Mendadak Turis di Vietnam

Bagi yang sudah baca bagian profil blog ini pasti tahu kalau saya pernah menyinggung kalau Pipit dan saya pernah melakukan perjalanan impulsif. Kami berdua menyambangi tiga negara; mulai dari Vietnam, berlanjut ke Kamboja, dan diteruskan ke Thailand. Singapura tidak masuk hitungan karena kami sekadar transit.

Rangakaian perjalanan tersebut terjadi pada awal tahun 2012. Walau sempat maju mundur dan jatuh bangun mempertahankan niat untuk backpacking ke Indochina (ini bukan nama dua negara digabungin loh, ya!), akhirnya rencana tersebut terlaksana. Perjalanan singkat selama delapan hari tersebut ternyata memberikan banyak cerita. Saat itu saya percaya kalau traveling akan membantu seseorang menemukan jati dirinya. Tsailaaah… hehehe

Ya sudah, simak ceritanya ya.

***

Vietnam merupakan negara pertama disambangi. Sepertinya saya di sini hanya dua-tiga hari. Kota yang saya singgahi adalah Ho Chi Minh City (HCMC). Di kota inilah saya menjadi turis. Agak sedikit menyedihkan, sih, soalnya rencana saya awalnya tidak ingin menjadi turis, tapi yasudahlah.

Tidak ada persiapan luar biasa yang saya lakukan sebelum keberangkatan. Hanya sedikit grasak-grusuk untuk urusan obat penghilang sakit kepala yang biasanya suka kambuh akibat pendingin ruangan pesawat udara.

Butuh waktu hampir tiga jam untuk sampai di Tan So Nhat International Airport, Ho Chi Minh City. Pengelola hostel pernah menyarankan untuk memilih taksi yang bernama Vinasun. Tetapi, tidak jadi dipilih sebab ternyata hampir semua taksi pakai argo.

Pilihan jatuh pada satu armada taksi yang saya lupa namanya. Ternyata si supir agak kurang baik. Di meter tercatat 135 ribu dong (VND), tetapi si supir meminta VND 200 ribu dengan alasan dia harus membayar VND 50 ribu setiap masuk bandara. Setelah beragumen kami hanya membayar VND 50 ribu. Pelajaran pertama, pilih taksi yang bener aja deh, Vinasun salah satunya karena memang si pengemudi memang tidak neko-neko.

Penginapan yang jadi pilihan berada di district 1 tepatnya di jalan Pam Ngu Lau . Distrik tersebut memang lokalisasi para backpacker. Bila dibandingkan dengan rupiah memang cukup murah. Satu tempat tidur untuk berdua dilengkapi pendingin ruangan, kulkas, brangkas, dan kamar mandi hanya dibanderol sekitar USD 20. Sekadar saran saja sih, lebih baik membayar sewa kamar dengan USD dibanding VND agar tidak ada selisih kurs dan tidak banyak pecahan kecil yang tersisa, sebab agak sulit menukarnya di money changer kecuali memang ingin mengoleksi.

backpacker area Vietnam
Inhouse breakfast dari Long Guesthouse

Long Guesthouse dikelola oleh keluarga Long. Malam itu kebetulan menantu dari si empunya yang sedang bertugas, Kam. Segelas air teh dingin dan sepiring nanas potongan menjadi hidangan sambutan malam itu. Teh yang disajikan cukup unik. Ternyata teh tersebut tidak istimewa-istimewa banget (hampir seluruh warga HCMC tau bikin teh macam ini), hanya green tea yang diseduh berbarengan dengan daun pandan tua yang sudah didiamkan semalaman. Tapi, rasanya nikmat dan mudah dibuat pula.

Perut sudah mulai berbunyi.waktunya untuk makan Pho yang terkenal itu. Ternyata Pho dapat disajikan dengan berbagai macam kuah: bening  atau berbumbu kuat seperti kari.

6
Masih teringat akan nikmatnya pho satu ini

Saya pilih yang berkuah bening, soalnya saya tidak tahan dengan aroma bumbu yang terlalu kuat, khawatir mual. Kalau pernah menghirup aroma kuah bakso yang diberi potongan tulang sebagai penguat rasa dan aroma, pasti dapat membayangkan rasa pho pilihan saya malam itu. Semangkuk pho yang disajikan dengan toge mentah ini ternyata hanya 25 ribu VND. Menurut saya sih lumayan murah, soalnya potongan daging sapinya itu enggak kira-kira banyaknya.

