#CelotehTukangJalan: Saat Realita Membuyarkan Harapan

“Mama pengen ke pantai yang kayak di Bali gitu. Banyak batu-batunya.”

Pernyataan di atas diungkapkan ibu saya menjelang akhir 2015. Kami sudah lama sekali tidak jalan-jalan bersama, maklum saat perantauan pertama saya tidak pulang-pulang selama dua kali lebaran (Bang Toyib belum terkalahkan). Berhubung ayah saya berulang tahun per 1 Januari jadilah kami merencanakan liburan tahun baru bersama.

Bermaksud menuruti keinginan ibu, saya pun cari-cari tahu di mana pantai terdekat dari Jakarta yang punya reputasi bagus karena kecantikannya. Syarat tambahannya adalah tidak jauh-jauh amat dari Jakarta.

Saya pernah dengar nama pantai Santolo di Garut, Jawa Barat, yang kabarnya sangat cantik. Andai saja saya bepergian sendiri pasti saya langsung meluncur ke sana. Namun, sayangnya saya akan pergi tidak hanya bersama keluarga inti tetapi juga dengan bibi, paman, juga sepupu. Jumlah kami mencapai 20-an orang. Rame!

Suatu hari adik saya nyeletuk nama Tanjung Lesung. Ibu saya rupanya pernah mendengar kabar tentang pantai tersebut dan ternyata memilih untuk pergi ke sana. Saya pun coba cari di laman google seperti apa penampakan pantai tersebut. Wah ternyata memang cantik. Ombaknya tenang, garis pantai lumayan panjang, airnya berwarna toska, dan yang paling penting adalah bersih. Kami pun bermufakat untuk berpesiar ke pantai.

Sebenarnya sempat ada perasaan khawatir kalau jalur menuju Tanjung Lesung akan penuh dengan kendaraan dan membuat laju kendaraan melambat karena banyak yang pesiar. Namun, untungnya semua berjalan lancar. Kami berangkat pagi setelah sarapan dan sampai sebelum jam makan siang.

Pesona Tanjung Lesung rupanya membuat banyak orang memutuskan hari berliburnya di tempat tersebut. Berdasarkan informasi yang saya cari di mesin pencari, Tanjung Lesung merupakan sebuah resort yang pantainya masih bisa diakses oleh masyarakat umum yang mau merogoh kocek.

tanjung lesung ramai pengunjung
Keluarga saya dan sejumlah pengunjung lainnya memadati Tanjung Lesung.

Gara-gara bea masuk tersebut ibu saya sempat menolak untuk masuk. Wajar, sih, beliau ngedumel soalnya setiap orang dipatok bayaran Rp 40 ribu. Harga tersebut masuk katagori harga hari libur, sementara untuk hari biasa hanya dipatok Rp 25 ribu per orang. Saya juga sebenarnya tidak suka bayar retribusi tempat wisata alam. Kalau saya tidak punya duit berarti tidak bisa ikut menikmati ciptaan Tuhan, dong?

Kadung sudah sampai, kamipun membayar tiket masuk. Lagian kami juga salah sih, namanya juga resort pasti harus bayar fasilitas yang sudah mereka sediakan. Saya cuma berharap bisa uang yang sudah kami bayarkan setimpal dengan keindahan dan fasilitas yang ada di resort tersebut.

Memasuki areal parkir kami kesulitan mencari tempat kosong, semuanya hampir terisi. Kekhawatiran pertama muncul di benak, “jangan-jangan rame orang nih!”. Selain itu, perasaan kurang enak juga datang saat melihat kondisi lapangan parkir yang tidak tertata dan ada beberapa tumpukan sampah yang berada di titik yang saya yakin bukan tempat sampah. Padahal kalau lihat gambar yang dikasih oom google kan bersih-bersih.

Memasuki area resort sesungguhnya, saya harus menelan ludah, karena setiap sudut dipenuhi manusia. Tikar-tikar digelar di mana-mana. Walau sempat kesulitan mencari lokasi untuk menggelar tikar akhirnya kami mendapatkan spot yang nyaman.

Air laut yang menyentuh bibir pantai Tanjung Lesung memang menggoda. Berwarna kehijauan nan jernih serta hangat pasti membuat siapa saja yang melihatnya merasa senang. Apalagi arusnya yang cukup tenang seakan memanggil setiap orang untuk berenang. Selain itu, sepanjang pantai saya tidak menemukan sampah plastik yang biasanya sangat mudah ditemukan di beberapa pantai Indonesia.

