#CelotehTukangJalan:Festival Kampung Awal Tahun

Pukul empat dini hari tiba-tiba terdengar suara letusan yang bikin saya terbangun.

BOOOOOOOM!!!!

Saya masih berpikir apakah suara yang terdengar itu ada di dunia nyata atau sekadar mimpi. Barulah pada letusan kedua dan ketiga saya benar-benar sadar kalau suara tersebut nyata. Dan dari besaran desibelnya saya yakin sumber ledakan berada di dekat are rumah.

Tetangga saya harus menenangkan anaknya yang ketakutan. Sayup-sayup saya mendengar dia berkata ¨jangan khawatir, jangan takut, ini bukan perang.¨Rupanya letusan yang terdengar berkali-kali baik dari jarak dekat maupun jauh tidak hanya membangunkan kami dari lelapnya tidur, tetapi juga membangkitkan memori buruk akan perang sipil yang terjadi selama puluhan tahun di Kolombia. Barulah saat hari benar-benar terang, saya dan sebagian besar dari penduduk kampung tahu maksud dari letusan-letusan tersebut.

2017-01-22-22-30-51
perkenalkan ini Tobi (calon anjing adopsi saya). Dia juga enggak ketinggalan gaya selama festival.

Setiap tahunnya, kampung kami mengadakan festival selama 4 hari. Tahun ini festival berlangsung mulai dari 4-7 Januari. Sebagai penanda dimulainya festival sebagian orang merencanakan untuk menyulut petasan pagi buta. Saya cuma bisa urut dada saat tahu makna dibalik letusan mengejutkan dini hari tadi. Sebel!

Rangkaian festival kali ini membuat kampung kami yang selalu tenang menjadi lebih semarak. Jalan-jalan di pusat kampung di penuhi banyak orang. Bar yang biasanya hidup hanya pada akhir pekan, selama festival tidak pernah sepi. Penjual pakaian, sombrero, juga makanan pun ramai merangsek ke kampung kami. Apalah arti festival tanpa adanya wahana  seperti komidi putar, bianglala, dan seabrek permainan lainnya.

Bagi saya sendiri, festival ini menjadi yang pertama saya datangi di Kolombia. Setiap desa dan kota di Kolombia memang sering mengadakan festivalnya masing-masing. Dan, mereka akan membagi jadwalnya dengan baik agar tidak saling bentrok.

Untuk skala festival, memang apa yang ada di kampung kami tidak terlalu besar dan wah. Tetapi saya tetap senang karena banyak sekali yang beda. Dan yang mengasikan adalah banyak sekali atraksi yang bisa dinikmati secara gratis.

Parade Berkuda

Sudah umum kalau di setiap festival akan dihadiri oleh penunggang kuda. Kampung kami punya kelompok penunggang sendiri. Jumlahnya tidak sampai 50, namun saat festival ini berlangsung jumlah penunggang kuda yang berpartisipasi pada parade berkuda (cabalgata) jumlahnya berkali-kali lipat.

Saya keluar rumah sekitar pukul empat sore, sudah banyak para penunggang yang sedang bersiap-siap mengikuti parade. Kuda-kuda disisir, kulitnya bersinar diterpa sinar matahari. Gagah sekali.

Para berkuda bersiap untuk pergi ke kampung tetangga yang menjadi titik kumpul. Menurut kabar baru pada pukul enam para penunggang kuda beramai-ramai memasuki perkampungan kami. Tetangga saya bilang akan ada penyambutan saat cabalgata masuk kampung. Saya pun tak sabar untuk menyaksikannya.

Pukul tujuh saya kembali ke area festival, para penunggang kuda sudah hampir bubar. Saya terlambat datang gara-gara ketiduran. Hanya tersisa sedikit penunggang kuda dan mereka bersiap untuk kembali ke rumah masing-masing. Duh, gara-gara lupa pasang alarm!

Musik, Musik, dan Musik

Masyarakat Kolombia tidak bisa dipisahkan dari musik dan tari. Di mana ada musik berputar pasti ada kaki-kaki yang gatal untuk menghentak lantai dansa. Oleh karena itu, sepanjang empat malam perhelatan festival musik selalu terdengar. Area pertunjukan musik pun selalu penuh disesaki penduduk baik dari kampung kami maupun dari beberapa kampung dan kota sekitar.