Baca juga makanan yang patut dicoba di Thailand

Biaya hidup di HCMC, atau mungkin di seluruh Vietnam, tergolong murah bagi kantong saya. Sempat saya pergi ke pasar malam sekitar Ben Thanh Market, sebuah tas jinjing beroda hanya ditawarkan 500 ribu VND atau sekitar 250 ribu IDR (sebelumnya ditawarkan 1,2 juta VND sebelum si penjual banting harga karena saya tidak mau menawar).

Saya yakin, kalau saya buka tawaran di harga 350-400 VND tas bermotif peta dunia berbahan semi kulit itu akan jadi milik saya. Saran berikutnya: berani tega saat menawar di pasar, terutama di Ben Thanh Market sebab harga yang mereka tawarkan memang sadis mahal.

Wisata Perang di Ho Chi Minh City

Mrs. Long sepertinya sudah masuk usia 60-an. Tetapi dia masih senang bergaul dengan penyewa kamarnya. Disapanya satu-satu mereka-mereka yang menginap. Bahkan, dia tanpa segan-segan memberi tahu lokasi-lokasi yang bisa dikunjungi, baik tempat wisata ataupun toko-toko yang menjual barang dengan kualitas dan harga yang bagus. Dicoret-coretnya kertas putih yang berisi peta HCMC.

29
Saya, Mrs. Long, dan Pipit. Ramah sekali, kan, penampakan Mrs. Long?

Berbekal secarik peta, saya dan Pipit, memulai penjelajahan. Bermula dari pasar tradisional di samping hostel. Ternyata komoditas yang dijual di pasar tradisional Vietnam tidak berbeda jauh dengan apa yang ada di pasar kaget dekat rumah saya. Sayur, buah, hingga ikan segar sangat familiar.

HCMC memang cukup menarik untuk dikelilingi. Gedung-gedung tua bertebaran di mana-mana. Sisa-sisa penjajahan Perancis masih terasa. Tetapi yang paling menarik perhatian saya adalah bagaimana kota ini sangat mengagung-agungkan mantan presiden mereka Ho Chi Minh. Bahkan kota yang sebelumnya bernama Saigon diubah menjadi Ho Chi Minh City untuk menghormati sang mantan presiden. Di beberapa foto Ho Chi Minh terpampang besar-besar.

Salah satu cara mengenal sebuah tempat memang dari museum yang dimiliki. Pipit berhasil menyeret saya ke beberapa museum, Independence Palace, War Remanants Museum, Woman Museum, dan beberapa museum lain yang cuma saya lihat dari luar karena keterbatasan waktu. Maklum, meskipun punya bekal peta kota, kami tetap saja nyasar di sejumlah tempat. Bukan salah tata ruang HCMC yang salah, tetapi kemampuan navigasi kami, terutama saya, memang sangat mencemaskan.

Cathedral Notre Dame Vietnam
Cathedral Notre Dame

Selain pernah dijajah Perancis, Vietnam juga sempat dimusuhi Amerika Serikat. Sisa-sisa perang Vietnam juga menjadi daya tarik tersendiri untuk diperhatikan. Mrs. Long menawarkan kami paket wisata ke Cu Chi (baca: ku ci) Tunnels seharga 90 ribu VND. Paket ini hanya untuk separuh hari termasuk di dalamnya transportasi HCMC-Cu Chi Village, air mineral, dan pemandu wisata. Sementara untuk masuk ke lokasi harus bayar 80 ribu VND.

Berhubung saya tipe orang yang tidak pernah riset sebelum melakukan apa-apa, saya tidak tau sama sekali mengenai Cu Chi Tunnels. Mrs. Long menjelaskan sedikit mengenai terowongan itu, saya iya-iya saja, melihat Pipit tertarik pergi, akhirnya cadangan uang saya berkurang 170 ribu VND.

CU CHI TUNNELS IS AWESOME! Kalau kata Pipit hanya insting ingin bertahan hidup yang bisa bikin para petani dan gerilyawan Vietnam mampu membuat sistem bawah tanah sehebat itu. Bagai jaring laba-laba, terowongan itu menjalar sepanjang 200 km di bawah tanah. Sistem bawah tanah yang rampung dalam kurun waktu 20 tahun ini memiliki tiga level kedalaman, 3 meter, 6 meter, dan 10 meter.

Saya tidak paham benar soal sejarah, kalian cari tahu sendiri, yah, detil tentang perang ini. Kalau kata si pemandu wisata, Cu Chi Village memang menjadi salah satu konsentrasi gerilyawan Vietnam. Tentara AS juga tahu itu, tapi mereka susah menemukan lokasi persembunyian para tentara. Mereka tanam ribuan ranjau darat, jumlah bom yang dijatuhkan juga tidak kalah banyak, tetapi semuanya nihil. Para tentara masih aman merangkak di bawah tanah.