Saya bertanya pada ibu, apakah pantai Tanjung Lesung sudah seperti harapannya. Maksud saya apakah pantai ini seperti pantai di Bali yang sering diliatnya di internet. Beliau hanya tersenyum, namun saya yakin dirinya tidak terlalu berkesan dengan pantai yang satu ini. Saya, sih, yakin penyebabnya adalah terlalu banyak orang di pantai tersebut membuat kurang nyaman suasana.

pantai tanjung lesung di bawah ekspektasi
Harus berhati-hati karena di beberapa sisi pantai terdapat gugusan karang yang bikin sakit kaki kalau terinjak

Setali tiga uang, sayapun tidak terlalu bahagia berada di Tanjung Lesung. Sepertinya saya terlampau terkecoh dengan ulasan banyak orang tentang pantai yang satu ini yang memuji kecantikan si pantai. Okelah, tidak ada yang salah dengan pantainya, namun saya lebih kecewa dengan pengelolaan lokasi wisata itu sendiri. Beda banget keseruannya kalau dibanding saat saya bertualang di Pulang Sanghiang, Banten.

Menurut saya, pengelola tidak mementingkan kenyamanan pengunjung dengan tidak memiliki membatasi jumlah pengunjung yang bisa mantai. Setiap sudut resort dipenuhi oleh pelancong dan mempersempit ruang gerak. Saya sendiri jadi malas untuk mengeksplorasi karena berdesak-desakan dengan orang lain.

Gara-gara saya berpesiar bersama keluarga, makanya saya membulatkan tekad untuk tidak berenang. Alasan tersebut tercipta karena saya tidak mau ada keributan kecil saat kami sedang berwisata. Biasalah hubungan ibu dan anak tidak melulu mulus, dan untuk kali ini masalah yang bisa tercipta adalah soal pilihan berpakaian mantai. Ibu tidak memperbolehkan saya memakai pakaian renang yang ada pada umumnya, sementara saya tidak mau berenang dengan pakaian lengkap, kaos oblong dan celana boim. Beuuuraaaaat mamah!

Tetapi pada akhirnya saya tidak bisa menahan godaan air pantai, sayapun meminjam baju adik untuk nyebur. Biarlah saya merasa berat saat keluar dari air gara-gara si baju menyerap air dan bikin pergerakan lambat. Tetapi senang rasanya saat merasakan sensasi kulit yang bersentuhan dengan air garam.

pantai tanjung lesung
main basah-basahan dengan pakaian lengkap

Selain pantai, Tanjung Lesung memiliki kebun binatang mini. Hanya ada sekitar 4-5 kandang di bonbin tersebut. Dan hewan peliharaan di kandang tersebut dalam kondisi yang menyedihkan. Ada satu jenis burung yang diberi makan nasi. Saya lupa jenisnya, namun kalau dilihat dari bentuk paruhnya, si burung jelas-jelas bukan pemakan nasi, melainkan kacang-kacangan. Duh, sedih rasanya.

***

Semenjak pengalaman tersebut saya selalu ogah untuk berkunjung ke tempat rekreasi berbayar. Pun saya selalu skeptis dengan ulasan orang lain soal suatu tempat wisata. Yah, tahu sendirilah setiap orang kan punya persepsi masing-masing, belum tentu kalian memiliki selera yang sama dengan saya, kan? Selain itu, saya pun tidak terlalu berekspektasi lebih ketika melihat gambar yang dibagikan di sosmed, tahu, kan, kalau ada tool “crop” yang bisa menggunting gambar agar bisa menonjolkan hal yang kita inginkan. Ya, enggak, sih? Satu lagi, saya akan berpikir ratusan kali kalau harus berpesiar saat tanggal merah.

Temen-temen saya juga punya pengalaman yang juga kurang mengenakan saat jalan-jalan. Simak deh ceritanya.

Dita: Traveling memang bikin seneng, tapi kadang kala ada aja kesialan yang terjadi dan diluar ekspektasi. Dita punya banyak cerita soal itu.

Ria: Sebagai penyuka mie, Ria dan Suami merasa patut melipir ke warung mie yang terkenal seantero Bandung. Eh, ternyata lagi-lagi realita membuyarkan harapan.

Nita: Ada beberapa pesyaratan khusus yang dimiliki Nita sebelum traveling salah satunya adalah rekan perjalanan yang asik. Penyebab munculnya syarat tersebut ada di tulisannya kali ini.

Iklan

20 Replies to “#CelotehTukangJalan: Saat Realita Membuyarkan Harapan”

  1. haduh..haduh..haduh…paling ga suka liat tempat wisata yg ada bonbin mini dan ga terawat. rasanya pengen nglepasin semua binatangnya,,,kesian. tapi Tanjung Lesung kan lumayan terkenal yak…ternyata oh ternyataaaa

      1. gw jadi inget ada perjalanan epic lainnya…pas ke pantai pasir kencana, ada bonbin mininya juga. itu monyetnya kesian :((

  2. Ditempet gw masuk pantai juga gitu kak, pantai sekarang harganya mahal bahkan kemaren gw sekeluarga 5 orang kena tarif 200 rebo, padahal dulu waktu gw SMA masuk pantai gratis.. Padahal pantainya loh ga ada kemajuan yg berartinya jugak.. Kesel kan jadinya.. 😑😑😑

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s