Malam pertama kami dihibur dengan penampilan grup musik mariachi. Aliran musik asal Meksiko ini cukup nyaman di dengar. Tak terasa kaki saya ikut bergerak mendengar alunan suara si penyanyi.

MARIACHI. Whenever I see this pict I want to sing "quieroo que me quieras… Quiero me adores…". A song sang by the adorable Gael Garcia Bernal. I think it's a coincidence since both of them, Mariachi and Bernal, are from Mexico. Dated back in the 18th century, Mariachi is a combination of indigenous music added with colonial's music instrument. I enjoyed this kind of music since it's so lively and relaxing at the same time. • • • #merantau2016 #raunround #globetrotter #worldnomad #planetwanderlust #backpacker #discoveryourworld #travelerstory #blogger #doyoutravel #ventureout #outdoor #darlingmovement #mytinyatlas #passionpassport #mytravelgram #instatravel #womantraveler #INDOTRAVELLERS #wanderlust #instagood #pictoftheday #instapics #theglobewandwerer #igerscolombia #southamerica #mariachi

A post shared by Efi Yanuar (@efi.yanuar) on

Rupanya antusias penonton tahun ini cukup besar terutama pada pertunjukan malam kedua yang dimeriahkan oleh Junior Posada. Kabarnya baru kali ini ada penyanyi papan atas yang datang untuk mengisi acara festival ini. Si penyanyi katanya dibayar sampai COP 17 juta atau sekitar 85 juta IDR untuk sekali tampil. Waah sekali! Rupanya saat si penyanyi tampil saya baru sadar kalau sering mendengar lagu-lagunya, gara-gara tetangga sering memutarnya saban hari.

Di depan panggung terdapat kursi dan meja bagi penonton. Siapapun yang mau duduk di tempat yang sudah disediakan harus merogoh kocek yang kabarnya sih sebesar COP 150 ribu atau sekitar 750 ribu IDR yang cukup untuk sepuluh orang. Mereka biasanya akan mengeluarkan perbekalan minuman beralkahol untuk dinikmati sepanjang acara. Juga mereka akan bergerak mengikuti irama di tempat yang mereka sudah sewa.

2017-01-22-23-33-32
Biasanya dengan massa sebanyak ini dan pasti ada saja keributan. Untungnya perhelatan festival kampung kami berjalan lancar.

Baru kali itu saya lihat banyak sekali botol-botol minuman beralkohol dikonsumsi tetapi tidak ada orang mabuk dan melakukan kekerasan. Pasangan saya pun takjub. Ia pun berhipotesis kalau kondisi penonton sangat kondusif karena mereka menikmati pertunjukan musik bersama keluarga. Ya, masak sih lagi rekreasi sama keluarga tapi malah buat onar.

Kami sendiri saat itupun bergabung dengan keluarga besar kenalan kami. Serunya setiap ada musik yang diputar pasti mereka akan bergoyang. Tak ada alasan tidak bisa joget. Cuaca yang saat itu cukup dingin malah terasa hangat karena kami banyak berjoget.

Arena Ketangkasan

Yang paling menyenangkan dari adanya festival ini adalah banyaknya hal menarik yang bisa kami saksikan. Ada yang berbayar dan tidak sedikit pula yang gratis. Gara-gara acara tahunan ini saya jadi tahu kalau tak jauh dair tempat saya tinggal ada arena untuk olahraga motorcross dan BMX track. Untuk memasuki arena tersebut harus bayar COP 3.000 untuk satu orang. Untuk kendaraan roda dua pun harus bayar jumlah yang sama.

