Pengalaman Couchsurfing Pertama

Akun Couchsurfing sudah dibuat sejak 2011, namun baru pada 2012 saya benar-benar berinteraksi di dunia nyata dengan komunitas yang satu ini. Rupanya pengalaman pertama tersebut memberikan saya banyak pelajaran soal menaruh rasa percaya pada orang yang kita kenal.

Cerita ini masih dalam rangkaian trip indochina yang Pipit dan saya lakukan pada 2012. Kisah saat kami menjadi turis di Ho Chi Minh City (HCMC) dapat dibaca di sini.

***

Menyambangi tempat yang benar-benar asing memberikan kita kesempatan untuk menjadi new baby born. Setidaknya hal itu yang saya rasakan. Segala hal remeh-temeh yang saya lihat sepanjang perjalanan membuat saya excited setengah mati.

Saya sempat tersenyum lebar melihat irisan cabai yang disajikan dengan pho. Tidak terlalu aneh sebenernya sebab di rumah sering sekali saya potong-potong cengek yang kemudian dicampur dengan kecap manis dan asin. Cerita lain, saya terpingkal-pingkal waktu melihat penunjuk jalan bertuliskan ‘Pasteur’, serasa di Bandung.

Inti dari perjalanan dari kali ini memang membiarkan saya diterpa sesuatu hal baru, sengaja membangkitkan rasa todler-like-curiousity. Tetapi, ada satu hal yang enggak mau saya coba di HCMC, mengendarai motor dengan helm catok. BIG NO WAY!

macet di vietnam
Enggak mau pakai helm seperti itu. Masih sayang nyawa.

HCMC sepertinya memang rumah bagi para pengendara motor. Kalau mau dipukul rata jumlah motor di HCMC mungkin sama banyaknya dengan Jakarta, tetapi karena jumlah mobil yang berseliweran cukup jarang makanya si motor keliatan banyak sekali. Dengan jumlah motor yang sangat banyak dan cara berkendara yang seenak jidatnya, saya terus terang ngeri dengan helm yang mereka kenakan. Rata-rata helm yang mereka pakai menutupi hanya sebagian kepala mereka. Terima kasih, deh, kalau disuruh pake helm macam itu.

Pengalaman pertama lain yang saya alami adalah numpang di rumah orang yang sama sekali tidak saya kenal. Beberapa waktu sebelum berangkat, saya sempatkan posting itenary perjalanan di couchsurfing. Tetapi, seminggu sebelum berangkat, belum ada respon dari siapapun akhirnya saya dan Pipit putuskan untuk menginap di hostel. Ternyata keesokannya ada respon dari seseorang bernama Jon. Dia bersedia menampung saya dan Pipit untuk menginap ditempatnya, tetapi saya tolak tawaran tersebut karena kadung memesan hostel dan Pipit agak kurang nyaman menginap di apartemen pria yang belum dikenal.

Mau tahu soal Couchsurfing? cek di sini.

Hidup memang penuh kejutan. Ternyata ada kesalahan perhitungan, kami hanya menyewa kamar untuk dua malam bukan tiga malam. Sebenarnya Long Guesthouse masih bisa menampung kami, tetapi akhirnya kami memilih untuk bermalam di tempat Jon. Dan, untungnya permintaan kami diamini oleh si tuan rumah.

Saya dan Jon belum pernah bertemu sama sekali, perkenalan kami hanya sebatas fasilitas pesan couchsurfing atau layanan Y!M (jadul amat!). Saya tidak berekspektasi apa-apa soal tempat tinggal Jon. Dapat sofa untuk ditiduri semalam juga tidak masalah. Lumayanlah daripada saya dan Pipit harus mengeluarkan 20 USD untuk semalam di hostel.

“Cari saja gedung tinggi di dekat Independance Palace. Saya akan tunggu di depan,” terang Jon tanpa memberitahukan nama apartemennya.

Saya masih berbicara lewat sambungan telepon waktu melihat Jon berdiri di depan gedung apartemennya. Mulut saya menganga saat Jon mengijinkan kami masuk ke dalam lobi apartemennya. “Ini bukan tempat biasa!” teriak saya dalam kepala.

