Kekecewaan Pengajar Sukarela

Mata mereka berbinar sebagai reaksi atas apa yang baru didengarnya. Gara-gara saya terbata-bata berbahasa Spanyol mereka sadar kalau saya bukan orang Kolombia. Melihat orang asing tinggal di tempat mereka merupakan sesuatu yang baru. Si alien (saya) menjadi atraksi baru bagi mereka.

Dasar anak-anak, mereka tetap saja merepet dan melontarkan banyak pertanyaan dalam bahasa Spanyol. Salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan adalah apakah saya berbahasa Inggris. Mata mereka bersinar saat melihat saya mengangguk menjawab pertanyaan itu.

Dari situlah semua bermula.

Sudah sebulan saya mengajar bahasa Inggris bagi anak-anak usia 9-12 tahun. Keputusan itu menjadi bulat ketika semua orang mengatakan akan sangat bagus sekali jika saya mengajar bahasa asing tersebut. Saya tidak ada masalah soal mengajar bahasa Inggris, kegiatan itu pernah saya lakukan juga di Jakarta bersama seorang teman. Pelajar kami saat itu adalah anak-anak SD. Yang membuat saya ragu adalah keterbatasan bahasa Spanyol, saya khawatir tidak bisa menyampaikan pelajaran dengan baik dengan keterbatasan tersebut.

Tapi, hey, anak-anak pun tidak punya banyak kosakata, kan? Saya pasti tidak akan terlalu bingung saat harus berkomunikasi dengan mereka. Bahkan, dari beberapa kali obrolan kecil dengan anak-anak tetangga mereka lebih cepat mengerti ketika saya mengucapkan kata dalam bahasa Inggris.

Alasan lain yang membuat saya mau mengajar adalah karena prihatin dengan lingkungan tempat saya tinggal. Tetangga-tetangga saya itu termasuk golongan menengah ke bawah. Mereka tahu pendidikan adalah hal yang penting bagi anak-anaknya. Mereka pun tahu bahwa menguasai bahasa Inggris merupakan sebuah nilai tambah bagi siapapun saat ini. Sayangnya, menurut mereka, pengajaran bahasa asing di sekolah tidak terlalu memadai. Jika mau lebih jago mereka harus pergi ke kota tetangga yang berjarak 20 menit dengan kendaraan umum. Akan banyak sekali biaya yang akan mereka keluarkan.

Saya beri tahukan tetangga dekat atas niatan memberikan kelas bahasa Inggris bagi anak-anak. Wah, reaksinya sungguh luar biasa. “Ide yang bagus!” ujarnya saat itu.

Pekerjaan rumah saya berikutnya adalah menemukan ruangan kelas untuk kami belajar. Beruntung ada sebuah aula yang bisa dimanfaatkan. Pengelolanya pun mengizinkan saya untuk menggunakan ruangan tersebut. Saya hanya perlu memberikan daftar nama anak yang akan belajar plus tanda tangan orang tua atau wali anak tersebut yang menyatakan bahwa mereka mengetahui kegiatan belajar-mengajar ini.

Tugas saya berikutnya adalah mencari anak-anak yang berminat belajar. Dibantu tetangga yang kenal banyak orang di lingkungan tempat kami tinggal, saya mengetuk satu-satu rumah para calon pelajar. Setiap orang tua yang menandatangani formulir menunjukan suka-citanya akan kelas bahasa Inggris itu. Semangat saya pun membumbung.

Kelas pertama dimulai. Enam dari sebelas anak yang mendaftar datang ke kelas. Saya sempat ragu tidak bisa mengendalikan kelas, ternyata kekhwatiran tersebut tidak terbukti. Semua berjalan dengan baik. Anak-anak pulang dengan wajah sumringah karena mereka tahu nama mereka dalam versi bahasa Inggris. Sukses! Saya pun tidak sabar datangnya kelas berikutnya.

Keesokan harinya ada ketukan di pintu rumah. Seorang anak bilang kalau dia mau bergabung dalam kelas bahasa Inggris. Dengan berat hati saya harus bilang kalau sudah ada sebelas anak yang mendaftar, tidak ada lagi ruang untuknya. Saya memang membatasi jumlah murid di kelas agar kondisi belajar mengajar bisa lebih fokus. Selain itu, si anak sudah berusia 13, tidak masuk rentang umur yang saya inginkan.

Setelah anak tersebut pulang saya merasa bersalah telah memupuskan semangat belajarnya. Sayapun menyusul ke rumahnya dan mengundangnya untuk datang ke kelas berikutnya.

Kelas kedua dimulai. Hanya dua murid yang datang. Si anak yang mengetuk pintu rumah saya tidak datang. Semangat saya sempat turun. Setelah kelas selesai saya bertemu dengan beberapa anak yang sudah mendaftarkan diri, bertanyalah apa alasan mereka tidak datang ke kelas. Rupanya mereka sibuk mengikuti rangkaian perayaan natal di gereja. Okelah, saya cuma bisa berharap mereka bisa mengikuti kelas-kelas berikutnya.