Dikarenakan malas mengeluarkan uang, saya putar badan dan pergi ke tempat lain. Kebetulan kenalan saya ada yang mendirikan papat panjat. Gara-gara sering nongkrong di situ, saya pun ditawari untuk naik gratis. Ugh,,, jari-jari saya kebas karena tidak kuat menganggkat beban badan. Hihihi…

Setelah memanjat, saya bergegas ke area di mana panggung musik berada. Sambil menikmati sinar matahari yang hangat saya memperhatikan setiap aktivitas “judi” yang ada di setiap sudut. Hehehe… sebenernya aktivitas “judi” kelas teri dengan berbagai macam tembak-tembakan, lempar koin ke angka tertentu, dan yang paling seru adalah taruhan dalam ajang carera de carros apagado .

Para penonton memasang taruhan untuk salah satu mobil jeep yang mereka pikir akan menang dalam balapan. Eh, tapi ini balapan bukan sekadar balapan ya. Jeep tersebut dalam keadaan mati dan harus didorong oleh sejumlah orang di jalan yang menanjak.

Mendorong kendaraan roda empat di jalan datar saja merupakan pe-er besar, lah ini di jalan yang menanjak. Memang sih tidak terlalu curam, tetapi mobil-mobil tersebut berbobot ratusan kilo, belom lagi ditambah satu supir yang mengendalikan kendaraan makin beratlah bebannya. Saya jadi tidak tega saat melihat abang-abang memerah mukanya karena kelelahan dan kepanasan.

Makan Enak

Saya selalu berusaha untuk memasak di rumah. Selain demi menghemat juga supaya tidak bosan. Rumah makan di kampung ini cuma hitungan jari, jadi ya menunya itu-itu saja. Sayang di sini enggak ada indomie sang penyelemat anak rantau. Hehehe…

Selama perhelatan festival saya senang sekali karena banyak pilihan makanan yang bisa diicip-icip. Sepertinya selama empat hari saya tidak masak sama sekali. Setiap hari saya mengudap makanan berbeda seperti jagung bakar, keripik kentang, arepa, tamal, chorizo, lechona, dan yang paling mantab adalah ternera a la llanera.

Ternera a la llenara sebenarnya cuma daging sapi panggang yang hanya dibumbui garam. Daging sapi yang masih dalam ukuran besar dipanggang selama delapan jam di atas kayu bakar. Meskipun dimasak dalam waktu yang lama daging sapi itu masih sangat juicy dan enggak alot.

Saya dan si Abang memesan satu porsi untuk berdua. Bukan karena romantis tetapi terlampau mahal. Satu porsi untuk sekitar 300 gram plus beberapa kentang rebus dihargai COP 20.000 atau sekitar 100.000 IDR. Hanya butuh satu gigitan sampai akhirnya saya menyesali mengapa tidak memesan porsi yang lebih besar seharga COP 30.000.

Mungkin sapi panggang itu adalah yang paling lezat yang pernah saya nikmati. Sampai sekarang saya masih bisa membayangkan lembutnya daging sapi dan gurihnya lemak yang bikin saya ketagihan. Si Abang selalu membanggakan kalau daging sapi asal negaranya, Argentina, adalah yang terbaik di dunia. Dan, untuk ternera a la llenara, ia menilai hampir mendekati kenikmatan barbecue a la Argentina. Ya ampun seenak apa ya daging sapi di negeri tango itu?

***

Konklusinya adalah saya senang bisa melihat festival awal tahun di kampung ini karena tidak perlu jauh-jauh berekreasi. Kalau kalian sudah kemana awal tahun ini?

Jangan lupa cek juga cerita jalan-jalan pertama pada 2017 teman-teman saya di bawah ini ya!

Dita: Mestakung. Dari awalnya cuma berangan-angan, ternyata semesta mendengar harapan Bubu Dita dan bertualanglah mereka sekeluarga ke Makassar.

Nita: Bali seperti punya ilmu sihir yang memikat banyak hati pengunjungnya. Sekali ke Bali pasti akan kemBali. Hal tersebut dialami Nita yang sudah beberapa kali melancong ke tanah oara dewa itui.

Ria: Perjalanan keluarga kecilnya ke Bogor diwarnai drama sang suami hampir pingsan.

 

Iklan

18 Replies to “#CelotehTukangJalan:Festival Kampung Awal Tahun”

  1. wah Colombia… btw kalo wni kesana perlu visa atau visa on arrival sih? #seriusnanya

    travellingaddict.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s