Rangkaian Perayaan Natal di Kolombia

Lewat tengah malam saya masih belum tidur, walau mata sudah sepet tapi masih sempat menjelajah dunia maya. Lalu kemudian “KABOOOOOOOOM”. Ledakan yang memekakan telinga itu membuat saya panik. Tinggal di negara yang mengalami konflik selama puluhan tahun membuat saya harus selalu waspada.

Sebelum refleks bersembunyi di bawah tempat tidur, saya bertanya pada teman tentang apa sebenarnya yang terjadi. Dengan santainya dia bilang kalau suara keras barusan adalah tradisi Kolombia menyambut datangnya Desember. Bulan yang dianggap suci bagi masyarakatnya yang mayoritas Katolik.

Suara yang saya dengar adalah petasan yang disulut pada pergantian bulan November ke Desember, tepat pukul 12 malam. Petasan terus berbunyi selama satu jam. Tiap suara kencang terdengar saya harus menutup telinga dan mengelus dada.

Suasana penyambutan natal sebenarnya bukan bermula dari peletusan petasan tersebut, sebab pada akhir November tetangga saya sudah memasang hiasan pohon natal. Dan saya cuma bisa bilang “ini masih November, loh?”

Selama di Indonesia saya menyambut natal hanya karena hari libur. Saya pun tidak punya kerabat dekat beragama nasrani jadinya saya tidak pernah tahu dan tidak terlalu tertarik tentang rangkaian perayaan natal yang ada di Indonesia. Berhubung masyarakat Kolombia sangat relejius, maka Desember kali ini saya merasakan sensasi baru.

Dia de las Velitas

Rangakaian natal di Kolombia resmi dimulai pada 7 Desember tiap tahunnya. Selepas matahari tenggelam, tetangga saya mulai menyalakan lilin dan juga lentera di depan rumah mereka. Selain itu merekapun memasang lampu kelap-kelip di depan rumah mereka. Saya pun terperangah menikmati kecantikan lampu-lampu tersebut. Rumah tetangga saya sebenarnya biasa-biasa saja, tapi lilin, lentera  dan lampu warna-warni berhasil mempercantik lingkungan kami.

Tradisi ini dinamakan dias de las velitas, hari lilin kecil. Perayaan ini sudah berlangsung ratusan tahun dan dipercaya bahwa pada tanggal tersebut terjadi pembuahan atas Virgin Mary. Alat penerangan berupa lilin, lentera dan lampu yang dipasang diluar rumah merupakan simbol penghormatan terhadap Virgin Mary.

Tinggal di kampung kecil yang minim hiburan, pelaksanaan dias de las velitas ini membuat saya senang setengah mati. Hehehe… Saya menghabiskan waktu hampir dua jam untuk keliling kampung menikmati cantiknya lampion, memperhatikan orang berdoa di luar rumah mereka, ikut tertawa mendengar muda-mudi membuat lelucon sambil menenggak minuman beralkohol.

Perayaan ini hampir dirayakan di seluruh desa dan juga kota di Kolombia. Semakin besar sebuah kota semakin heboh lampu-lampu yang dipasang. Namun bila ingin melihat perayaan yang lebih sederhana dan khusyuk, pedesaan adalah pilihannya. Konon katanya desa terbaik untuk menyaksikan perayaan ini adalah Villa Leyva yang berada tidak jauh dari Bogota.

Komuni

Beruntung saya memiliki tetangga yang super baik, karenanya saya bisa ikut mengintip kegiatan keagamaan umat nasrani. Saya diundang untuk mengikuti prosesi komuni pertama anak tetangga. Akhirnya setelah dua tahun belajar tentang banyak ilmu soal agama kristen, para bocah-bocah tersebut mengikuti prosesi komuni pertama mereka. Juga sudah sah untuk memakan hosti (roti bundar yang diberikan pendeta setelah misa kepada umatnya).

Gara-gara menerima undangan tetangga ini, akhirnya saya berani ikut-ikutan masuk ke dalam gereja. Selama pendeta memberi ceramah saya senyum-senyum sendiri. Hehehe… karena sebagian besar saya tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Yah, ada sih yang saya mengerti tapi sedikit.

Saya tidak terlalu paham apakah komuni ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan natal. Namun, dari beberapa tempat yang saya datangi mereka melaksankan komuni pertama pada masa mendekati hari natal.

Novena

Memasuki tanggal 16 Desember masyarakat nasrani Kolombia melakukan ritual novena. Saya sempat diundang untuk mengikuti novena oleh seorang kenalan, sayangnya hari itu hujan lebat dan saya tidak sempat datang jadi tidak mengalami sendiri perayaan itu.

Berdasarkan hasil ngobrol, novena merupakan kegiatan berkumpul bersama keluarga untuk sama-sama berdoa dan menyanyikan puji-pujian bagi Yesus Kristus. Pelaksanaannya  dilakukan sepanjang sembilan malam, novena sendiri berasal dari bahasa spanyol “nueve” yang artinya “sembilan”.