Sayangnya di kelas-kelas berikutnya banyak dari mereka yang tidak datang. Saat bertemu di kemudian hari mereka beralasan kalau mereka tidak datang karena pesiar. Memang sih, saat ini, mereka sedang libur sekolah jadi mungkin berada di luar kelas lebih menyenangkan dibanding belajar.

Sebelum kelas kelima dimulai, sehari sebelumnya, saya mendatangi satu-satu rumah para murid. Mengabarkan jadwal kelas berikutnya. Saya pun berjanji pada diri sendiri kalau kunjungan ke rumah murid tidak akan saya lakukan lagi. Saya kesal karena usaha yang saya lakukan seperti tidak dihargai.

Untuk urusan yang satu ini saya perlu gila penghargaan. Saya hanya merasa kecewa karena pernah mempercayai omongan para orang tua murid yang bilang betapa pentingnya belajar bahasa Inggris. Tapi justru mereka sendiri yang enggan mengingatkan anaknya untuk belajar.

Suatu kali saat saya hendak pergi mengajar, ada seorang orang tua yang pernah meminta agar anaknya masuk ke dalam daftar calon murid terang-terangan menggelengkan kepala saat ditanya apakah anaknya akan belajar atau tidak. Entah karena alasan apa.

Saya paham kalau kita tidak bisa memaksakan keinginan, kalau memang anaknya tidak mau belajar kita bisa apa? Namun, kadang saya juga tidak bisa percaya pada anak-anak itu. Mereka selalu bilang akan datang pada kelas berikutnya tetapi nyatanya tidak bisa memenuhi janji. Bagi saya itu sebuah pertanda tidak baik, mereka terlatih tidak menunaikan omongan yang sudah dibuatnya.

Melihat kondisi ini, pasangan saya cuma bilang kalau dia pernah baca sebuah kutipan yang cocok ilustrasinya, “if you are good at something, don’t give it for free!“. Terkesan materialistis, lanjutnya, tetapi saat seseorang merasa tidak mengorbankan sesuatu mereka tidak akan menghargi segala hal pro bono yang kamu lakukan.

Saya tercenung. Sungguh disayangkan karena mereka menyianyiakan kesempatan belajar tanpa biaya yang saya tawarkan. Saya memang tidak memiliki dasar pendidikan untuk mengajar, tetapi yang saya tahu bahasa Inggris sudah menjadi bahasa utama saya selama beberapa tahun terakhir. Tidak seharusnya mereka menyia-nyiakan kesempatan ini.

Sekarang saya tidak peduli lagi berapa banyak murid yang akan datang. Walaupun saat ini, saya cuma punya 3-4 murid aktif, saya akan fokus mengajar agar mereka bisa cas-cis-cus nginggrisThose who sow shall reap Those four kids with their consistency will be proud of themself in the future.

Iklan

9 Replies to “Kekecewaan Pengajar Sukarela”

  1. they certainly will! Aku pernah juga mengajar bahasa Inggris sukarela di tanah air..dan percaya ngga, terlepas dari adik-adik yang aku ajari serius mengikuti atau tidak, tapi aku yakin insya Allah semua ini ada manfaatnya :)..semangaat

    1. amiiin. makasih mbak Indah.

      akupun semangat ngajar juga karena masih ada yang tersisa. dan, aku sih bisa ngeliat progres mereka yang awalnya gak tau mau ngomong apa sampe tahu apa yang sedang mereka omongin ya walau sekadar thank you. hihihihi…

      semangat!

  2. Semangat mbak Fi 😉 Kelak anak-anak itu akan sangat berterima kasih padamu. Kalau pun tidak apa yang dikau lakukan pasti berguna buat mereka..cepat atau lambat…
    AKu suka dengar orang Spanyol kalau ngomong pake bahasa Inggris..Aku suka nonton Modern Family, ada peran perempuannya yang berasal dari Kolombia..aksennya dia lucu banget…Suka kalau bagiannya dia.

    1. amiiin. makasih loh mbak Dewi buat semangatnya. Iya akupun harus jaga semangat nih. #jangankasihkendor

      Sofia Vergara ya? hihihi lucu emang dia walau kadang agak lebay ngomongnya 😛

      1. Iya si Sofia Vergara..tiap hari kita tonton itu serial..dia itu seksi, cantik ..uniklah…Tapi emang gitu ya aksen orang Kolombia kalau berbahasa Inggris?

      2. Dia idolaku. Bodynya sih. Hehehe

        Kalo menurutku sih dia agak berlebihan ngomongnya. Kenalanku gak sebegitunya kalo ngomong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s