang satu ini merupakan warga Indonesia yang mendapatkan beasiswa di Kolombia. Saat berangkat ke Kolombia, dia membawa atu kardus mie goreng. Tidak semuanya habis, ia memberikannya secara cuma-cuma kepada saya. Duh, rezeki banget kan?

Demi menuntaskan rasa kangen, saya langsung menyajikan mie goreng tersebut ditambah telor ceplok plus nasi. Hahaha… Akhirnya saya kembali buka puasa setelah 5,5 bulan. Dan, hari itu adalah saat saya menjadi orang paling berbahagia di dunia. Sederhana sekali, kan, bahagia versi anak rantau?

Iklan

27 Replies to “Anak Rantau dan Mie Instan”

  1. Waktu trip sebulan aku juga bawa indomie ini. Bukan yang mie gelas tapi yang plastik dan masaknya cuma modal rendam air panas hahaha *ngenes, tapi lumayanlah.

  2. Nggak nyangka anak rantau bisa kangen indomie juga ya 😀

    Bener-bener deh indomie seleraku. XD

    Kalau mbak gak terlalu suka varian rasa yang lain, kalau saya malah seneng mbak. Soalnya bosan sama si mie goreng dan kari. Makanya paling seneng sama yang rasa ayam panggang jumbo. Syedap :d tetiba pengen makan indomie juga

    Tapi lama juga ya mbak puasa indomienya udah berbulan” gitu, saya paling lama kayaknya semingguan. Itu juga udah kangen. Xixixi.

      1. Mbak setia berarti, hehehe 😀

        Mie goreng mbak, mienya pipih gitu, terus porsinya lebih banyak, makanya disebut jumbo. Tapi saya lebih suka masak pake kuah sedikit, soalnya saya penggemar yang berkuah-kuah ^.^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s