Pelaksanaan novena sendiri lebih seperti acara kumpul keluarga. Biasanya mereka akan mengudap penganan khas natal seperti buñuelos (kue berbentuk seperti bola dan rasanya seperti donat) dan natilla (puding terbuat dari susu, terigu, karamel, dll.)

Selain itu, setiap malamnya sepanjang novena sekelompok orang akan melakukan aksi teatrikal perjalanan yang dilakukan Maria dan Joseph. Yang membuat menarik aksi teatrikal ini adalah para pelakonnya benar-benar melakukan perjalanan di sepanjang kampung. Mudah-mudahan saya tidak salah mengerti ya, acara ini ingin menunjukan betapa sulitnya bagi Maria dan Joseph mencari tempat beristirahat dalam perjalanan mereka menuju Bethlehem.

Setiap peserta teater memiliki peranan masing-masing. Ada yang berperan sebagai malaikat, penggotong patung Maria dan Joseph, ada juga yang kebagian jatah menjadi pohon, kuda, juga pohon. Sepanjang jalan mereka terus-terusan bernyanyi menyanjung Yesus.

Noche Buena

Puncak perayaan natal di Kolombia sendiri adalah pada 24 Desember atau yang disebut noche buena. Pada malam ini, mereka akan berkumpul bersama keluarga sambil menyantap makan malam bersama. Lagi-lagi buñuelos dan natilla menjadi penganan wajib ada. Sementara untuk makan beratnya masing-masing keluarga memiliki tradisi masing-masing seperti barbecue daging sapi maupun babi, di Bogota sajian makan malam biasanya berupa ajiaco (baca: ahiako), sup kentang dan ayam yang memang cocok disantap di tengah dinginnya Bogota.

Selain dihabiskan bersama keluarga, noche buena juga bisa dinikmati bersama teman sepermainan. Contohnya di tempat saya tinggal, tetangga di blok sebelah memilih untuk memindahkan perangkat pengeras suaranya ke keluar rumah dan memasang musik kencang-kencang. Acara mereka dimulai sejak pukul sembilan malam sampai enam pagi. Mereka berhenti mendengar musik dan menyanyi hanya karena memberikan kesempatan bagi warga yang hendak berdoa.

***

Beberapa hari sebelum perayaan natal, seorang yang baru saya kenal bertanya seperti apa suasana natal di Indonesia. Sepertinya dia juga paham istilah “lain ladang, lain belalang”. Saya sempat bingung mau menjawab apa karena saya tidak tahu banyak seperti apa ritual natal di Indonesia.

Saya makin mengkeret saat dia bertanya apa hidangan yang khas muncul saat natal. Duh, mana saya tahu. Ujung-ujungnya saya mengalihkan pembicaraan dengan menyebutkan makanan wajib ada selama lebaran seperti ketupat, rendang, opor ayam, sambel goreng ati, dan lain sebagainya. Hihihi… Rupanya jawaban yang bermaksud mengalihkan isu itu enggak salah-salah banget. Seorang teman di Indonesia membeberkan apa saja hidangan natalnya, ternyata tidak berbeda jauh dengan menu yang saya tuliskan di atas.

Meskipun bukan orang yang relijius tetapi saya masih bisa menikmati perayaan keagamaan. Sudah sempat menyaksikan bebeberapa perayaan dari kepercayaan yang berbeda, semoga saya punya kesempatan untuk melihat ritual lainnya.

Iklan

6 Replies to “Rangkaian Perayaan Natal di Kolombia”

  1. Beruntung dirimu mbak, bisa di Kolombia. Aku pengen juga ngetrip ke sana..melihat seperti apa. Sejak nonton film Pablo Escobar, penasaran seperti apa negara ini sekarang. Trus katanya kopi Kolombia enak ya?

    Oh ya, makanan natal ala kita di Indonesia, mirip banget dengan menu lebaran. Lontong dan staf2nya,

    1. aku bakal lama loh mbak dewi di Kolombia. nanti kalau main ke sini kabari ya, bersua nanti kita.

      Pasti nonton “Narcos” ya? hihihi

      aku buta rasa kopi, jadi semuanya berasa sama aja. hahaha…tapi sering dapet testimoni yang bagus sih kopi Kolombia.

      wah menunya sama ya? toss

  2. aku sbnrnya paling takut dgr suara petasan.. krn itu ngingetin aku ama suara tembakan ato bom, pas dulu msh tinggal di aceh, dan pemberontakn GAM msh ada, udah puas dgr suara senjata2 mereka kalo sdg perang di belakang rumah mba…

    aku blm prnh ngerasain kalo ritual natal, tp pernah ngikutin ritual imlek pas homestay di keluarga china :D.. sama aja sih, mereka ngidupin petasan ampe 15 menit penuh! dan aku sampe lemes itu krn kebayang itu tembakan senjata 😦 .. tp stlh petasanya selesai, jd happy lg krn waktunya makan2 :D. hihihihi

    1. oh ya ampun mbak Fanny, aku ikut prihatin ya. semoga gak sering-sering denger bunyi aneh2 ya. serem ngebayanginnya.

      Hahaha kalo soal makanan mah gak ada yang bisa ngelawan ya.

      Salam kenal. terima kasih sudah mampir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s