Cu Chi Tunnels Vietnam
Tampak dalam Cu Chi Tunnels

Menurut pemandu wisata (lagi!), tentara-tentara Amerika Serikat itu pada akhirnya tahu kalau ada terowongan bawah tanah, tetapi mereka tidak bisa menemukan lokasinya. Bertahun-tahun mereka coba cari dan juga berusaha meredam perluasan terowongan tersebut. Mereka keluar masuk hutan, tetapi tidak ketemu satu tentara pun. Paling-paling hanya penduduk sekitar yang berprofesi sebagai petani.

Entah karena si tentara AS ini yang menghormati petani yang dianggap lemah atau mereka tidak menaruh kecurigaan sama sekali, padahal para petani ini adalah mata-mata. Merekalah yang membantu para tentara Vietnam di bawah sana. Suplai makanan, kiriman surat penting, hingga peralatan perang tidak pernah putus dikirimkan ke tempat persembunyian tentara.

Pernah satu kali para tentara AS menemukan lubang masuk ke terowongan, namun, karena ukurannya hanya pas untuk ukuran orang Vietnam yang mungil, mereka tidak bisa masuk. Saking geramnya, mereka coba membakar terowongan. Usaha sia-sia, iyalah begitu api masuk ke terowongan langsung padam karena minimnya cadangan udara di bawah tanah. Taktik diubah, mereka mencoba membanjiri terowongan. Upaya ini juga tidak berarti, sebab ujung dari terowongan ada yang bermuara ke sungai.

Salut untuk para tentara Vietnam pada masa itu. Petani-petani yang ikut membantu saat itu juga hebat. Saya sendiri sih akan menolak kalau disuruh berlama-lama di bawah tanah. Berada di terowongan sepanjang 10 m dan 3 m di bawah permukaan tanah selama 1 menit saja saya sudah ngos-ngosan. Latihan pernapasan yang saya lakukan tiga bulan terakhir tidak berhasil saya aplikasikan akibat panik ruangan sempit melanda.

cu chi tunnels vietnam
Ampun deh kalau disuruh berlama-lama di terowongan bawha tanah ini

Akhir dari kunjungan ke Cu Chi Tunnels membuat saya berpikir “there is something wrong with USA!”. Seenaknya saja mereka menyerang negara yang punya paham berbeda dengan mereka. Masalahnya, yang paling banyak terluka dan tersakiti adalah mereka yang tidak mengerti. Bahkan sampai sekarang akibat dari perang masih terasa. Di wilayah Cu Chi Village, masih banyak tertanam ranjau darat.

Selama beberapa tahun terakhir, setidaknya ada 44 ribu penduduk yang meninggal akibat tidak sengaja menginjak atau mencangkul tanah yang di bawahnya ada ranjau darat. Saking berbahayanya daerah ini, pemerintah Vietnam “membayar” penduduknya dengan lahan pertanian dan rumah kalau mau menetap.

Katanya, sih, pemerintah AS setiap tahunnya memberikan bantuan sebesar US$ 100 juta untuk membersihkan sisa-sisa ranjau tersebut. oh iya, ternyata mereka juga menyerang Vietnam dengan senjata kimia. Oh menyeramkan sekali. War Remanants Museum punya sejumlah koleksi foto korban akibat senjata kimia itu, tapi saya tak sanggup memotretnya.
Beberapa poster propaganda antiperang Vietnam

war remenant museum Vietnam
Poster propaganda antiperang Vietnam

Di akhir perjalanan saya tepar. Bukan cuma karena kelelahan tetapi juga karena baper sama cerita perang-perangan. Niat hati bisa menjadi turis happy, eh malah berujung pada hati yang nelangsa.


Blog ini sudah naik di blog pribadi saya di sini

Iklan

6 Replies to “Mendadak Turis di Vietnam”

  1. hCM emang asik! Aku suka disana, tp lebih prefer Hanoi. Oh ya, maksud km di artikel ‘awalnya gak mau jadi turis. Tp terpaksa jadi turis’ maksudnya apa? Hahaha Aku gagal paham

  2. Menarik banget, Kakak Efi. Baru baca soal lorong bawah tanah ini. Kebayang, masuk di sana kaya masuk lorong waktu ya… Seru buat kegiatan belajar sejarah on location buat anak-anak sekolah di sana (mikir ke mana-mana gini.. hahaha).

    Itu Pho kok kayanya enak banget yak. Apalagi habis hujan gitu. Seger-seger gimana :9

    1. iya mas Iyos, terowongan itu cocok banget buat belajar sejarah baik buat anak-anak maupun orang dewasa yang buta sejarah ngacung hahaha

      nomnomnom banget deh pho itu. pengen belajar masak deh jadinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s