Apartemen Jon berada di lantai 12. Dari ruang tamunya saya bisa melihat tampak atas HCMC (sangat mudah melihat ujung HCMC karena tidak banyak gedung tinggi). Kemudian Jon menunjukan kamar yang bisa kami tiduri, kami dipersilakan untuk tidur sekamar atau terpisah. Ditunjukannya pula kamar mandi dan toilet, didalamnya sudah tersedia handuk bersih dengan embroidy nama apartemen tersebut. That was beyond our expectation. Bahkan, Jon bilang kalau di lantai satu apartemen tersedia kolam renang, gym, dan sauna. Seriously we never expected this kind of leisure.

Saya terkekeh-kekeh saat berbisik ke Pipit. “Saya kira kita cuma bisa merasakan hotel bintang empat saat liputan, ternyata walaupun pergi sendiri kita masih punya rezeki nginep di tempat bagus.” (Dulu kami masih sama-sama menjadi pegawai media massa).

HCMC apartment
HCMC dari atas

Awalnya saya kira Jon hanya seorang traveler yang sudah berbulan-bulan tinggal di HCMC. Ternyata dia sudah 1,5 tahun bekerja sebagai pegawai konsulat dari negara asalnya. Dia masih baru di couchsurfing, alasannya ikut sosial media tersebut karena ingin suasana apartemennya sedikit ramai. Entah benar atau tidak, dia mengaku baru beberapa bulan bercerai dengan istrinya. Sang istri kembali ke negara asal sambil membawa anjing peliharaannya.

Saya, sih, bisa paham perasaan Jon. Menempati apartemen besar sendirian bukan sebuah pilihan yang keren. Di beberapa sudut ruangan apartemen Jon memang tampak sepi, rak bukunya tidak penuh. Selain itu, tidak ada tanda-tanda tempat itu diperhatikan oleh si nyonya rumah. Perabotan yang ada nampaknya furnished dari si pengelola apartemen.

Jon sedang menghangatkan makanan yang baru dibuat oleh tukang masaknya hari itu, sementara saya sibuk memakai binocular untuk mengamati burung-burung yang mau balik ke sarangnya. Puas melihat HCMC dari atas, mata saya terpaku pada sejumlah uang baik koin maupun kertas yang tergeletak di beberapa tempat. Tempat pertama adalah rak sepatu dekat pintu masuk. Di atas meja makan dan di samping lampu tidur kamar pun ada beberapa keping uang logam.

Efi: You are a mess. Why is your money in all over the place?
Jon: this is a test! A way to know whether my guests are trustable or not.

Sebenarnya saya tidak mengerti apa maksud Jon, tapi saya iya-iya saja. Pipit membisiki saya, apa yang dilakukan Jon adalah cara dia tahu apakah orang yang datang baik atau tidak. kalau uangnya berkurang, berarti dia punya alasan untuk tidak percaya lagi dengan orang tersebut.

Wow! Terus terang saya berharap caranya ini sudah berlangsung lama bahkan sebelum dia bercerai dengan istrinya, untuk mengetahui apakah tukang masak yang datang setiap dua hari sekali itu bisa dipercaya atau tidak. Tetapi, kalau dia baru melakukannya akhir-akhir ini semenjak menerima anggota couchsurfing, saya jadi sedih. Iya, sedih karena kasihan sekali dia yang seakan-akan tidak bisa percaya dengan siapapun lagi.

Sepertinya posisi Jon di konsulat cukup tinggi. Hal tersebut dapat terlihat dari dua hal, apartemen mewah yang ditinggalinya dan dia bekerja over time, bahkan ia tetap bekerja di hari Minggu. Saya dan Pipit pun ditinggal di apartemen berdua karena dia harus kembali ke kantornya. Saya tidak melihat air muka kesal di wajah Jon saat harus kembali ke kantor. Mungkin bekerja adalah salah satu caranya untuk menghabiskan waktunya di tanah perantauan.


Tulisan ini sudah dipublikasikan di blog pribadi saya di sini
Iklan

2 Replies to “Pengalaman Couchsurfing Pertama”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s